Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 22 - Tidak Peka


__ADS_3

Aku baru saja menuruni tangga ketika dua anjing besar berlari mendekati aku. Mereka tidak peduli bahwa tubuh mereka berat, mereka menyandarkan kedua kaki depan mereka ke tubuhku dan berusaha untuk mencium wajahku. Karena aku jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang berdiri pada kedua kaki belakang mereka, wajah Black dan Gold hanya bisa menyentuh dadaku.


“Selamat pagi juga untuk kalian berdua. Aku tidak punya waktu untuk bermain hari ini dengan kalian. Aku harus ke kampus.” Aku tertawa saat mereka berhasil mendorong aku jatuh hingga terduduk di anak tangga. Mereka mencium aku dengan antusias.


“Kalau pun Kakak tidak ke kampus, Kakak tidak akan bermain bersama mereka dan lebih memilih pergi bersama Papa ke kantor.” Dira berjalan menuruni tangga melewati aku. Black dan Gold segera mendekati dia dan mengangkat kaki mereka ke tubuhnya.


“Wo, wo, wo.” Adi memeluk Dira dari belakang, menjaga kakaknya tetap berdiri dengan tegak. “Aku sudah bilang, jaga sikap kalian saat menyapa kakakku. Dia tidak sekuat aku atau Kak Hadi yang bisa menahan pelukan agresif kalian.”


“Mereka tidak akan mengerti.” Dira memutar bola matanya, menanggapi sikap konyol Adi.


Pintu depan terbuka, perhatian kami semua terarah ke pria yang berdiri di ambang pintu. “Apa yang kalian lakukan di sana? Ayo, cepat. Saatnya untuk berolahraga,” panggil Papa.


“Yang belakangan sampai harus traktir piza!” seruku kencang yang segera melesat ke pintu depan. Adi menyusul di sisiku.


“Curang! Harusnya hitung dahulu baru lari!” protes Dira yang didengar dari suaranya, dia berada jauh di belakang kami. Aku menoleh ke arah Adi saat kami tiba di ambang pintu, lalu bertepuk tangan di udara. “Aku tidak mau mentraktir kalian makan piza. Kalian curang!”


“Nanti aku beri uang saku untuk mentraktir kedua saudaramu,” kata Papa melerai. Aku dan Adi bersorak senang. “Ayo, sekarang kita joging.”


Berolahraga setiap pagi sudah menjadi hal yang Papa biasakan sejak kami masih kecil. Aku dan kedua adikku sangat menyukai aktivitas pagi kami. Hanya Mama yang kadang-kadang terlihat tidak suka harus bangun pagi untuk berolahraga.


Gold dan Black berlari cepat di depanku, lalu mereka berhenti dan menggonggong keras, mengajak aku untuk mengikuti kecepatan mereka berlari. Siapa takut? Aku mempercepat lariku mengikuti mereka dan meninggalkan keluargaku jauh di belakangku.


“Dasar tukang pamer,” ejek Dira saat aku berlari melewati dia setelah berhasil memutari rumah. Aku hanya tertawa mendengarnya. Dia pasti masih marah karena kalah lomba tadi.


Setelah mandi pagi di kamar masing-masing dan sarapan bersama, aku berangkat dengan kedua adikku. Papa akan berangkat beberapa menit setelah kami. Mama memberikan kotak bekal makan siang untuk Dira dan Adi yang segera mereka tolak. Kami berencana makan piza siang nanti. Karena Mama mengatakan bahwa itu berisi camilan, mereka pun menerimanya.


Lalu lintas pagi menuju sekolah bukanlah pengalaman yang menyenangkan bagiku, jadi aku sangat berterima kasih kepada orang tua kami yang memilih sekolah terdekat dari rumah. Jarak kampus dari rumah kami juga tidak jauh. Itulah sebabnya adik-adik kelak ingin kuliah di kampus yang sama.

__ADS_1


“Selamat pagi, Hadi!” sapa Valeria yang berdiri di sisiku saat aku baru keluar dari mobil. Ya, Tuhan. Apa perempuan ini benar-benar tuli dan tidak peka? Aku sudah menolak cintanya, meminta dia menjaga jarak denganku, mengapa dia masih bersikap begini?


