
*Colin*
Aku benar-benar tidak percaya dengan kekuatan jantungku. Setelah berjam-jam berdebar sangat kencang karena kegugupanku menghadapi seminar proposal, dia masih bertahan di tempatnya di dada kiriku. Aku sudah berusaha untuk bersikap tenang, tetapi semua usahaku sia-sia.
Jadi, saat giliranku mempresentasikan proposalku usai, aku tidak bisa menggambarkan kelegaan yang aku rasakan. Aku tidak tahu bagaimana lagi keadaanku nanti saat menghadapi sidang skripsi. Mungkin aku akan pingsan sebelum masuk ke ruang penjagalan.
“Kerja yang bagus, Nak.” Dad menepuk punggungku dengan bangga saat aku dan Lily sampai di apartemen kami.
“Aku tahu kalian sudah makan malam, tetapi aku berharap masih ada ruang untuk semangkuk es krim,” kata Mama yang membawa baki berisi empat mangkuk es krim ke arah kami. Aku dan Lily segera mengambil bagian kami. “Satu langkah lagi, dan Colin akan lulus dari kampus.”
“Tidak terasa, ya, sayang.” Dad tersenyum bahagia. Dia berjalan menuju sofa, kami mengikutinya.
“Iya. Rasanya baru kemarin aku bertemu dengan dia yang masih berumur lima tahun. Tetapi lihat dia sekarang, sudah dewasa. Setelah lulus, dia akan bekerja, lalu menikah. Dan siapa tahu aku akan menggendong cucu pertamaku dalam waktu dekat.” Mama meletakkan baki di atas meja, lalu duduk di sisi Dad dengan mangkus es bagiannya di tangannya.
“Ma, aku tidak akan memiliki anak di usia muda,” kataku mengingatkannya.
“Iya, jika kamu menikah dengan Dira. Memangnya kamu masih yakin akan menikah dengannya? Yang aku maksudkan adalah bila kamu menikah dengan gadis baru yang akan kamu temui di tempat kerjamu nanti.” Mama menyikut Dad, lalu mereka tersenyum penuh arti.
“Aku tidak akan menikah kalau bukan dengan Dira,” kataku dengan tegas. “Ketika kami menikah, kami tidak akan segera punya anak. Aku mau dia menikmati pekerjaannya sebagai model, sampai dia sendiri yang menginginkan anak. Jadi, Mama bisa buang jauh-jauh harapan Mama untuk punya cucu dalam waktu dekat.”
“Bagaimana kabar Dira?” tanya Mama yang kini terlihat serius. “Pak Mahendra sedang sibuk dengan persiapan sidang kasus hukum yang menjerat Vivaldo dan Nora. Apa gadis itu sudah siap untuk memberi kesaksian?”
“Siap tidak siap, dia harus menjalaninya. Aku dengar dari Hadi, dia sudah memberi pernyataan lengkap di kantor polisi. Bila kasus ini akhirnya disetujui penuntut umum untuk menjalani proses pengadilan, maka itu artinya Dira sudah siap memberi kesaksian,” kataku pelan.
__ADS_1
“Itu kasus yang berat. Semoga saja dia bisa bertahan menghadapi pertanyaan dari pengacara orang jahat itu. Aku yakin mereka akan berusaha mencari celah untuk menyalahkan Dira supaya hukuman untuk Vivaldo dan Nora bisa dikurangi,” kata Mama prihatin.
“Itu tidak akan terjadi, Ma. Uncle Hendra memastikan bahwa mereka akan mendapatkan hukuman maksimal atas perbuatan mereka.” Dan aku sangat berharap itulah yang akan terjadi.
Setelah melewati seminar proposal dengan baik, aku belum bisa menarik napas lega. Ujian akhir semester sudah di depan mata. Aku memanfaatkan kecerdasan sahabatku dengan belajar bersama. Kami mengulang setiap bab awal dari mata kuliah yang kami ambil. Dia mengajukan pertanyaan yang ada hubungannya dengan mata kuliah tersebut untuk aku jawab. Lalu aku juga melakukan hal yang sama ketika giliranku usai.
Karena mata kuliah kami lebih banyak bersifat teori, tidak ada jawaban yang mutlak benar. Kami hanya perlu memahami teori dengan benar agar bisa menjawab soal yang menjebak sekalipun dengan mulus. Berbeda dengan ilmu eksakta yang sudah punya rumus sehingga hanya ada satu jawaban yang benar.
Meskipun aku sedang disibukkan dengan persiapan menghadapi ujian, aku tetap berkumpul dengan teman-teman game satu grupku di sebuah kafe. Adi yang biasanya tidak diizinkan datang, kali ini bergabung dengan kami ditemani Hadi. Kejutan lainnya adalah kehadiran Diah, istri dalam game Adi.
“Wah, wah, wah. Ada apa malam ini sampai aku bisa bertemu dengan pendekar wanita hebat yang menikah dengan pencuri kaya raya?” godaku saat dia duduk di kursi kosong di meja kami. Aku merasakan sebuah tendangan pada kakiku di bawah meja.
“Aku hanya merasa tidak enak harus menolak ajakan kalian lagi. Jadi, aku sempatkan datang malam ini,” kata Diah dengan santai. “Aku sudah siap untuk berperang, aku harap kalian juga.”
