
Aku dan Jordan hanya berteman biasa selama beberapa minggu terakhir. Aku tidak pernah memberi sinyal bahwa aku menginginkan hubungan yang lebih. Kami bahkan tidak bisa disebut sahabat baik karena aku tidak pernah berbagi rahasia dengannya seperti yang aku lakukan bersama Charlotte.
Jadi, sikapnya yang mendadak memaksa aku untuk memberi dia kesempatan atau memikirkan ulang mengenai lamarannya untuk menjadi pacarnya sangat aneh. Sebelum dia memberikan surat cinta itu, kami tidak pernah dekat, mengobrol, atau belajar bersama. Kami bahkan bukan teman sekelas. Lalu entah bagaimana, dia dipindahkan ke kelas kami.
Sahabat dekatku di kelas hanya Charlotte, Wendy, dan Wyatt. Walaupun Wyatt pengecualian, tetapi sebelum dia putus dengan sahabatku, kami pernah dekat. Kami bahkan lebih akrab dibandingkan aku dengan Jordan. Jadi, melihat dia mendadak terobsesi begini sangat mengherankan.
Aku terdiam mendengar dia berteriak begitu keras dan memegang lenganku dengan erat. Untuk beberapa menit, aku hanya diam menatapnya, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. “Kamu menyakiti aku, Jordan.” Itu adalah kalimat pertama yang aku ucapkan setelah rasa terkejutku hilang.
“Lepaskan dia, bodoh!” Wyatt mendorong Jordan menjauh dariku dan berdiri di antara kami berdua.
“Ma-maafkan aku.” Jordan segera melepaskan pegangannya pada lenganku. “Maaf, Dira. Aku tidak bermaksud kasar. Aku … aku tidak bermaksud menyakiti kamu. Aku hanya—” ucapnya gugup.
“Ayo, Dira. Kita pergi dari tempat ini.” Charlotte melingkarkan tangannya di bahuku.
“Dira, aku tidak bermaksud begitu. Maafkan aku,” kata Jordan lagi.
“Berhenti sampai di sini. Jangan selangkah pun mendekati Dira.” Wyatt meletakkan tangannya di depan dada Jordan untuk menahannya tidak mendekati aku lagi.
Mobil BMW milik Kak Hadi sudah berada di luar gerbang menunggu aku, begitu juga dengan mobil milik Charlotte. Dia mengusir Wyatt untuk pulang dengan mobilnya, sedangkan dia ikut masuk ke mobil kakakku. Tentu saja Wyatt tidak akan menuruti permintaan mantannya. Mereka berdua ikut masuk ke mobil kakakku dan pulang bersamaku ke rumah.
Apa yang dilakukan Jordan sama sekali tidak memengaruhi aku. Tetapi Charlotte dan Wyatt bersikap seolah-olah kejadian tadi mengguncang jiwaku. Aku memutuskan untuk diam saja dan menikmati perhatian dari mereka. Kapan lagi aku bisa mengerjai sahabatku sendiri?
“Apa kamu baik-baik saja, Dira? Apa Jordan menyakiti lenganmu?” tanya Charlotte saat sudah berada jauh dari sekolah.
“Aku baik-baik saja. Kalian berdua bersikap berlebihan.” Aku tertawa kecil.
“Apa yang terjadi pada Nona Dira, Nona Charlotte?” tanya Pak Sakti. Dia pasti akan memberi tahu Papa bila dia tahu apa yang terjadi di kelas tadi.
__ADS_1
Aku segera membungkam mulut Charlotte dengan tanganku sebelum dia menjawab. “Tidak ada apa-apa, Pak. Semuanya baik-baik saja. Ujian berjalan dengan lancar dan kami akan belajar bersama di rumah. Iya, ‘kan, Wyatt?”
“Jordan menarik lengan Dira saat dia akan keluar dari kelas. Dira memekik kesakitan, jadi aku yakin pegangan dia tadi cukup erat.” Wyatt duduk di depan sehingga dia harus sedikit memutar tubuhnya untuk bisa melihat aku. “Maafkan aku, Dira. Tetapi aku lebih takut pada ayahmu daripada kamu.”
