
“Ada apa? Biasanya kamu tidak keberatan dipeluk begini. Apa karena aku bukan gadis itu?” bisik Valeria di telingaku. Aku segera memegang kedua lengannya dan mendorongnya menjauh dariku.
“Apa kamu sudah gila? Aku tidak pernah mengizinkan siapa pun memeluk aku, kecuali pacarku.” Aku segera mundur darinya, memberi jarak di antara kami.
Valeria melihat ke sebelah kirinya. Aku menoleh ke arah yang sama. Ada Wyatt berdiri di sana dengan kepala menggeleng pelan. Apa maksudnya? “Iya, dialah alasan aku melakukan itu tadi.” Aku menatap gadis itu kembali mendengar kalimat anehnya itu. “Bila aku bisa menyakiti Hadi dengan menyakiti adiknya, maka apa pun akan aku lakukan.”
Kali ini aku mengerti apa yang dia maksudkan. “Jika terjadi sesuatu dengan Dira, aku tidak akan membiarkan kamu lepas. Kalau kamu ada masalah dengan aku atau Hadi, cukup selesaikan masalah itu di antara kita saja. Jangan libatkan orang lain.”
“Apa asyiknya punya masalah jika hanya diselesaikan secara baik-baik?” Dia tersenyum mengejek. “Kamu dan Hadi hidup terlalu nyaman dengan keluarga dan harta. Kalian tidak tahu apa itu masalah. Jadi, aku yang akan menunjukkannya kepada kalian.”
Perempuan gila. Apa dia pikir hanya dia yang punya masalah di dunia ini, sedangkan aku dan Hadi tidak? Aku akan berurusan dengannya nanti. Hal pertama yang harus aku lakukan adalah menemui Dira dan bicara dengannya. Dia sudah salah paham melihat Valeria memeluk aku tadi.
Wyatt berjalan di sisiku ketika aku setengah berlari menuju gedung kuliah kami. Mereka berniat ke perpustakaan jurusan ketika Valeria tiba-tiba saja memeluk aku. Tanpa mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi, Dira langsung pergi dan Charlotte mengejarnya.
Dia tidak ada di ruang kuliah mereka berikutnya atau di mana pun di sekitar gedung tersebut. Ke mana dia pergi? Wyatt menepuk bahuku dan mengajak aku untuk mengikutinya. Mungkin Charlotte mengirim pesan kepadanya dan memberi tahu di mana mereka berada.
Benar saja. Wyatt berjalan menuju tempat parkir dan di sanalah mereka berada. Charlotte dan Wendy berdiri di dekat pintu belakang yang terbuka. Pasti Dira ada di dalam mobil. Mereka berdua melotot ke arahku padahal aku tidak bersalah. Valeria yang tiba-tiba saja datang dan memeluk aku, tanpa sempat aku cegah.
Aku menarik napas panjang ketika Charlotte dan Wendy menyingkir agar aku bisa bicara dengan Dira yang sedang duduk di jok belakang. “Sayang,” ucapku pelan. Dia hanya diam. “Aku tidak sempat mencegah hal itu terjadi. Aku mendengar dia memanggil aku dan tiba-tiba saja dia memeluk—.”
“Aku tahu,” ucap Dira cepat memotong penjelasanku. “Aku hanya cemburu dan tidak tahan melihat tubuhnya menempel di tubuhmu. Aku tahu itu bukan salahmu.” Dia menghembuskan napasnya, lalu menoleh ke arahku. “Aku baru ingat. Dia perempuan yang sudah merendahkan kamu pada hari Kak Hadi menjalani seminar proposal, ‘kan?”
“Iya, benar. Aku harus melerai kalian, karena kamu sangat marah kepadanya.”
“Bodohnya aku. Bagaimana bisa aku tidak mengenali dia? Dia berbicara begitu manis kepadaku minggu lalu. Wajar saja dia tidak mengenali aku. Pada hari itu, aku memakai kacamata hitam untuk menyamarkan wajahku.” Dia menoleh ke arahku. “Untuk apa dia memeluk kamu setelah mengadu domba kamu dengan Kakak? Apa mungkin dia sengaja membuat aku cemburu?”
