Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 66 - Gadisku


__ADS_3

“Wyatt teringat satu kalimat yang diucapkan Finley. Dia berkata bahwa dia akan menghancurkan keluarga Grandpa baik dengan atau tanpa bantuan Wyatt. Bila dia tidak bisa menyentuh Charlotte, maka dia bisa kembali pada rencana semula—”


“Menculik kamu,” kataku menyelesaikan kalimatnya. Clarissa mengangguk pelan.


“Kamu tahu untuk apa dia menculik aku?” tanyanya. Aku mengangkat bahuku. “Dia ingin menikahi aku. Apa kamu percaya itu? Sudah ada pendeta yang siap untuk menikahkan kami, juga dokumen untuk kami tanda tangani. Pria itu sudah gila. Umurnya begitu jauh dariku dan dia ingin menikah denganku? Kamu tahu, ‘kan, aku bisa bela diri. Jadi, aku menunggu sampai kami berdua saja untuk menghajarnya. Tetapi dia beruntung. Polisi datang saat dia akan membawa aku ke kamar.”


“Ke kamar? Maksudmu, kamu sudah menikah dengannya?” Dia adalah tunanganku, bagaimana bisa dia malah menikah dengan pria lain?


“Tidak. Namaku Clarissa Raina, tetapi dia membuat namaku menjadi Mila Meredith Taylor. Nama yang dia gunakan pada paspor palsuku. Bahkan saat mengucapkan sumpah pernikahan, pendeta itu menyebut nama Mila. Aku Clarissa, bukan Mila. Karena aku menolak mengucapkan sumpah dan membubuhi tanda tangan, dia ingin kami tidur bersama lebih dahulu.


“Apa kamu bisa bayangkan itu? Dia mengatakan bahwa aku adalah anaknya yang hilang, kemudian dia ingin menikahi aku? Apa pria itu sudah tidak waras lagi? Tetapi kamu jangan khawatir. Dia sudah ditahan dan akan menjalani persidangan. Grandpa berjanji dia akan membayar lebih parah dari itu. Grandpa akan membuat perusahaannya bangkrut.” Clarissa tersenyum puas.


“Sudah seharusnya begitu.” Aku memerhatikan wajahnya dengan saksama. Ada perban pada pelipis kanannya. Dia duduk di sampingku saat kecelakaan itu terjadi, mengapa lukanya ada di sebelah kanan? “Mengapa kamu terluka di sini?” Aku menyeka rambut yang menutupi perban tersebut.


“Oh.” Dia menyentuh tanganku yang ada di pelipisnya, lalu menurunkan tangannya lagi. “Ini akibat pistol yang Finley tempelkan di kepalaku usai memberi tembakan peringatan pada para polisi. Panas sekali, tetapi sekarang sudah tidak sakit lagi.” Dia tersenyum untuk menenangkan aku. “Jangan berwajah begitu. Aku sungguh tidak apa-apa.”


Finley Taylor itu sudah gila. Pistol? Dia menempelkan senjata api di pelipis tunanganku? Berengsek! Untung saja para polisi datang tepat waktu sehingga tidak ada hal yang lebih buruk terjadi padanya. Bukan hanya aku yang nyaris kehilangan nyawaku, tetapi Clarissa juga. Om Edu dan Uncle Mason harus memastikan bahwa pria itu mendapat ganjaran yang seberat-beratnya atas apa yang sudah dia lakukan pada Clarissa. Pria itu bukan manusia.


“Bila lukanya berbekas, aku akan memberi dia pelajaran karena telah menyentuh kamu.” Aku membelai pipinya. Gadis ini adalah milikku, seharusnya aku menjaganya dengan baik. Tetapi aku tidak bisa bergerak usai kecelakaan tersebut. Tubuhku terjepit pintu dan mobil yang menabrak aku. Jadi, aku tidak bisa mencegah dia dibawa oleh para penculik itu.


Menikah. Apa yang dipikirkan oleh Finley sehingga dia ingin menikahi gadis yang berusia sama seperti anaknya sendiri? Apakah karena wajahnya mirip dengan Aunt Abby, jadi dia ingin Clarissa yang menggantikan posisi mamanya? Sampai kapan laki-laki itu terus mengingat perempuan yang bahkan tidak mencintai dia? Wanita yang bahkan sudah belasan tahun meninggal dunia.


Clarissa hanya akan menikah denganku. Bahkan sebelum dia lahir, Mama dan Aunt Claudia sudah membicarakan pernikahan kami. Tidak ada laki-laki lain yang boleh memiliki dia. Setelah belasan tahun terpisah, dia kembali lagi kepadaku. Dia hanya untukku.


