Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 135 - Dibawa Pergi


__ADS_3

~Clarissa~


Setiap kali Hadi bersikap keras kepala dan menyangkali perasaannya, aku selalu mengingat kalimat yang dia ucapkan pada malam nahas itu. Malam di mana aku tidak hanya membatalkan hubungan kami, tetapi juga mengakhirinya.


Dia sudah menunggu aku selama belasan tahun. Aku tidak tahu kapan pastinya dia mulai jatuh cinta kepadaku, tetapi aku yakin bahwa perasaan sebesar ini tidak akan bisa dihilangkan begitu saja. Aku rela melakukan apa saja asal bisa bersamanya lagi. Kata-kata tajamnya aku anggap sebagai angin lalu agar aku tidak sakit hati. Lagi pula aku pantas menerimanya setelah mematahkan hatinya.


Malam ini adalah malam terakhir kami bersama sebagai pacar bohongan, tetapi aku tidak menyerah. Aku sudah punya banyak rencana yang siap aku lakukan untuk memenangkan hatinya kembali. Dia sedang tidak dekat dengan perempuan lain, jadi kesempatan untukku masih terbuka lebar.


“Mengapa Grandma mengajak kamu dan Hadi untuk bicara bertiga saja?” tanya Charlotte saat kami menaiki tangga menuju kamar tidur.


“Untuk memberi aku dan Hadi nasihat panjang lebar,” jawabku sekenanya.


Dia menatapku dengan saksama. “Apa Grandma meminta kalian untuk memikirkan ulang hubungan kalian berdua?” tanyanya ingin tahu.


Aku tertawa kecil. “Charlotte sayang, apa hanya itu yang kamu pikirkan tentang aku dan Hadi?” Aku merangkul bahunya. “Grandma hanya menasihati kami.”


“Ya, tetapi tentang apa?” tanyanya tidak sabar.


“Daripada kamu mendesak kakakmu untuk menceritakan rahasianya dan pacarnya, bagaimana kalau kamu mendengarkan rahasiaku, Sweety?” Wyatt datang dan memeluk Charlotte dari belakang.


“Aku sudah tahu semua rahasiamu.” Charlotte tertawa geli.


“Masih ada banyak rahasiaku yang belum kamu ketahui. Ayo, malam ini kamu tidur bersamaku.” Wyatt menggandeng tangan Charlotte menuju kamarnya.


“Apa kamu sedang mabuk? Kita tidak boleh tidur satu kamar,” ucap Charlotte dengan tegas. Dia berusaha menarik tangannya dari genggaman Wyatt.


“Kamu ini terlalu kolot. Kita sudah bertunangan, semua orang sudah tahu kita saling memiliki satu sama lain, maka kita sudah bisa tidur satu kamar.” Wyatt melingkarkan tangannya di bahu Charlotte.

__ADS_1


“Aku tidak mau! Kita tidur satu kamar setelah kita resmi menikah.” Charlotte memberontak berusaha melepaskan dirinya dari rangkulan Wyatt.


“Karena itu aku bilang kamu ini terlalu kolot.” Aku tertawa ketika Wyatt membopong tubuh adikku di bahunya. “Selamat malam, Clarissa. Jangan cari adikmu. Dia akan tidur bersamaku malam ini.”


“Tidak! Aku tidak mau! Clarissa, tolong aku!” teriak Charlotte panik. Aku hanya tertawa melihatnya. Wyatt adalah pemuda yang sopan. Aku tahu bahwa dia hanya menggoda tunangannya saja.


Dugaanku benar. Wyatt membawa Charlotte ke kamar adikku, bukan ke kamarnya. Atau dia hanya mau meminta Charlotte berganti pakaian, lalu mereka benar-benar tidur bersama di kamarnya? Entahlah. Tetapi aku percaya Wyatt tidak akan menyakiti adikku. Dia terlalu mencintainya untuk membuatnya menangis atau terluka.


Aku memasuki kamar dan mulai berpikir untuk tidak mandi sebelum tidur. Aku belum mau berpisah dari aroma parfum Hadi di pakaianku dan rasa ciumannya di bibirku. Jantungku berdebar sedikit lebih cepat hanya dengan memikirkannya saja. Beginikah rasanya jatuh cinta?


Aku membuka pintu ruang pakaian dan lampunya otomatis menyala. Baru satu langkah mendekati rak pakaian, tubuhku dipeluk dari belakang. Sebelum aku sempat mengatakan apa pun, sesuatu menutup mulut dan hidungku. Aku menarik napas terkejut sehingga menghirup sesuatu yang berbau tajam. Sesaat kemudian, mataku terasa berat dan segalanya berubah gelap.


Merasakan tubuhku diletakkan di atas permukaan yang empuk, aku ingin sekali membuka mata. Tetapi terlalu berat sehingga aku pun menyerah. Tubuhku pasrah terguncang ke kanan dan kiri tanpa bisa aku kendalikan. Apakah aku berada di dalam sebuah mobil?


Entah sudah berapa lama waktu berlalu, aku tidak tahu. Tetapi mataku masih berat padahal aku sudah bangun dan sadar sepenuhnya. Aku bisa mencium aroma pengharum ruangan, permukaan halus di mana aku berbaring, dan penyejuk udara yang dingin. Suasana di sekitarku sangat hening sehingga aku tidak bisa menebak siapa yang bersamaku dan apa yang aku lakukan di tempat ini.


Bunyi benda bergetar terdengar cukup dekat dariku. Siapa pun yang tadi berdiri di sisiku menjauh. “Jangan hubungi aku sekarang. Dia belum bangun. Aku tidak serendah itu. Dia akan menjadi istriku, jadi aku harus memperlakukan dia dengan lembut. Dengar. Aku akan akhiri teleponnya sekarang.”


