Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 156 - Sukses Besar


__ADS_3

Aku hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaannya itu. Dia mengajak aku masuk ke biliknya, lalu membuka surelnya. Ideku yang disampaikan manajer pada saat rapat disambut dengan baik. Bahkan Om Hendra mempersilakan aku untuk melakukannya pada semua tokonya.


“Kita tidak perlu khawatirkan biaya. Papa bilang, semua uang yang dibutuhkan untuk melancarkan rencana ini disetujui. Jadi, kita bisa langsung mengerjakan persiapannya.” Hadi menyerahkan proposal yang sudah kami susun bersama.


Aku tersenyum bahagia. “Bisa kita mulai sekarang?” tanyaku. Dia mengangguk cepat.


Manajer memberikan daftar nama karyawan yang bisa dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Hadi meminta mereka untuk berkumpul, lalu menyampaikan ide yang sudah kami sempurnakan. Yang paling sulit adalah menghubungi model yang sudah kami pilih. Hadi meminta mereka untuk bertanya kepada manajer atau model itu langsung.


Kami tidak memilih model yang sudah punya nama, tetapi model baru yang belum punya banyak jam terbang. Dengan begitu, biaya untuk membayar jasa model itu bisa dipangkas. Kami sengaja memilih model dengan berbagai bentuk badan dan usia. Aku tidak mau hanya baju ukuran kecil yang laku, namun juga yang berukuran besar.


Aku, Hadi, dan rekan-rekan kami berlomba dengan waktu dengan memanfaatkan setiap waktunya selama lima hari kerja. Rencana itu akan kami laksanakan pada akhir pekan di mana ada banyak pengunjung di mal. Walaupun waktunya sangat sempit, kami berhasil menyiapkan segalanya.


“Lihat, siapa yang setiap hari selalu mengawali harinya dengan senyuman,” goda Nenek ketika aku memasuki ruang makan untuk sarapan.


“Dan mengakhiri harinya dengan wajah sedih,” kata Charlotte menambahkan. “Cinta memang luar biasa, ya. Bisa memberikan dampak begitu hebat.”


“Apa kalian belum bosan juga menggoda aku?” tanyaku yang kemudian berterima kasih kepada pelayan yang menuangkan jus jeruk pada gelasku.


“Bisa melihat wajahmu memerah seperti ini, maka aku tidak akan bosan menggoda kamu,” ucap Charlotte yang mengedipkan sebelah matanya kepadaku.


Charlotte dan Wyatt mengantar aku ke mal di mana toko terbesar milik keluarga Hadi berada. Kami tidak bisa mengawasi kegiatan di semua toko, jadi kami berbagi tugas. Karyawan yang lain sudah punya pos masing-masing. Aku senang, karena aku dan Hadi akan mengawasi toko di mal yang sama.

__ADS_1


Hadi sudah tiba lebih dahulu sehingga aku tidak perlu merasa sendiri mempersiapkan semuanya. Para model sudah datang, jadi penata rias bisa membantu mendandani mereka. Pakaian, sepatu, tas, dan sebagainya sudah siap untuk mereka gunakan. Kami sudah menyusunnya dengan rapi dan para model tahu yang mana saja yang menjadi bagian mereka.


Tugas mereka sangat sederhana dan mudah. Model itu akan menggantikan tugas manekin dengan berdiri diam di etalase. Mereka diperbolehkan untuk berganti pose kapan saja yang mereka inginkan. Ada kursi disediakan di etalase tersebut jika mereka perlu duduk. Setelah tiga puluh menit, model lain akan menggantikan tugas mereka. Lalu maneken akan dipasang untuk dua jam kemudian.


Waktu itu digunakan untuk makan siang dan mengganti pakaian. Model akan kembali bertugas secara bergantian selama satu jam berikutnya. Tugas model pertama selesai. Tiga jam kemudian, model pada sif kedua akan berjalan keliling stan kami yang ada di lantai dasar di mana pakaian yang diberi diskon berada. Setelah makan malam, mereka akan menggantikan tugas maneken.


“Wow. Aku tidak pernah menduga menyiapkan seorang model dan maneken akan selelah ini,” kata Charlotte yang meluncur duduk di salah satu kursi begitu model terakhir keluar dari ruangan. “Aku tidak bisa bayangkan bagaimana lagi Dira yang mengikuti pemotretan, syuting iklan, atau peragaan busana. Pasti melelahkan sekali.” Dia menghela napas panjang.


“Dia sudah terbiasa melakukannya. Diam saja di rumah tanpa melakukan apa pun justru lebih capai daripada bekerja, katanya.” Hadi meletakkan minuman dan makanan di atas meja. “Kalian pasti lapar. Makanlah sebelum kita pulang. Toko sudah tutup.”


“Apakah ada dampak positif dari kegiatan dari pagi sampai malam ini?” tanya Charlotte ingin tahu.


“Tentu saja. Penjualan meningkat hampir dua ratus persen dari penjualan akhir pekan biasanya. Itu hanya untuk toko ini, aku belum tahu mengenai keadaan di toko yang lain.” Hadi menerima kotak makanan yang aku berikan kepadanya. “Manajer tidak akan menerima ide Clarissa bila rencana ini tidak akan berhasil.”