“Dira, abaikan saja orang yang hanya mau membuat kita susah. Aku tidak akan mengkhianati kamu, percayalah. Apa yang Valeria lakukan tadi—” kataku berusaha untuk menjelaskan.
__ADS_1
“Siapa nama lengkapnya? Aku akan meminta Papa untuk mencari tahu siapa orang tuanya.” Dira mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Dia menoleh ke arahku, maka aku terpaksa menjawab pertanyaannya. Lalu dia menyimpan ponselnya kembali. “Aku lapar. Ayo, kita makan.”
Melibatkan Uncle dalam masalah kami bukanlah langkah yang bijak, tetapi aku tidak bisa melarang dia. Valeria yang sudah menggali kuburannya sendiri. Mengapa dia masih saja mencari masalah dengan Hadi dan keluarganya? Apa dia belum cukup melihat apa yang terjadi kepada orang yang bermain-main dengan kehormatan keluarga sobatku itu?
Setelah kami makan siang bersama, aku berjalan bersama mereka menuju kampus. Aku mendekati sepeda motorku, sedangkan mereka berempat kembali ke ruang kuliah. Aku baru saja mengenakan jaketku kembali ketika merasakan seseorang memeluk aku dari belakang. Aroma khas rambutnya mengurung niatku yang hendak melepaskan pelukannya.
“Terima kasih sudah mendorong perempuan itu menjauh darimu. Aku percaya kepadamu, Colin. Aku percaya kamu tidak akan menyakiti aku dengan sengaja lagi,” kata Dira di punggungku.
Aku menyentuh tangannya yang ada di depan dadaku. “Aku akan menjaga diriku dengan baik. Oke? Aku berjanji tidak akan ada perempuan lain lagi di antara kita.” Aku merasakan dia menganggukkan kepalanya. “Pergilah, kamu bisa terlambat mengikuti kuliah.”
Dia melepaskan pelukannya sehingga aku bisa membalikkan badan. Setelah beberapa langkah, dia membalikkan badan dan melambaikan tangannya kepadaku. Aku membalas lambaiannya itu. Siapa Valeria yang sebenarnya akan segera aku ketahui. Mungkinkah dia ada hubungannya dengan orang dari masa lalu Uncle dan Aunt? Vivaldo dan Nora begitu. Apa mungkin kasus yang sama juga yang mendorong Valeria berbuat senekat ini?
Aku berusaha melupakan kejadian tadi dan menjemput Lily dari sekolahnya. Dia beruntung bisa satu kelas dengan Adi, jadi dia langsung punya teman dekat. Tidak seperti pengalaman sebelumnya di sekolah lama. Dia harus menunggu waktu lama untuk punya satu teman saja.
Melihat mereka berjalan beriringan mendekati gerbang, aku memerhatikan sesuatu yang tidak aku sadari sebelumnya. Lily terlihat sangat bahagia. Ketika Adi menoleh ke arahnya, dia terlihat malu-malu. Ah, masa iya? Tidak mungkin itu yang terjadi. Apa iya Lily jatuh cinta kepada adik Dira?
“Ini baru hari Senin. Untuk apa terburu-buru?” kataku bingung.
“Supaya aku tidak punya beban lagi selama satu minggu ini,” jawabnya cepat. “Ada satu karakter yang sudah ditawar orang dengan harga tinggi. Jadi, aku mau memastikan bahwa karakter ini sudah menyelesaikan misi mingguannya, baru aku jual.”
“Baiklah.” Aku melirik jam tanganku. “Aku akan temui kamu pada pukul tiga.”
“Oke! Aku pergi sekarang. Sampai nanti!” Dia berlari menuju mobilnya di mana Pak Sakti sudah menunggu. Adi berharap bisa pulang pergi ke sekolah dengan sepeda motor seperti aku, tetapi Uncle tidak memberi izin. Bukan hanya karena umur Adi belum cukup, tetapi dia tidak mengizinkan satu pun dari anak-anaknya untuk mengendarai sepeda motor. Entah mengapa begitu.
