Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 112 - Bersama Lagi


__ADS_3

“Aku mencintai kamu, Dira,” ucapku mendengar dia menantang aku. Apa dia pikir aku sedang mencoba untuk menjebak dia? Aku bertanya bukan karena aku tidak tahu, tetapi karena aku tidak percaya dia memberi tahu mengenai masalah kami pada semua orang, dan tidak padaku.


“Apa kamu sedang mengejek aku? Kamu mengatakan cinta dengan nada dingin begitu. Apa kamu berpikir bahwa aku sedang bersikap kekanak-kanakan? Tidak ada hubungan asmara yang akan berhasil tanpa cinta, Colin,” katanya dengan serius.


“Kesimpulan itu kamu dapat dari mana? Bagaimana bisa kamu menilai aku tidak mencintai kamu?” Aku berjalan mendekatinya. Dia tetap berdiri tegak dengan dagu terangkat.


“Kamu sudah menemukan jawabannya, maka kamu pasti tahu apa yang membuat aku mengambil kesimpulan itu.” Dia masih bersikap keras, menutupi siapa dirinya yang sebenarnya. Apa dia pikir aku tidak bisa melihat dia sedang gugup? Napasnya sedikit lebih cepat dari normal, dia berulang kali menggigit bibirnya, dan menelan ludah dengan berat.


“Kita sudah bersama sejak kecil, apa kamu bisa tunjukkan kepadaku pasangan yang bertahan begitu lama seperti kita berdua? Apa namanya kalau bukan cinta yang membuat aku bertahan? Aku ada setiap kali kamu membutuhkan aku, apa itu bukan cinta? Aku mendukung setiap keputusan besar dalam hidupmu, apa itu juga bukan cinta?”


Saat kami sudah begitu dekat, aku memegang lengannya dan menariknya mendekat. “Apa aku harus ….” Aku mendekatkan wajah kami. Matanya yang membulat segera memejam dan dia menarik napas terkejut. Tetapi aku berhenti ketika bibir kami hampir bersentuhan. “Mencium bibirmu agar kamu percaya? Memeluk kamu begitu erat supaya kamu yakin?” Aku memeluknya dan berbisik di telinganya. “Mengajakmu bercinta di tempat tidur hingga kita berdua kelelahan untuk menunjukkan bahwa aku sungguh-sungguh mencintai kamu?”


Dia mendorong tubuhku dengan meletakkan kedua tangannya di depan dadaku, tetapi aku tidak bergerak sedikit pun. “Lepaskan aku, Colin. Kamu membuat aku takut.”


“Mengapa ini membuat kamu takut? Bukankah kamu sudah sering melihat orang tuamu berciuman, berpelukan, dan kamu pasti tahu apa yang mereka lakukan di kamar saat mereka hanya berdua saja?” Aku melonggarkan pelukanku, dan dia segera mundur menjauh. “Bukankah itu cinta yang kamu maksud yang tidak kita miliki? Atau aku salah lagi?”


Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dan mengangkat dagunya. “Kamu salah.”


“Baik. Kalau begitu, katakan yang mana yang benar,” kataku, mencoba mengikuti maunya.


“Aku hanya mau mendengar kamu mengatakan cinta. Hanya itu. Kamu tidak perlu menyentuh aku seperti tadi. Kita sudah sepakat bahwa kita tidak akan melewati batas sampai kita menikah nanti,” katanya mengingatkan aku.


“Oke.” Aku mengangguk setuju. “Jadi, apa respons kamu?”


“Respons aku atas apa?” tanyanya.


Aku menyabarkan diri mendengar pertanyaan itu. “Kamu tidak akan membuat aku bertanya-tanya apa kamu juga merasakan hal yang sama, ‘kan?”


“Oh. Maksud kamu pernyataan cinta kamu tadi?” tanyanya dengan nada lugu. “Terima kasih?”


“Baiklah. Aku pikir aku telah melakukan hal yang benar dengan datang ke sini, berusaha untuk memperbaiki hubungan kita. Tetapi aku salah. Kamu tidak menganggap aku serius.” Kesabaranku habis, jadi aku berjalan mendekati pintu.


