
Aku tersenyum melihat Dad dan Mama duduk berdua saja di konter dapur. Mereka menikmati kopi mereka masing-masing sambil berbincang santai. Rencana bulan madu itu berhasil dengan baik. Dad sudah memeriksakan dirinya kembali dan dia dinyatakan pulih dari penyakit menular akibat ulah Aunt Chelsea. Jadi, mereka sudah tidur satu kamar lagi.
“Selamat pagi, Dad, Mama,” ucapku menyapa mereka. Mama menoleh sehingga aku bisa mencium pipinya. “Apa yang sedang kalian bicarakan?”
“Hanya masalah pekerjaan. Bagaimana dengan skripsimu? Ada yang bisa kami bantu?” tanya Mama.
Aku menggeleng pelan. “Aku akan ke kampus untuk berdiskusi dengan dosenku. Ada beberapa hal yang aku tidak mengerti mengenai penelitianku.”
“Oke. Bila ada masalah dengan kuesioner yang akan kamu bagikan, beri tahu kami. Akan ada banyak orang yang bisa dimintai bantuan untuk mengisinya secara sukarela,” kata Mama.
“Kalian orang tua yang terbaik,” pujiku senang.
“Aku akan mengajak mamamu makan malam di luar, jadi jaga adikmu dengan baik.” Dad merangkul Mama. Aku segera mengiyakannya.
Dad pergi kerja bersama Mama, sedangkan aku mengantar Lily ke sekolahnya. Dia turun dari sepeda motorku dengan antusias begitu melihat seorang gadis keluar dari mobil. Setelah pamit dariku, dia memanggil nama gadis itu dan berjalan bersamanya melewati gerbang sekolah. Akhirnya, dia punya teman baru juga. Dengan begitu, dia tidak terus bersama Adi.
Hadi tidak mengatakan apa pun mengenai rencananya ke kampus, jadi aku terkejut melihat mobil miliknya ada di tempat parkir. Aku bergegas menuju kantor jurusan, tetapi dia tidak ada di mana pun di ruang tunggu di depan ruang dosen. Ke mana dia?
“Aku ada di kantor jurusan Clarissa. Dia tidak bisa datang sendiri mengantar skripsinya,” katanya menjawab pertanyaanku lewat telepon.
“Jangan pergi ke kantor, temui aku sebentar,” pintaku. Dia menjawab iya.
Untung saja dosenku memanggil namaku ketika dia datang dan mengajak aku untuk masuk ke ruang kerjanya. Teman-teman lain mengeluh, karena mereka datang lebih dahulu. Karena itu aku tidak berlama-lama dan langsung menanyakan kesulitan yang aku alami. Dosenku memberi tanda pada bagian yang tidak aku pahami dan menjelaskannya sampai aku mengerti.
Ketika dia meminta contoh kuesioner yang sudah aku buat, aku segera memberikan lembaran itu kepadanya. Dia membaca dengan cepat, lalu menyisipkan sebuah pertanyaan yang bisa membantu aku menyimpulkan penelitian itu dengan lebih baik.
“Wow. Satu pertanyaan saja bisa menjawab semua masalah, ya, Pak.” Aku membaca pertanyaan itu dan langsung mengerti di mana kekurangan yang aku lewatkan.
“Maafkan aku. Seharusnya aku memerhatikan proposalmu dengan baik. Apa masih ada yang bisa aku bantu?” tanya dosen itu dengan ramah. Aku menggeleng pelan. “Baik. Silakan datang lagi kalau ada masalah baru.” Aku berterima kasih kepadanya dan keluar dari ruangan itu.
Hadi yang semula duduk di antara teman-teman kami berdiri melihat kedatanganku. Kami berjalan bersama keluar dari kantor jurusan. Dia akan kembali ke kantor, jadi aku tidak bisa meminta dia tinggal terlalu lama. Aku memanfaatkan perjalanan kami menuju tempat parkir untuk bicara.
“Kamu tidak datang bermain basket bersama kami, jadi aku menunda untuk menanyakan suatu hal,” kataku menyamakan langkahku dengannya.
“Kamu bisa menelepon atau mengirim pesan kapan saja kamu mau. Mengapa harus menunggu sampai kita bertemu untuk bertanya?” ucapnya heran.
