Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 114 - Sidang Pertama


__ADS_3

*Dira*


“Kami memanggil Clarissa Raina untuk maju sebagai saksi,” ucap seorang pria yang duduk di balik meja penuntut umum.


Dengan kepala terangkat, Clarissa berdiri dari tempat duduknya menuju kursi saksi. Aku melihat Tante Lindsey dan Charlotte terlihat khawatir dari tempat duduk mereka. Tetapi Clarissa sama sekali tidak mengecewakan. Dia menceritakan apa yang terjadi selama dia dalam penyekapan tanpa gentar, juga menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan tenang.


Tim kuasa hukum Om Edu berhasil menolong dia untuk tahu seperti apa suasana pengadilan yang sebenarnya. Menurut cerita Charlotte, mereka menginterogasi dengan pertanyaan yang tidak masuk akal sekalipun yang mungkin akan ditanyakan oleh penasihat hukum Finley.


Itulah yang sedang aku saksikan di hadapanku. Ada banyak pertanyaan konyol yang diajukan oleh mereka seolah-olah Clarissa dan Finley sudah lama saling mengenal. Dengan rekam jejak Clarissa yang suka menemani pria berumur jalan-jalan, mereka menggunakan hal itu untuk menekannya agar mengaku menyukai Finley dan bahwa dia yang membujuk pria itu untuk menikahinya.


Beberapa orang yang menghadiri pengadilan itu tertawa sehingga hakim harus mengetuk palu untuk meminta mereka tenang. Finley memang tampan, bertubuh bagus dan tinggi, juga memiliki mata hijau yang indah yang sanggup membius siapa saja untuk tertarik kepadanya. Tetapi dia terlalu tua untuk Clarissa. Bahkan tidak ada bukti yang menunjukkan mereka pernah berkencan.


Penasihat hukum menunjukkan rekaman CCTV di mana Clarissa dan Finley sedang duduk berdua di sebuah restoran. Tetapi penuntut umum segera membalas dengan menunjukkan rekaman CCTV di mana Finley yang pertama kali mendekati Clarissa di sebuah bioskop di mal yang sama di mana restoran tadi berada.


Setelah giliran Clarissa, mereka memanggil Kakak untuk duduk di kursi saksi. Mereka menanyakan hubungannya dengan Clarissa yang segera dipotong penuntut umum, karena hubungan dia dan Clarissa tidak ada hubungannya dengan kejahatan yang Finley lakukan.


Kesaksian Kakak dibutuhkan untuk menceritakan dua penyerangan yang dia alami bersama Clarissa saat mereka berada di dalam mobil. Bukti dari bengkel mengenai kerusakan yang dialami mobilnya dan keterangan dari rumah sakit selama dia dalam perawatan juga disertakan dalam bukti. Yang tidak terbantahkan adalah rekaman CCTV lalu lintas milik dinas perhubungan.


Aku hanya bisa menutup mata ketika Kakak dan Clarissa melawan orang-orang dengan pemukul besi dalam rekaman tersebut. Merasakan sentuhan pada tanganku, aku menoleh. Colin yang duduk di sisiku menatapku dengan khawatir. Aku mengangguk pelan sebagai sinyal bahwa aku baik-baik saja.


Penasihat Hukum Finley berusaha berkelit dengan mengatakan bahwa kliennya tidak mengirim orang-orang tersebut. Kak Hadi juga tidak bisa membuktikan bahwa orang yang menyerang mereka adalah suruhan Finley. Untuk membuktikan hal itu, maka setelah kesaksian Kakak, penuntut umum memanggil salah satu dari penyerang yang terekam pada CCTV.


“Akhirnya, hari ini berlalu juga.” kata Om Giovanni yang mengajak kami semua untuk makan malam di rumahnya. Para pelayan menyajikan kudapan sore sambil menunggu makanan matang.

__ADS_1


“Aku tidak menyangka mereka akan menggunakan pekerjaan rahasia Clarissa untuk menyudutkan dia. Di mana logikanya, seorang gadis yang merengek minta dinikahi malah disekap di sebuah rumah? Ada banyak penjaga yang mengelilingi rumah. Kalau mereka hanya sekadar kawin lari, dia tidak akan menyewa orang bertubuh besar sebanyak itu. Apalagi sampai menculik Clarissa dari mobil Hadi,” kata Tante Darla.


“Mereka hanya melakukan tugas, sayang. Walaupun mereka tahu bahwa klien mereka bersalah, mereka berkewajiban untuk membuktikan bahwa dia layak mendapatkan keringanan hukuman. Mereka tahu bahwa Finley tidak akan bisa lolos dari jeratan hukum. Semua bukti memberatkannya.” Om Giovanni memegang tangan istrinya. “Ada hal penting yang perlu kita sampaikan pada mereka. Bagaimana kalau kita fokus pada hal yang menyenangkan saja?”


“Aku setuju.” Tante Lindsey mendesah keras. “Aku tidak sanggup lagi membahas kasus ini. Cucuku sudah memberi kesaksian, maka aku mau kita meninggalkan semuanya di belakang.”


“Hal menyenangkan apa yang ingin kalian sampaikan?” tanya Tante Qiana ingin tahu. Dia tertawa kecil. “Jangan bilang kalian akan memiliki seorang anak lagi.” Tawa kami meledak mendengarnya.


“Hei, hei, hei. Apa yang kamu lakukan, Qiana? Itu bencana, bukan berita yang menyenangkan,” protes Om Giovanni. “Usia kami sudah terlalu tua untuk memiliki anak lagi.”