“Memangnya respons apa yang kamu harapkan setelah kamu menyatakan cinta? Aku mencintai kamu, begitu?” ucap Dira saat aku berjalan melewatinya. “Iya, Colin. Aku mencintai kamu.”

__ADS_1


Aku menghentikan langkahku. Dadaku terasa sesak karena rasa bahagia. Aku membalikkan badan dan melihat dia sedang tersenyum bahagia. Aku yakin wajahku juga sedang berekspresi sama. “Aku tahu itu! Apa itu artinya kita kembali bersama lagi?”


“Kamu hanya mengatakan cinta dan aku memberi respons. Tidak ada pembicaraan tentang kita kembali bersama lagi.” Dia berpura-pura lugu lagi.


“Baiklah, kalau begitu.” Aku membalikkan badanku dan membuka pintu ruangan.


Dira menarik napas terkejut. “Colin? Kamu mau ke mana?” Aku tidak memedulikannya dan terus berjalan menuju pintu depan. “Colin, kita belum selesai bicara. Colin!”


Aku bergegas menuruni teras begitu tiba di luar rumahnya, menaiki sepeda motorku, lalu pergi dari rumah itu. Tempat pertama yang aku datangi adalah apartemen. Aku berpapasan dengan Lily yang sedang asyik dengan laptopnya. Dad dan Mama pasti sudah pergi untuk menghadiri acara di sebuah hotel.


Setelah mengambil sebuah kotak dari laci nakasku di kamar tidur, aku berniat keluar dari apartemen. Tetapi aku teringat dengan percakapanku dengan Hadi, jadi aku kembali dan mendekati adikku. Aku memberi sinyal agar dia mengecilkan volume laptopnya.


“Ada apa? Jangan lama-lama. Adi sedang mengajari aku bermain game.” Dia menatapku dengan kesal. Aku terkejut mendengar kalimatnya itu. “Ada apa? Apa hanya kamu yang boleh main game?”


“Oke. Aku tidak ingin membahas itu.” Aku segera memotong kalimatnya. “Aku mau tahu satu hal. Apa yang kamu pikirkan tentang aku dan Clarissa?”


“Kalian sedang pendekatan?” ucapnya dengan ragu.


Aku mengangakan mulutku. “Mengapa kamu mengambil kesimpulan itu?” Hadi benar. Adikku juga beranggapan begitu. Apa Charlotte dan Wyatt juga berpikiran demikian?


“Aku dan Clarissa hanya berteman,” kataku dengan tegas.


“Oke, kalau kamu bilang begitu,” katanya santai. “Apa aku sudah boleh melanjutkan percakapanku dengan Adi?” Dia menatapku dengan datar.


“Baiklah, baik. Sampai nanti.” Aku membiarkan dia melanjutkan aktivitasnya dan berjalan keluar dari tempat tinggal kami.


Tempat berikutnya yang aku datangi adalah toko bunga. Aku membeli beberapa tangkai mawar merah dan meminta pelayan toko untuk membuat buket yang indah. Kemudian aku mampir ke sebuah toko roti yang menjual bola-bola cokelat ciri khas mereka.


Saat aku kembali lagi ke rumah itu, Pak Abdi menatap aku dengan wajah khawatir. Dia melaporkan bahwa Dira sangat marah dan aku perlu berhati-hati. Aku nyaris tertawa mendengarnya. Dira marah bukanlah hal yang paling aku takutkan, tetapi bila Uncle Hendra yang marah.


Pak Abdi membukakan pintu untukku. Aku masuk dan melihat Dira duduk di salah satu sofa dengan wajah merah padam. Dia merapatkan bibirnya dan kedua tangannya menyilang di depan dadanya. Dia sama sekali tidak melihat ke arahku, maka aku yang mendekatinya. Aku meletakkan buket bunga itu di pangkuannya bersama tas makanan dari toko roti tadi.


“Ini untukku?” Matanya membulat bahagia. Setelah beberapa minggu terakhir aku menggoda dia dengan memberi perhatian pada mamanya, membawakan buket bunga kesukaannya untuk Aunt Zahara, aku tahu dia akan bahagia menerima semua ini. Dan hanya untuknya, bukan mamanya.

__ADS_1


“Iya. Ini untuk kamu.” Aku berlutut di depannya.


