Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 109 - Ujian Penentu


__ADS_3

Model sainganku itu berdiri dengan tangannya berada di kedua sisi pinggangnya. Matanya tertuju pada Clarissa yang sama sekali tidak mau menoleh ke arahnya. Charlotte hanya melihatnya sesaat, lalu kembali sibuk dengan makanannya.


“Kita datang ke sini untuk makan malam, Reese. Jangan ganggu mereka.” Seorang wanita yang aku yakin adalah ibunya, memegang tangannya dan mengajaknya untuk pergi.


“Maaf, kami tidak bermaksud mengganggu kalian,” ucap pria yang berdiri di sampingnya.


“Mengapa Papa meminta maaf? Aku hanya menyapa kakak angkatku. Apa setelah dia membayar semua yang kita berikan padanya, maka hubungan kita terputus?” ejek Reese. “Bagaimana rasanya menjadi orang kaya, Clarissa? Sudah berapa banyak perhiasan yang kamu curi dari keluargamu?”


“Cukup!” seru ibunya. Dia menghentak tangan Reese dan setengah menariknya ke bagian dalam restoran. Pria yang datang bersama mereka pamit kepada kami dan menyusul mereka.


Kami saling bertukar pandang, kemudian melanjutkan makan kami kembali. Orang-orang di sekitar kami yang semula melihat ke arah meja kami juga kembali duduk dengan rapi. Aku melihat ke arah Clarissa yang wajahnya memucat. Gadis yang malang. Aku tidak bisa membayangkan tahun-tahun dia hidup menjadi kakak angkat Reese. Pasti sangat mengerikan dengan sifatnya yang jahat itu.


“Aku ingin sekali merobek-robek mulut perempuan itu.” Charlotte meletakkan sendoknya di atas piring dan mendesah keras. Kami semua menoleh ke arahnya. “Dia terus saja mengumumkan bahwa Clarissa adalah pencuri. Dia bahkan tidak tahu malu menyebut-nyebut tentang uang yang Clarissa berikan pada mereka sebagai ganti biaya yang mereka keluarkan selama dia menjadi anak angkat.”


“Dia melakukan itu karena dia ingin reaksi seperti ini, Sweety. Dia hanya memancing Clarissa untuk marah agar apa yang dia tuduhkan terbukti benar. Abaikan saja. Lama-kelamaan juga dia akan lelah sendiri dan bosan mengganggu Clarissa.” Wyatt menyeka rambut Charlotte yang menutupi pipinya ke belakang telinganya. Aku harus menoleh ke arah lain agar tidak cemburu melihatnya.


“Aku setuju. Walaupun usaha itu belum membuahkan hasil.” Clarissa tertawa geli. “Dia adalah gadis yang pantang menyerah.” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Aku tidak yakin dia akan menyerah. Perseteruannya dengan Dira saja sudah berlangsung selama bertahun-tahun dan dia masih kesal setiap kali bertemu dengan Dira.” Charlotte memutar bola matanya. “Dia pasti punya masalah mental yang sangat serius.”


“Itu bukan masalah mental. Aku yakin Reese hanya cemburu pada Clarissa, seperti halnya dia iri pada Kak Dira. Clarissa ternyata bukan anak yang identitasnya tidak jelas seperti yang dia pikirkan selama ini. Saudara angkat yang berhati jahat seperti dia pasti kesal saat tahu Clarissa berasal dari keluarga yang terpandang.” Adi tersenyum penuh arti.


Setelah beberapa minggu belajar berdua saja dengan Kakak, aku tidak percaya diri menghadapi ujian masuk PTN yang aku incar. Apalagi aku bukan satu-satunya orang yang ingin kuliah di kampus di mana Kakak menuntut ilmu. Dan yang Kak Hadi sampaikan itu benar. Aku belum bisa meraih nilai kelulusan maksimal untuk masuk jurusannya.


Keluarga kami kembali merasakan bahagia yang besar saat Adi juga mendapatkan kabar baik pada hari pengumuman hasil ujian akhirnya. Dia lulus dan aku yakin nilainya pasti sama bagusnya dengan Kak Hadi. Hanya aku di antara kami bertiga yang tidak terlalu cerdas.


