Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 26 - Saudara


__ADS_3

“Siapa nama kamu … ah, iya. Hadiyan.” Reese menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. “Apa kamu berteman dengan pencuri ini?” Dia benar-benar manusia rendah. Hanya karena dia menemukan barang di kamarku pada hari itu, bukan berarti aku yang menyimpannya di sana. Apa dia harus selalu menghasut semua orang untuk membenci aku?


“Pencuri?” Hadi melihat aku dengan saksama. Kami baru saling mengenal, aku sedang berusaha untuk bisa menemukan keluarga kandungku, dan kini dia pasti berpikir bahwa aku adalah orang jahat yang tidak pantas menjadi bagian dari keluarga sahabat orang tuanya.


“Iya. Kalau aku jadi kamu, aku akan memeriksa apa ada yang hilang dari tasku. Dia pencuri ulung yang bisa mengambil barang berharga tanpa sepengetahuanmu.” Reese mengangkat dagunya dan memandang aku dengan jijik.


“Mengapa kamu begitu yakin bahwa dia adalah seorang pencuri?” tanya Hadi yang masih menatap aku. “Diperhatikan dari wajahnya, dia adalah seorang yang jujur.”


Reese tertawa mengejek. “Apa katamu? Seorang yang jujur? Dia mencuri kalung berlian ibuku dan barang buktinya ada di kamarnya. Dilihat dari pakaian, tas, dan semua yang dia pakai yang harganya tidak murah, aku yakin dia mendapatkan uang dari mencuri.”


“Apa dia temanmu, Mila? Mengapa dia begitu agresif menuduh kamu?” tanya Hadi. Aku membuka mulut ingin menjawab pertanyaannya.


“Dia pasti masih memakai nama orang tuaku sebagai namanya juga,” tukas Reese cepat. “Kamu tidak bisa menebak siapa dia dan hubungannya dengan keluargaku? Untung saja kami sudah putus hubungan atau aku harus menanggung malu dengan semua perbuatan amoralnya.”


“Setelah melihat aksi barbarmu semalam di hotel, aku tidak percaya ucapanmu sepenuhnya benar.” Kali ini Hadi melihat ke arah Reese. Mata gadis itu membulat, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Aku dan temanku sedang menikmati waktu berdua, bisakah kamu meninggalkan kami dan berhenti mengatakan hal yang buruk mengenai dia?”


“Apa? Apa kamu tidak percaya kepadaku? Apa kamu pikir aku berbohong? Dia tinggal di rumahku, rumah orang tuaku selama bertahun-tahun. Jadi, aku tahu seperti apa dia sebenarnya. Mereka mengasuh dia dengan baik sejak dia masih kecil, lihat bagaimana dia membalas mereka. Dia memalsukan nilai akademiknya, mencuri, bahkan bersikap murahan pada laki-laki,” semprot Reese.


“Reese, sudah cukup,” ucap seorang wanita yang berdiri di sisinya. Aku mengenalnya sebagai asisten pribadi Reese sejak dia menjadi model remaja terkenal. “Pak Sam sudah berusaha menutup mulut semua wartawan semalam atas sikapmu di hotel. Jangan buat insiden lagi. Agensi bisa bangkrut karena ulahmu.”


“Agensi punya banyak uang karena aku. Apa salahnya kalau agensi juga mengeluarkan sedikit uang demi aku?” Reese mendorong asistennya itu menjauh darinya, lalu melihat ke arah Hadi. “Dengar, ya. Aku mengatakan semua hal tentang dia demi kebaikanmu. Jangan sampai kamu nanti menyesal setelah dia berhasil mencuri hal yang berharga darimu.”


“Aku sudah meminta kamu untuk meninggalkan kami. Mengapa kamu terus memberi aku nasihat yang tidak penting?” Hadi melihat ke sekeliling kami, kemudian mengangkat tangannya. Seorang pelayan pria datang mendekat.


