Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 84 - Pemuda yang Kuhindari


__ADS_3

Charlotte benar-benar pergi meninggalkan aku berdua saja dengan Colin. Mereka bahkan berlalu begitu saja tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Wendy juga sama saja. Aku pikir dia adalah sahabat baikku, ternyata dia sama jahatnya dengan Charlotte.


“Jadi, kita pergi sekarang?” tanya Colin sambil mengulurkan helmnya.


Aku hanya punya opsi menaiki kendaraan umum. Papa tidak pernah mengizinkan aku menumpang taksi atau mobil yang dipesan secara daring seorang diri. Tetapi bila aku bersama seorang teman, maka aku boleh memesan taksi atau mobil. Naik bus juga bukan pilihan. Halte terdekat terlalu jauh untuk aku tempuh dengan berjalan kaki.


“Ini yang terakhir. Bila kamu datang lagi, aku lebih baik jalan kaki daripada duduk di dekatmu di sepeda motor jelekmu ini.” Aku mengambil helm itu dari tangannya dengan kasar.


“Sepeda motor jelek?” Dia melihat ke sekeliling kami. Para siswa putri melihat ke arah dia dan sepeda motornya dengan senyum menggoda. Beberapa bahkan tertawa genit dengan teman di sampingnya tanpa melepaskan pandangan mereka dari Colin atau sepeda motor jeleknya. “Teman-teman satu sekolah kamu seperti tidak setuju dengan pendapatmu.”


“Itu karena selera mereka sama rendahnya denganmu,” kataku mengejek. “Kita jadi pergi atau tidak? Ayo, cepat. Aku masih ada pekerjaan penting.”


Seperti kebanyakan pengendara sepeda motor genit lainnya, Colin sengaja mengendarai dengan serampangan. Akibatnya, aku terpaksa melepaskan peganganku pada besi di jok belakang dan memeluk tubuhnya. Aku benar-benar membenci laki-laki tidak setia ini.


Perjalanan yang bisa ditempuh sepuluh menit dengan sepeda motor menjadi dua kali lipat lamanya. Dia sengaja mengendarai dengan lambat dan mempercepat laju setiap kali aku melepaskan pelukan pada pinggangnya. Menyebalkan sekali.


Dia mampir ke toko bunga dan membeli satu buket mawar merah. Aku mengangakan mulut melihat banyaknya jumlah mawar yang dia beli. Kemarin dia baru saja membelikan bunga yang sama untuk Mama, hari ini pun dia membelinya lagi?


“Aw!” serunya kesakitan saat aku mencubit pinggangnya dengan keras begitu kami sampai di depan rumahku. Aku sengaja menunggu saat yang tepat agar tidak mengganggu fokusnya.


“Kamu bersikap seperti anak-anak yang baru belajar mengendarai motor. Jangan datang lagi besok, karena aku lebih baik berjalan kaki daripada dibonceng olehmu lagi.” Aku tidak menolak saat dia memberikan tangannya untuk membantu aku turun dari jok, lalu mengembalikan helmnya.


“Hai, sayang! Bagaimana sekolah kamu hari ini?” tanya Mama yang menyambut kepulanganku. Sikapnya sangat mencurigakan.


“Ada apa Mama menyambut kedatanganku? Biasanya Mama tetap fokus dengan pekerjaan Mama dan tidak keluar ruangan setiap aku pulang.” Aku memicingkan mataku. Mama tertawa kecil.


“Suasana hatimu sedang buruk, jadi aku tidak akan berpura-pura.” Mama menoleh ke arah Colin. “Masuklah, Nak. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan kepadamu.”


“Tidak ada hal penting yang perlu Mama tanyakan kepadanya.” Aku menoleh ke arah Colin dan menatap tajam padanya ketika dia datang mendekat dengan buket bunga di tangannya.


“Apa yang bisa aku bantu, Aunt?” Colin tersenyum manis dan memberikan buket itu kepada Mama. Aku memutar bola mataku melihat Mama tersenyum tersipu. “Kami tadi melewati toko bunga, jadi aku mampir untuk membeli bunga kesukaan Aunt.”

__ADS_1


“Terima kasih, Nak.” Mama memberikan buket itu kepada Pak Abdi. “Aku mendengar percakapan kamu dengan Adi kemarin dan aku tertarik dengan game yang kalian mainkan.”


