Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 69 - Hanya Bisnis


__ADS_3

*Clarissa*


Selama hampir dua minggu ini, aku sangat bahagia. Aku baru tahu bahwa mendapatkan perhatian dari seorang pemuda yang tulus mencintai aku terasa lebih mendebarkan daripada perhatian dari keluarga. Yang aku inginkan setiap hari adalah melihat wajahnya, mendengarkan suaranya, dan aku bahagia setiap kali dia menyentuh tanganku atau mencium pipiku.


Namun yang lebih mendebarkan dari semua itu adalah setiap kali mendengar kata cinta keluar dari mulutnya. Jantungku berdetak lebih cepat, darahku seperti berdesir dengan cepat dari kepala ke ujung kakiku, dan aku merasakan begitu banyak emosi dalam satu detik saja. Aku merasa bahagia, takut, sedih, terharu, khawatir waktu mendengar kata cintanya.


Hadi adalah pemuda yang sangat baik ketika dia menyayangi seseorang tersebut. Cara dia bersikap kepadaku sekarang jauh berbeda dengan caranya saat kami baru berkenalan. Dia lebih berhati-hati ketika bicara, dan aku tidak mendengar kalimat yang menyakitkan hati lagi darinya. Jadi, mudah saja bagiku untuk merasakan hal yang sama dengannya.


Tetapi aku takut. Itu adalah perasaan terbesar yang memenuhi dadaku setiap kali berada di dekatnya. Aku takut ini hanyalah mimpi dan dalam sekejap mata, semua kebahagiaan ini akan direnggut dariku. Aku takut apa yang Hadi rasakan kepadaku hanyalah ilusi masa kecilnya karena dia sudah dijodohkan denganku sejak dia masih sangat muda.


Dan ketakutanku itu terbukti. Charlotte berusaha menyembunyikan berita itu dariku, tetapi aku berhasil merebut ponselnya darinya. Aku tidak seperti kebanyakan orang yang aktif di media sosial. Aku tidak punya waktu sekadar membaca berita, mengobrol di postingan seseorang, atau memuat fotoku di media sosial setiap kali ada hal yang aku lakukan.


“Kamu tidak perlu memasukkan ke dalam hati apa yang mereka katakan pada semua artikel dan postingan itu, Clarissa. Mereka semua akan mendapatkan hukuman yang berat karena sudah menyebarkan fitnah seperti ini,” kata Charlotte berusaha untuk menenangkan aku. Padahal dialah yang perlu menenangkan diri.


Berita yang membuat dia terlihat begitu marah adalah mengenai aku yang disebut media berita daring sebagai ayam kampus, perempuan murahan, gadis bayaran, bahkan istilah yang jauh lebih kasar yang sama artinya dengan itu mereka tuliskan juga.


Pekerjaanku itu adalah rahasia. Setiap klien yang bersamaku tidak mau hubungan kami diketahui oleh publik. Yang kami jalani murni bisnis dan aku tidak memberikan tubuhku kepada mereka. Kami hanya berpura-pura punya hubungan asmara, hanya itu.


“Ng, aku butuh waktu untuk sendiri. Bisakah kamu tinggalkan aku sebentar?” pintaku kepadanya. Semalam dia tidur bersamaku di kamarku ini.


“Clarissa, kita bisa selesaikan semua masalah ini. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Kakek dan Grandpa akan memastikan tidak ada satu artikel pun yang masih beredar mengenai kamu.” Dia menerima ponselnya kembali.


“Aku mohon, Charlotte. Sebentar saja,” pintaku memohon. Dia menatap aku dengan wajah sedih, kemudian mendesah pelan. Dia mengalah dan berjalan menuju pintu kamar.