“Ehem. Aku tidak bermaksud mengganggu,” ucap Charlotte mengejutkan aku sehingga aku cepat-cepat menarik tanganku dari wajah Clarissa. Aku melihat ke sekitarku dan baru menyadari bahwa kami tidak hanya berdua saja di kamar ini. “Tetapi kalian berdua sangat asyik sampai lupa ada orang lain di sini.”


“Oh. Ma-maafkan aku.” Clarissa segera berdiri dengan kikuk. “Aku hanya … kami hanya ….”


“Duduklah, Clarissa.” Mama mendudukkan dia kembali di sisiku sambil tertawa geli.


“Kalian tidak akan percaya ini,” kata Tante Lindsey. “Aku dan Claudia hanya menggoda dia dengan mengatakan bahwa Hadi sekarat akibat kecelakaan tersebut. Untung saja suster baru melepaskan jarum infusnya, kalau tidak, dia pasti sudah melesat ke kamar ini sambil membawa kantong infusnya.”

__ADS_1


“Dia bahkan tidak berpikir dua kali untuk mencerna ucapan kami. Setelah menanyakan nomor kamar Hadi, dia langsung melompat turun dari ranjangnya dan berlari keluar kamar.” Aunt Claudia tertawa lepas bersama Tante Lindsey.


“Nenek! Grandma!” protes Clarissa dengan wajah merah padam menahan malu. Aku tersenyum melihatnya. Mungkinkah yang aku rasakan juga dia rasakan? Dia mengkhawatirkan keadaaan aku sehingga bergegas datang ke sini untukku. Apakah dia juga jatuh cinta kepadaku?


“Jangan tersenyum, Hadi. Candaan ini tidak lucu.” Dia salah paham. Aku tidak tersenyum karena guyonan keluarga kami. Dia memukul tubuhku dan aku segera mengerang kesakitan. Dia memukul sisi kanan tubuhku, tepat di mana lebam berada. “Oh. Ma-maafkan aku.”


“Hati-hati menyentuh bagian tubuhnya itu, Clarissa. Dia punya memar yang tidak enak dipandang mata di seluruh sisi kanan tubuhnya,” kata Mama dengan lembut, tanpa nada marah pada suaranya. Clarissa menatap tubuhku dengan rasa ingin tahu. “Kamu ingin melihatnya?”


“Tidak!” jawabku dan Clarissa serentak. Semua orang tertawa terbahak-bahak. “Bisakah kalian semua berhenti menggoda kami? Kami adalah pasien, siapa tahu kalian lupa,” ucapku geram.


“Kami tidak lupa. Tetapi kalian yang sepertinya melupakan kami karena dunia ini serasa milik kalian berdua,” goda Charlotte, menatap aku dan Clarissa secara bergantian. “Oh, Clarissa. Aku tidak pernah melihat kamu menatap seseorang seperti kamu menatap Hadi tadi.”


“Hentikan, Charlotte,” ucap Clarissa memberi peringatan.


“Kalian tahu? Aku punya rencana yang jauh lebih baik,” kata Aunt Claudia yang segera menarik perhatian kami. Aku merasa waswas mendengar kalimatnya tersebut. “Daripada menunggu sampai pertengahan tahun, bagaimana kalau kita adakan acara pertunangan mereka secara resmi sekarang?”


Suasana kamar segera ramai dengan para orang tua yang berlomba memberikan pendapat mereka. Para ibu berebut untuk bicara lebih dahulu, sedangkan para ayah hanya berkomentar saat pendapat mereka diminta. Dira dan Charlotte juga tidak mau kalah menyatakan pendapat mereka. Sebaliknya, Clarissa mencoba untuk menengahi dan meminta mereka untuk tidak merencanakan acara apa pun, tidak ada yang peduli.


Persis seperti kejadian pada hari Clarissa terbukti cucu kandung Tante Lindsey, mereka tidak mau tahu apa yang kami inginkan. Mereka sudah punya pendapat mereka sendiri. Hanya karena aku dan Clarissa tadi sejenak mengabaikan mereka semua dan fokus bicara berdua saja, mereka langsung menyimpulkan bahwa kami saling mencintai dan siap untuk maju ke langkah berikutnya.


“Mengapa mereka yang lebih antusias mengenai pertunangan kita daripada kita sendiri?” tanya Clarissa sambil menggeleng tidak percaya. Keluarga kami masih asyik berdebat mengenai acara itu.


“Aku juga tidak tahu.” Aku mengangkat kedua bahuku. “Kalau kamu tidak menginginkan ini, jangan khawatir. Aku akan bicara dengan Papa. Dia akan mendukung apa pun keputusanku.”