“Mulai dari detik ini, kamu bukan sahabatku lagi,” kataku dengan serius. Aku menjauhkan tanganku dari mulut Charlotte. “Aku mau kalian pulang begitu kita sampai di rumahku.”
Tentu saja aku tidak bisa mengusir mereka saat kami tiba di pekarangan depan rumahku. Mama keluar dari rumah menyambut kedatangan kami. Dia mengajak atau lebih tepatnya, menarik paksa Charlotte dan Wyatt masuk ke rumah. Mereka dipersilakan untuk membersihkan diri sebelum memasuki ruang makan.
Biasanya Mama konsentrasi dengan tulisannya di ruang khususnya, tetapi kali ini dia menemani kami makan dan menanyakan jalannya ujian tadi. Charlotte dengan senang hati menceritakan segalanya kepada Mama, sedangkan aku bersiap menendang kakinya di bawah meja. Satu kali saja dia berani menyebut insiden dengan Jordan, dia akan mendapat masalah denganku.
Selain Kak Hadi dan Adi, tidak ada seorang pun di keluarga kami yang tahu bahwa ada seorang teman sekolah yang berusaha untuk mendekati aku. Bukannya aku ingin merahasiakan hal sebesar itu dari orang tuaku, tetapi aku tidak mau masalah sepele ini menjadi besar.
Mama tidak akan berhenti bertanya apa saja mengenai pemuda itu. Sebaliknya, Papa akan meminta Om Irwan untuk menyelidiki segala hal mengenai Jordan. Mulai dari data pribadinya, keluarganya, sampai segala hal yang sangat rahasia mengenai masa lalunya. Aku tidak punya perasaan apa pun pada pemuda itu, jadi aku tidak mau keluargaku mencari tahu hal pribadi mengenai dia.
“Jadi, kalian datang ke sini siang ini untuk belajar bersama?” tanya Mama setelah mendengar cerita Charlotte yang panjang.
“Tidak, Tante. Aku tidak akan sudi belajar bersama laki-laki pecundang ini. Aku hanya akan belajar bersama Dira,” ucap Charlotte yang tidak segan bicara blak-blakan dengan ibuku.
“Apa Tante sudah lupa bahwa dia seorang pengkhianat?” ujar Charlotte tidak percaya.
“Dia sudah membuktikan bahwa dia tidak terlibat dalam kejahatan yang dilakukan Finley. Dia hanya diperalat, Charlotte. Apa dia pernah menyakiti kamu dan keluargamu secara sengaja setelah dia dekat dengan kalian semua? Tidak, ‘kan? Itu artinya dia adalah orang baik yang dipengaruhi oleh orang jahat. Orang yang dia pikir sama baiknya seperti dia,” kata Mama membela Wyatt.
“Aku lebih memilih sepakat untuk tidak sepakat, Tante. Silakan saja kalau Tante ingin menilai dia baik. Bagiku, dia adalah seorang pencundang,” kata Charlotte dengan tegas.
Mama tertawa kecil. “Apa kamu tahu? Sikapmu ini mirip denganku dahulu. Aku sangat membenci suamiku sampai aku tidak sadar bahwa aku sudah jatuh cinta sangat dalam padanya. Sayang, jangan terlalu benci pada seseorang. Karena sering sekali, benci adalah tanda cinta.”
“Cinta? Aku mencintai Wyatt?” pekik Charlotte terkejut. Dia tertawa sarkas. “Aku tidak mencintai dia lagi, Tante. Untuk apa mencintai orang yang punya niat buruk dan berpura-pura mengatakan cinta kepadaku? Bagaimana pun akhirnya, dia dan Finley berencana untuk menghancurkan hidupku. Titik.”
__ADS_1
“Aku hanya mencoba membantu. Lebih baik kalian menggunakan setiap detiknya untuk saling mencintai daripada menyangkal perasaan sendiri.” Mama tersenyum penuh arti.
Usai makan siang, kami beristirahat sebentar di teras samping dengan menikmati camilan dan es buah yang disajikan oleh Bu Yuyun. Mama kembali ke ruang khususnya untuk melanjutkan proyek menulisnya. Charlotte duduk di sofa tiga dudukan bersamaku, sedangkan Wyatt duduk sendiri di sisi kanan kami.
