Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 33 - Pertemuan Kembali


__ADS_3

Aku pasrah akan menabrak pria itu dan menjatuhkan gelas kosong yang dibawanya, karena di sekitarku tidak ada benda yang bisa aku jadikan pegangan. Dua buah tangan yang kuat tiba-tiba saja memeluk aku sehingga aku bisa kembali berdiri dengan tegak. Tabrakan pun berhasil dihindari.


Merasakan hembusan napas penuh kelegaan di sisi kepalaku, aku menoleh. Ternyata Pak Foster yang memeluk aku dan menolong aku agar tidak jatuh. Dia melepaskan pelukannya, lalu memeriksa tubuhku. Selain jantungku yang berdebar begitu kencang dan napasku yang memburu karena baru saja mengalami kejadian yang mengejutkan, bagian tubuhku yang lain baik-baik saja.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Pak Foster. Aku mengangguk pelan. “Maafkan kesalahan putriku.”


“Mengapa Papa meminta maaf kepadanya!? Putri Papa itu aku, bukan dia! Dan untuk apa Papa sampai memeluknya begitu? Apa Papa lebih suka dia yang jadi putri Papa? Begitu?” pekik Reese dengan wajah merah padam. “Lagi pula untuk apa juga Papa meminta maaf kepadanya!? Aku tidak sudi merendahkan diriku sendiri seperti itu. Dia itu pencuri, Pa!”


“Kami pergi, ya. Kamu jaga dirimu baik-baik.” Pak Foster tersenyum dengan wajah meminta maaf, lalu mendekati putrinya yang histeris yang ditahan oleh Ibu Foster.


Andai wanita itu tidak memegang tangannya, Reese pasti akan memukul aku tidak peduli dengan puluhan pasang mata yang terarah padanya. Aku benar-benar tidak mengerti. Apa yang membuat dia jadi gadis yang kasar begitu?


Dia gadis yang manis dan sangat baik. Jika tidak, Bapak dan Ibu Foster tidak akan mengangkat aku menjadi anak mereka. Karena Reese yang membujuk mereka untuk membawa aku pulang. Dia ingin kami berteman dan bermain bersama untuk seterusnya.


Berapa kali pun aku mencoba mengingat-ingat, aku tidak melakukan hal yang bisa membuat dia marah dan kecewa kepadaku. Orang tuanya juga tidak pernah memperlakukan aku lebih istimewa darinya. Apa yang aku dapat, dia juga memilikinya. Tetapi apa yang dia punya, belum tentu diberikan kepadaku. Aku mengerti, jadi aku tidak pernah cemburu atau merasa dianaktirikan.


Untuk mencegah pertemuan tidak sengaja dengan mereka, aku memutuskan untuk menonton di bioskop. Pulang ke kamar sewaku hanya akan membuat aku kembali sibuk dengan pikiranku sendiri. Lebih baik aku berada di tengah keramaian dan mengalihkan pikiranku dengan menyibukkan diri.


Aku memasuki elevator bersama orang lain yang juga sudah mengantri. Melihat seseorang telah menyalakan lampu menuju lantai di mana bioskop berada, aku berdiri dengan tenang. Satu per satu orang keluar setiap kali pintu kembar tersebut terbuka. Aku dan beberapa orang lainnya keluar bersamaan di lantai teratas.


Antrian panjang di depan konter pembelian tiket tidak membuat aku kesal. Dengan sabar, aku menunggu sampai giliranku tiba. Melihat pasangan muda-mudi di hadapanku, aku teringat pada Hadi dan taruhan kami. Entah apa yang mendorong aku mengatakan hal itu. Padahal cinta dan asmara tidak pernah masuk dalam kamus hidupku.


Film yang aku pilih adalah film laga yang akan segera tayang dan masih ada kursi kosong. Posisinya tepat berada di bagian tengah, tidak terlalu di depan atau belakang. Aku membeli sebotol air minum sebelum mengantri untuk masuk ke dalam studio.

__ADS_1


Tidak mengherankan aku mendapat satu kursi kosong yang terletak di tempat strategis. Ternyata yang duduk di kanan dan kiriku adalah pasangan suami istri sehingga barisan kursi berjumlah ganjil itu memberi keuntungan bagiku.