“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya pria muda itu dengan sopan.

__ADS_1


“Perempuan ini telah mengganggu kenyamanan aku dan temanku. Bisakah kalian mengusir dia menjauh dari kami? Aku mohon,” pinta Hadi. Pelayan itu melihat ke arah Reese dengan kecut.


“Tidak perlu, Pak. Kami akan pergi dari sini,” ucap asisten Reese yang segera menarik tangannya menjauh dari meja kami.


“Lepaskan aku! Apa yang kamu lakukan!? Aku belum selesai bicara dengan mereka. Lepaskan aku!” Gadis itu memberontak, berusaha untuk membebaskan dirinya, tetapi wanita itu tidak membiarkan dia lepas lagi.


Pelayan yang berdiri di samping kami mendesah lega, lalu mohon diri. Aku melihat ke arah di mana Reese dan asistennya pergi. Mereka sempat mengambil makanan dan minuman pesanan mereka di atas konter sebelum keluar dari kafe.


“Mila Foster, Reese Foster,” gumam Hadi. Sebuah senyuman menghiasi bibirnya. “Mengapa aku tidak memikirkan hal itu sebelumnya? Aku bahkan lupa bahwa Foster adalah nama belakangmu.”


“Aku akan mengubah namaku begitu aku tahu siapa nama asliku. Bapak dan Ibu Foster bersedia membantu aku mengurus semua dokumennya nanti. Tetapi untuk sementara, ini adalah nama legalku. Dan iya, dia adalah saudara angkatku.” Aku mengangkat kedua bahuku. “Dia adalah gadis yang baik. Aku tidak tahu apa yang membuat dia berubah menjadi seperti itu.”


“Mudah saja. Dia cemburu kepadamu. Kamu cantik, cerdas, dan mandiri. Aku yakin orang tuanya juga sangat sayang dan sering membanggakan kamu di depannya. Lama-kelamaan dia merasa bahwa kamu adalah saingan, bukan saudaranya lagi,” ucap Hadi dengan santai.


“Ha ha ha. Sungguh lucu,” ucapnya sarkas. “Jadi, aku benar? Aku mengatakan itu karena semalam dia juga bersikap begitu pada acara ulang tahun sahabat adikku. Berapa lama kamu tinggal dalam keluarga mereka? Aku saja tidak tahan satu menit berada di dekatnya.”


“Mungkin delapan atau sembilan tahun. Aku tidak ingat tepatnya. Kami pertama kali bertemu di sebuah hotel di Parapat. Aku sering berada di sana karena dapat makanan gratis. Reese suka bermain bersamaku, jadi orang tuanya memutuskan untuk mengangkat aku menjadi anak mereka. Karena aku tidak punya orang tua atau wali, proses adopsinya cukup panjang dan lama.


“Dia sangat manis dan kami hidup sebagai saudara dengan harmonis. Aku yakin kamu pasti suka padanya. Dia tidak akan menjadi model remaja yang kariernya melaju cepat jika dia adalah orang yang menjengkelkan.” Aku tertawa kecil. “Aku sudah bilang, dia tidak begini dahulu.”


“Semoga kamu bisa segera bertemu dengan keluarga kandungmu. Jadi, kamu bisa terus tertawa sebahagia ini,” ucapnya dengan tulus. Aku merasakan mataku memanas mendengarnya.


“Terima kasih.” Semoga saja ini adalah keluarga yang aku cari, jadi aku tidak perlu pergi jauh untuk bisa menemukan mereka. “Ah, iya. Aku tadi ingin menanyakan sesuatu. Ng, tetapi aku lupa.”


“Kamu bertanya mengapa aku bisa mengenali kamu,” ucap Hadi membantu aku mengingat.

__ADS_1


“Ah, iya. Syukurlah kamu mengingatnya,” kataku lega. Dia menundukkan kepalanya, jadi aku menunggu sampai dia menjawab pertanyaanku itu.