Karena udara di teras cukup sejuk, kami memutuskan untuk tidak belajar di ruang keluarga. Wyatt cukup tahu diri dengan tidak memberikan pendapatnya saat aku dan Charlotte sedang berdiskusi. Sahabatku bisa tetap tenang saat pemuda itu berada di dekat kami saja sudah cukup. Jadi, aku tidak perlu menghadapi drama di mana Charlotte mengusir Wyatt dan laki-laki itu menolak.
Mereka pamit pulang beberapa saat sebelum Kak Hadi tiba di rumah. Wajahnya terlihat lelah dan dia hanya menyapa aku sesaat, lalu langsung menuju kamarnya. Aku tidak tahu kapan kakakku akan bisa melanjutkan hidupnya setelah putus dari Clarissa.
Belajar dari pengalaman hari pertama ujian, aku berangkat ke sekolah seperti biasanya. Kak Hadi tidak perlu menghadapi aku yang berteriak meminta dia untuk makan dan jalan dengan cepat. Kami bisa lebih santai. Walaupun pada hari ini Kakak tidak punya mata kuliah, dia harus ke kampus untuk menemui dosen pembimbingnya. Setelah itu, dia akan membantu Papa di kantornya.
Aku tidak membuka buku catatanku lagi untuk aku baca sepanjang perjalanan ke sekolah. Aku lebih memilih untuk melihat keadaan di sekitarku. Saat mataku tertuju pada papan iklan dan spanduk yang terpampang di sepanjang jalan dan toko, aku diam-diam merindukan pekerjaanku. Ini adalah cuti terlama yang pernah aku ambil.
Vikal kadang-kadang mengirim pesan dan menggoda aku agar mau kembali bekerja. Ada beberapa produk kecantikan dan busana yang mencari model untuk iklan atau duta produk mereka. Kalau bukan karena aku sudah bertekad untuk mengambil cuti, aku pasti sudah tergoda untuk bekerja lagi.
“Apa kamu tidak khawatir akan bertemu dengan Jordan di ruang ujian?” tanya Charlotte saat kami berjalan menuju ruang kelas.
“Mengapa aku harus khawatir?” tanyaku bingung.
“Dia bertindak cukup agresif kemarin, jadi aku yakin dia akan melakukan sesuatu untuk menarik perhatianmu lagi,” katanya menjelaskan maksudnya.
“Hari ini hari kedua ujian, Charlotte. Dia tidak akan bertindak bodoh sebelum ujian dimulai.”
“Aku benar-benar tidak mengerti. Apa yang dia lihat padamu yang membuat dia bersikap begitu. Teman sekelas yang lain lebih menghormati kamu ketika kamu menolak cinta mereka. Dia sudah ditolak masih berani menyatakan perasaannya lagi,” gerutu Charlotte.
“Itu namanya usaha, honey. Aku tidak bilang bahwa aku setuju dengan apa yang dia lakukan. Tetapi kamu perlu menghargai usaha seorang laki-laki yang pantang menyerah mendapatkan gadis yang dia sukai.” Wyatt ikut menyampaikan pendapatnya.
“Pantang menyerah dan tidak tahu diri itu sangat tipis bedanya. Bukan begitu menurutmu?” balas Charlotte. “Seperti kamu, misalnya. Kita bukan siapa-siapa lagi tetapi kamu terus saja memanggil aku honey. Sadar, Wyatt. Aku bukan pacarmu lagi.”
__ADS_1
“Oh, apa kamu lebih suka bila aku panggil sweety?” goda Wyatt dengan senyum manisnya menyebut nama panggilan kesukaannya saat dia dan sahabtku masih bersama. Charlotte menggeram kesal dan menarik aku untuk bergegas ke kelas.
Ada beberapa siswa yang berdiri di koridor dekat kelas kami menatap dengan rasa ingin tahu ke arah kelas. Melihat kedatanganku, mereka cekikikan sambil berbisik dengan teman di sebelahnya. Aku berjalan menuju kelas dan langkahku terhenti di ambang pintu. Pemandangan di depanku membuat aku tidak bisa berkata-kata.