Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 43 - Penculik


__ADS_3

“Kamu mengenal pria ini, sayang?” tanya Aunt Claudia. Kami bertiga melihat layar ponsel itu bersama. Dari kerutan pada kening Tante Lindsey dan Aunt Claudia, sepertinya mereka tidak mengenal pria ini sama sekali.


“Finley Taylor. Dia menjadi direktur utama perusahaan keluarganya saat dia berusia tiga puluh lima tahun. Dia teman kuliah Abby, jatuh cinta padanya, tetapi putri kita lebih memilih Matias. Dia adalah alasan Abby tidak mau menetap di Amerika dan lebih memilih hidup di Indonesia.”


“Jadi, dia orangnya? Abby tidak pernah mau memberi tahu aku siapa orang yang mengejar-ngejar cintanya setelah ditolak.” Aunt Claudia menatap layar ponsel itu dengan heran.


“Kamu yakin pria ini yang mendatangi kamu?” tanya Uncle Mason. Aku mengangguk. “Dan dia menyebut tentang kehilangan putrinya pada saat berlibur ke Parapat?” Aku kembali mengangguk. Uncle Mason menoleh ke arah Om Hendra dan mereka berdua tertegun.


“Ada apa, sayang?” tanya Aunt Claudia tidak memahami arti tatapan mereka berdua.


“Finley Taylor yang telah menculik Mila dari lokasi kecelakaan.” Aunt Zahara membulatkan matanya. Mendengar itu, kami semua berekspresi serupa. “Tidak ada seorang pun yang tahu atau menebak di mana kemungkinan Clarissa dibawa setelah kecelakaan terjadi. Lalu muncul seorang pria yang belum menikah, mengaku memiliki istri dan kehilangan anak belasan tahun yang lalu, maka bisa jadi dia adalah orang yang menjadi otak dari semua kejadian ini.”


“Dugaan kamu masuk akal. Finley Taylor punya masa lalu bersama Abby, dan dia mendadak tertarik dengan Mila saat dia sudah berada di dekat kita. Tetapi bila Mila adalah Clarissa, mengapa hasil tes DNA-nya negatif?” tanya Tante Lindsey bingung.


“Aku akan menghancurkan rumah sakit langganan kita bila mereka telah berani memanipulasi hasil tes tersebut,” kata Om Edu dengan geram. “Apalagi ini bukan tes berharga murah. Berani-beraninya mereka membuang uangku dengan memberi hasil tes palsu.”


“Aku akan membantu kamu bila mereka memberi kamu kesulitan, Edu,” timpal Om Hendra. “Hadi, tolong, antar Mila ke tempat tinggalnya. Mila, kamu perlu mengepak beberapa pakaian dan buku kuliahmu. Kamu akan tinggal di sini sampai hasil tes keluar. Tidak aman bagimu untuk tinggal sendiri. Lebih baik kamu bersama kami daripada di rumah Lindsey. Mereka berdua tidak akan membiarkan kamu istirahat dan terus menginterogasi kamu sampai hasil tes keluar.”


“Hendra!” protes Aunt Claudia dan Tante Lindsey secara bersamaan. Kami tertawa mendengarnya.


“Tolong, jangan menolak, Mila. Bila pria itu sampai menemui kamu langsung, maka ada yang tidak beres di sini. Lebih baik kita mencegah daripada menyesal nanti,” kata Tante Zahara menambahkan.


“Bila kamu segan dengan kami, nanti kamar kamu akan ada di sebelah Kak Hadi. Jadi, kalau ada apa-apa, kamu bisa langsung minta tolong pada Kakak. Aku dan Adi akan sangat senang menerima kamu di rumah kami,” ucap Dira dengan riang. Adi ikut menganggukkan kepalanya.


“Baiklah. Terima kasih. Maaf, aku akan merepotkan keluarga ini,” kataku dengan segan.


“Kalian jangan pikirkan apa pun mengenai ini. Biar kami orang dewasa yang mengurus segalanya. Fokus pada studi kalian saja. Beri tahu kami segera jika ada kejanggalan lain yang terjadi. Aku tidak mau kalian, anak-anak kami, harus menjadi korban dari konflik di antara kami para orang dewasa,” kata Om Hendra lagi. Aku mengangguk pelan.

