Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 25 - Identitas


__ADS_3

Aku menunggu Hadi memberikan jawaban dengan harap-harap cemas. Dia menatap aku dengan saksama untuk beberapa saat tanpa mengatakan apa pun. Mungkin dia juga sama gugupnya dengan aku sehingga dia berhati-hati menjawab pertanyaanku.


“Hadi, apa kamu mendengarkan aku?” tanyaku berusaha menarik perhatiannya setelah dia hanya diam saja. “Apa pertanyaanku itu terlalu pribadi untuk aku tanyakan padamu? Apa sebaiknya aku bertanya langsung pada Om Edu dan Tante Lindsey?”


“Tidak. Aku hanya tidak tahu bagaimana mengatakan semua ini kepadamu.” Dia menundukkan kepala dan melihat kedua tangannya yang bertautan di atas meja. Kesempatan itu digunakan oleh pelayan untuk mengantar makanan dan minuman pesanan kami.


“Katakan apa adanya saja,” kataku setengah mendesak. Jantungku sudah tidak kuat lagi menunggu begitu lama. Debarannya semakin menyesakkan dadaku.


“Sekitar delapan belas tahun yang lalu, Om Edu dan Tante Lindsey kehilangan anak, menantu, dan cucu pertama mereka. Kecelakaan itu menewaskan anak dan menantu mereka, tetapi cucu mereka tidak ada di lokasi. Pencarian besar-besaran dilakukan selama bertahun-tahun sampai akhirnya mereka menyerah. Anak perempuan itu hilang tanpa jejak.” Hadi memulai ceritanya.


“Meskipun tidak mencari dia secara khusus, keluarga mereka tidak berhenti berharap suatu hari nanti gadis kecil itu akan muncul. Jadi, kamu bisa bayangkan reaksi mereka setiap kali melihat anak berambut pirang dan bermata biru di negeri ini.” Hadi tersenyum sedih. “Kamu adalah satu-satunya perempuan yang usianya tepat seperti usia dia pada saat ini. Ciri fisik kamu sama seperti dia, tetapi yang membuat kami berharap lagi adalah wajah kamu mirip dengan Aunt Abby.”


“Aunt Abby?”


“Itu adalah nama menantu Tante Lindsey.” Hadi mengeluarkan ponselnya, lalu dia mencari-cari sesuatu. Dia memberikan ponselnya kepadaku setelah menemukan apa yang dia cari.


Aku menerima benda tersebut, lalu memerhatikan layarnya. Ada foto seorang wanita berkulit pucat, berambut cokelat, dan bermata abu-abu. Wajah itu sangat aku kenal karena aku melihatnya setiap hari di cermin. Kami seperti saudara kembar. Aku melihat jariku gemetar saat menyusuri wajahnya. Air mata mendesak keluar dari pelupuk mataku.


“Dia … sudah meninggal?” tanyaku dengan suara serak. Usianya pada foto itu masih sangat muda. Mustahil ini adalah wajahnya sekarang.


Hadi menundukkan kepalanya dan menjawab dengan sedih. “Iya. Itu adalah Aunt Abby, menantu Tante Lindsey yang meninggal dalam kecelakaan.”


Isakan keluar dari mulutku. Cepat-cepat aku menutup mulut dengan tanganku. Tidak pernah terpikir dalam benakku bahwa orang tua yang aku cari sudah meninggal. Apalagi dengan cara yang tragis. Aku selalu berpikir bahwa kami akan bertemu suatu hari nanti dan mereka menerima aku dengan tangan terbuka. Kami akan hidup bahagia selamanya. Bukan seperti ini.


Aku ingin sekali merasakan pelukan mereka, ciuman mereka, kasih sayang mereka yang tercurah untukku. Aku ingin kami membayar masa-masa kehilangan itu dengan berbagi kasih sayang dan melakukan banyak hal bersama sebagai satu keluarga. Aku membayangkan berlibur bersama mereka, memasak, makan, bermain, bahkan tidur bersama. Tidak seperti ini.


“Mila.” Aku merasakan Hadi menyentuh tanganku. “Apa kamu tidak apa-apa?”


“Aku sedih. Wanita ini masih sangat muda, tetapi harus pergi untuk selamanya. Jika benar dia adalah ibuku, maka aku sudah kehilangan kesempatan untuk bersamanya.” Aku menyeka pipiku saat aku merasakan air mata jatuh membasahi wajahku.