Keadaan di sekitarku kembali hening. Hanya terdengar bunyi napasnya yang memburu dan aku tahu dia masih berdiri di dekatku. Dia bicara dengan siapa? Apa yang mereka inginkan dengan menculikku seperti ini? Kami lain kali harus berhati-hati menerima orang yang tinggal di rumah kami.


Oke. Tangan dan kakiku tidak dalam keadaan terikat. Hal terbodoh yang pernah seorang penculik lakukan kepadaku. Dia mungkin punya senjata, tetapi aku tidak mendengar ada orang lain bersama kami di kamar ini. Kesalahan kedua yang dia lakukan.


“Clarissa. Apa kamu mendengar suaraku? Bangunlah.” Aku merasakan tangannya membelai pipiku. Dia duduk di sisi tempat tidur di dekatku. Aku bergeming. “Apa kamu menghirup kloroform terlalu banyak? Aku yakin aku tidak membius kamu terlalu lama.”


Aku menunggu apa yang akan dia lakukan selanjutnya dengan tetap tenang. Bunyi bel memecahkan keheningan, dia mengumpat pelan. “Aku sudah bilang supaya mengetuk pintu satu kali. Mengapa mereka masih membunyikan bel?” Dia berdiri dan melangkah menjauh dariku.


Kesempatan itu aku gunakan untuk membuka mata dan memerhatikan sekelilingku. Benar. Dia seorang diri, tidak ada orang lain selain kami berdua. Aku tidak melihat adanya senjata di mana pun. Dia bukan orang yang berbahaya. Oke. Aku bisa menangani semuanya sendiri.

__ADS_1


“Akhirnya, kamu bangun juga,” ucapnya senang saat melihat aku berusaha untuk duduk. Kepalaku pusing, jadi aku tidak berpura-pura saat memijat keningku.


“Mengapa aku ada di tempat ini?” tanyaku bingung.


“Minumlah. Kamu pasti haus.” Dia memberikan sebuah gelas berisi jus jeruk kepadaku. Aku hanya menatapnya dan tidak mengambil gelas tersebut. “Kamu takut aku memasukkan sesuatu ke dalam minuman ini? Tidak, Clarissa. Minumlah.”


“Kamu belum menjawab pertanyaanku,” kataku mengingatkan.


“Aku yang membawamu ke tempat ini,” jawabnya sambil duduk di sisiku. Gelas itu dia letakkan di atas nakas di sampingku. “Hadi menantangku, jadi aku mau tunjukkan kepadanya bahwa kamu juga bisa jatuh cinta kepadaku bila aku diberi kesempatan.”


“Membawa aku ke tempat ini di luar keinginanku, kamu sebut sebagai kesempatan? Aku tidak akan jatuh cinta kepadamu, Luca. Apa yang tidak bisa kamu pahami di sini?” tanyaku bingung.


“Aku tidak percaya ada perempuan yang tidak akan tertarik kepadaku. Aku memiliki segalanya. Apa yang membuat kamu yakin bahwa kamu tidak akan jatuh cinta kepadaku?” Dia membelai pipiku. Matanya menatap bibirku dan dia mulai mendekatkan wajahnya.


Aku tertawa kecil sambil memalingkan wajahku. “Berapa gadis yang terbujuk dengan cara ini?” Aku menurunkan tangannya dari pipiku. “Aku sudah memberikan hatiku kepada Hadi. Tidak ada lagi tempat untukmu, Luca. Berhenti membujuk atau memaksa aku untuk mencintai kamu.”


“Pemuda dingin yang bahkan tidak tahu bagaimana mencium seorang gadis dengan benar itu yang kamu cintai?” Dia tertawa keras. “Clarissa, Clarissa, berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk membuat kamu jatuh cinta kepadanya? Hm? Aku bisa melakukannya dalam waktu satu hari saja.”


Dia memeluk tubuhku, lalu berusaha untuk mencium bibirku. Tetapi aku sekali lagi memalingkan wajah dan dia hanya berhasil mencium pipiku. Dia tertawa kecil. Lalu dengan lancangnya dia mencium rahangku, turun ke leherku. Begini cara dia membuat para gadis di luar sana jatuh cinta kepadanya? Dengan mencium dan memeluk mereka saat mereka tidak menginginkannya?


Aku segera mencengkeram kedua pipinya dengan tangan kananku. Luca menarik napas terkejut, lalu aku mendorongnya sampai dia terbaring di atas tempat tidur. Bukannya merasa takut, dia malah tertawa geli. “Kamu suka dengan kekerasan? Baik. Aku bisa menyesuaikan diri.”


Benar-benar orang sakit. Aku meninju ulu hatinya dengan keras sampai dia meringis kesakitan dan berhenti tertawa. Dia akan sibuk menahan sakit, jadi aku bisa keluar dari kamar. Aku tidak mencari tas atau alas kaki, hanya fokus berlari keluar kamar.


Tetapi menyadari aku memakai baju yang berbeda, aku mengumpat pelan. Aku harus keluar dari tempat ini dengan selamat, lalu aku akan pikirkan cara lain untuk membalas perbuatannya nanti. Pantas saja tidak ada yang mencari aku sampai pagi begini. Dia melepas semua perhiasanku di mana alat pelacak yang dipasang Kakek berada. Semua orang pasti panik mencari keberadaanku.


Saat aku membuka pintu, dua orang laki-laki bertubuh besar menyambutku. Mereka sepertinya bertugas menjaga pintu agar aku tidak bisa kabur. Sial.

__ADS_1


__ADS_2