Tidak seperti hubungan Diah dan Adi, aku dan istri dalam game-ku tidak terlalu akrab. Apalagi untuk mendapatkan karakter perempuan yang murni dimainkan oleh seorang perempuan adalah hal yang langka dalam game yang aku mainkan. Walaupun karakter yang aku nikahi adalah seorang wanita muda, pemainnya adalah seorang laki-laki.
Itu adalah syarat mutlak yang aku pegang teguh dalam bermain game. Karena bila aku selingkuh dalam game, aku bisa saja selingkuh dalam dunia nyata. Menghabiskan waktu bersama di dalam permainan hampir senyata dalam kenyataan. Sudah ada banyak contoh pemain yang jatuh cinta dengan lawan mainnya, padahal dia sudah menikah atau berpacaran.
Adi dan Diah menjadi kasus khusus karena perbedaan usia mereka yang cukup jauh. Adi masih berusia lima belas tahun, sedangkan Diah berumur dua puluh tujuh tahun. Walaupun mereka berbeda jenis kelamin, mereka tidak saling jatuh cinta. Hubungan mereka justru seperti kakak adik.
“Jadi, apa strategi khusus untuk perang malam ini, Pak Ketua?” tanya Diah kepadaku. “Aku tidak akan menggunakan peran pendekarku. Kita kekurangan penyembuh malam ini.”
“Seperti biasanya saja. Kamu dukung Adi untuk menyerang benteng pertahanan lawan, sedangkan kami menjatuhkan musuh sebanyak mungkin dan membunuh monster besar untuk tambahan poin.” Aku memberikan instruksi yang sama lewat kotak pesan grup kami di dalam game.
__ADS_1
Tepat pada pukul sembilan malam, perang pun dimulai. Kami yang sudah siap di garis depan segera maju menuju pos tugas kami masing-masing. Aku membawa beberapa orang untuk menghabisi musuh dan menghancurkan sebuah menara, Adi dan timnya menuju benteng pertahanan musuh, sedangkan beberapa orang lagi menjaga benteng kami dari serangan.
Suasana baru saja memanas ketika layar ditutup dengan pengumuman perang telah berakhir. Hanya dalam waktu lima menit dan kami berhasil meraih poin tertinggi. Adi memang mesin pembunuh yang luar biasa. Kerja sama antara dia dan Diah patut untuk diacungi jempol.
“Aku iri pada kalian berdua,” ucapku jujur.
Diah dan Adi tertawa bersama. “Ajak istrimu untuk bergabung dalam grup kita. Aku yakin kita akan semakin kuat bila bertambah satu orang penyembuh lagi,” kata Diah memberi usul.
“Kalian tahu sendiri dia lebih suka berkelana ke berbagai grup. Dia tidak akan betah berada pada satu tempat saja untuk waktu yang lama.” Aku menggeleng pelan. “Kalau kalian lapar atau haus, pesanlah. Aku yang traktir.” Mereka bersorak senang.
Pada minggu berikutnya, aku menghadapi ujian akhir dengan gugup. Hadi duduk tenang saja tanpa terlihat khawatir sedikit pun saat menjawab setiap soal. Aku kadang-kadang bertanya, apa tidak ada hal di dunia ini yang bisa membuat Hadi kehilangan kepercayaan dirinya?
Lily yang lulus dengan nilai sempurna, meminta Dad dan Mama untuk mengizinkan dia satu sekolah dengan Adi. Aku membantunya bicara dengan mereka dan menawarkan uangku untuk membantu membayar uang sekolahnya yang tidak murah. Mereka menolak bantuanku, tetapi tidak menolak permintaan adikku. Dia diperbolehkan sekolah di tempat yang sama dengan Adi.
“Wah, Lily sangat beruntung. Kamu memelas, tetapi orang tuamu tidak mengizinkan kamu satu sekolah dengan Dira. Apa yang membuat orang tuamu berubah pikiran?” tanya Hadi saat kami menunggu kedatangan teman-teman kami untuk berolahraga bersama.
“Aku akan lulus semester depan, jadi mereka tidak punya tanggungan lagi. Hanya Lily. Mungkin itu yang membuat mereka berubah pikiran.” Aku mengangkat kedua bahuku. “Aku tidak tahu pasti karena mereka tidak menyebutkan alasannya.”
“Apa kamu merasa takut dengan masa depan, Cole?” tanya Hadi mengejutkan aku. Apa aku tidak salah dengar? Dia menanyakan tentang ketakutanku akan masa depan?
“Kamu tahu aku sangat ketakutan. Hanya satu rencanaku yang pasti, menikah dengan Dira. Dan hal itu sudah lepas dari genggamanku,” jawabku jujur. “Aku belum tahu akan bekerja di bidang apa atau akan terus melakukan hobiku. Tetapi kita sama-sama tahu bahwa game ini tidak akan bertahan lama. Saingannya terus bermunculan dan dengan sistem yang tidak ditingkatkan, maka aku tidak bisa mencari nafkah di jalur ini terus.”
Hadi menarik napas panjang, tetapi dia tidak mengatakan apa pun. “Ada apa, Hadi? Jangan bilang kamu sedang takut dengan masa depanmu. Bukankah segalanya sudah pasti untukmu?”
__ADS_1
“Sudah pasti, bukan berarti aku sudah siap. Apa kamu tidak lihat prestasi papaku dalam perusahaan? Dia membuka pabrik baru dengan Uncle Xavier, memperluas usaha dengan mengembangkan sebuah hotel, dan semua pemegang saham takut padanya. Aku tidak yakin aku akan bisa menggantikannya.”