__ADS_1


Setelah dia keluar, aku mengunci pintu dari dalam. Ini adalah masalah yang terjadi karena aku yang salah melangkah. Seharusnya aku tahu bahwa rahasia sebesar ini pasti akan terungkap juga. Aku dan Sigit tidak bekerja sama menggunakan surat kontrak resmi, jadi aku tidak bisa menuntutnya. Tetapi pria yang baik adalah pria yang ucapannya bisa dipegang.


Aku mengambil ponselku yang ada di atas nakas dan bergegas menuju ruang pakaian. Meskipun dinding dan pintu di kamar ini berbahan tebal sehingga suara dari dalam sulit didengar dari luar, aku tetap harus berhati-hati. Aku tidak mau nenek, grandma, atau adikku mendengarkan percakapan ini.


“Halo, Mila,” sapa Sigit saat menjawab panggilan masuk dariku. Dia bicara dengan nada tidak bersalah seolah dia tidak tahu alasan aku menghubunginya.


“Namaku Clarissa. Aku yakin kamu sudah tahu itu karena kamu tahu siapa kakek kandungku.” Aku tersenyum tidak percaya.


“Aku tidak mengerti apa yang kamu maksudkan,” katanya dengan nada lugu.


“Jadi, kamu akan menggunakan sikap ini sebagai pembelaan diri? Pura-pura tidak tahu?” tanyaku. “Hanya kamu yang tahu aku menemui para pria itu, dengan perantaraanmu untuk berpura-pura menjadi pacar mereka. Tidak ada orang lain, Sigit.”


“Hati-hati menuduh orang, Mila,” katanya dengan tajam dan masih saja memanggil aku dengan nama yang sudah aku lupakan itu. “Kamu tidak bisa menuduh seseorang sembarangan tanpa bukti. Aku bisa menuntut kamu atas pencemaran nama baik.”


“Silakan tuntut aku. Dengan senang hati, aku akan membukakan apa yang sebenarnya terjadi antara kita. Aku mau tahu apa yang akan para pria pada foto itu katakan mengenai pemberitaan itu. Dan sekali lagi, namaku Clarissa, bukan Mila. Siapkan pengacaramu, Sigit. Karena aku juga akan menyeret kamu dalam kejahatan yang dilakukan oleh Finley Taylor.”


“Oh. Kalau kamu tidak ada hubungannya dengan dia, bagaimana kamu tahu bahwa dia adalah seorang pria?” tanyaku dengan nada mengejek. Dia terjebak dengan bantahannya sendiri. “Nama Finley itu unisêks, bisa digunakan untuk laki-laki atau perempuan. Apa kamu tidak tahu itu, Sigit?”


Terlalu kebetulan bila dia memilih hari ini untuk membuka aibku bersama pria lain. Kami tidak punya masalah apa pun. Dia bahkan masih bicara dengan baik kepadaku saat aku menolak semua misi baru yang dia tawarkan kepadaku. Hanya Finley Taylor yang akhir-akhir ini membuat masalah denganku dan keluargaku.


Aha! Itu dia! Itu alasan dia mendadak mendesak aku untuk menerima klien baru! Aku bingung apa yang membuat dia begitu antusias supaya aku mau menjadi pacar palsu seseorang lagi dengan harga yang sangat tinggi. Apa yang dia rencanakan dengan klien itu? Apa dia mau menyebarkan lebih dari sekadar foto sedang duduk dan jalan begitu mesra? Atau ada rencana lain?


Bila Finley Taylor dan Sigit bekerja sama pada hari ini, apakah itu artinya selama ini mereka sudah sejak lama merencanakan semuanya? Mereka sudah saling mengenal jauh sebelum aku dan Sigit bekerja sama? Jadi, Sigit menawarkan pekerjaan bergaji besar ini karena dia sudah punya rencana jahat di baliknya?

__ADS_1


Cukup lama dia hanya diam saja, tidak menjawab. Aku menjauhkan ponselku untuk memeriksa apakah hubungan telepon terputus atau masih tersambung. Namanya ada di layar, jadi ponselku masih terhubung dengannya.


