
Atas nama etika, aku membalikkan badan dan memasang senyum termanisku. Seorang gadis yang sedikit lebih pendek dariku itu sengaja mengenakan sepatu berhak tinggi. Dia menatap aku dengan pandangan merendahkan. Aku hampir tertawa karena dia akan kesulitan berjalan dengan sepatu itu.
Reese Foster. Gadis yang merasa bahwa semua orang yang menghalangi jalannya adalah saingannya. Meskipun ada banyak model, fotografer, dan pemilik agensi yang tidak menyukai dia, ada banyak juga yang mau dan betah menjadi temannya. Tetapi dengan sikapnya yang menjengkelkan itu, dia adalah seorang model yang profesional yang mengerjakan tanggung jawabnya dengan baik.
“Hai, Reese. Aku baru tahu bahwa kamu sangat perhatian padaku.” Aku memasang ekspresi terkejut dengan meletakkan tanganku di depan dadaku. Dia memasang wajah kesal. “Jangan marah. Sebagai seorang model, kita harus bisa menjaga emosi.”
“Aku baru tahu bahwa lidahmu bisa tajam juga,” ucapnya sengit. Dia menoleh dan menatap Kak Hadi dengan saksama. Matanya berhenti begitu lama mengamati wajah kakakku.
“Tolong, jaga juga sikapmu, Reese. Kamu membuat kakakku merasa tidak nyaman,” kataku kini dengan nada menggoda. Keningnya berkerut, lalu dia menoleh ke arahku. “Perkenalkan. Hadiyan, kakak kandungku. Kak, ini Reese Foster. Dia … sebut saja kami rival. Bukan begitu, Reese?”
“Hai, Hadiyan. Senang berkenalan denganmu. Aku dan Dira berteman, jadi jangan dengarkan dia.” Reese menjabat tangan Kakak dan sengaja berlama-lama memegang tangannya saat Kak Hadi sudah menarik diri darinya. Aku berdehem pelan untuk menyembunyikan tawaku.
“Aku dan kakakku sudah mengambil makanan, jadi kami perlu mencari tempat untuk duduk. Sampai nanti, Teman,” kataku yang sengaja memberi intonasi khusus pada kata teman. Reese terlalu fokus mengagumi Kakak sampai tidak mendengarkan kalimat sarkasku.
Kami menuju meja kosong terdekat, tetapi seseorang memanggil namaku. Aku menoleh ke arah datangnya suara dan melihat Vikal melambaikan tangan sambil menunjuk kursi kosong di dekatnya. Aku melihat ke arah Kakak. Dia mengangguk setuju, maka kami menuju meja tersebut.
Aku duduk di samping Vikal, sedangkan Kakak di sisiku. Entah apa yang terjadi di antara mereka berdua, tetapi sudah beberapa hari terakhir Kakak menatap asistenku itu dengan dingin setiap kali mereka bertemu. Mungkin ini ada hubungannya dengan kejadian besi jatuh pada pemotretan terakhir dua minggu lalu.
Berbeda dengan Kakak yang suka menyelidiki segala sesuatu sampai ke akar-akarnya, aku tidak mau disusahkan dengan masalah yang sudah berlalu. Baik besi itu jatuh karena kecelakaan atau disengaja, aku tidak peduli. Aku selamat dari bahaya, itu adalah hal yang terpenting. Lagi pula aku tidak mau mengingat kejadian itu karena Colin.
Untuk sementara, aku tidak mau membahas, memikirkan, apalagi mendengar tentang orang yang sudah menghancurkan harapanku itu. Dia bahkan tidak memberi aku sebuah kehormatan untuk tahu apa alasan dia tidak mau meneruskan hubungan kami. Apa dia pikir aku adalah cenayang yang bisa mengerti dan memahami tingkahnya itu bila dia tidak berterus terang?
Ada begitu banyak alasan di kepalaku yang bisa jadi mendorong dia mengakhiri hubungan kami dengan cara yang aneh. Bosan. Enam belas tahun bersama, tanpa pernah terlibat hubungan asmara dengan orang lain, bisa jadi dia bosan dengan hubungan kami. Tetapi dia terlihat nyaman saja saat kami menghabiskan waktu bersama.
__ADS_1
Meskipun aku manja, aku tidak pernah menempel ke mana pun dia pergi, juga tidak melulu meminta bantuan atau ditemani bila aku membutuhkan dia. Aku juga memberi dia ruang untuk bergaul dan melakukan hobinya. Dan yang paling utama, kami punya tujuan dan pemikiran yang sama mengenai pernikahan. Keinginan terbesar kami adalah terus bersama dan saling membantu meraih mimpi.
Kedatangannya bersama Mila untuk pertama kalinya menjadi cambukan yang sangat mengejutkan. Aku pikir hubungan kami baik-baik saja, ternyata dia punya pendapat lain. Mengapa dia tidak mengajak aku bicara dan mencari jalan keluar bersama? Mengapa harus dengan cara ini?
“Dira, aku tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Sebaiknya kamu ucapkan selamat pada temanmu itu dan kita pulang,” ucap Kak Hadi membuyarkan lamunanku.
“Ah, iya.” Aku menyeka mulutku dengan tisu, lalu pamit pada Vikal. Dia juga ingin ikut pamit bersama kami. Aku menggandeng lengan Kak Hadi agar aku tidak kesulitan berjalan.
