
“Mi-Mila ...?” ucap Colin tidak percaya. Dia melirik ke arahku sesaat sebelum mendekati gadis itu. Dia memegang lengannya, berniat untuk membawanya pergi menjauh dariku.
“Colin, aku tidak datang untuk menemui kamu.” Mila menepis tangannya dan kembali berjalan ke arahku. Matanya menatapku dengan serius. “Ada hal penting yang perlu kita bicarakan.”
“Mila, apa kamu tidak salah bicara?” ucap Colin lagi, berusaha untuk menjauhkan gadis itu dariku.
“Cukup, Colin! Hadi tahu segalanya. Kamu tidak perlu berpura-pura lagi. Sebelum kamu lupa, urusan kita sudah selesai. Aku sudah tidak punya tanggung jawab apa pun lagi padamu.” Mila menatap Colin dengan tajam. “Jadi, berhenti menghalangi aku bicara dengannya.” Gadis itu kembali melihat ke arahku. “Ini keadaan yang mendesak. Aku perlu bicara denganmu.”
“Aku sudah ada janji siang ini bersama kedua adikku.” Aku melirik jam tanganku. “Aku bisa bicara denganmu setelahnya. Tetapi kalau kamu tidak merasa keberatan, kamu boleh bergabung bersama kami. Aku yakin kedua adikku tidak akan keberatan makan piza bersamamu.”
“Apa maksudmu, Hadi? Kamu tidak bisa membawa Mila untuk bertemu dengan Dira!” protes Colin. “Semua rencanaku akan hancur kalau Dira tahu segalanya.”
“Baik. Aku tidak bisa menunda sampai besok. Kita bisa bicara setelah makan siang.” Mila segera setuju, mengabaikan protes Colin.
“Sampai jumpa hari Senin, Cole.” Aku membalikkan badan dan mendekati mobil. Aku membukakan pintu agar Mila bisa masuk, lalu memutar mobil menuju sisi pengemudi.
Dira tidak akan bereaksi seperti yang sahabatku duga. Kami semua sudah tahu siapa gadis ini kecuali Colin. Sebagai balasan atas sikap jahatnya kepada adikku, aku tidak akan memberi tahu dia tentang fakta baru yang kami temukan. Biar saja dia menjadi orang terakhir yang mengetahuinya.
Kami hanya diam sepanjang perjalanan, pertanda bahwa hal mendesak yang ingin dia bicarakan denganku tidak bisa dibahas sambil lalu. Dia menunggu di mobil ketika aku menjemput Adi dan Dira di sekolah mereka. Karena Wendy juga ikut sampai ke tempat kerjanya, maka mereka duduk bertiga di jok belakang.
Mereka saling menyapa seadanya, lalu suasana di dalam mobil sangat senyap. Dira dan Adi sibuk sendiri dengan ponsel mereka, sedangkan Wendy tidak tahu harus bagaimana. Dia kelihatan lega saat aku menghentikan mobil di depan kafe tempatnya bekerja.
“Tidak di sini, Kak,” kata Dira saat aku menepikan mobil untuk memasuki halaman parkir sebuah restoran. “Kita ke mal di depan saja. Aku ingin ke salon setelah makan siang.” Aku menurutinya.
Beberapa saat berkeliling mencari tempat, kami akhirnya bisa memarkirkan mobil. Kami keluar dan menunggu sampai Dira juga menyusul kami. Mila menatap aku dan Adi dengan bingung ketika kami hanya berdiri di sisi mobil. Begitu Dira keluar, dia akhirnya mengerti. Kami menunggu dia berganti pakaian. Adi masuk ke mobil untuk melakukan hal yang sama.
Walaupun kami datang pada jam pulang sekolah, mereka tetap harus mengganti pakaian seragam mereka. Untuk berjaga-jaga andai petugas keamanan mencari-cari masalah. Karena kami pernah masuk ke mal dengan pakaian seragam pada sore hari, petugas sekuriti melarang kami masuk.
Dira menggunakan masker untuk menyamarkan wajahnya. Dia tidak mungkin memakai topi dan kacamata di dalam mal. Tanpa perlu berdiskusi, kami tahu harus ke mana. Adi dan Dira berjalan di depan, sedangkan aku dan Mila mengikuti mereka.
