Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 158 - Cinta Bersyarat


__ADS_3

“Karena kalian perempuan selalu berisik ingin dihormati, maka silakan kamu yang lebih dahulu.” Dia meletakkan ponselnya di atas meja. “Aku malas menulis, jadi aku rekam saja.”


Aku hanya bisa mengangakan mulutku mendengar ucapannya itu. Bagaimana bisa aku jatuh cinta kepada pemuda ini? Entahlah. “Beri aku waktu untuk berpikir. Permintaan kamu sangat mendadak.” Dia hanya diam, acuh tak acuh.


Oke. Syarat apa yang sebaiknya aku ajukan? Jantungku berdebar begitu cepat membuat aku sulit untuk konsentrasi. Apa saja yang terpikir, itu saja yang aku ucapkan. “Pertama, kamu dan aku tidak akan menikah sampai kita selesai menuntut ilmu di Inggris.”


“Sebentar, sebentar,” ujarnya memotong sebelum aku mengatakan kalimat berikutnya. “Siapa yang bilang kita akan menikah? Aku hanya setuju kita berpacaran.”


“Untuk apa berpacaran kalau hanya sekadar status? Aku tidak mau!” ucapku dengan tegas.


Hadi memejamkan matanya, kemudian menarik napas panjang. “Baiklah. Kamu sampaikan saja syarat darimu, lalu aku akan katakan bagianku.”


“Oke. Kedua, aku berharap kita bisa tinggal di rumah Kakek dan Nenek setelah tiga tahun menikah. Aku mau ikut merawat mereka di hari tua. Ketiga, kita harus kencan minimal satu bulan sekali sesibuk apa pun kamu. Keempat, kita mengadakan acara pertunangan pada malam Natal. Jadi, Grandpa dan Grandma bisa hadir juga. Itu saja dariku.”


“Mengapa semua syarat yang kamu ajukan tidak ada hubungannya dengan pacaran?” protes Hadi. Aku hanya menelengkan kepalaku dan melanjutkan makanku. Dia melihat ke arah pintu. “Mengapa makanan pesananku datangnya lama sekali?”


Pada saat yang bersamaan, pintu diketuk dari luar. Dia segera berdiri dan membukanya. Seorang pria muda datang membawa baki. Hadi memberikan beberapa lembar uang, lalu menerima baki tersebut. Dia meletakkan makanan dan minumannya di atas meja.


“Mengapa kamu tidak bawa makanan dari rumah saja? Masakan koki kamu, ‘kan, sangat enak,” kataku bingung. Dia hanya menggelengkan kepalanya. Karena kelihatannya, dia sangat lapar, aku tidak bertanya apa syarat yang sudah dia siapkan.


“Aku hanya punya dua syarat,” katanya setelah selesai makan. Aku menutup tas bekalku kembali dan memberikan perhatianku sepenuhnya kepadanya. “Pertama, ini hanya untuk tiga bulan. Kedua, bila dalam waktu tiga bulan itu kamu memutuskan hubungan lagi secara sepihak, maka aku tidak akan memberi kamu kesempatan lagi. Jika kamu bertahan, hubungan kita akan serius.”


“Oke. Aku setuju.” Aku mengulurkan tanganku kepadanya.


“Apa ini?” tanyanya dengan kening berkerut.


“Tanda kesepakatan,” jawabku cepat.


“Tidak perlu. Aku harap kamu bisa bersikap profesional selama kita ada di tempat kerja. Aku tidak pernah membawa urusan pribadi ke kantor. Apa kamu mengerti?” ucapnya dengan serius. Dia mematikan alat perekam pada ponselnya.


Aku menganggukkan kepalaku. “Jangan khawatir. Aku bisa bersikap profesional.” Aku langsung membuktikan ucapanku itu dengan tidak menyentuh dia lebih dari rekan kerja.

