Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 155 - Kencan Bertiga


__ADS_3

*Clarissa*


“Jalan-jalan tanpa Dira benar-benar tidak asyik,” keluh Charlotte saat kami duduk menunggu film yang kami tonton diputar. Iklan sedang ditayangkan, jadi penonton bisa santai memasuki studio dan mencari posisi duduk mereka. “Aku sudah terbiasa dengan kehadirannya saat kami kencan ganda.”


“Aku bisa pulang sekarang, kalau kamu lebih suka jalan-jalan dengan Dira,” kataku pura-pura marah. Dia segera menahan tanganku ketika aku berniat untuk berdiri.


“Aku tidak bilang aku tidak mau jalan denganmu. Aku hanya bilang, tidak asyik kalau Dira tidak ikut.” Charlotte menjelaskan maksudnya.


“Aku tahu.” Aku tertawa kecil. “Aku hanya menggoda kamu.” Dia mencubit pipiku dengan gemas.


Dira sedang mengikuti latihan untuk peragaan busana yang akan dia ikuti pada awal bulan depan. Colin ikut menemaninya. Jadi, kami hanya jalan-jalan bertiga untuk nonton dan makan di restoran. Kakek dan Nenek menghadiri undangan pernikahan sehingga kami tidak mau di rumah saja.


Satu minggu pertama kuliah sepertinya membuat adikku stres berat. Reese akan selalu memberi dampak itu kepada orang-orang di dekatnya. Aku sangat marah saat tahu dia kuliah di jurusan yang sama dengan Hadi. Alasannya tentu saja agar dia bisa dekat dengannya.


Mengapa dia selalu saja melakukan itu? Apa yang kurang dalam hidupnya sehingga dia mendekati pemuda yang aku cintai? Apa belum cukup selama ini dia mengambil semua yang menjadi milikku? Ibu Foster memberi aku pakaian bagus, dia ambil. Lalu dia berikan baju bekas yang sudah bosan dia pakai. Pak Foster membelikan boneka kesukaanku, dia ambil juga. Kedua orang tuanya tidak pernah membela aku. Entah untuk apa mereka mengangkat aku menjadi anak.


Karena itu aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bisa dekat dengan Hadi selama tiga bulan ini. Beberapa hari belakangan, kami banyak berdiskusi berdua mengenai persiapan ide baruku. Manajer menerima usul tersebut dan meminta aku untuk membuat proposalnya. Ide itu akan didiskusikan pada rapat hari Senin nanti.


Aku dan Hadi sudah menghitung biaya kasar kegiatan tersebut, mencari model yang cocok dengan harga jasa yang terjangkau, dan menentukan pakaian yang akan mereka kenakan. Kami juga memilih lokasi etalase yang akan dilewati oleh banyak pengunjung mal.


Hal yang tidak aku sukai adalah sikap Tegar. Dia tahu bahwa persiapan ide itu hanya ingin aku kerjakan bersama Hadi. Tetapi dia selalu saja datang mengganggu dan menyela dengan memberi usul yang tidak kami minta atau tanyakan.


“Clarissa?” tegur seseorang dari arah belakangku. Mengenali suara itu, aku berharap kursi ini segera turun ke bawah bumi dan menyembunyikan aku. Tetapi tentu saja hal itu tidak akan terjadi. “Hai, kamu menonton sendiri?” tanyanya dengan wajah bahagia.


“Tidak. Dia bersamaku,” jawab Charlotte. “Film akan dimulai, sebaiknya kita menonton dengan tenang.” Dia memasang senyum termanisnya agar Tegar tidak tersinggung.


“Ah, iya.” Pria itu kembali duduk dan aku tersenyum kepada adikku.


Kami menonton film laga, tetapi aku sama sekali tidak konsentrasi menonton. Menyadari ada orang di belakangku, aku merasa tidak tenang. Aku tahu ini hanya perasaanku saja, karena aku tidak bisa melihat ke belakang untuk mengonfirmasi apa dia melihat ke arahku atau tidak. Aku sangat tidak nyaman merasakan ada orang yang mengarahkan pandangannya kepadaku, mengamati aku.

__ADS_1


Wyatt berdiri lebih dahulu, membuka jalan untuk kami ketika film telah usai. Charlotte pasti sudah memberi tahu dia bahwa kami harus menghindari pria yang duduk di belakangku. Kami selamat sampai di aula utama bioskop, tetapi kami belum memperlambat langkah kami sampai tiba di mobil.


Aku tertawa geli ketika kami sudah keluar dari tempat parkir mal. “Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Lari di tengah-tengah keramaian mal.”


“Kamu tidak suka dengan laki-laki itu, maka kita harus menghindarinya,” kata Wyatt dengan santai.


“Hanya ada Hadi di hati kakakku, tentu saja kita akan mendukungnya.” Charlotte mengedipkan sebelah matanya. “Aku lapar, honey. Jangan cari restoran yang jaraknya terlalu jauh.”


“Kita sudah sampai.” Wyatt membelokkan mobil memasuki lapangan parkir sebuah restoran. Aku tidak tahu mengapa dia memilih rumah makan ini, tetapi aku senang bisa makan daging. Semoga kalian tidak keberatan makan daging panggang.”


“Ini pilihan yang tepat,” ucap Charlotte senang.


Meskipun kami berjalan-jalan bertiga, aku tidak pernah merasa sendiri. Charlotte dan Wyatt selalu melibatkan aku dalam percakapan mereka. Mulai dari pemilihan film yang kami tonton, makanan ringan yang kami pesan, bahkan dalam memilih menu makanan yang sedang kami lakukan.