Melihat Pak Billy juga datang, aku mendekat dan menyapanya. Lalu lanjut berjalan mendekati meja di mana gadis yang berulang tahun sedang duduk. Dia berdiri saat melihat kedatanganku dan Vikal. Gadis ini adalah rekan satu agensiku. Pak Billy selalu mengingatkan kami untuk saling mendukung dan tidak bersaing secara tidak sehat sebagai satu tim. Jadi, kami semua sangat akrab.
“Wah! Apa isi kotak ini?” tanya Laras saat menerima tas kertas berisi kado dariku. Dia merogoh isi dalam tas itu dan mengeluarkan sebuah tas tangan berwarna keemasan. Warna kesukaannya. Matanya berkaca-kaca. “Oh, Dira. Ini bagus sekali! Terima kasih.” Dia memeluk aku dengan erat, lalu mengamat-amati tas tersebut.
“Syukurlah, kamu menyukainya.” Aku tersenyum bangga karena berhasil membuat temanku bahagia. Harga tas itu tidak murah, tetapi melihat reaksinya, aku tidak menyesal mengeluarkan uang banyak.
“Kamu harus buka kado dariku juga. Aku yakin pemberianku jauh lebih baik dari Dira.” Aku memutar bola mataku mendengar suara Reese datang dari arah belakangku.
Laras menerima tas kado dari Reese dan mengeluarkan isinya. Sebuah tas bermerek asli dari Paris dengan harga yang aku yakin tembus seratus juta rupiah. Model terbaru yang akan membuat siapa saja yang mengenal merek itu menelan air liur mereka dengan berat.
Namun reaksi gadis yang berulang tahun tidak seperti yang diharapkan. Laras hanya menatapnya seperti menerima hadiah biasa tak bernilai. Berbeda jauh dengan responsnya saat membuka kado dariku. Reese lupa bahwa temanku menyukai warna emas. Dia tidak peduli dengan harga tas yang diberikan kepadanya selama tas itu berwarna emas. Tas yang dia berikan berwarna putih.
“Ada apa?” tanya Reese terlihat tidak senang. “Apa tasnya kurang bagus? Kamu tidak suka?”
“Tasnya bagus. Terima kasih.” Laras tersenyum manis.
__ADS_1
“Kalau kamu tidak suka, aku akan menukarnya. Kamu tidak perlu merasa terpaksa menerimanya.” Reese mengambil tas itu dari tangan Laras.
“Aku tidak bilang begitu, Reese. Aku menerima kado darimu dan aku berterima kasih,” ucap Laras, menahan agar gadis itu tidak menarik kadonya kembali.
“Wajah kamu tidak bilang begitu. Aku akan menukarnya dengan yang lebih baik. Aku tidak sudi dipermalukan seperti ini!” Reese menarik tas itu dengan paksa hingga lepas dari pegangan Laras.
Seseorang berteriak panik di sisinya dan terdengar bunyi benda jatuh di atas rumput dan meja. Aku menoleh untuk melihat apa yang terjadi. Seorang gadis membawa baki yang berisi minuman dingin dalam gelas kertas berukuran besar. Gelas itu berjatuhan di rumput dan meja. Dari aromanya, aku segera tahu bahwa minuman itu adalah kopi.
“Bodoh! Apa kamu tidak punya mata!?” pekik Reese yang segera melihat kondisi bajunya yang terkena tumpahan kopi. “Baju ini mahal, idiöt! Noda kopi ini tidak akan bisa hilang!”
“Ma-maafkan saya. Anda yang tiba-tiba memukul saya, jadi saya kehilangan keseimbangan,” ucap gadis itu sambil mengambil tisu dan membantu membersihkan tumpahan kopi di baju Reese. Aku mengenal suara itu.
“Maaf? Mudah sekali kamu mengucapkan maaf. Baju ini sudah tidak bisa aku pakai lagi!” Reese memukul tangan gadis itu dan mendorongnya menjauh. “Jangan sentuh bajuku dengan tangan kotormu! Dasar pelayan rendahan!”
“Wendy.” Aku segera mendekati sahabatku saat melihat dia tersandung ke belakang. Tetapi Kak Hadi bergerak lebih cepat. Dia memegang kedua lengan Wendy dari belakang sehingga dia tidak jatuh. “Kamu tidak apa-apa?” Wendy mengangguk pelan saat aku menyentuh tangannya. Aku merasakan tubuhnya bergetar dengan hebat.
“Oh. Jadi dia temanmu? Pasti kalian berdua sudah merencanakan ini, ‘kan? Setelah menghina kado mahal yang aku beri, kalian sekarang merusak pakaian mahalku! Kalian harus membayar ganti rugi! Lihat, tas ini juga kena noda kopi! Aku tidak akan bisa menukarnya dengan model lain!” Reese dengan kesal menunjukkan tas yang terkena noda kopi itu ke Wendy.
“Reese, cukup!” kata Laras dengan lantang.
“Apa? Cukup? Aku tidak akan tinggal diam dan membiarkan pelayan bodoh ini lolos begitu saja. Dia harus mengganti rugi baju dan tasku!” protes Reese dengan wajah merah padam. Yang terkena noda adalah tas yang dia hadiahkan kepada Laras. Mengapa dia menyebut itu sebagai tasnya?
“Semua orang melihat bahwa ini semua adalah kesalahanmu. Gadis ini sedang mengerjakan tugasnya seperti rekannya yang lain. Kamu yang mengejutkan dia dengan melayangkan tas itu ke wajahnya.” Reese menatap Laras dengan tajam. Tetapi temanku itu tidak takut dan melanjutkan, “Kalau kamu tidak bisa bersikap tenang, sebaiknya kamu pergi dari tempat ini. Kamu telah merusak pesta ulang tahunku.”
__ADS_1