Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 199 - Pergi untuk Kembali


__ADS_3

*Clarissa*


Pernikahan Colin dan Dira adalah pernikahan paling megah yang pernah aku hadiri. Calon adik iparku itu sempat khawatir tidak akan ada orang dari agensi yang mau datang. Apalagi dia adalah saksi yang memberatkan pada persidangan gugatan terhadap Laras. Ternyata dia salah.


Ada banyak sekali orang terkenal yang hanya bisa aku lihat di televisi atau media daring yang datang untuk mengucapkan selamat. Wendy dan Lily memanfaatkan keadaan itu untuk berfoto bersama mereka. Aku lebih suka duduk di sisi Hadi dan tidak bergerak ke mana pun.


Walaupun hari ini adalah Valentine’s Day pertama kami bersama, aku sudah cukup puas mendapat satu buket mawar merah darinya. Makan malam di resepsi ini aku anggap sebagai kencan kami. Aku bahagia hanya dengan berada di sampingnya saja.


“Kamu yakin tidak menyesal menunda pernikahan kita?” godanya lagi.


“Kalau aku harus memilih di antara sekolah atau menikah, maka aku lebih memilih melanjutkan studi. Hanya satu tahun. Kita bisa menikah pada akhir tahun depan atau pada awal tahun berikutnya,” jawabku santai. “Aku sudah berhasil melampaui skor IELTS-mu. Jadi, tidak, terima kasih.” Dia tertawa kecil. “Bagaimana denganmu? Kamu yakin tidak menyesal?”


“Jika bisa menunda kehebohan ini selama satu tahun lagi, aku akan lakukan apa pun,” katanya cepat. Aku yang kali ini tertawa. “Apa kamu ingat apa yang terjadi pada hari ini, satu tahun yang lalu?”


Aku tidak akan pernah melupakan hari itu. “Tentu saja!” Kami semua berkumpul bersama pada hari ulang tahun Dira dan aku bertemu Kakek, Nenek, dan Charlotte untuk pertama kalinya. Setelah satu kali kesalahan, pemeriksaan DNA berikutnya membuktikan bahwa kami adalah keluarga.


“Tidak terasa sudah satu tahun, ya,” gumam Hadi pelan. Aku mengangguk setuju.


Pada hari wisuda, aku duduk bersama Kakek dan Nenek dengan rasa bangga. Aku melakukan segala yang aku tahu untuk bisa membiayai hidupku dan menyelesaikan kuliahku tanpa bantuan keluarga angkatku yang jahat itu. Akhirnya, hari ini benar-benar datang.


Aku tidak sendirian merayakannya, melainkan bersama keluarga, sahabat, dan kekasihku. Aku tidak akan pernah menyangka bahwa semua hal ini akan aku miliki. Hampir empat tahun yang lalu, aku seorang diri mengurus diri dan studiku. Tidak ada keluarga dan aku menolak untuk berteman.


Mengingat keluarga Foster, aku teringat dengan Reese yang harus mendekam dalam penjara selama delapan tahun. Penuntut Umum memberi tahu pengadilan mengenai statusku sebagai kakak angkat Reese yang mendapat perlakuan buruk. Tuntutannya tidak main-main, penganiayaan berat dan pembunuhan berencana. Polisi berhasil membuktikan semua itu.


Dibandingkan dengan saat aku bersaksi untuk melawan Finley, aku nyaris goyah ketika bersaksi dalam persidangan Reese. Aku tidak bisa membenci dia walaupun dia sudah begitu jahat kepadaku. Walaupun aku berkata jujur di kursi saksi, aku merasa bersalah sudah menjadi penyebab utama dia mendapat hukuman yang berat.


Namun aku tidak bisa lagi menaruh rasa kasihan kepadanya. Dia tidak akan pernah berubah jika dia selalu dibela setiap kali melakukan kesalahan. Ibu Foster menangis dan berlutut di depanku pun tidak bisa mengubah pendirianku. Bukan hanya ayah dan ibunya, aku juga menangis saat hakim membacakan putusan untuk mantan adik angkatku itu.

__ADS_1


“Rissa … Halooo, Rissa kesayanganku,” ucap seorang yang duduk di sisiku, membuyarkan lamunanku. “Akhirnya, kamu mendengarkan aku juga. Ada apa? Ujiannya tadi sulit?” Hadi tersenyum licik.