“Mengenai hal itu, sebelumnya aku meminta maaf. Kami sudah melakukan tes DNA tanpa izin kamu. Hasilnya menunjukkan bahwa kamu bukan anak kandung Om Matias dan Aunt Abby,” kata Hadi mengejutkan aku.

__ADS_1


Bagaimana bisa? Aku menatap foto wanita yang ada pada layar ponselnya kembali. Secara fisik saja kami sangat mirip, bagaimana mungkin kami tidak punya hubungan darah sama sekali? Oh. Apakah ini karena warna rambut dan mata kami berbeda? Bila anak Tante Lindsey adalah Om Matias, maka dia pasti orang Indonesia asli. Wanita ini adalah anak orang asing.


“Siapa yang berambut pirang dan bermata biru?” tanyaku ingin tahu. Kemungkinan besar ciri ini aku dapatkan dari kakek atau nenekku.


“Kamu bisa menggeser layarnya ke kiri.” Dia menunjuk ke arah ponselnya yang ada dalam tanganku.


Aku menurut dan foto berikutnya yang muncul adalah seorang pria dan wanita yang berpelukan sambil tersenyum ke arah kamera. Mataku segera tertarik pada wanita cantik tersebut. Rambutnya berwarna pirang lurus dan panjang, lalu matanya berwarna biru cerah. Meskipun warna rambut dan bola mata mereka berbeda, wanita pertama dan kedua sangat mirip.


“Mereka adalah Mason dan Claudia White. Orang tua Aunt Abby. Mereka tinggal di Amerika karena itu kamu tidak bertemu mereka pada acara ulang tahun Dira.”


“Bagaimana bisa hasil tesnya negatif? Dan bagian tubuhku yang mana yang digunakan sebagai sampel?” tanyaku bingung. “Kalian tidak mengambil darahku pada malam itu.”


“Kami menggunakan rambut. Kamu pasti tidak sadar saat Tante Qiana mengambil rambutmu yang rontok di pakaianmu. Kami beruntung karena ada beberapa helai rambut lengkap dengan akarnya. Sebenarnya menggunakan bagian rambut mana pun sama saja, tetapi bagian akar mempermudah hasil tes.” Hadi mengulurkan tangannya, maka aku mengembalikan ponselnya tersebut.


“Jadi, mereka bukan orang tua dan kakek-nenekku? Kalau kalian ingin melakukan tes ulang, aku bersedia memberikan sampel apa pun yang kalian butuhkan.” Aku tidak percaya bahwa mereka bukan keluargaku. Pasti ada yang salah dengan tes sebelumnya.”


Hadi tersenyum. “Makan rotimu dan habiskan minumanmu. Saat adikku datang nanti, kita harus segera pulang. Dia tidak bisa berlama-lama di tempat umum. Kamu tidak akan mau melihat dia berurusan dengan para fannya. Mengenai tes itu, aku akan bicarakan dengan orang tuaku dahulu.”


“Mengapa harus dibicarakan dahulu? Kalian mengambil sampel dan melakukan tes tanpa izinku, lalu mengapa saat aku ingin membantu pada tes kedua harus dapat izin dahulu?” tanyaku tersinggung.


“Apa kamu khawatir hasilnya akan negatif dan mereka akan kecewa lagi?” tanyaku pelan. Dia mengangguk. “Baiklah. Aku mengerti. Tolong, beri tahu aku jika kalian membutuhkan aku.”


“Beri tahu aku nomormu.” Dia menyiapkan kedua jempolnya di atas layar ponselnya. Bila situasinya berbeda, aku akan menolak permintaan tersebut. Tetapi ini adalah kasus khusus.


Aku menyebut nomor ponselku, tidak lama kemudian aku merasakan getaran pada tas ranselku. Itu pasti panggilan masuk dari Hadi. Aku mengeluarkan ponselku dan segera menyimpan nomornya sebelum aku lupa. Karena aku tidak pernah menjawab panggilan masuk dari nomor tidak dikenal.


Hadi meminum kopinya, maka aku melakukan hal yang sama. Teh pesananku sudah tidak hangat lagi sehingga rasanya kurang enak diminum dalam keadaan dingin. Melihat Hadi memakan roti yang ada di atas piringnya, aku menerimanya sebagai sinyal bahwa dia tidak punya bahan pembicaraan lagi. Tetapi aku masih punya banyak pertanyaan di kepalaku.