“Itu bukan keputusanku.” Hadi mengangkat kedua bahunya. “Cepat makan. Kalian harus pulang sebelum Wyatt mengantuk. Dia juga pasti kelelahan.”


“Bagaimana denganmu? Kamu menyetir seorang diri, apa kamu akan baik-baik saja?” tanya Clarissa.


“Papa dan Mama menghadiri acara di hotel dekat sini. Mereka akan menjemput aku. Aku diantar Pak Sakti pagi tadi.” Hadi melirik ke arah kotak makananku. “Makanlah.”


Kami sama sibuknya pada hari Minggu. Melihat pengunjung yang datang lebih banyak daripada hari sebelumnya, aku yakin penjualan hari ini juga akan bagus. Aku senang bisa menolong Om Hendra dan Hadi. Kegiatan ini tidak bisa terus-menerus kami lakukan. Aku harus memikirkan ide lain yang tidak membutuhkan banyak biaya, tetapi penjualan bisa meningkat.

__ADS_1


Aku belum bicara dengan Hadi mengenai status kami yang dia sampaikan kepada Tegar. Aku tidak punya waktu untuk membicarakan urusan pribadi dengannya. Kami sama-sama sangat fokus dengan persiapan untuk acara akhir pekan ini. Tetapi aku senang bisa melewatkan banyak waktu bersama dia tanpa bertengkar atau menghindar. Kami ternyata bisa menjadi rekan kerja yang baik.


“Hendra tidak berhenti memuji cucuku, ternyata apa yang dia katakan itu tidak bohong,” kata Kakek yang memasuki ruang ganti. Nenek juga ikut bersamanya.


“Kakek? Nenek? Ada apa datang kemari?” Aku segera mendekatkan kursi untuk Kakek dan Charlotte menggeser kursi untuk Nenek. “Toko sedang padat dengan pengunjung. Apa tidak kesulitan ke sini?”


“Tenang. Petugas keamanan menolong kami. Hendra dan Zahara juga ikut, tetapi mereka sedang berkeliling melihat suasana toko. Kami tidak tahan dengan keramaian, jadi datang ke sini,” ucap Nenek menenangkan aku. “Bagaimana? Apa acaranya lancar?”


“Semuanya lancar, Nek! Para model yang terlibat juga bahagia,” jawabku senang.


Nenek melihat ke sekeliling kami. “Ke mana mereka? Kami tidak melihat ada model tadi.”


“Tugas mereka sudah selesai, Tante.” Hadi melirik jam tangannya. “Mereka sudah pulang tiga puluh menit yang lalu. Tugas mereka lebih cepat selesai hari ini daripada kemarin.” Nenek dan Kakek serentak mengangguk mengerti.


Pintu ruangan terbuka, Wyatt masuk dengan beberapa kantong di tangannya. “Nah, aku datang tepat waktu. Untung saja aku melihat Kakek dan Nenek datang, jadi aku membeli roti dan minuman yang cukup untuk kita semua. Ada juga bagian untuk Uncle Hendra dan Aunt Zahara.”


Orang yang dimaksudkan datang dan bergabung bersama kami beberapa menit kemudian. Charlotte dan Wyatt berebut menceritakan apa yang kami lakukan sejak pagi tadi. Adikku masih mengeluhkan hal yang sama mengenai lelahnya menyiapkan acara tersebut. Para orang tua tidak terlihat heran dengan tingkah adikku itu. Mereka justru semakin menggodanya.


Melihat kedekatan Kakek dan Nenek, juga kemesraan Om Hendra dan Tante Zahara, aku berharap akan memiliki pernikahan yang kuat seperti mereka. Apa pun yang terjadi, siapa pun yang mencoba untuk merusaknya, aku dan suami masa depanku bisa menghadapinya bersama. Aku masih berharap pria itu adalah Hadi.


Senin pagi itu, aku sangat mengantuk akibat kelelahan selama satu minggu yang lalu. Teman-teman juga terlihat lemas mempelajari satu per satu produk baru yang akan segera diluncurkan. Promosi yang sudah disiapkan oleh divisi pemasaran perlu kami perhatikan dengan baik. Bila ada kesalahan, kami diminta untuk menyampaikannya kepada Tegar.

__ADS_1


Pintu diketuk sebelum dibuka. Hadi melongokkan kepalanya. Dia menyapukan pandangannya, lalu berhenti saat bertemu pandang dengannku. “Clarissa, tolong, ke bilikku sebentar.”


Akhirnya, ada juga hal menarik yang bisa aku lakukan selain menatap layar komputer. Aku berdiri dan berjalan mengikuti Hadi ke biliknya. Dia memindahkan satu kursi dari bilik kosong ke biliknya. Melihat wajah seriusnya, aku menjadi agak khawatir. Jantungku berdebar lebih cepat, setuju dengan dugaanku itu. Apakah ada hal buruk yang akan dia katakan kepadaku?


__ADS_2