Aku memicingkan mataku. Sampai kapan dia akan menggoda aku mengenai kemampuan bahasa Inggrisku? “Itu ujian paling gampang yang pernah aku ikuti.” Aku menjulurkan lidahku kepadanya.


“Bagus. Aku sudah bosan belajar terus. Mulai hari ini kita bisa sedikit bersantai. Begitu hasilnya keluar, kita bisa melamar kampus yang kita incar.” Dia mengulurkan tangannya kepadaku.


Aku menerimanya dan berdiri dari tempat dudukku. “Apa kamu akan menemui Colin dan teman bermain basket kalian?” tanyaku saat dia menggandeng tanganku menuju pintu keluar ruang ujian.


“Siapa yang akan berolahraga pada siang terik begini, Rissa?” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Apa itu artinya aku boleh mengajak kamu untuk makan siang dan menonton bersamaku?” tanyaku penuh harap. “Aku tidak mau pulang ke rumah secepat ini. Charlotte dan Wyatt pasti sedang jalan-jalan. Aku tidak mau sendirian di rumah.”


“Karena itu aku akan mengajak kamu kencan.” Dia membukakan pintu mobilnya untukku. Aku memeluknya sambil bersorak senang.


Kami keluar dari lapangan parkir lembaga yang mengadakan ujian kemampuan bahasa Inggris yang baru kami ikuti. Tidak semua universitas menjadikan sertifikat ujian itu sebagai syarat, tetapi Om Hendra dan Uncle Xavier menuntut kami meraih skor tertentu barulah kami boleh mendaftar ke kampus yang kami inginkan. Tentu saja aku dan Hadi akan melamar ke universitas yang sama.


Waktu kami setelah menyelesaikan skripsi habis untuk belajar. Hampir tiga bulan berlalu, kami pun bisa bernapas lega. Sekitar dua minggu lagi hasil tes kami keluar, jadi kami punya empat belas hari untuk bersantai. Aku tidak khawatir dengan hasilnya, karena aku tahu skor itu pasti aku raih.


“Kamu berharap bertemu seseorang di sini?” tanya Hadi membaca pikiranku.


Aku menggeleng pelan. “Kita sering sekali bertemu dengan seseorang tanpa disengaja. Aku pikir akan ada entah siapa di tempat ini yang mengenal kita.”


“Ada teman satu jurusanku di sudut kanan bersama keluarganya. Wajar saja kita bertemu dengan orang yang kita kenal. Kita berada di tempat umum,” katanya dengan santai.


Setelah makan siang, kami membeli jagung berondong dan minuman sebelum masuk ke studio. Aku terkejut melihat ada banyak kursi yang terisi. Padahal saat membeli tiket, studio ini yang paling sepi. Ternyata banyak juga peminatnya.


“Kak Hadi? Clarissa?” ucap seseorang yang duduk di dekat dua kursi kosong tempat duduk kami. Aku dan Hadi serentak melihat pemilik suara itu, karena kami mengenalnya. Dia satu-satunya perempuan yang memakai kacamata hitam dan masker di tempat ini.

__ADS_1


“Dira??” tanya kami serentak. “Colin??” ucap kami melihat pemuda yang duduk di sisinya.


“Haaii!” Mereka sama-sama melambaikan tangan kepada kami. “Ini kebetulan yang keren sekali!” seru Dira senang. “Kita tidak ada janji, tetapi kita menonton film yang sama di tempat yang sama dan tempat duduk bersebelahan.”


“Pelankan suaramu, Dira. Kamu menarik perhatian banyak orang.” Hadi mempersilakan aku duduk di sisi adiknya dan dia di sebelahku.


Hadi benar. Kami berada di tempat umum, wajar saja bertemu dengan orang yang kami kenal. Tetapi bertemu dengan adik dan sahabatnya adalah sebuah kejutan. Apalagi tempat tinggal mereka tidak dekat dari tempat ini. Malam minggu kami sangat menyenangkan. Setelah menonton, kami pergi ke taman bersama untuk menikmati jagung bakar dan minuman hangat.


Melihat interaksi Dira dan Colin tidak berubah, aku bisa membayangkan bahwa hubunganku dan Hadi juga tidak akan banyak berubah nanti. Mereka tetap bicara sesantai biasanya, tidak menyentuh secara berlebihan, tetapi aku bisa merasakan hubungan mereka jauh lebih intim dari sebelumnya.