“Apa aku boleh bertanya?” tanyaku memecahkan keheningan di antara kami. Dia mengangkat kepalanya dan mengangguk pelan. “Mengapa Colin dan Dira tidak bereaksi sama saat melihat aku pertama kali? Mengapa hanya kamu yang seperti sadar bahwa aku mirip dengan seseorang?”


“Colin tidak selalu hadir dalam acara keluarga kami bersama para sahabat orang tuaku, sedangkan Dira tidak terlalu memerhatikan foto Aunt Abby dan Aunt Claudia jarang datang ke Indonesia,” jawabnya yang memunculkan pertanyaan baru.

__ADS_1


“Lalu bagaimana kamu bisa mengenali aku? Apa—”


“Wah, wah, wah, lihat siapa yang ada di sini,” ucap seseorang dari arah kiriku, memotong kalimatku. Aku menghela napas panjang sebelum menoleh. Karena aku akan membutuhkan banyak kesabaran untuk menghadapi gadis menjengkelkan ini.


*******


Sementara itu di sebuah apartemen~


Gista membuat beberapa potong roti isi, lalu membawa dua piring penuh ke ruang tengah di mana keluarganya sedang berkumpul. Colin sedang sibuk dengan ponsel dan tabletnya, Lily sedang asyik menonton ditemani oleh Will.


“Papa dan Mama mengundang kita makan siang di rumah mereka pada hari Minggu nanti. Jadi, batalkan semua janji kalian pada hari itu.” Gista meletakkan kedua piring di atas meja yang isinya segera diserbu oleh suami dan kedua anaknya.


“Oke, Ma,” jawab Colin dan Lily serentak.


“Colin, apa kamu sudah bicara dengan Pak Mahendra?” tanya Gista menyebut nama atasannya. Putranya itu menatapnya dengan bingung. “Jangan bilang kamu tidak mengerti apa maksudku.”


“Aku tidak mengerti apa maksud Mama,” kata Colin membenarkan. Dia memandang papa dan mamanya secara bergantian.


“Kamu meminta izin Pak Mahendra saat meminta Dira menjadi istrimu, maka sudah selayaknya kamu juga memberi tahu dia ketika kamu membatalkan niatmu itu,” kata Gista menjelaskan.


“Mama bercanda, ‘kan?” tanya Colin dengan senyum kecut. Keringat dingin mulai muncul di dahinya.


“Apa aku terlihat seperti bercanda?” Gista balik bertanya. “Kita akan menghadiri ulang tahun Adi pada hari Selasa nanti. Aku harap kamu bicara baik-baik dengannya pada hari itu bila kamu tidak berani mengajaknya bertemu berdua.”


“Tetapi, Ma—” ucap Colin keberatan.


“Aku bertemu dengannya setiap hari di tempat kerja. Aku tidak berhenti merasa bersalah setiap kali memikirkan hal buruk yang sudah dilakukan putraku pada putrinya. Tolong, bantu aku. Segera bicara dengannya dan akhiri penderitaanku,” pinta Gista.


“Kamu tidak bisa memperlakukan tunangan yang sudah bersamamu selama enam belas tahun seperti ini, Colin,” timpal Will. “Hubungan kalian bukan hanya mengenai kamu dan Dira semata. Ini juga mengenai hubungan persahabatan aku dan ibumu dengan Hendra dan Zahara. Ibumu bahkan bekerja di perusahaan Hendra.”


“Ayolah, Colin. Berhenti memasang wajah memelas begitu. Dira bisa meluluhkan hati orang lain dengan ekspresi itu, tetapi tidak denganmu.” Lily memutar bola matanya. “Kamu yang mengambil keputusan ini, maka kamu harus siap dengan konsekuensinya.”

__ADS_1


“Masalahnya, aku—” ucap Colin masih mencoba tawar-menawar.


“Tidak ada alasan lagi. Kami sudah cukup menoleransi kamu yang sampai detik ini belum juga bicara dengan Hendra.” Will menatap putranya dengan serius. “Jika kamu tidak mau melakukannya, maka kami akan mengundang mereka makan di sini agar kalian bisa bicara.”


__ADS_2