
Semua pelayan yang bekerja di rumah kami adalah orang baik yang identitasnya sudah diperiksa dengan hati-hati. Tidak ada satu pun pekerja yang tidak dikenal dengan baik latar belakang dan asal-usulnya. Lalu siapa yang telah sengaja melukai aku?
“Apa? Mengapa dia melakukannya, Kakek?” tanyaku terkejut begitu mendengar nama pelayan yang telah mendorong kursi rodaku. Dia adalah putri salah satu pekerja setia kami. Mereka sudah puluhan tahun bekerja untuk Kakek dan Nenek, bahkan sebelum Papa menikah dengan Mama.
“Kami sudah menyelidiki ponselnya. Ternyata dia menyukai Luca. Pemuda tidak tahu diri itu sengaja memprovokasi bahwa dia mencintai kamu, tetapi kamu menolak perasaannya. Karena gadis itu sayang kepadanya, dia terpengaruh dan merasa marah kepadamu,” ucap Kakek.
“Luca? Apa kita bisa menghukum dia atas perbuatannya?” tanyaku ingin tahu.
“Tidak. Dia berada di luar yurisdiksi hukum kita. Gadis itu sudah kami usir. Orang tuanya juga. Kami sudah memberi sejumlah uang agar mereka bisa mencari pekerjaan di tempat baru atau membuka usaha. Terserah mereka. Tetapi mereka tidak bisa tinggal di sini lagi. Aku tidak mau mengambil risiko kamu atau Charlotte terluka lagi oleh ulahnya,” kata Kakek dengan tegas.
Gadis bodoh. Dia mendapat tempat tinggal yang nyaman, pekerjaan yang bagus, dan majikan yang baik hati. Mengapa dia malah membuang semua kesempatan ini dengan berbuat jahat? Kasihan ayah dan ibunya yang selama ini sudah setia kepada keluarga kami. Dia kehilangan segalanya, tetapi Luca tidak datang untuk menolongnya. Bagaimana bisa dia mau dipengaruhi laki-laki licik itu?
Bangun pada keesokan harinya, mataku mulai sensitif dengan cahaya matahari yang masuk lewat jendela. Aku melihat ke sekelilingku dan semuanya terlihat kabur. Tetapi aku tidak hanya melihat bayangan tanpa bentuk lagi. Aku sudah bisa membedakan bufet dengan kursi.
Kakek pergi ke kantor, sedangkan Charlotte dan Wyatt ke kampus mereka. Aku berdua dengan Nenek saja di rumah. Dia tidak pernah meninggalkan aku sendiri saat beraktivitas. Kami menonton bersama di ruang keluarga, mendiskusikan berita atau gosip yang kami dengar, bahkan memasak resep makanan yang mudah untuk aku pelajari.
“Sifatmu dan papamu sangat mirip,” kata Nenek dengan riang. Dia pasti sedang tersenyum bahagia saat ini. “Dahulu dia mengejar Abby, mamamu, mati-matian. Hubungan mereka berakhir karena salah paham sekalipun, papamu mengejarnya sampai dia mau kembali kepadanya. Persis seperti yang kamu lakukan kepada Hadi.”
“Tetapi karena aku perempuan, Nenek menganggap tingkahku aneh, ‘kan?” ucapku merajuk.
Nenek tertawa. “Apa menurut kamu tidak aneh? Kamu yang memutuskan hubungan, eh, kamu juga yang memohon agar kalian kembali bersama.”
“Aku tidak akan melepaskan dia lagi. Walaupun ada perempuan yang mencoba merebut dia dariku, aku tidak akan membuat segalanya mudah baginya,” kataku dengan serius.
“Perempuan lain?” tanya Nenek yang menyentuh tanganku. “Itukah yang terjadi kemarin? Kalian bertengkar karena ada gadis lain yang mendekati Hadi?” Aku diam, belum siap untuk memberi tahu siapa pun mengenai musibah yang Hadi alami. “Baiklah. Kamu bisa menceritakannya kepada kami setelah kamu siap. Tidak perlu khawatir mengenai Hadi. Dia pemuda yang baik.”
“Aku tahu, Nenek. Karena itu aku kejar terus sampai dapat.” Aku terkikik geli sendiri dengan semua yang sudah aku lakukan untuk menjadi pacarnya lagi. Nenek ikut tertawa bersamaku.
Hadi memenuhi janjinya dengan datang ke rumah sepulang dari tempat kerja. Kami makan malam dahulu sebelum mengerjakan skripsiku di ruang kerja Kakek. Mereka tidak mengizinkan aku dan dia berdua saja di dalam kamarku. Padahal kami tidak akan melakukan hal yang tidak sepantasnya.
__ADS_1
Namun aku mematuhi permintaan Kakek dan Nenek. Charlotte membantu dengan memindahkan semua buku yang aku perlukan ke ruangan tersebut. Hadi sangat sabar membaca setiap paragraf penting yang aku tandai pada buku yang aku masukkan dalam daftar pustaka.
“Bagaimana keadaan di kantor hari ini?” tanyaku setelah dia meminta kami untuk berhenti. Aku merapikan bukuku kembali, sedangkan dia mematikan laptopku.
“Semua orang merindukan kamu. Mereka ingin datang menjenguk, tetapi aku melarang.” Dia segera mengucapkan kalimat itu sebelum aku yang mengatakannya. Aku memang belum mau bertemu dengan siapa pun, kecuali orang terdekat. Aku tidak mau ada yang melihat aku dalam keadaan ini.
“Terima kasih, sayang.” Dia duduk di sisiku, jadi aku bisa menyandarkan kepalaku di lengannya.
“Bagaimana dengan kamu? Apa saja yang kamu lakukan hari ini di rumah?” tanyanya pelan.
“Mengobrol dengan Nenek, lalu belajar memasak satu resep baru,” jawabku dengan cepat.
“Apakah masih ada bagian untukku? Aku mau mencobanya juga,” kata Hadi dengan antusias. Aku tertawa sambil menggeleng pelan. “Mengapa tidak? Kroisan buatanmu kemarin sangat enak. Pasti masakanmu hari ini juga sama enaknya.”
“Aku dan Nenek sudah menghabiskannya siang tadi. Kami hanya membuat masakan yang mudah, spageti dengan bola daging. Memang terdengar rumit dan merepotkan. Tetapi dengan semua alat yang ada, membuat saus tomat, bola daging, dan semua bumbu khasnya jadi lebih mudah,” kataku menjelaskan. “Kapan-kapan akan aku buatkan untukmu.”
“Aku mau besok. Mendengarnya saja sudah membuat aku kelaparan.” Dia merangkul bahuku.
“Setelah kamu mendapatkan aku kembali, kamu sudah berani menolak permintaanku, ya? