Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 85 - Hanya Lewat Kematian


__ADS_3

Vivaldo dan Nora. Aku membenci mereka berdua. Pertama, mereka telah merusak pernikahan Papa dan Mama. Aku mendengar dari orang tuaku sendiri, juga dari Om Zach, kedua kakek, dan nenekku bagaimana Papa dan Mama jatuh bangun memperbaiki hubungan mereka yang hancur. Mereka juga menjadi penyebab adikku sebelum Adi tidak pernah lahir ke dunia.


Kini mereka mencampuri hubungan aku dan Colin yang sudah terjalin sejak kami masih kecil. Aku tidak tahu apa yang mereka inginkan dengan putusnya hubungan kami. Yang aku tahu, aku adalah anak Papa dan Mama, dua orang yang mereka ganggu hidupnya. Aku tidak menduga bahwa mereka punya rencana lain setelah hubungan kami putus.


Jordan. Jika ucapan Colin benar mengenai Jordan pernah bertemu dengan Vivaldo dan Nora, apa yang mereka inginkan dariku? Setelah aku sendiri lagi, Jordan sangat agresif dalam mendekati aku. Tetapi apa untungnya bagi mereka bila aku menerima Jordan menjadi pacarku?


“Jadi, Jordan mendekati kamu dan sudah dua kali meminta kamu menjadi pacarnya?” Colin mengusap-usap dagunya sambil mengangguk pelan. “Begitu. Setelah aku dan kamu putus, mereka sudah menyiapkan laki-laki untuk menggantikan aku. Tetapi mengapa?”


“Dan apa hubungannya dengan Papa dan Mama? Vivaldo mengaku cinta mati pada Mama setelah Mama menikah dengan Papa. Dia tidak pernah membiarkan Mama hidup tenang ketika mereka bertemu lagi. Nora mendapat dukungan dari Nenek Naava untuk menjadi istri Papa ketika orang tuaku bercerai. Aku tidak tahu apa dia benar-benar cinta Papa atau hanya mau hartanya. Lalu apa hubungan semua ini dengan aku?” tanyaku bingung.


“Mengapa kamu dan bukan Hadi atau Adi?” tanya Colin menambahkan.


“Kamu benar.” Aku mengangguk pelan. “Kita tidak akan mendapatkan jawabannya kalau kita hanya berpikir begini. Kita harus melakukan sesuatu.”


“Mengikuti Jordan adalah cara yang terbaik yang bisa aku pikirkan. Tetapi aku tidak akan bisa berada di dekatnya bila dia dan dua orang itu janji bertemu. Jadi, aku tidak akan bisa menguping percakapan mereka. Bertanya langsung pada VIvaldo dan Nora juga bukan jalan yang bijak.”


“Hanya tinggal satu cara.” Aku menjentikkan jariku.


Colin menatap aku dengan saksama. “Tidak.” Aku mengangguk cepat. “Tidak. Aku tidak mengizinkan kamu melakukan itu.”


“Mengapa tidak? Kamu bukan pacarku, kakakku, atau orang tuaku. Mengapa aku harus mendengar apa yang kamu katakan?” tanyaku keberatan. “Lagi pula apa yang bisa dia lakukan kepadaku kalau aku menjadi pacarnya? Dia tidak akan bisa menyakiti aku di depan umum.”


Colin bersikap berlebihan menanggapi rencanaku tersebut. Dia mengadukan Jordan kepada Mama dan Kak Hadi saat kami sampai di rumahku. Mereka sempat menggoda dia cemburu karena ada laki-laki lain yang mendekati aku. Tetapi wajah bahagia itu segera hilang dari wajah mereka saat Colin menyebut nama Vivaldo dan Nora.


Dia menceritakan bahwa saat dia bertemu dengan kedua orang itu setelah kami resmi putus, ada pemuda lain yang mereka temui. Orang itu adalah Jordan. Jadi, dia menyimpulkan bahwa pemuda itu mendekati aku bukan karena dia tulus dengan perasaannya, melainkan ada udang di balik batu.

__ADS_1


“Aku tidak setuju kamu menjadi pacarnya. Bukan begitu cara menghadapi orang jahat, Dira.” Kak Hadi menatap aku dengan serius. “Biar Papa dan Om Irwan yang mengurus masalah ini. Kita sudah cukup banyak kehilangan karena ulah kedua orang itu.”


“Mengapa mereka masih juga tidak bisa membiarkan aku dan Hendra hidup damai? Apa mereka pikir bahwa cinta bisa dipaksakan? Lalu saat rencana mereka gagal, mereka memutuskan untuk menghancurkan hidup anak-anak kami? Aku tidak mengerti. Bagaimana caranya membuat mereka berhenti?” kata Mama pelan.


“Mungkin hanya kematian yang bisa membuat mereka berhenti, Ma,” kata Kakak tanpa perasaan.


“Hadi, kita tidak akan mengotori tangan kita dengan darah mereka!” pekik Mama terkejut.


“Aku tidak bilang kita membunuh mereka. Aku hanya memberi tahu Mama bahwa hanya itu yang bisa membuat mereka berhenti. Karena penjara tidak membuat mereka jera,” kata Kakak.


“Pokoknya, kita harus menunggu instruksi dari Papa. Aku tidak mau kita mengambil keputusan apa pun secara gegabah.” Mama melihat ke arah aku dengan serius. “Itu termasuk menjaga jarak dengan laki-laki bernama Jordan itu. Semua orang yang ada hubungannya dengan Vivaldo adalah orang jahat. Kamu sebaiknya tidak pernah sendirian dengannya. Pastikan Charlotte dan Wendy selalu berada di dekatmu. Apa kamu mengerti? Kalau kamu nekat, lebih baik kamu tidak ikut acara besok.”


“Iya, Ma. Iya. Aku janji tidak akan dekat-dekat Jordan.” Aku segera menyetujui ucapan Mama karena aku tidak mau ketinggalan acara terakhir di sekolah.


“Aku akan menghubungi Wyatt dan meminta dia untuk menjaga Dira juga kedua temannya. Karena itu acara sekolah, orang lain tidak akan diizinkan masuk. Sekalipun orang itu adalah kakak atau orang tua murid.” Kak Hadi berdiri sambil membawa ponselnya. Dia mendekati jendela dan bicara dengan Wyatt. Sikap mereka sangat berlebihan.


Namun dia mengabaikan aku karena Mama menanyakan sesuatu kepadanya sehubungan dengan game yang dia mainkan. Dari percakapan mereka, sepertinya Mama sedang mengerjakan proyek buku barunya. Agak aneh mendengar Mama tertarik dengan hal yang dimainkan oleh anak zaman sekarang. Buku karyanya umumnya membahas kehidupan asmara, pernikahan, atau keluarga. Baru kali ini Mama tertarik dengan topik di luar itu.


Mama mendengarkan penjelasan Colin dengan wajah penuh kekaguman. Sesekali Mama tertawa bersamanya, atau tangannya menyentuh lengan Colin. Entah mengapa aku tidak nyaman melihat interaksi di antara mereka. Karena tidak ada hal lain yang perlu kami bahas, aku pamit ke kamar.


Tepat pada pukul tujuh pagi, Charlotte dan Wendy tiba di rumahku. Kami sepakat untuk memesan jasa satu tim makeup artist untuk membantu kami merias wajah dan menata rambut. Walaupun kami tidak berniat untuk menarik perhatian siapa pun, kami ingin tampil sempurna pada acara tersebut. Untuk menjalankan rencanaku, aku sengaja memakai gaun berwarna hitam.


Aula sekolah diubah drastis dengan panggung di bagian depan. Ada grup band terkenal yang sedang tampil menghibur kami semua yang berdatangan memasuki ruangan. Disediakan tempat khusus bagi siswa yang ingin berdiri lebih dekat ke panggung untuk menikmati penampilan tersebut.


Semua siswa putri tampil sempurna dengan gaun, riasan, dan tataan rambut mereka yang berbeda dengan penampilan mereka pada saat belajar. Para siswa putra juga tidak mau kalah dengan setelan, baju batik, dan gaya berpakaian lainnya sesuai selera mereka.

__ADS_1


Jordan tampil rapi dengan setelan warna hitam dan dasi berwarna biru tua. Dia menyambut aku dengan senang karena kami terlihat serasi. Aku menolak saat dia berniat menggandeng tanganku. Jadi, kami berjalan berdampingan mencari tempat duduk kosong.


Para siswa yang melihat kedatangan kami bersorak memberi dukungan. Jordan tersenyum bahagia pada mereka semua, sedangkan aku hanya tersenyum seadanya. Sikapnya seolah-olah kami adalah sepasang kekasih. Aku menoleh ke arah Charlotte dan Wendy yang hanya tertawa geli.


Kami duduk pada deretan bangku yang sama. Jordan duduk paling sudut, lalu aku duduk di sisinya. Charlotte duduk di sampingku, sedangkan Wendy berada di sebelahnya sehingga dia dan Wyatt tidak duduk berdampingan. Jordan mencoba untuk memegang tanganku lagi yang segera aku tolak.


Ada apa dengannya? Dia tidak pernah bersikap selancang itu sebelumnya. Apa dia berpikir bahwa aku punya perasaan padanya karena aku mengenakan pakaian sewarna dengan yang dia pilihkan?


Kepala sekolah membuka acara tersebut dengan pidato yang panjang lebar nyaris membuat kami semua tertidur. Setelah Ketua OSIS memberi kata sambutan dan mewakili kami semua untuk berterima kasih pada guru yang telah tiga tahun ini mengajar kami, acara serius pun selesai.


Berikutnya ada penampilan dari teater sekolah, grup band sekolah yang cukup dikenal secara lokal, juga pembacaan puisi. Makanan dan minuman dibagikan saat acara hiburan itu berlangsung. Kami tidak banyak bicara agar bisa menikmati acara. Tetapi Jordan tidak mengerti sinyal dariku dan tidak berhenti menyatakan pendapatnya pada setiap penampilan di panggung.


“Aku perlu ke toilet. Apa kalian mau ikut juga?” tanyaku kepada Charlotte dan Wendy. Mereka segera setuju seolah-olah sudah menunggu ada salah satu dari kami yang mengucapkan itu. Aku memberikan minuman dan makananku pada Wyatt. Juga meminta dia untuk menjaga tas kami.


“Oh, Tuhan. Aku tidak tahan duduk lebih lama lagi di sampingnya.” Aku menggerutu pelan saat kami sudah berada di luar aula. “Dia tidak berhenti bicara atau mencoba untuk memegang tanganku.”


“Apa? Untuk apa dia memegang tanganmu segala? Kalau dia melakukan itu lagi, cubit tangannya dengan keras. Biar dia tahu rasa.” Charlotte meletakkan telunjuknya di depan bibirnya saat kami akan memasuki toilet. Kami menurut karena siswa lain bisa mendengar keluhanku. Aku tidak mau mencari ribut pada hari terakhir kami berkumpul bersama di sekolah.


Saat kami akan kembali ke aula, aku merasa sedikit pusing. Jadi, aku memutuskan untuk meminta air hangat pada panitia yang berjaga di meja saji. Charlotte dan Wendy mengambil minuman untuk mereka, sedangkan Charlotte membawa satu gelas lagi untuk Wyatt.


“Kalian duduk saja. Aku masih pusing, jadi aku akan meminta satu gelas air hangat lagi.” Aku tidak enak melihat kedua sahabatku hanya berdiri di sampingku sambil melihat ke panggung.


“Kamu yakin?” tanya Charlotte. Aku mengangguk cepat. “Baiklah. Segera kembali setelah selesai minum. Seingatku, aku bawa obat untuk pusing. Nanti kamu minum itu saja.”


“Oke.” Aku mendekati meja, sedangkan mereka kembali ke kursi kami.

__ADS_1


Aku meminum segelas air hangat lagi, tetapi tidak bisa mengurangi rasa pusingku. Aneh. Aku tidak kurang istirahat atau memakan sesuatu yang tidak sehat hari ini. Mengapa kepalaku rasanya sakit? Aku menguap pelan. Dan kini aku mengantuk?


“Dira, kamu tidak apa-apa?” tanya Jordan yang sudah berdiri di dekatku. Kapan dia datang keluar dari tempat duduknya dan berdiri sini? Tetapi aku tidak bisa menjawab pertanyaannya itu karena semuanya mendadak gelap.


__ADS_2