__ADS_1
“Kamu boleh pesan apa saja yang kamu mau.” Dira membuka buku menu yang ada di tangannya. Kami beruntung mendapatkan meja kosong saat baru masuk restoran. “Kami hanya akan memesan satu piza berukuran besar untuk dimakan bersama, lalu kami memesan menu sampingan sendiri.”
“Ng, aku tidak akan makan banyak. Piza saja sudah cukup untukku,” ucap Mila segan.
“Papa yang membayar makanan kita. Jangan khawatir. Kamu bisa makan apa saja yang kamu mau.” Dira menoleh ke arah pelayan yang berdiri di sisi meja dan menyebutkan makanan serta minuman pesanannya. Aku dan Adi juga menyebut pesanan kami masing-masing. Lalu kami juga pelayan itu melihat ke arah Mila. Dia memesan segelas teh lemon dingin dan spageti dengan bola daging.
“Aku tidak menduga kamu akan bersikap baik kepadaku,” ucap Mila kepada Dira setelah pelayan itu pergi meninggalkan meja kami.
“Masalahku dengan Colin, bukan dengan kamu. Dia yang selingkuh dan ingkar janji, jadi aku tidak akan marah atau memusuhi kamu.” Dira tersenyum manis. “Tetapi apa yang membuat kamu datang bersama kakakku? Apa kalian punya urusan setelah kita makan?”
“Ng, aku butuh bantuan Hadi. Ada beberapa hal yang perlu kami bicarakan,” jawab Mila dengan jujur. Dira mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Itu kabar yang baik. Aku akan sangat lama menikmati perawatan di salon, jadi Kak Hadi akan punya banyak waktu untuk bicara denganmu. Adi akan bersamaku. Dia tidak susah diajak ke mana pun selama dia bisa fokus bermain dengan ponselnya.” Dira memutar bola matanya.
Mila tersenyum. “Pasti menyenangkan punya dua orang saudara laki-laki.” Aku melihat ada sedikit kecemburuan di mata Mila.
“Jujur saja. Lebih enak punya saudara perempuan yang bisa diajak melakukan semua hal yang para gadis sukai. Kakak maupun adikku tidak suka menemani aku ke salon, belanja, atau berkumpul dengan teman-temanku.” Dira mendesah pelan.
“Wendy punya tanggung jawabnya sendiri. Dia harus bekerja untuk membiayai sekolahnya dan menabung untuk biaya kuliahnya nanti. Jadi, kami hanya bisa memanfaatkan waktu bersama saat di sekolah.” Dira mengangkat kedua bahunya, lalu dia mengamati wajah Mila sambil tersenyum penuh arti. “Melihat kamu bisa berbahasa Indonesia dengan fasih adalah hal yang unik.”
“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk berbohong,” ucap Mila pelan.
“Tidak perlu meminta maaf. Bila Kakak memercayai kamu sebagai teman, maka kamu adalah teman kami juga. Di antara kami bertiga, Kakak adalah orang yang pintar membaca sifat orang lain. Jadi, kamu harus berhati-hati saat berinteraksi dengannya.” Dira mengedipkan sebelah matanya. Aku dan Adi tertawa kecil mendengarnya.
Adi fokus dengan game yang ada di ponselnya, sedangkan aku membaca beberapa buku yang ada hubungannya dengan penelitianku lewat ponselku. Dira dan Mila bicara berdua, jadi aku tidak mengganggu mereka. Bahkan saat kami makan pun, mereka masih asyik berbagi cerita.
Dira dan Adi akhirnya tahu bahwa apa yang aku ucapkan mengenai Mila sepenuhnya benar. Dia tidak tahu siapa orang tua kandungnya dan orang tua angkatnya mengusir dia dari rumah mereka. Mila tidak mengatakan apa pun mengenai pekerjaannya atau bagaimana dia bisa menghidupi dirinya sendiri. Dira juga tidak bertanya. Tetapi adikku cerdas, dia pasti bisa menebak hal yang satu itu.
Bagi mereka yang tahu hubungan Mila dan Dira, pemandangan ini pasti sangat aneh. Dira adalah mantan tunangan Colin, sedangkan Mila adalah kekasihnya sekarang. Pacar palsu, lebih tepatnya. Tentu saja hanya aku yang tahu mengenai fakta itu. Dira mungkin bisa menebaknya juga karena Colin sama sekali tidak pernah membahas gadis itu di depan kami layaknya orang yang jatuh cinta.