“Jadi, kamu sudah siap untuk mengikuti ujian?” tanya Kak Hadi saat kami sarapan bersama pada pagi aku akan mengikuti seleksi masuk.

__ADS_1


“Tidak bisakah Papa menggunakan pengaruh Papa untuk membeli satu kursi untukku?” tanyaku pada Papa dengan wajah memelas.


Papa tertawa kecil. “Ujian kecil begini saja kamu sudah menyerah sebelum mencoba, bagaimana lagi nanti saat kamu akan melamar pekerjaan?”


“Ujian kecil? Ini ujian besar, Pa! Kalau aku gagal tahun ini, maka aku harus menunggu selama satu tahun untuk mencoba lagi,” protesku.


“Kalau begitu, jangan sampai gagal,” kata Papa dengan santai. Dia menoleh ke arah Mama dan mereka tersenyum penuh arti. “Sayang, kamu putriku yang cerdas dan aku tidak pernah meragukan kemampuan akademikmu. Tenangkan pikiranmu dan berikan yang terbaik saat menjawab soal, lalu segalanya akan baik-baik saja. Sama seperti saat kamu mengikuti ujian akhir.”


Kalimat yang Papa ucapkan tidak membantu aku sama sekali. Aku justru semakin gugup. Selama dalam perjalanan menuju lokasi ujian, jantungku berdetak cepat, sulit untuk aku tenangkan. Ketika tiba di tujuan pun, aku semakin tidak percaya diri melihat ada begitu banyak peserta ujian.


Aku tidak bisa menutupi identitasku saat berada di ruang ujian, jadi aku pasrah saat ada peserta yang meminta tanda tanganku dan meminta foto bersama. Ternyata masih ada orang yang tidak gugup mengikuti seleksi masuk ini. Untungnya, kejadian itu membuat aku merasa lebih tenang dan mendapat semangat baru. Hanya tinggal beberapa saat lagi, maka aku bisa kembali bekerja. Aku bisa bertemu dengan para penggemar dan melakukan banyak hal bersama mereka.


Suasana ruangan sangat hening pada detik pengawas ujian datang dan membacakan intruksi kepada kami. Aku bahkan bisa mendengar tarikan napas setiap peserta ketika ujian sedang berlangsung. AKu tidak mau gagal dan menunggu sampai tahun depan untuk mencoba lagi. Jadi, aku membaca soal seteliti mungkin dan memilih jawaban yang paling tepat.


Aku memberi semangat pada diriku sendiri agar tidak tergoda dengan beberapa peserta yang sudah selesai dan mengumpulkan lembar soal dan jawaban mereka kepada pengawas. Penilaian tidak didasarkan seberapa cepat kami menjawab soal, tetapi seberapa banyak jawaban yang benar.


Pak Sakti sudah menunggu aku di depan gerbang, jadi aku mempercepat langkahku. Aku baru merasa lega setelah berada di dalam mobil. Oke. Bagian tersulit sudah terlewati. Aku hanya perlu menunggu pengumuman kelulusan nanti. Semoga saja aku diterima masuk ke jurusan Kak Hadi.


Mama menemani aku makan siang dan menanyakan kondisi ujian tadi. Aku menceritakan segalanya kepadanya. Mulai dari betapa gugupnya aku pada saat memasuki ruangan, sambutan dari orang-orang yang meminta foto dan tanda tangan, sampai akhirnya aku pulang bersama Pak Sakti.


“Wah! Sudah banyak penggemar yang tidak sabar menanti kemunculanmu kembali.” Mama mengedipkan sebelah matanya.


“Aku justru sempat takut, Ma. Bagaimana kalau mereka menyinggung mengenai video itu? Ternyata mereka tidak mengingatnya sama sekali.”


“Atau mereka tidak memedulikannya, karena mereka tahu bahwa kamu tidak bersalah,” kata Mama tidak mau kalah. “Aku sangat bangga padamu, sayang. Kamu menghadapi masalah ini dengan berani. Pada saat kamu memberi kesaksian nanti, ingatlah kata-kata ommu. Kami semua mendukung kamu dari belakang. Pertanyaan pembela yang manipulatif, hadapi dengan tenang.”