“Valeria, aku tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu. Berhenti melakukan ini. Aku tidak akan tertarik kepadamu sekeras apa pun usahamu untuk mengubah pikiranku,” kataku dengan tegas, bosan dengan sikap percaya dirinya yang berlebihan.


“Apa maksudmu? Aku hanya menyapa kamu dan mengajak kamu menuju kelas bersama. Apa yang salah dari sikapku ini? Atau jangan-jangan kamu yang mulai salah paham dengan sikapku?” tanyanya pura-pura tidak mengerti.


Seharusnya aku tidak mengatakan apa pun. Aku seperti bicara dengan tembok selama ini, mengapa aku sempat berpikir bahwa kali ini dia akan berbeda? Tanpa bicara lagi, aku mengunci pintu mobil dan berjalan menuju jurusanku.


“Hadi, tunggu. Aku—” Dia menarik lengan kemejaku dan tiba-tiba saja dia jatuh bebas, memaksa aku untuk memeluk dia agar tubuhnya tidak menyentuh tanah.


Sial. Mengapa sepagi ini aku harus berurusan dengan dia? Aku mencoba untuk menyadarkan dia dengan mengguncang tubuhnya dan memanggil namanya. Dia bergeming. Badannya tetap terkulai lemah dan matanya terpejam. Benar-benar sial.


Aku meminta tolong pada pemuda yang lewat untuk membawanya ke ruang kesehatan. Dua orang datang mendekat, jadi kami bisa berbagi beban. Aku terpaksa menopang tubuh bagian atas, lalu mereka menjaga tubuh bagian tengah dan kakinya.


Tidak ada dokter atau suster yang berjaga, maka kami menyerahkan dia dalam pengawasan dosen yang kebetulan lewat. Kami semua punya kelas pagi, jadi tidak ada yang bersedia menemani dia di ruangan tersebut, maka wanita itu tidak bisa memaksa kami untuk tinggal.


“Kalau begitu, siapa di antara kalian teman satu kelasnya?” tanya wanita itu bersikeras. Kami bertiga menjawab tidak dengan cepat.


“Sama, Bu. Dan aku juga tidak sekelas dengan dia,” kata pemuda kedua.


“Bukan hanya kalian yang punya kelas. Aku juga harus mengajar pagi ini.” Dia melirik jam tangannya. Dosen ini hanya mencari-cari alasan. Bila dia harus masuk kelas, dia bisa meminta tolong pada dosen lain untuk menjaga pasien selama beberapa saat sampai petugas kesehatan datang. Mengapa malah memaksa mahasiswa yang melakukannya?


“Ha-Hadi,” panggil perempuan pembawa masalah itu di saat kami bertiga berniat pergi.


“Hadi? Siapa di antara kalian yang bernama Hadi?” tanya dosen itu merasa berada di atas angin.


“Aku,” kataku dengan cepat, ingin segera pergi dari tempat ini. “Aku adalah mahasiswa di kampus ini, apa menjaga mahasiswa sakit adalah tugasku? Karena dia sudah sadar, sebaiknya ibu tanya dia saja siapa teman wanita terdekatnya yang bisa menemani dia di sini. Aku tidak mau terlibat masalah saat berdua saja dengan seorang gadis di sebuah ruangan.”

__ADS_1


“Kelas hampir mulai, saya pamit, Bu.” Pemuda pertama bergegas keluar dari ruangan. Pemuda kedua juga melakukan hal yang sama.


Tentu saja aku tidak mau menjadi tumbal, jadi aku juga keluar dari ruangan itu sebelum dosen itu mengatakan sesuatu. Juga sebelum Valeria membuat aku semakin susah. Dia tadi baik-baik saja dan saat menarik lengan kemejaku, tenaganya cukup besar. Pasti ini hanya sandiwaranya saja untuk menarik perhatianku.