Kurang lebih dua jam menonton, aku puas dengan hiburan yang disajikan oleh film tersebut. Aku lebih menyukai film jenis ini karena berhasil memacu adrenalin pada setiap adegan kejar-kejaran, bahkan tembak-tembakannya. Yang paling aku suka adalah saat kejutan yang diungkapkan selalu berada di luar nalar. Sahabat, saudara, bahkan rekan kerja yang menjadi musuh dalam selimut.


Itu sebabnya aku menjaga diriku sebaik mungkin agar tidak terikat secara emosional dengan siapa pun yang ada di dekatku. Karena keluarga, sahabat, bahkan orang yang kita percayai bisa menjadi orang yang paling banyak menyakiti dan mengkhianati kita.


“Hannah?” ucap seseorang datang dari arah depanku. Aku menghentikan langkah dan mengangkat kepala. Seorang pria bertubuh tinggi, jelas seorang pria asing dengan kulit pucat, rambut cokelat, dan warna mata yang cerah. Dari jarak kami, aku tidak bisa menebak warna asli matanya. “Kamu, Hannah? Ba-bagaimana bisa kamu ada di sini?”


Aku mengerutkan keningku melihat pria itu menatap ke arahku. Hannah? Itu bukan namaku. Aku melihat ke kanan dan kiriku. Tidak ada yang berhenti berjalan menuju pintu keluar bioskop. Lagi pula pria itu melihat ke arah aku, jadi penonton lainnya hanya berjalan melewati kami.


“Maaf, Anda salah orang,” ucapku dengan sopan. “Namaku bukan Hannah. Permisi.” Aku tersenyum, lalu melanjutkan langkahku dengan bergeser ke arah kananku.


Dia ikut bergeser, menghalangi langkahku. “Kalau begitu, apakah kamu Mila?” tanyanya lagi. Aku menoleh ke arahnya. “Apakah nama kamu Mila?”


“Apa hubungan kamu dengan seseorang bernama Mila?” tanyaku curiga. Mata pria itu kemudian berkaca-kaca. Dari jarak sedekat ini, aku akhirnya bisa melihat warna matanya. Hijau.


“Apa maksudmu?” tanyaku mendengar kalimat terakhirnya. Dia kembali membujuk aku untuk bicara sambil makan, maka aku menurutinya.


Kami menuju sebuah restoran terdekat. Aku menolak pergi terlalu jauh bersamanya. Dia tetap orang asing bagiku, jadi aku tidak percaya padanya. Lagi pula keluarga Foster bisa jadi masih ada di mal ini. Aku tidak mau jalan ke sana kemari, lalu Reese memergoki kami dan memulai dramanya lagi.


Pria itu memesan makanan dan minuman, aku hanya memesan segelas teh. Aku memerhatikan wajahnya baik-baik saat dia memesan makanan dan bicara dengan pelayan. Wajahnya terlihat tidak asing. Perasaan yang sama juga aku rasakan ketika berada di dekat Om Edu dan Tante Lindsey.


“Hannah adalah nama almarhumah istriku.” Pria itu meletakkan sebuah foto yang dia simpan di dompetnya ke atas meja. Ukuran foto itu kecil, tetapi aku bisa melihat wajah wanita muda pada lembar kertas berkilau itu dengan jelas. Sedikit banyak, dia mirip denganku. Rambutnya sama seperti warna pria di depanku dan matanya berwarna abu-abu. Dia tersenyum bahagia pada foto tersebut.

__ADS_1


“Dia meninggal sekitar lima belas tahun yang lalu karena komplikasi saat melahirkan anak kedua kami. Setelah bertahun-tahun berduka kehilangan putri pertama kami, saat mengetahui dia hamil lagi, kami sangat bahagia. Tetapi mereka berdua justru direnggut dariku di atas meja operasi.” Pria itu memulai ceritanya.