Setengah jam melalui ramainya lalu lintas pada siang hari, kami tiba di gedung apartemen kami. Aku segera menuju kamar dan membersihkan diri. Setelah berhari-hari sibuk dengan revisi skripsi, maka aku berhak untuk bersantai sejenak dan bermain game.
Lily bergabung denganku duduk di sofa ruang tengah beberapa menit kemudian. Dia menyapa aku dan Adi yang ada di dalam game. Karena karakternya juga belum menyelesaikan misi mingguan, maka aku membantu dia sekalian. Kami pun hanyut di dalam permainan daring tersebut.
__ADS_1
Kurang dari satu jam, aku sudah membantu mereka menyelesaikan semua misi mingguan yang bisa dikerjakan pada hari apa saja. Misi sisanya hanya bisa dilakukan pada hari Sabtu malam bersama rekan-rekan satu grup. Tetapi mereka berdua sudah cukup puas dengan pencapaian mereka hari ini.
“Lily, apa aku boleh menanyakan sesuatu?” kataku setelah memberikan sekantong keripik kentang kepadanya. Dia mengangguk cepat sambil tetap sibuk bermain dengan karakter game-nya. “Ini pertanyaan yang sangat serius.”
“Tanya saja. Sejak kapan kamu segan kepadaku?” ucapnya santai.
“Oke.” Aku menegakkan posisi dudukku. “Apa kamu menyukai Adi?”
“Tentu saja. Kami sahabat sejak kecil seperti kamu dan Hadi.” Dia memasukkan sepotong keripik ke mulutnya. Mungkin dia tidak mengerti apa yang aku maksudkan.
“Bukan itu maksudku,” kataku lagi.
Dia mengangkat kepala dan kali ini benar-benar mengarahkan perhatiannya kepadaku. “Maksudmu, suka sebagai lebih dari teman?” tanyanya. Aku mengangguk. “Aku jujur saja, iya. Tetapi aku tahu bahwa kami tidak bisa bersama. Perasaanku kepadanya tumbuh karena kami sering bersama. Aku tidak punya pilihan untuk tidak merasakan ini.” Dia masih bersikap santai.
“Lily, jika kamu benar-benar jatuh cinta—” ucapku mencoba mencari jalan keluar.
“Colin, aku sudah katakan bahwa perasaan ini tumbuh karena kami sering melakukan banyak hal bersama. Jangan salah paham dengan pengakuanku ini. Aku bukan anak kecil lagi yang akan bersikap egois kepada kakaknya. Lagi pula kamu tahu bahwa aku tidak tertarik menikah pada usia muda.” Lily tersenyum, tetapi aku merasa bersalah.
“Hei, jangan pasang wajah itu. Aku tidak suka. Apa aku harus memilih satu teman di sekolah dan mengajaknya menjadi pacarku agar kamu merasa tenang?” tanyanya bercanda.
“Aku mengerti rasanya jatuh cinta pertama kali. Karena itu aku—”
“Tidak, Colin. Kamu tidak mengerti rasanya.” Lily segera memotong kalimatku. “ Bagi kamu, hanya ada satu perempuan seumur hidupmu. Kalau mau bicara tentang pengalaman dengan cinta pertama, Dad dan Mama adalah orang yang lebih tepat.” Dia menjulurkan lidahnya. Aku tidak membantah, karena dia benar. “Hanya kamu yang tahu hal tadi. Tolong, rahasiakan dari siapa pun. Aku tidak mau Adi merasa tidak enak dan persahabatan kami jadi rusak. Aku mohon.”
“Kamu yakin kamu tidak akan apa-apa?” tanyaku masih khawatir.
“Apa hanya aku yang berpikir bahwa ada banyak laki-laki di dunia ini selain dia?” Lily mengangkat kedua alisnya mengejek aku. Melihat itu, aku segera berdiri mendekat untuk memberi dia pelajaran. Tetapi dia sudah lebih dahulu melompat turun dari sofa dan kabur menuju kamarnya.
__ADS_1