“Seandainya saja aku bisa melakukan hal yang sama pada keluargaku.” Dia menatap sedih ke arah kakek dan neneknya. “Mereka sudah lama bersedih sejak kehilangan aku juga orang tuaku, jadi aku tidak tega merusak kebahagiaan mereka. Lagi pula bertunangan denganmu bukan hal yang buruk. Seperti kata Grandma, kamu berasal dari keluarga kaya raya dan ahli waris utama.”


“Ahh … jadi sekarang kamu mulai tertarik padaku karena itu?” Aku membalas godaannya. “Apa kamu tidak tahu bahwa aku benci dengan cewek matre?”


“Apa kamu pernah mendengar ada perempuan yang mau menikah dengan cowok bokek?” balasnya. Aku tertawa mendengarnya. “Cinta saja tidak cukup untuk menjadi alasan seseorang menikah, Hadi. Hidup ini butuh uang dan kamu tahu itu. Lagi pula kita baru kenalan beberapa minggu, terlalu cepat untuk membahas cinta.”


Aku meraih tangannya dan menatap kedua matanya dengan serius. “Setelah kecelakaan maut yang kita alami dan mendengar kamu hampir menikah dengan pria lain, aku akan menyesal tidak segera menjadikan kamu milikku, Rissa.”

__ADS_1


Dia mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?” tanyanya tidak mengerti, atau dia hanya butuh aku mengonfirmasi apa yang sedang dia tebak di dalam kepalanya.


Tanpa ragu sama sekali, aku mengungkapkan perasaan terdalamku terhadap seorang perempuan untuk pertama kalinya dalam hidupku. “Aku mencintai kamu.”


*******


Sementara itu di sebuah tempat~


Sigit menatap pria yang selama ini menjadi temannya itu dengan penuh tanya. Wajah Finley merah padam dengan mata menatap tajam, siap untuk menghancurkan siapa saja yang mencoba untuk menghalangi jalannya. Tetapi Sigit tahu bahwa kali ini sahabatnya sudah melewati batas.


“Aku tidak bisa melakukan itu, Finn. Masalahmu adalah dengan ibunya. Sudah cukup semua usaha yang kamu lakukan untuk membalas perbuatan orang yang sudah lama mati. Anaknya tidak bersalah. Bahkan kamu berutang maaf padanya karena sudah memisahkan dia dari keluarganya,” tolak Sigit.


“Jangan lupa siapa yang pegang kendali di sini, Sigit. Hanya dengan satu jentikan jari saja, aku bisa membuat hidup dan perusahaanmu berantakan. Ingat, siapa yang telah menolong kamu saat semua orang berpaling darimu. Aku yang menyelamatkan usahamu yang hampir bangkrut. Aku yang telah membuat istriku tidak jadi meninggalkan kamu. Aku juga yang telah menolong pengobatan anakmu yang hampir mati di meja operasi.” Finley menatapnya dengan tajam. “Lakukan perintahku.”


Sigit bergelut dengan dirinya sendiri mendengar semua pertolongan yang awalnya dia terima atas nama persahabatan. Ternyata Finley hanya ingin memperalatnya pada saat dia membutuhkannya. “Aku sudah memberi lebih banyak dari yang kamu berikan kepadaku, Finn. Aku akan melakukan apa yang kamu minta, tetapi dengan satu syarat.”


“Katakan,” desak Finley tidak sabar.


“Ini adalah terakhir kalinya aku membantu kamu. Aku tidak akan menuruti perkataanmu lagi dan kamu tidak bisa memaksa aku melanggar hukum.”


“Setuju,” kata Finley tanpa berpikir panjang.


Sigit tersenyum puas. “Pengacaraku akan datang menemui kamu secepatnya. Tanda tangani surat persetujuannya, maka aku akan melakukan perintah terakhirmu itu .”


Wajah Finley semakin merah padam. “Apa katamu? Surat persetujuan? Sejak kapan hubungan kita harus menggunakan surat, Sigit? Apa kamu sudah tidak percaya lagi kepadaku?”


*******


Author's Note~


Hai, teman-teman. Selamat Hari Raya Trisuci Waisak bagi teman-teman yang merayakannya. Aku juga sekalian memohon maaf untuk bab 65 sudah aku publikasikan kemarin, tetapi baru lolos review siang tadi. Sepertinya ada masalah dengan sistem. Dan semoga saja bab 66 ini tidak tersangkut lama di proses review, ya.

__ADS_1


Selalu jaga kesehatan dan salam sayang.


Meina H.


__ADS_2