Semua orang dewasa bicara pada waktu yang bersamaan sehingga kami, para anak-anak, tidak tahu harus mendengarkan siapa. Tante Darla akhirnya berhasil melerai dan semua orang pun berhenti bicara. Tante Qiana dan Tante Lindsey masih tertawa kecil.


“Brady dan Dafhina akan merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Jadi, mereka mengundang kita semua untuk menghadirinya. Kamar hotel akan mereka sediakan, begitu juga makanan selama kita berada di sana.” Suasana segera hening mendengar pengumuman itu. Tante Darla menoleh ke arah Om Giovanni. “Kami berdua sepakat untuk membayar tiket pesawat pulang pergi kita semua.”


Uang bukanlah masalah bagi orang-orang dewasa yang ada di ruangan ini. Tetapi reaksi mereka atas perjalanan gratis itu tidak jauh bedanya dengan orang biasa. Aku ikut tertawa melihat perubahan eskpresi wajah mereka yang semula tidak bersemangat menjadi penuh gairah hidup.


“Aku tidak yakin aku akan bisa melakukannya, Hadi,” ucap Colin menghentikan langkahku. Mereka sedang membicarakan apa? “Aku bukanlah Mama yang memang tekun dalam urusan administrasi. Dia juga pandai bicara mewakili Uncle. Tetapi aku tidak punya kemampuan itu sedikit pun.”


“Kamu memimpin sebuah grup yang terdiri dari orang-orang yang bermain game yang sama dengan kamu. Kalian selalu berkumpul bersama pada hari Sabtu malam untuk berperang melawan grup lain. Aku tahu kamu dan mereka semua sejak kalian belum memiliki level hingga menjadikan karakter kalian disegani pemain lain. Dan kamu merendah dengan mengatakan bahwa kamu tidak punya kemampuan?” ejek Kak Hadi.


“Bicarakan ini dengan Dira. Dia pasti akan memberikan pendapat yang sama denganku,” kata Kakak lagi menambahkan.


“Membicarakan apa?” Aku akhirnya memutuskan untuk memberi tahu kehadiranku dan tidak mencuri dengar lagi. Mereka berdua serentak menoleh ke arahku.

__ADS_1


“Nah, dia sudah datang. Kalian bisa bicara sekarang.” Kakak berdiri, lalu berjalan melewati aku untuk kembali ke dalam rumah.


Aku menoleh ke arah Colin. Dia mengajak aku untuk duduk di sisinya. “Hadi mengajak aku untuk ikut dia ke kantor Uncle pada hari Selasa nanti.”


“Oh, ya? Ada urusan apa?” tanyaku tertarik dengan topik tersebut.


“Dia meminta aku untuk menjadi asistennya. Saat lulus nanti, dia menyarankan aku untuk melamar di perusahaan kalian. Lalu ketika saatnya tiba, dia akan menunjuk aku menjadi asisten dirut.” Colin meraih tanganku dan memegangnya. Sejak kami bersama lagi, dia suka sekali menyentuhku. Hal yang jarang terjadi ketika kami belum putus.


“Aku yakin kamu bisa melakukannya. Selama ini kalian berteman baik, menghadapi masalah bersama, dan putusnya hubungan kita tidak memengaruhi persahabatan kalian. Apa yang membuat kamu ragu?” tanyaku bingung.


“Sayang, perusahaan keluargamu bukan perusahaan kecil. Aku sudah bisa membayangkan apa yang akan Hadi lakukan setiap harinya ketika dia menjadi dirut nanti. Sebagai asisten, aku akan sama sibuknya dengan dia. Aku tidak mau memberikan banyak waktu hanya untuk pekerjaan. Ditambah lagi, orang akan menganggap aku diistimewakan karena aku pacar kamu.”


“Kak Hadi tidak meminta kamu untuk langsung bekerja di perusahaan Papa, tetapi lewat jalur seleksi seperti yang dilakukan pelamar lainnya. Jadi, jangan pikirkan apa kata orang nanti. Kamu putuskan dahulu apa yang kamu mau. Mengenai apa kata orang, anjing menggonggong kafilah berlalu.” Aku menelengkan kepalaku sambil tersenyum.


“Mengenai kesibukan, Papa selalu bisa menyediakan waktunya untuk kami. Aku yakin kamu juga bisa. Aku berjanji tidak akan mengeluh sendiri. Kita akan bicarakan ini bersama jika hal itu sudah menjadi masalah,” kataku menambahkan. Colin tersenyum penuh arti. “Ada apa?”


“Kamu berubah. Kamu sekarang lebih bijaksana,” ucapnya dengan nada bangga. Tetapi aku tidak suka mendengar itu.


“Maksud kamu, aku tidak bijaksana sebelumnya? Begitu?” Aku menarik tanganku darinya dan berjalan menuju pintu. “Kamu memang menjengkelkan.”


“Sayang.” Colin mengikuti aku, maka aku mempercepat langkahku. “Mengapa kamu marah cepat sekali? Maksudku bukan begitu.”


Aku membuka pintu samping rumah dan berjalan cepat di koridor. Saat aku berbelok ke kanan di ujung koridor, aku melihat Kak Hadi sedang bicara dengan seseorang. Aku segera menghentikan langkahku begitu melihat siapa yang tertutup tubuhnya sehingga menghalangi penglihatanku.

__ADS_1


“Sayang, dengar,” ucap Colin. Aku segera menutup mulutnya dengan tanganku dan mendorongnya kembali ke koridor. Dia menatapku dengan bingung.


“Sstt ….” Aku meletakkan telunjukku yang bebas di depan bibirku. “Jangan berisik. Aku mau dengar apa yang sedang mereka bicarakan.”


__ADS_2