Seolah-olah tahu aku akan pergi jauh, Charlotte tidur hampir setiap malam bersamaku di kamarku. Padahal aku baru mengirim lamaran dan belum mendapatkan jawaban. Kami saling berbagi cerita hal yang lucu, juga impian dan rencana kami ke depan. Setiap kali dia sedang bertengkar dengan Wyatt, maka dia akan mencurahkan perasaannya kepadaku. Begitu juga dengan aku.


Karena Hadi menggunakan waktunya untuk bekerja di perusahaan papanya, maka aku juga pergi ke kantor Kakek. Untuk pertama kalinya, aku melihat Kakek bekerja dan memimpin para bawahannya secara langsung. Aku semakin tidak sabat untuk kembali dan bekerja penuh waktu di perusahaan itu.


Walaupun perusahaan Kakek dan Om Hendra tidak melakukan kerja sama bisnis, aku tidak segan membantu Hadi. Dia masih suka menanyakan pendapatku mengenai kegiatan promosi yang cocok untuk dilakukan pada akhir pekan. Dia selalu bicara panjang lebar setiap kali mendiskusikan soal pekerjaan, maka aku tidak keberatan bertukar pikiran tentang itu. Lagi pula aku menganggap ini sebagai persiapan. Suatu hari nanti, ini akan menjadi topik sehari-hariku.


“Bagaimana?” tanya Charlotte tidak sabar. Mereka berempat duduk di depanku dengan wajah ingin tahu. Grandpa dan Grandma juga ikut mendengarkan lewat panggilan video.


Aku tidak kuasa mengatakan apa pun karena terharu dengan hasil pengumuman yang aku baca di layar laptopku. Bisa menyelesaikan studi sarjanaku saja aku sudah sangat senang. Tetapi aku mendapat satu kesempatan besar lagi. Aku diterima di universitas yang aku lamar!


Seluruh keluargaku bersorak bahagia. Mereka bergantian memeluk dan mencium aku mengucapkan selamat. Hadi menggunakan waktu yang tidak tepat saat melakukan panggilan video. Giliran Wyatt yang sedang memeluk dan mencium pipiku mengucapkan selamat. Dia berbicara begitu ramah pada keluargaku, tetapi mendiamkan aku selama satu minggu.


Nenek dan Charlotte mengajak aku ke berbagai toko untuk membeli keperluanku selama berada di London. Pakaian dingin dan jaket secukupnya, karena kuliahku akan dimulai pada bulan September. Beberapa hari menjelang keberangkatan, koki menyiapkan berbagai makanan tahan lama untukku. Jadi, koperku setengah dipenuhi pakaian, sedangkan setengahnya lagi dengan makanan.


Bandara dipenuhi dengan tangisan keluarga dan sahabatku beserta Hadi. Para ibu yang tidak bisa menahan rasa haru mereka. Para ayah berusaha untuk tegar walaupun aku bisa melihat air mata mengancam keluar dari pelupuk mata mereka. Kami sudah berjam-jam bersama sejak kami check-in dan memberikan koper kami di konter, tetapi mereka masih berat meninggalkan kami.


“Aku sangat bangga kepadamu, sayang,” ucap Kakek saat memberikan pelukan terakhirnya. “Kamu baru satu tahun bersama kami, tetapi mau belajar banyak demi perusahaan keluarga kita. Jangan memaksakan diri di sana. Pulanglah dengan kepala terangkat, apa pun hasil studimu.”

__ADS_1


Aku tertawa terharu mendengarnya. Aku tahu dia bermaksud baik. “Aku tidak akan gagal, Kakek. Aku akan pulang dengan membawa ilmu dan bekal supaya aku siap menggantikan Kakek. Ijazahku akan menjadi hadiah ulang tahun dariku untuk Kakek.”


Hadi menggandeng tanganku saat kami kembali ke terminal keberangkatan menuju ruang tunggu. Aku tidak menoleh ke belakang lagi. Langkahku akan semakin berat bila aku melihat air mata di wajah mereka. Aku hanya pergi untuk beberapa bulan saja. Tidak seperti kejadian saat aku masih kecil bersama orang tuaku. Aku pasti akan pulang kepada keluargaku.


__ADS_2