Mama berjalan masuk ke rumah dengan Colin berjalan di sisinya. Aku hanya diabaikan saja di depan pintu. Game? Mama mendadak tertarik dengan game yang sudah bertahun-tahun Colin dan Adi mainkan? Aku tidak percaya Mama berpihak kepada orang yang sudah menyakiti putrinya sendiri.


Tidak tertarik dengan pembicaraan mereka, aku memilih untuk masuk ke kamarku. Setelah mandi dan berganti pakaian, aku membuka laptop dan membaca berita terbaru seputar modeling. Aku juga memeriksa surel dan melihat ada banyak tawaran produk yang meminta aku untuk menjadi model mereka. Padahal mereka tahu aku punya agen dan setiap tawaran pekerjaan harus melalui mereka.


Aku tersenyum melihat salah satu surel berasal dari Vikal. Dia tidak berhenti menggoda aku dengan tawaran iklan atau peragaan busana yang bergengsi. Tentu saja aku ingin segera bekerja lagi dan disibukkan dengan aktivitas modeling yang padat. Aku berkali-kali berniat menghubungi dia dan menjawab iya. Tetapi ini bukan masa depanku. Aku tidak yakin dalam sepuluh atau dua puluh tahun ke depan aku masih menarik. Jadi, aku perlu menyelesaikan pendidikanku sebaik mungkin.


“Jadi, bagaimana? Apa yang terjadi kemarin? Apa kamu dan Colin berbaikan lagi?” tanya Charlotte saat kami bertemu di gerbang sekolah. Dia dan Wyatt berdiri dengan senyum menghiasi wajah mereka saat tadi aku turun dari mobil.


“Aku tidak bicara dengan pengkhianat.” Aku berjalan melewati mereka tanpa berhenti sama sekali.


“Dira, jangan marah.” Charlotte memegang tanganku sambil berjalan di sisiku. “Colin kelihatannya punya maksud baik saat dia datang menjemput kamu kemarin. Karena itu aku membiarkan kalian berdua supaya kalian bicara.”


“Bicara? Membicarakan apa? Kami sudah putus, Charlotte. The end. Habis. Selesai. Apa yang tidak bisa kamu mengerti dari semua kata itu?” Aku menoleh ke arah Wyatt yang bersiap mengucapkan sesuatu. “Jangan katakan apa pun, Wyatt. Aku tidak mau dengar pendapatmu.”


“Aku hanya mau bilang, Jordan ada di belakang kita. Aku yakin beberapa detik lagi dia akan memanggil nama kamu, jadi—” Sebelum Wyatt menyelesaikan kalimatnya, aku mempercepat langkahku. Aku tidak tahu mengapa aku menghindari pemuda itu. Biasanya aku mudah saja berteman. Tetapi entah mengapa perasaanku tidak enak setiap kali berada di dekatnya.


“Hai, teman-teman,” sapa Wendy yang telah lebih dahulu berada di kelas. Kami bertiga berusaha mengatur napas kami yang memburu saat berjalan menuju meja masing-masing. “Ada apa dengan kalian? Bukannya kalian diantar sopir ke sekolah? Mengapa kalian seperti baru lari ratusan meter?”


“Ah, aku mengerti.” Wendy bertukar pandang dengan Charlotte, lalu mereka tertawa bersama.


Aku tidak menunggu lama untuk membalas perbuatan mereka. “Charlotte, sepertinya kamu akan segera kedatangan gadis lain yang akan sering berkunjung ke rumahmu.” Aku menggerakkan bola mataku ke arah tempat duduk barisan belakang, di mana Wyatt berada.


Tangannya memucat karena memegang botol minuman terlalu erat, sedangkan wajahnya merah padam menahan amarah. Mudah sekali membuat dia cemburu. Beberapa teman sekelas kami sedang mengerumuni Wyatt dan pemuda itu terlihat bahagia bersama mereka. Aku puas menjadi orang terakhir yang tertawa di antara aku dan sahabatku.


“Kamu pakai baju warna apa besok, Dira?” tanya Jordan yang berhasil menyusul aku dan teman-teman menuju gerbang sekolah. Kapan dia bisa mengerti bahwa aku tidak menyukai sikapnya ini? Aku tidak mau bersikap kasar dengan berterus terang, tetapi apa dia tidak bisa memahami setiap sinyal yang aku tunjukkan dengan jelas?