“Ah, tidak. Jangan duduk di situ. Duduk di sini.” Dia menepuk tempat kosong di sisinya.


Aku menggeleng pelan, lalu mengeluarkan kotak yang aku ambil dari kamarku tadi. “Aku sudah menunda ini selama empat bulan, jadi aku tidak akan menunggu lagi.”


“Colin? Itu ….” Dia menatapku dan kotak itu tidak percaya. Ketika matanya berair, aku tahu bahwa dia mengerti apa yang ada di dalam kotak yang aku bawa.


“Aku tahu rasanya hidup tanpa kamu dan aku tidak menyukainya. Jadi, bila kamu masih mau memberi aku kesempatan lagi, maukah kamu bersamaku tidak hanya untuk beberapa tahun, tetapi sampai kita meninggal nanti?” tanyaku penuh harap.


“Maksud kamu, kita tetap menikah tahun depan?” tanyanya terharu.


“Tepat pada hari ulang tahunmu.” Kami sudah merencanakan ini sejak lama, maka aku mau kami tetap pada rencana kami semula.


Wajah bahagianya seketika berubah sedih. “Apa kamu yakin mau melakukan ini? Aku sudah bukan Dira yang dahulu lagi. Aku akan sangat merepotkan kamu dengan musuh baru di dalam diriku.” Dia menundukkan kepalanya. “Apa yang kamu lihat saat ini tidak selalu terjadi. Aku tidak selalu setenang ini. Aku masih sering bersembunyi, menangis sendiri, atau kehilangan kepercayaan diri.”


“Aku tidak peduli.” Aku segera memotong sebelum dia menambahkan. “Kamu tetaplah Dira. Aku juga punya musuh baru. Kita bisa menghadapinya bersama. Kamu dan aku tidak perlu melawannya sendiri lagi. Beri aku kesempatan terakhir. Aku tidak akan mengecewakan kamu lagi.”


“Apa asyiknya hidup tanpa bertengkar lagi denganmu?” tanyanya kecewa.


“Bisakah kamu berhenti melakukan ini dan jawab saja pertanyaanku?” Aku mulai tidak sabar. “Berlutut terlalu lama seperti ini membuat kakiku mati rasa.”


“Kamu memang tidak ada romantisnya sama sekali.” Dia cemberut. “Melamar saja sambil marah-marah. Aku sudah minta untuk duduk di sini, kamu sendiri yang mau berlutut.” Dia mengambil cincin yang ada di dalam kotak, lalu memasangkan ke jarinya. “Kamu puas sekarang?”


Aku tersenyum bahagia, lalu duduk di sisinya sambil menggenggam tangannya. “Aku akan meminta Dad untuk segera bertemu dengan Uncle. Aku tidak mau acara pernikahan yang biasa. Karena ini pernikahan kita satu-satunya, aku mau kamu bahagia dan semuanya berjalan seperti impianmu.”


“Colin,” kata Dira memotong ucapanku. “Aku hanya mau pernikahan yang sederhana. Aku bukan lagi anak kecil yang percaya pada film kartun mengenai tuan putri. Walaupun saat ini kamu dan aku punya tabungan, kita harus memikirkan masa depan kita. Aku tidak tahu sampai kapan aku masih laku bekerja sebagai model. Kamu juga tidak mau bergantung terus pada hobimu, ‘kan? Jadi, lebih baik uang untuk biaya pernikahan yang mewah itu kita simpan saja.”


“Hei, hei, sebentar.” Pintu ruangan terbuka dan Hadi masuk dengan wajah tidak suka. “Ada apa ini kalian membahas pernikahan?” Dia melihat ke arah tangan kami yang bertautan.


“Kami sudah berbaikan dan kami akan tetap menikah pada awal tahun depan, Kak!” sorak Dira.


Hadi mengeluarkan ponselnya. “Papa sudah memberi peringatan padaku mengenai hal ini. Kalian tidak bisa memutuskan apa pun sebelum bicara dengan mereka.”

__ADS_1


Aku menelan ludah dengan berat mendengar itu. Baru beberapa menit merasa bahagia bisa kembali bersama Dira, aku harus berhadapan dengan calon ayah mertuaku yang menakutkan.


__ADS_2