__ADS_1
“Ayo, Adi. Kita pergi sekarang. Biarkan Kakak dan temannya bicara.” Dira berdiri dan menggandeng tangan Adi. Pelayan yang tadi mengembalikan kartu debit adikku masih berdiri di sisi meja kami, bersiap untuk membersihkan setiap peralatan makan yang kami gunakan.
“Aku antar. Kami bisa minum kopi di kafe sebelah salon itu,” kataku sambil memasukkan ponsel ke dalam saku kemejaku.
Dira bersorak senang karena dia bisa melanjutkan obrolannya dengan Mila dalam perjalanan kami menuju salon favoritnya. Adi melihat-lihat ke sekeliling kami memerhatikan makanan ringan yang disajikan di lemari kaca. Dia berhenti di satu toko roti, lalu membeli beberapa potong roti juga dua botol air minum.
Kami berpisah di depan salon. Dira dan Adi memasuki tempat perawatan rambut itu, sedangkan aku dan Mila ke kafe yang ada di sebelahnya. Aroma kopi yang sedap segera memenuhi penciumanku. Kami menuju konter kasir untuk memesan makanan ringan dan minuman hangat. Mila menolak saat aku membayar semua pesanan kami, tetapi aku tidak membiarkan dia membayar pesanannya.
“Aku tahu kamu punya uang dan bisa membayar makanan ini. Tetapi selama kamu bersamaku, aku tidak akan membiarkan perempuan mengeluarkan uangnya.” Aku melihat ke sekeliling kami mencari posisi meja yang nyaman untuk bicara.
“Kamu membiarkan adikmu yang membayar makan siang kita tadi,” ucapnya mengingatkan. Oke, aku kena. Karena itu aku tertawa mendengarnya.
“Itu uang Papa yang ditransfer ke rekeningnya,” kataku membela diri. Menemukan meja yang sesuai keinginanku, aku mengajaknya duduk di sana.
Aku meletakkan papan bertuliskan dua angka di atas meja agar bisa dilihat oleh pelayan yang akan mengantar pesanan kami. Mila duduk di depanku dengan meja berada di antara kami agar kami bisa bicara dengan leluasa. Dia mulai terlihat gelisah.
Sepertinya aku yang harus memulai pembicaraan kami untuk mengurangi ketegangan yang mungkin dia rasakan. “Silakan. Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?”
*******
Sementara itu di salon~
“Aku tahu sekarang, kamu pasti sengaja mengikuti aku. Ke mana aku pergi, ke situ juga kamu pergi. Apa kamu tidak bisa satu hari saja tidak muncul di hadapanku?” ucap Reese sengit melihat Dira sedang berdiri di konter kasir.
Dira memejamkan matanya, menghela napas panjang, sebelum menoleh ke arah gadis itu. “Aku datang ke tempat ini untuk merawat rambutku. Kamu silakan lanjutkan urusanmu, aku dengan urusanku.” Dira kembali bicara dengan kasir untuk mendiskusikan apa yang ingin dia lakukan.
“Tidak bisa begitu.” Reese memegang lengan Dira dan memutar tubuh gadis itu agar menatapnya lagi. “Aku yang lebih dahulu datang ke sini. Kamu sebaiknya keluar sekarang dan datang kalau aku sudah pergi. Suasana hatiku rusak setiap kali melihat wajahmu dan itu tidak baik untuk rambutku.”
Adi berdiri di antara Dira dan Reese, berniat untuk membela kakaknya. Tetapi Dira meletakkan tangannya di depan dada Adi agar dia tidak ikut campur. Reese yang dari tadi menatap tajam ke arah Dira baru menyadari ada orang lain yang datang bersamanya.
__ADS_1
“Wah, wah, wah. Pemuda yang datang bersamamu kali ini lebih muda. Apa dia pengganti pacar lamamu? Pantas saja kamu memutuskan dia. Kamu bisa dapatkan yang lebih tampan dan muda.” Reese tertawa sinis, tetapi matanya mengamati Adi dari kepala hingga kaki.
“Apa hanya itu yang ada dalam kepalamu mengenai aku? Aku jalan ke sana kemari dengan pemuda yang berbeda? Memangnya kamu pikir aku ini apa? Predator laki-laki?”