Aku mengabaikan senyum penuh arti mereka bertiga. “Aku belum memutuskan akan memakai gaun yang mana. Jadi, aku tidak tahu.”


“Kalau kamu belum membeli pakaian untuk besok, aku bisa menemani kamu berbelanja.” Jordan memberi usul. “Untuk memudahkan kita berdua, kamu menumpang di mobilku saja.”

__ADS_1


“Tidak, terima kasih. Aku sudah punya banyak baju, hanya tinggal pilih apa yang ada saja.”


“Ah, bagaimana kalau aku membantu kamu memilih warna pakaian untuk kamu kenakan besok?”


“Itu usul yang bagus, Jordan. Dira biasanya memakai baju warna itu lagi, itu lagi. Beri dia usul warna yang menurut kamu cocok untuknya.” Charlotte sengaja memberi dukungan pada pemuda itu. Dia menghindar saat aku menatapnya dengan tajam.


“Mm.” Jordan melihat aku dengan saksama, lalu berpikir dengan serius. “Bagaimana dengan warna hitam? Kamu akan terlihat elegan dan mewah menggunakan baju dengan warna gelap.”


“Hitam?” Charlotte sengaja meninggikan suaranya, berpura-pura terkejut. Wendy menutup mulut dengan tangannya menahan tawa. Hanya Wyatt yang terlihat bingung dengan apa yang terjadi. “Wow. Aku yakin warna itu akan sangat cocok untuk Dira. Aku setuju.”


Hitam adalah warna kesukaan Colin. Charlotte dan Wendy mengetahui hal itu. Sejak aku dan Colin putus hubungan, aku menghindari semua hal yang erat kaitannya dengan dia. Aku menyimpan semua pakaian, sepatu, tas, jam tangan, apa saja yang berwarna hitam. Bukan hanya rambut cokelat yang aku kembalikan ke warna semula, tetapi semua barang yang bisa mengingatkan aku padanya, aku singkirkan.


“Aku senang aku menyebutkan warna yang tepat. Bagaimana menurutmu, Dira?” tanya Jordan.


“Akan aku pertimbangkan.” Lebih baik aku tidak terang-terangan menolak agar dia tidak terus bicara mengenai topik ini.


Sayangnya, aku salah menebak pikiran Jordan. Dia memang tidak membicarakan tentang warna baju untuk acara perpisahan besok lagi. Tetapi dia tetap berjalan bersama kami sampai ke gerbang sekolah. Ketiga sahabatku sama sekali tidak membantu dengan terus menanggapi ucapannya.


Masalah berikutnya datang ketika aku melihat Colin berada di depan gerbang di dekat sepeda motor jeleknya. Aku sudah jelas katakan bahwa aku tidak mau melihatnya lagi hari ini. Mungkin dia berpikir bahwa aku hanya memberi ancaman kosong. Dia salah menilai aku.


“Jordan, bisa kita bicara sebentar?” tanya Wyatt. Dia tidak menunggu sampai pemuda itu menjawab dengan melingkarkan tangan di bahunya dan mengajak pria itu ke dekat mobil Charlotte.


“Hai, Colin!” sapa Charlotte dan Wendy dengan serentak. Pemuda pengkhianat itu membalas sapaan mereka dengan ramah. “Jaga sahabat kami baik-baik. Sampai besok, Dira.”


Aku mendesah keras melihat teman-temanku meninggalkan aku bersama laki-laki ini. “Apa kamu tidak dengar apa yang aku katakan padamu kemarin?”


“Siapa laki-laki yang bersama Wyatt?” tanya Colin mengabaikan pertanyaanku. Matanya tidak lepas dari Wyatt dan Jordan yang sedang bicara dengan serius.


“Kamu mengenal dia?” Aku balik bertanya.


“Tidak. Karena itu aku bertanya kepadamu. Tetapi aku pernah melihat dia. Aku tidak akan pernah melupakan wajah itu.” Colin kini menoleh ke arahku.

__ADS_1


“Apa maksudmu? Apa dia pernah melakukan sesuatu yang buruk padamu?” Inikah sebabnya aku selalu merasa ada yang janggal dengan sikap pemuda itu?


“Tidak. Atau lebih tepatnya, belum. Pemuda itu pasti punya niat buruk, Dira. Aku pernah melihat dia bertemu dengan Vivaldo dan Nora.”


__ADS_2