“Kamu boleh tertawa bila kamu menganggap ini hal yang ketinggalan zaman. Aunt Claudia dan Mama dahulu sepakat untuk menikahkan aku dengan anak dalam kandungan Aunt Abby, jika dia berjenis kelamin perempuan.” Hadi memulai ceritanya. “Clarissa lahir dan menurut cerita mereka, kami sangat akrab dan tidak terpisahkan.”


Clarissa. Itukah namaku? Nama yang sangat indah. Aku bisa membayangkan betapa bahagianya orang tuaku, juga kakek dan nenekku saat aku lahir. Mereka sampai memikirkan anak laki-laki dari keluarga baik-baik untuk dinikahkan denganku. Jika mereka adalah keluargaku, maka ini lebih dari apa yang aku harapkan. Mereka adalah keluarga yang lebih dari yang aku impikan.


Mereka tidak berhenti mencari dan berharap akan menemukan cucu mereka yang hilang. Aku bisa melihat hal itu saat mereka bertemu denganku pertama kali. Mereka berhati-hati agar aku tidak curiga dengan perhatian mendadak mereka. Pasti dahulu ada gadis atau anak perempuan yang ketakutan dengan sikap mereka sehingga mereka belajar untuk mengubah strategi mereka.


Delapan belas tahun, itu adalah pencarian dan penantian yang sangat lama. Sudah berapa banyak dana yang mereka habiskan untuk mencari gadis kecil itu? Berapa kali juga mereka patah hati karena belum juga menemukan dia? Sekarang aku mengerti mengapa Hadi tidak mengizinkan aku untuk bertemu mereka langsung dan menawarkan diri untuk melakukan tes DNA.


“Aku tidak terlalu tertarik menjalin asmara, jadi aku berpikir janji masa kecil ini yang menyebabkan hal itu terjadi. Bukan hanya keluarga Clarissa yang membutuhkan akhir dari penantian mereka. Aku juga. Karena itu aku selalu hadir pada hari peringatan kematian orang tuanya. Wajah Aunt Abby bisa aku ingat dengan baik, begitu juga dengan Aunt Claudia.


“Itu sebabnya aku merasa tidak asing dengan wajahmu. Tetapi aku tidak segera mengenali kamu sebagai gadis yang mirip dengan Aunt Abby. Aku baru menyadarinya saat kami membicarakan kamu usai acara ulang tahun Dira.” Dia mengakhiri ceritanya.


“Cerita kamu dan anak itu sangat manis, mengapa kamu pikir aku akan menganggapnya ketinggalan zaman? Walaupun kita sudah berada di masa yang sangat maju, selalu saja ada pasangan yang menikah karena perjodohan atau dijanjikan saat masih kecil.” Aku tersenyum.


“Aku harap kamu tidak mulai berpikir untuk memperlakukan aku sebagai calon suamimu. Karena selama tes itu belum menunjukkan hasil yang positif, kamu bukan dia.” Dia bicara dengan nada serius, tetapi aku tertawa mendengarnya.


“Aku bertaruh. Jika tumbuh cinta di antara kita, maka kamu yang akan menjadi orang pertama yang jatuh cinta.” Aku tersenyum penuh arti.


“Aku benci dengan perempuan yang terlalu percaya diri. Cukup Dira saja yang selalu bicara omong kosong seperti itu,” kata Hadi dengan nada tidak suka.


“Kamu benci dengan perempuan yang percaya diri atau benci dengan kekalahan?” ejekku.


“Yang kedua. Kak Hadi sangat benci kalah. Dia akan uring-uringan layaknya perempuan sedang PMS kalau sampai kalah dalam persaingan,” ucap seorang gadis yang datang dari sisi meja. Aku dan Hadi serentak menoleh ke arahnya dan menarik napas terkejut.

__ADS_1


__ADS_2