Restoran ini bukan restoran yang sama dengan tempat kesukaan Tante Zahara, tetapi menurut Wyatt, daging mereka sama enaknya. Semoga saja dia benar. Karena kami sudah sangat lapar, kami meminta agar makanan pembuka segera disajikan. Memasak daging akan butuh waktu lama dan aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.


“Jadi, ada apa antara kamu dengan laki-laki tadi?” tanya Charlotte.


“Sudah aku duga. Gadis secantik kamu tidak mungkin tidak membuat orang jatuh cinta. Aku yakin dia bukan satu-satunya pria yang tertarik kepadamu di kantor itu.” Charlotte meletakkan kedua tangannya di atas meja. “Apa Hadi terlihat cemburu dengan itu?”


Aku mengangkat kedua bahuku. “Aku tidak tahu. Dia masih berkata kasar dan bersikap bermusuhan denganku. Apa pun yang aku lakukan selalu membuat dia curiga bahwa aku sedang mencoba jadi pacarnya lagi. Tentu saja itu benar.” Aku tertawa kecil.


“Apa yang membuat Hadi masih marah, ya? Aku yakin dia masih sayang kepada Clarissa, tetapi mengapa dia tidak juga memberinya kesempatan lagi?” tanya Charlotte heran.


“Kamu bayangkan saja kamu menunggu seseorang selama belasan tahun. Lalu kamu bertemu lagi dan jatuh cinta untuk pertama kali. Pada hari bahagia, hubungan kalian putus ketika kamu tidak melakukan kesalahan apa pun. Juga tidak diberi kesempatan untuk berjuang bersamamu. Sweety, Hadi berhak untuk marah. Tetapi dia sudah memaafkan Clarissa. Aku yakin Clarissa juga tahu hal itu.” Wyatt melihat aku yang aku balas dengan anggukan. “Memaafkan bukan berarti menerima kembali.”


“Dia masih saja keras kepala.” Charlotte menggeleng pelan.


“Itu bukan keras kepala. Itu namanya prinsip. Karena itu aku tidak mau melepaskan dia,” kataku.

__ADS_1


“Ciiee …. Yang sedang membela pujaan hatinya,” goda Charlotte.


Mengetahui Wyatt yang membayar makanan kami, aku dan Charlotte meminta tambahan daging. Pemuda itu hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Adikku memang beruntung mendapat tunangan yang baik hati. Aku belum pernah melihat dia marah kepada Charlotte.


Sudah lama tidak menyentuh skripsi, aku menggunakan waktuku sepanjang hari Minggu di dalam kamar. Charlotte dan Wyatt juga tidak pergi ke mana pun dan lebih memilih menemani Kakek dan Nenek. Jadi, aku tidak merasa bersalah sudah mengabaikan mereka.


Kembali ke kantor pada hari Senin, aku menunggu dengan tidak sabar hasil rapat para atasan. Layar komputer di depanku menyala, tetapi aku tidak konsentrasi mempelajari beberapa video pariwara yang pernah dilakukan divisi pemasaran. Teman-teman begitu fokus dengan layar mereka sehingga aku berusaha untuk tidak berjalan mondar-mandir mengurangi rasa gugup.


Aku membuka botol minumku dan ternyata airnya sudah habis. Ini adalah kesempatan untuk keluar sejenak dan menjernihkan pikiran. Aku membawa botol itu ke dapur dan mengisinya dengan air yang tersedia di dispenser. Melihat kopi dan teh di atas meja, aku mengisi cangkir dengan teh hangat.


“Kalau kamu lapar, makanan yang ada di piring saji itu bisa kamu makan,” ucap Tegar yang tiba-tiba saja sudah ada di dalam ruangan. Aku hanya mengangguk. “Kamu ke mana setelah menonton dua malam yang lalu? Aku cari-cari tidak ketemu.”


“Adik saya lapar, jadi kami mencari restoran untuk makan.”


“Ooo. Jadi, gadis itu adikmu. Kalian sangat mirip. Lalu siapa pemuda yang bersamanya?”


“Ada apa? Bapak tertarik dengan adik saya?” tanyaku mengalihkan topik.


Dia tertawa. “Aku menebak bahwa dia adalah pacar adikmu. Mengapa kamu tidak kencan dengan Hadi? Apakah dia sibuk menemani Pak Mahendra menemui koleganya pada malam Minggu?”


“Mengapa Bapak berpikir saya seharusnya kencan dengan Hadi?” tanyaku heran.


Dia mendekati meja dan menuang kopi ke dalam sebuah cangkir. “Kata Hadi, kamu adalah pacarnya. Bukankah pasangan yang bekerja seperti kalian hanya punya akhir pekan untuk berkencan?”


Hadi bilang begitu? Mengapa dia mengatakan kepada Tegar bahwa kami berpacaran? Aku lebih baik bertanya langsung kepada Hadi. Pria ini boleh juga. Dia mengubah pendapatku mengenai dirinya. Baiklah, Hadi. Kamu yang mengatakan kita adalah sepasang kekasih, bukan aku.


“Clarissa,” panggil seseorang yang aku tunggu-tunggu. Aku menoleh dan melihat dia berdiri di ambang pintu. “Ayo, aku punya kabar untukmu.”


“Sampai nanti, Pak,” ucapku kepada Tegar, lalu membawa botol dan cangkir mengikuti Hadi.

__ADS_1


Dia berhenti di dekat biliknya, menunggu sampai aku berada cukup dekat. “Mengapa kamu melihat aku seperti itu?” kata Hadi terlihat tidak nyaman.


__ADS_2