“Keluargaku sudah mengalami banyak hal sulit dalam hidup mereka. Aku tidak akan mengizinkan siapa pun merusak kebahagiaan mereka. Apa kamu dengar itu? Aku tidak akan membiarkan siapa pun membuat mereka berduka lagi. Kamu tunggu saja di kursi nyamanmu itu. Aku akan datang dan membuat perhitungan denganmu.” Jahat sekali mereka. Dendam ini sudah melewati batas.


“Mila,” kata Sigit dengan nada santai.


“Clarissa.” Aku menggertakkan gigiku menahan amarah. Nama itu adalah pemberian laki-laki bandot penyukai gadis muda. Aku tidak sudi dipanggil dengan nama itu, sampai kapan pun juga. “Namaku Clarissa. Berhenti memanggil aku dengan nama palsu itu.”


“Tapi kamu memperkenalkan dirimu dengan nama Mila saat kita pertama kali bertemu,” katanya berdalih.


“Baiklah. Silakan terus bersikap lugu.”


“Aku tidak tahu apa yang berusaha kamu katakan kepadaku, tetapi aku tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan kepadaku. Aku bahkan belum melihat ada berita apa pada hari ini.”


“Hanya kamu yang tahu apa yang aku lakukan untuk para klienmu, Sigit. Berhenti bersikap bodoh. Aku tidak akan tinggal diam setelah apa yang kamu lakukan ini. Kamu pikir kamu bisa lolos begitu saja setelah apa yang kamu lakukan padaku? Kamu salah. Semua klienmu itu adalah orang yang berpengaruh. Aku mau tahu apa yang akan mereka lakukan padamu karena kamu sudah menyebar semua foto itu.”


“Mila, dengarkan aku.” Aku tidak peduli apa yang ingin dia katakan, aku mengakhiri hubungan telepon kami. Bila dia mau terus berlagak bodoh, baiklah. Aku punya caraku sendiri untuk bisa membuktikan bahwa semua foto dan berita ini adalah ulahnya.


Aku menyimpan nomor semua klien yang pernah menggunakan jasaku menjadi pacar bohongan mereka. Aku membuka halaman berita yang memuat fotoku bersama para pria tersebut dengan tablet, lalu menelepon mereka satu per satu dengan ponselku.


Semua mengawali kalimat mereka dengan cacian, umpatan, dan kata kasar lainnya kepadaku. Tetapi mereka tahu bahwa aku tidak mengambil foto itu dan tidak mungkin menyebarkannya di media. Aku tidak akan merahasiakan identitas asliku bila aku ingin orang tahu siapa aku yang sebenarnya. Dan mereka tahu itu. Aku tidak memberi tahu mereka nama asliku saat itu. Hanya Colin yang tahu.


Aku bersyukur Sigit mencari masalah dengan orang-orang berpengaruh, bukan orang biasa. Karena tidak ada satu pun fotoku bersama Colin atau laki-laki lain yang berasal dari orang biasa yang dia sebarkan. Aku sudah membuat keluargaku malu karena berita tersebut, nama Kakek juga ikut terseret. Maka apa pun akan aku lakukan untuk mengembalikan nama baiknya.

__ADS_1


Usai mandi dan berganti pakaian, aku menempelkan telingaku ke daun pintu. Tidak terdengar ada suara atau bunyi di depan pintu. Aku sekali lagi memastikan bahwa pintu itu terkunci. Kemudian aku membuka pintu kaca menuju balkon. Tidak ada orang di sekitarku juga di pekarangan bawah, maka aku turun lewat kayu penyangga tanaman menjalar yang ada di dinding samping balkon kamarku.


Finley Taylor. Dia memilih lawan yang salah. Setelah dia menjauhkan aku dari keluargaku, sekarang dia mau menghancurkan mereka lewat aku? Lihat saja bagaimana aku akan membalas perbuatannya.


__ADS_2