“Iya, Ma.” Aku tersenyum meresponsi kalimatnya itu, tetapi di dalam hati, aku sangat gentar. Aku bisa saja bersikap berani di rumah atau kantor polisi, karena hanya ada beberapa orang yang mendengar aku bicara. Pada saat sidang nanti, akan ada lebih banyak orang yang menghadirinya.

__ADS_1


Waktu berjalan begitu lama pada saat aku menunggu pengumuman hasil ujian masuk PTN. Kakak sibuk dengan ujian semesternya, sedangkan aku dan Adi sudah tidak perlu pergi ke sekolah setelah mengambil ijazah dan rapor.


Nilai ujian yang aku dapatkan ternyata jauh dari dugaanku. Aku memang tidak bisa mengalahkan nilai yang tertera pada ijazah dan rapor Kak Hadi, tetapi aku memperoleh nilai yang lebih baik daripada saat aku mengikuti ujian akhir tingkat SLTP.


Karena Charlotte sudah kembali bersama Wyatt, aku kehilangan teman yang bisa aku ajak bertemu pada saat luang. Wendy memanfaatkan hari liburnya dengan bekerja penuh waktu, jadi aku tidak bisa mengganggunya. Apalagi dia akan membiayai sendiri uang kuliahnya.


Vikal yang sudah tidak sabar bisa mendampingi aku lagi dalam pekerjaanku, tidak berhenti mengirim pesan. Ada beberapa produk yang cukup bergengsi yang sedang mencari model untuk iklan mereka. Beberapa lagi adalah perancang busana yang akan menggelar peragaan busana dalam waktu dekat dan sedang mencari model catwalk.


Bila aku masih uring-uringan dengan pengumuman seleksi masuk, berbeda dengan Adi. Dia sudah santai menunggu hari masuk sekolah. Nilai akumulatif pada ijazahnya termasuk tinggi, jadi dia sudah dipastikan masuk ke SMU yang sama dengan aku dan Kak Hadi.


“Nona, ada tamu untuk Anda,” kata Pak Abdi saat aku baru saja keluar dari kamarku.


Aku bosan berada di rumah dan berniat mengunjungi tempat kerja Wendy. “Siapa, Pak?” tanyaku penasaran. Aku berganti baju dan berdandan di ruang pakaian, jadi aku tidak mendengar ada kendaraan yang masuk ke pekarangan rumah kami.


“Silakan Anda lihat sendiri,” jawabnya penuh arti. Senyum itu hanya punya satu arti. Colin. Mengapa semua orang di rumah ini berpikir bahwa aku tidak akan bisa membaca pikiran mereka?


Aku menuju ruang tamu di mana Colin sudah menunggu kedatanganku. Untuk apa dia menemui aku pada hari ini? Bukankah dia dan Kak Hadi biasanya berkumpul bersama? Sabtu pagi hingga siang adalah waktu mereka untuk bermain basket dan makan siang bareng.


Colin berdiri saat dia melihat aku datang. Dia hanya seorang diri dan kakakku tidak bersamanya. Aku menutup pintu kembali dan berjalan mendekat. “Ada apa kamu ingin bertemu denganku? Di mana Kak Hadi?” Aku melihat ke sekeliling kami.


“Aku tidak percaya kamu menyebut ada yang kurang dalam hubungan kita hanya karena masalah yang sepele.” Dia menatapku dengan wajah kecewa.


Aku mengerutkan kening mendengar kalimatnya itu. Oh. Dia sudah mengetahui jawabannya. Apa Kakak yang memberi tahu dia? “Masalah yang sepele? Tidak ada yang sepele dalam hubungan kita.”


“Bagiku, ini masalah yang sepele. Kamu mengadu pada kakakmu, orang tuamu, tetapi kamu tidak membicarakan hal itu denganku. Mengapa, Dira? Mengapa aku harus mendengar dari orang lain bahwa ada yang kurang dalam hubungan kita?” tuntutnya.


Jika dia sudah tahu masalahnya di mana, mengapa dia masih bertanya? Apa dia sengaja memancing agar aku memberi tahu jawabannya? “Sebentar. Kamu dari tadi menyebut perkara sebesar ini sebagai masalah yang sepele. Memangnya kamu tahu apa yang kurang dalam hubungan kita?”

__ADS_1


__ADS_2