“Kami kehilangan putri kami, Mila Meredith Jones, saat kami berlibur di Sumatera Utara. Dia masih berusia dua tahun lebih. Kami memutuskan untuk berlibur ke salah satu kawasan terkenal di Asia Tenggara sebagai perjalanan pertamamu ke luar negeri. Kamu sangat bahagia saat pertama kali terbang.” Dia tersenyum mengenang peristiwa yang sedang disebutnya.


“Kami berada di kapal untuk menyeberang ke pulau sebelah ketika kami sadar putri kami tidak ada di dekat kami. Semua orang membantu kami mencari kamu di geladak kapal, tetapi kamu tidak bisa kami temukan. Dugaan kami berikutnya, kamu ketinggalan di pelabuhan.


“Jadi, kami menunggu kapal berikutnya yang menyeberang kembali ke tempat kami datang. Kami tidak berhenti mencari kamu selama tiga hari tiga malam. Melaporkan kamu kepada pihak yang berwajib, tetapi kami tidak bisa menemukan kamu. Seolah-olah kamu ditelan bumi, hilang tanpa bekas.” Dia menundukkan kepalanya. “Kami tidak bisa tinggal lebih lama karena aku harus kembali bekerja. Tetapi kami terus menanyakan perkembangan pencarianmu pada polisi di sana.”


Dia mengeluarkan sesuatu dari kantong bagian dalam jasnya dan meletakkannya di atas meja. Aku mengerutkan kening melihat buku kecil itu. Sebuah paspor Sebuah paspor yang diterbitkan oleh Amerika Serikat. Paspor yang sudah lama bila dilihat dari warna sampulnya yang memudar. Dia memberi sinyal agar aku membuka paspor tersebut.


Yang pertama aku lihat adalah foto seorang gadis kecil. Aku segera tahu bahwa itu adalah versi kecilku. Aku tidak punya foto masa kecil, tetapi aku tidak akan lupa dengan wajah yang sering aku lihat di cermin atau kaca jendela rumah. Lalu aku melihat identitas lengkapku pada bagian kanan foto. Nama keluarga, nama depan, tanggal lahir, dan informasi lainnya.


Mila Meredith Jones. Itukah namaku? Mengapa aku tidak merasakan apa pun saat menyebutnya? Berbeda dengan nama Clarissa yang terdengar familier. Seolah-olah kepalaku tahu bahwa nama itu pernah akrab di telingaku. Tetapi aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Apakah itu namaku atau nama seseorang yang sering berada di dekatku.


“Tuan putri.” Aku refleks menarik tanganku saat merasakan seseorang menyentuhnya. “Oh, ma-maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengagetkan kamu.” Aku menatapnya sesaat, lalu menggeleng pelan. “Kamu dahulu suka sekali dipanggil tuan putri. Apa kamu bisa mengingat aku? Atau ibumu?”


*******


Sementara itu tidak jauh dari sana~


Bianca menyapukan pandangan ke sekelilingnya dengan wajah harap-harap cemas. Merasakan tekanan pada tangannya, dia menoleh ke arah suaminya yang berjalan di sisinya. Carl tersenyum penuh simpati kepadanya, memahami apa yang dipikirkan oleh istrinya.


Reese terus bicara mengenai videonya memarahi kasir viral di media sosial. Dia begitu kesal sampai makan malam bersama yang seharusnya terasa menyenangkan berubah pahit. Dia tidak menyadari perubahan pada wajah kedua orang tuanya. Bahkan usai makan dan berjalan menuju bioskop pun, dia terus saja mengeluh.

__ADS_1


Ketika dia menoleh ke arah orang tuanya, dia terkejut melihat mereka tidak lagi berjalan di sisinya. Mereka berhenti beberapa langkah di belakangnya dan menatap ke jendela sebuah restoran. Reese segera mendekat dengan wajah merah padam. Dia bersiap memarahi Bianca dan Carl, tetapi dia segera mengurung niatnya begitu mengenali gadis yang menarik perhatian mereka.


“Apa kalian percaya padaku sekarang? Mila tidak sebaik yang kalian duga selama ini. Lihat saja, dia kencan dengan laki-laki yang jauh lebih tua darinya. Sungguh menjijikkan.” Reese tersenyum sinis.


__ADS_2