Mengapa aku harus berurusan dengan perempuan seperti dia sekarang? Apa karena kami semakin mendekati hari wisuda, dia mempercepat gerakannya untuk mendekati aku? Tetapi mengapa? Apa iya harta yang membuat dia nekat? Dari sikapnya, aku yakin sekali bahwa dia tidak serius menyukai aku. Ada beberapa gadis yang memang tulus menyayangi aku, hanya saja aku tidak punya perasaan yang sama. Sikap Valeria sangat berbeda dengan mereka.


“Hadi!” Seseorang memanggil aku dari arah belakang. Aku menoleh dan Colin berlari kecil mengejar aku. Dia melihat ke arah belakangku. “Mengapa kamu datang dari arah sana? Apa kamu menemui ketua jurusan kita?”


“Tidak. Ada yang bertingkah aneh pagi ini. Dia menyapa aku, lalu pura-pura pingsan saat aku akan menuju jurusan kita.” Aku menggeleng kepala tidak percaya hal ini terjadi padaku.


“Valeria?” tebaknya dengan tepat. Aku mengangguk pelan. Dia melirik ke arah di mana ruang kesehatan berada. “Petugas kesehatan belum datang sepagi ini, jadi bagaimana kamu bisa bebas dari tempat itu? Kamu biarkan dia di ruangan itu sendirian?”


“Ada dosen yang menjaganya. Aku lebih baik meninggalkan dia sendirian daripada dia menjebak aku dan tidak ada saksi mata yang bisa membuktikan bahwa aku tidak bersalah.” Aku mempercepat gerak kakiku. Colin berusaha menyejajarkan langkahnya denganku.


“Maksudnya, kamu khawatir kejadian saat kita kelas tiga SMU terulang lagi?” tanya Colin.


“Kita tidak punya waktu untuk membahas ini. Sebaiknya kita ke kelas sekarang.” Bukan hanya kedua pemuda tadi yang akan bertemu dengan dosen galak mereka pada pagi ini. Aku juga. Aku tidak mau membuat satu kesalahan pun pada dua semester terakhirku di kampus ini. Bisa saja hal itu akan memaksa aku menunda rencanaku tamat lebih cepat satu semester dari teman-temanku yang lain.


Valeria melewatkan satu mata kuliah, lalu dia muncul saat mata kuliah kedua. Colin sudah duduk di sisiku, sedangkan kursi di depan dan belakangku sudah diisi oleh mahasiswa yang lain. Dia tidak punya kesempatan untuk duduk di sampingku kali ini.


Sayangnya, aku tidak bisa menghindari dia selamanya. Saat mata kuliah kedua selesai, Valeria berdiri dari tempat duduknya dan menghalangi langkahku. Colin berada di sisiku dan ikut berhenti. Gadis itu mendesah pelan, lalu memasang wajah memelas.


“Ini adalah surat keterangan dari dokter dan obat yang dia berikan kepadaku. Aku sedang anemia karena itu aku pingsan tadi. Sikap kamu di ruang kesehatan tadi menyakitkan. Kamu bersikap seolah-olah kita tidak saling mengenal.” Beraninya dia menyalahkan sikapku.


“Lain kali kalau kamu sedang sakit, jangan datang ke kampus. Kamu sudah menyusahkan empat orang pagi tadi.” Aku berjalan melewati dia sebelum suasana hatiku semakin buruk. Aku dan kedua saudaraku berniat menikmati siang ini di restoran khas Italia.


Aku dan Colin berjalan menuju kantor jurusan untuk mengetahui perkembangan usulan judul kami. Ketua jurusan memberi kabar baik dan meminta kami untuk segera mengerjakan konsepnya. Kami bisa memberikan konsep proposal tersebut pada dosen pembimbing yang ditunjuknya.

__ADS_1


Kami bersorak senang saat sudah berada di tempat parkir. Satu langkah telah terlewati menuju wisuda. Colin mengajak aku untuk merayakan keberhasilan kami, tetapi aku terpaksa menolak. Aku sudah lebih dahulu berjanji dengan adik-adikku.


“Hadi.” Seorang wanita memanggil namaku. Sebelum menoleh ke arah datangnya suara, aku tahu siapa pemilik suara tersebut. Wajah Colin segera memucat. “Bisa kita bicara sebentar?”


__ADS_2