__ADS_1


Selama sisa jam kerja itu, aku bisa merasakan lirikan teman-teman kepadaku. Wajahku pasti sedang bahagia sehingga menarik perhatian mereka. Tetapi aku tidak bisa menghentikan bibirku yang terus tersenyum mengingat aku dan Hadi sudah kembali bersama.


Aku menahan diri untuk tidak memberi tahu Charlotte mengenai kabar bahagia ini. Lebih baik bila aku mengabarinya secara langsung. Kakek dan Nenek pasti sangat senang saat mereka tahu bahwa aku dan Hadi sudah kembali bersama. Tiga bulan, itu syarat yang mudah. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama dengan memutuskan hubungan lagi dengannya.


Beberapa menit sebelum jam kerja usai, asisten Kakek mengirim pesan bahwa dia tidak akan pulang malam. Ada janji mendadak dengan salah satu koleganya. Biasanya Wyatt dan Charlotte yang akan menjemput aku bila Kakek tidak bisa. Jadi, aku tidak pernah khawatir akan pulang sendirian.


“Mengapa kamu keluar ruangan sendiri dan tidak menunggu aku?” ucap Hadi yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sisiku menunggu elevator.


Aku menoleh dan mengerutkan keningku. “Apa maksudmu? Bukankah kita selalu pulang sendiri?” Aku merasakan tanganku digenggam.


“Mulai hari ini, aku yang akan mengantar kamu pulang,” katanya pelan membuat aku bahagia.


“Apa kamu juga akan menjemput aku setiap pagi?” tanyaku penuh harap.


“Rumah kita berbeda arah. Kita bisa sama-sama terlambat bila aku harus menjemput kamu baru pergi ke kantor. Aku hanya akan menjemput kamu saat kita kencan,” jawabnya masuk akal.


Baiklah. Ini saja sudah cukup sebagai awal. Dia mau memegang tanganku lagi adalah perkembangan yang sangat bagus. Aku tidak boleh sampai salah langkah dan melakukan kekeliruan lagi. Aku punya waktu tiga bulan untuk membuktikan aku serius dengannya.


Merasakan ada yang menatap aku, aku mengangkat kepalaku dan melihat beberapa orang di sekitar kami tersenyum penuh arti. Aku merasakan wajahku memanas. Mereka pasti melihat tangan kami yang saling bertautan dan perubahan sikap Hadi. Ini pertama kalinya dia berdiri dekat denganku.


“Biar saja mereka mengikuti kita dari belakang,” ucap Hadi saat melihat Wyatt dan Charlotte sudah mengantri bersama mobil lain untuk menjemput aku. Dia membawa aku menuju mobilnya yang ada di tempat parkir. Tentu saja aku menurutinya.


Terasa getaran pada tasku. Itu pasti Charlotte yang mengirim pesan. Hadi membantu aku masuk ke mobil sebelum memutar dan duduk di jok pengemudi. Aku memeriksa ponselku dan benar. Ada satu pesan baru dari Charlotte. Apa yang terjadi, Clarissa? Hanya itu isi pesannya.


Aku memutuskan untuk menelepon adikku. Dia segera menjawab pada deringan pertama. “Aku akan pulang dengan Hadi. Kita bertemu di rumah.”


“Kamu belum menjawab pertanyaanku,” desak Charlotte. “Jangan bilang tunggu sampai di rumah. Aku mau kamu menjawab sekarang.”


Aku melirik ke arah Hadi yang menatap serius ke antrian panjang di depan kami. “Aku dan Hadi kembali bersama. Jadi, dia yang akan mengantar aku pulang.”


“Oh, Tuhan!! Akhirnya!! Horeee!!!” Charlotte berteriak begitu keras sampai aku harus menjauhkan ponselku dari telingaku. Hadi tertawa kecil mendengarnya.

__ADS_1


“Apa kamu lupa aku berada di mana?” bisikku pada adikku, malu dengan sikapnya yang terus terang itu. “Hadi mendengar teriakanmu tadi.”