__ADS_1
“Karena pertanyaan ini akan membuat kamu tidak nyaman,” jawabku jujur. Dia menoleh ke arahku. “Apa yang terjadi setelah kita bicara di kafe itu pada hari Selasa lalu?”
Dia menghela napas panjang. “Aku tidak tahu, oke? Tetapi aku menjawab seadanya ketika keluarga bertanya pada malam itu.”
“Iya. Dira menceritakannya kepadaku. Kamu bertemu dengan teman lama.”
“Aku berbohong, karena aku tidak mengingat apa yang terjadi pada hari itu.” Dia mendesah keras.
“Apa maksudmu, Hadi? Apa ada yang memukul kepalamu sampai kamu hilang ingatan?”
“Tidak. Hal terakhir yang aku ingat, aku masuk ke dalam mobil.” Itu adalah bagian terakhir yang aku ingat juga mengenai dia pada hari itu. “Lalu aku sangat mengantuk dan terbangun di sebuah kamar hotel. Aku tidak tahu siapa yang membawa aku ke sana, juga tidak tahu apa yang terjadi.”
Aku menghentikan langkahku. “Tunggu. Kamu mengantuk? Aku ingat kamu beberapa kali menguap sebelum kita berpisah. Apa mungkin ada yang memasukkan obat tidur ke makananmu? Aku baik-baik saja, jadi kamu pasti incaran mereka.”
“Siapa yang melakukannya? Tidak ada orang yang kita kenal di kafe itu,” ucapnya frustrasi.
Dia benar. Tetapi siapa lagi yang akan melakukan itu kepadanya. “Kamar hotel. Apa kamu sendirian di kamar itu?” Dia mengangguk pelan. “Untuk apa mereka membawa kamu ke sana?”
Dia mengangkat kedua bahunya. “Aku juga tidak tahu. Papa pasti sudah menyelidiki apa yang terjadi, tetapi dia menutup mulut dan tidak mau memberi tahu aku apa pun.”
“Jangan buat aku penasaran, Colin. Siapa? Apa yang dia katakan?” desak Hadi.
“Aku bertemu dengan Valeria di perpustakaan. Dia bertanya apa aku tahu kamu ke mana setelah kita bertemu di kafe. Dia bilang, aku sebaiknya bertanya kepadamu karena kamu punya kejutan untukku.” Kalimat itu semakin terdengar aneh setelah aku mengucapkannya.
“Kejutan untukmu? Aku tidak ingat siapa yang bersamaku pada hari itu, bagaimana aku sempat memikirkan sebuah kejutan untukmu?” tanya Hadi bingung.
“Aku juga tidak tahu, Hadi. Karena itu aku bertanya langsung kepadamu. Apa yang terjadi pada hari itu? Mengapa kamu bisa menghabiskan waktu dari siang sampai malam dan mengabaikan pekerjaan? Itu bukan kamu yang aku kenal,” kataku menjelaskan.
Dia terlihat sibuk berpikir sendiri. Ketika dia memejamkan mata dan menarik napas panjang, aku tahu bahwa dia sedang memikirkan hal yang sangat serius. “Apa mungkin Valeria yang melakukan hal itu? Memasukkan obat tidur, lalu membawa aku ke kamar hotel?”
“Tubuh kamu tidak ringan, Hadi. Dia tidak mungkin melakukannya—” Aku tertegun sejenak. “Apa mungkin dia punya komplotan dan merencanakan ini dengan mereka? Tetapi untuk apa?”
“Untuk apa lagi?” Hadi menggeram pelan. “Dia sudah lama mengejar aku. Sejak hari pertama kita berada di kampus ini. Dia pasti masih berharap agar aku mau menerima cintanya. Perempuan gila. Semuanya menjadi jelas sekarang. Dia sengaja tidur denganku supaya dia hamil.”
Mulutku ternganga mendengar ucapannya itu. Jadi, itu maksudnya membawa Hadi ke hotel? Apa yang ada di dalam kepala Valeria? Yang dia lakukan ini bukan hanya sudah merusak hidup Hadi, tetapi juga hidupnya sendiri. “Apa kamu yakin kalian tidur bersama?” tanyaku pelan.