__ADS_1


“Apa aku boleh ikut membantu Mila mengepak barangnya?” tanya Dira antusias.


“Aku juga ikut!” seru Charlotte tidak mau kalah.


“Tidak. Pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam waktu satu jam akan menjadi lima jam kalau kalian berdua juga ikut,” larang Aunt Claudia. Dira dan Charlotte serentak cemberut mendengarnya.


Satu per satu orang pamit dan berjalan menuju mobil mereka, sedangkan Hadi membawa aku ke mobilnya tanpa mengizinkan aku mengucapkan selamat tinggal pada mereka semua. Mungkin dia terburu-buru. Apalagi besok kami akan kuliah, jadi kami tidak bisa membuang waktu.


Karena dia hanya diam saja sepanjang perjalanan, maka aku juga tidak mencoba untuk membuka topik pembicaraan. Tetapi keheningan di dalam mobil terasa nyaman. Walaupun jantungku rasanya ingin keluar dari dadaku begitu tahu siapa pria tersebut.


Finley Taylor. Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Wajahnya juga asing bagiku. Aku sudah membaca banyak artikel mengenai ingatan anak berusia dua hingga tiga tahun terhadap trauma masa kecil.  Hasilnya nyaris nihil. Karena itu aku mengerti mengapa aku tidak bisa mengingat kecelakaan itu, penculikan, atau hari saat aku kehilangan orang tua di Parapat.


Tetapi rasa takut yang aku rasakan saat melihat matanya, terutama saat dia mengikuti aku ke lift, sangat nyata. Apa mungkin secara tidak sadar, kepalaku dan tubuhku mengingat dia dan ketakutan yang dia sebabkan padaku dahulu?


Aku belum pernah mengalami kecelakaan, tetapi aku tidak pernah merasa takut berada di dalam mobil, bus, atau kendaraan lainnya. Bahkan ketika kendaraan tersebut bergerak dalam kecepatan tinggi, aku tidak merasa jantungku berdebar dengan cepat. Semuanya terasa normal bagiku.


Kami keluar dari mobil, lalu berjalan menuju pintu masuk utama. Aku menyapa petugas yang berjaga dan tidak lupa memperkenalkan Hadi kepadanya. Hanya ada kami berdua di elevator, jadi kami tidak perlu berhenti di beberapa lantai dan bisa langsung menuju lantai di mana apartemenku berada.


Hadi memerhatikan sekitarnya saat aku memasukkan beberapa pakaian ke koper dan buku ke ransel. Aku melarangnya membantu aku berkemas, karena aku tidak mau dia menyentuh pakaian dalamku. Hubungan kami tidak sedekat itu, jadi aku tidak nyaman bila dia melewati batas privasiku.


“Aku sudah selesai.” Aku menarik koperku dan menyandang tas ranselku di bahu.


“Apa ini semua barang yang perlu kamu bawa?” Hadi mengambil alih koper dan ransel dari tanganku. Aku melihat ke sekelilingku. Rasanya aku sudah membawa semua yang aku butuhkan dalam waktu dekat. “Kalau masih ada barang lain yang kamu perlukan, kita bisa mengambilnya besok usai kuliah.”


“Ng, kapan paling cepat hasil tesnya bisa kita ketahui?” Aku lupa menanyakan hal itu tadi pada Aunt Claudia. Setelah mengetahui hasilnya, aku akan kembali lagi ke sini untuk mengambil sisa barangku.


“Jumat pagi,” jawab Hadi cepat.

__ADS_1


“Kita kembali ke sini untuk mengambil sisa barangku pada hari Jumat saja.” Aku berjalan mendekati pintu dan membukanya agar Hadi bisa keluar lebih dahulu.


“Sepertinya kamu percaya diri bahwa kamu adalah Clarissa.” Setelah sedari tadi dia bersikap begitu serius, aku senang melihat dia kembali bersikap santai.