“Aku tidak peduli! Aku akan menelepon Nenek. Dia harus makan malam di rumah kita. Aku akan minta Nenek menyiapkan menu kesukaan Hadi. Hati-hati di jalan. Sampai nanti!” Charlotte segera memutuskan hubungan pasti karena ingin menelepon Nenek.


“Aku diundang makan malam di rumah kalian?” tanya Hadi. Aku mengiyakan. “Aku sudah tahu ini pasti akan menimbulkan keriuhan. Baiklah. Mama pasti protes bila aku tidak melakukan hal yang sama. Kamu makan malam di rumah kami besok malam. Oke?”


“Oke!” jawabku cepat. “Apa aku perlu membawa sesuatu untuk Tante Zahara?”


“Tidak perlu. Kamu datang sebagai pacarku saja, Mama sudah senang.” Hadi melihat-lihat toko yang ada di sebelah kiri kami. “Tante Lindsey suka kue cokelat. Sebaiknya aku membawa itu sebagai oleh-oleh.” Ooo. Itu yang dia cari.


Dia memasuki areal parkir sebuah toko roti. Wyatt juga ikut melakukan hal yang sama. Hadi baru membukakan pintu mobil untukku, Charlotte datang dan segera memeluk Hadi. Wyatt memarahinya karena cemburu. Aku tertawa melihat tingkah mereka berdua.


“Aku bahagia sekali,” ucap Charlotte dengan suara lirih. “Sampai terharu mendengar kalian sudah kembali bersama. Dasar Hadi bodoh!”


“Apa ini?” Hadi tertawa. “Kamu memeluk dan memaki aku secara bersamaan?”


“Sudah, sweety. Lepaskan dia. Hanya aku yang boleh kamu peluk,” protes Wyatt.


“Sebaiknya kita segera membeli kue untuk Nenek. Dia pasti tidak sabar menunggu kepulangan kita,” kataku melerai mereka. Charlotte menurut dengan melepaskan pelukannya.


“Hadi adalah calon kakak iparku! Mengapa aku tidak boleh memeluk dia?” protes Charlotte kepada tunangannya. Mereka berjalan di depan kami menuju toko roti, sedangkan kami di belakang mereka. “Dia sebentar lagi menjadi keluarga kita juga.”


“Selama mereka belum resmi bertunangan, kamu tidak boleh memeluk dia sembarangan. Apa kamu tidak marah kalau aku melakukan hal yang sama kepada Dira?” tantang Wyatt.


“Kamu dan aku tidak sama. Kamu mana mau memeluk perempuan sembarangan. Lagi pula aku tidak cemburu kalau kamu memeluk saudara dan sahabatku,” balas Charlotte tidak mau kalah.


Hadi meminta aku yang memilih kue yang akan Nenek sukai, jadi aku menunjuk kue cokelat yang paling mahal yang direkomendasikan oleh pelayan tokonya. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala ketika kue itu dikeluarkan dari lemari kaca dan dimasukkan ke dalam kotak.


Wyatt membeli satu batang cokelat dan semangkuk es krim untuk membujuk Charlotte yang sedang merajuk. Melihat itu, Hadi menawarkan hal yang sama untukku. Aku menolak. Ada cukup es krim, cokelat, dan berbagai jenis makanan ringan lainnya yang tersedia di rumah.


Kami keluar lebih dahulu setelah membayar kue untuk Nenek. Hadi memegang kantong di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menggandeng tanganku. Seseorang hampir menabrak kami. Dia hanya menunduk saja melihat kakinya sehingga tidak memerhatikan orang di depannya.

__ADS_1


“Oh, maafkan aku,” ucap perempuan yang suaranya tidak asing itu.


“Kamu memang hanya bisa melamun. Perhatikan jalanmu dengan benar!” kata seorang gadis yang juga sudah aku kenal. “Jangan maafkan asistenku. Dia pantas untuk kalian—” Perempuan muda itu berhenti bicara saat kami bertemu pandang.


__ADS_2