__ADS_1
Hadi mengerutkan keningnya. “Apa maksud pertanyaanmu itu? Apalagi yang terjadi di kamar itu kalau bukan …. Aku tidak mau membicarakan ini.”
“Ini penting, Hadi.” Aku memegang tangannya ketika dia berusaha kembali berjalan ke mobilnya. “Kamu sudah menjalani satu minggu tanpa melakukan hubungan badan. Jika benar terjadi sesuatu di kamar itu, kamu pasti mempunyai dorongan untuk melakukannya lagi. Apakah kamu merasakan itu?”
“Dorongan apa? Yang saat ini aku rasakan adalah ingin mencekik Valeria dan melenyapkan dia dari dunia ini.” Hadi menarik tangannya dari genggamanku. “Hubunganku dan Clarissa baru berusia satu minggu dan masalah sudah datang bertubi-tubi berusaha untuk memisahkan kami lagi. Aku tidak akan membiarkan Valeria menang, apa pun rencana jahatnya.”
“Hadi, fokus pada pertanyaanku,” kataku sekali lagi. Dia mendesah pelan. “Apakah kamu merasakan sesuatu saat ini? Apakah kamu ingin sekali berhubungan badan dengan seseorang?”
“Pertanyaan gila apa itu? Apa serendah itu penilaianmu terhadap aku?” katanya tersinggung. “Aku tidak akan melakukan hal itu, kecuali dengan istriku nanti.”
“Kamu siswa tercerdas di kelas kita, bahkan di kampus. Tetapi hal sesederhana ini saja kamu tidak tahu?” ejekku. Dia merapatkan bibirnya. “Hadi, bila kamu pernah berhubungan badan dengan seorang perempuan, kamu pasti menginginkannya lagi. Hari ini sudah seminggu lebih sejak kejadian di kamar hotel itu. Pertanyaanku, apakah kamu punya dorongan untuk melakukannya lagi?”
Hadi tertegun sejenak. Dia menundukkan kepalanya dan tangannya berada di depan perutnya. Aku menunggu dia menjawab pertanyaanku. Ketika wajahnya berubah terkejut, aku semakin tidak sabar mendengar apakah dugaanku salah atau benar.
*******
Sementara itu di sebuah rumah~
“Apa kamu yakin mau memasak sebanyak ini? Kita bisa membuat menu yang sama dengan bumbu yang berbeda besok, sayang,” ucap Lindsey melihat banyaknya daging yang dimasukkan ke dalam mesin penghalus daging.
“Hadi meminta piza yang sama yang kita buat kemarin Nenek. Jadi, sebagian dagingnya untuk piza dan sebagian lagi untuk pastel,” ucap Clarissa dengan senyum bahagia.
“Mm, yang sedang kasmaran. Apa pun yang diminta pacarnya pasti dituruti.” Lindsey mengusap puncak kepala Clarissa.
Sebuah benda bergetar di atas konter, Clarissa dan Lindsey serentak menoleh. Mengetahui ponsel Clarissa yang memberi tanda ada pesan baru yang masuk, dia segera mengambil benda tersebut. Lindsey hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah cucunya.
Pesan yang masuk tersebut ternyata berasal dari nomor yang tidak dia simpan. Dia membukanya dan melihat ada sebuah foto yang dia terima. Clarissa butuh waktu lama untuk mengerti apa yang sedang dia perhatikan pada gambar tersebut.
“Oh, Tuhan,” gumam Lindsey terkejut. “Siapa yang mengirim foto itu, sayang?”
“Apa ini, Nek?” tanya Clarissa bingung.
“Itu adalah alat tes kehamilan. Dua garis merah ini menunjukkan bahwa hasilnya seseorang sedang hamil,” ucap Lindsey dengan bingung. “Tetapi mengapa mengirim foto ini kepadamu?”
Seolah-olah menjawab pertanyaan Lindsey, sebuah pesan baru masuk di bawah foto tersebut. Lindsey menarik napas terkejut, sedangkan Clarissa membiarkan benda itu meluncur jatuh ke pangkuannya. Aku mengandung anak Hadiyan Perkasa.
__ADS_1