“Aku semakin yakin sejak pria itu muncul entah dari mana dan mengklaim bahwa aku mirip dengan almarhumah istrinya, kemudian membawa paspor putrinya yang sudah lama hilang.” Kami berjalan bersama menuju elevator.


“Kamu yakin kamu tidak pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya? Apakah setelah melihat wajahnya lagi, kamu tidak teringat pada apa pun? Bayangan kabur, mungkin?”


“Melihat wajahnya lagi? Aku tidak pernah bertemu dengan dia sebelumnya, Hadi.” Aku memindai kartu pada tanganku untuk membuka pintu elevator.


“Kamu sendiri yang bilang bahwa dia punya paspor dengan foto kecilmu. Dari mana dia dapat foto kamu dengan jarak sedekat itu bila kalian belum pernah bertemu?”


Aku tertegun sejenak mendengar pertanyaannya itu. Dia benar juga. Foto yang ada pada paspor itu adalah fotoku dari jarak dekat. Atau bisa jadi dari jarak jauh, tetapi tetap saja itu adalah pasfoto untuk paspor. Apakah itu artinya aku dan pria itu pernah bertemu sebelumnya? Benarkah dia yang telah menculik aku?


Hadi memegang lenganku dan membawa aku untuk ikut bersamanya memasuki elevator. Aku pasti melamun lagi. Setelah memindai kartu dan menekan tombol menuju lantai dasar, aku berdiri dengan tegak menunggu sampai pintu terbuka kembali.


“Aku pikir kamu adalah gadis yang cerdas yang selalu tahu alasan dari setiap sesuatu yang terjadi padamu. Ternyata ada juga saat di mana kamu tidak berpikir secepat biasanya,” katanya dengan nada mengejek. “Pria itu adalah penculikmu, Mila. Itu sudah tidak perlu diragukan lagi. Bila dia tidak menculik kamu dari tempat kejadian kecelakaan, bisa jadi orangnya yang melakukan hal itu.”


“Kini semuanya semakin jelas. Mengapa orang tua kita begitu sulit mencari keberadaan kamu selama ini adalah karena ada orang lain yang telah sengaja menjauhkan kamu dari kami. Jahatnya dia, dia telah membuang kamu begitu saja tanpa pengawasan siapa pun.” Hadi menggeleng pelan.


“Pantas saja kedua orang yang mengaku orang tuaku itu tidak peduli kepadaku. Aku hanya bermain sendiri di rumah, tidak boleh bermain dengan anak-anak yang lain. Mungkin mereka tidak mau ada yang tahu tentang aku kemudian bertanya apa aku benar anak mereka. Karena secara fisik, kami sangat berbeda. Lalu suatu hari mereka meninggal. Aku tidak tahu apa penyebabnya dan aku tidak mau tahu. Hanya satu yang aku tahu, mereka adalah orang jahat,” geramku.


“Papaku pasti akan mendapatkan jawabannya. Bila Finley Taylor itu ada hubungannya dengan semua ini, dia tidak akan selamat.” Pintu elevator terbuka, kami berjalan keluar dari ruang kecil itu.


“Kalian baik sekali kepadaku. Aku merasa tidak pantas mendapatkan semua perhatian ini.” Jujur saja, aku ketakutan setelah tahu kebenaran mengenai pria itu. Jadi, aku sangat berterima kasih mereka mau menampung aku di rumah mereka. Tinggal sendiri terasa menakutkan saat ini.


“Nona Mila,” sapa petugas keamanan saat aku mendekati pintu. “Tadi saya lupa menyampaikan. Seorang pria mencari Anda dan meninggalkan nomor telepon untuk dihubungi. Katanya, dia ingin membicarakan hal yang sangat penting.”

__ADS_1


Aku menerima secarik kertas yang dia berikan. Hanya ada barisan nomor telepon tanpa nama. Tetapi aku bisa menebak siapa pemilik nomor ini. Aku tidak pernah merasa setakut ini sebelumnya. Apa yang pria ini inginkan dariku? Bagaimana dia bisa tahu aku tinggal di tempat ini?


__ADS_2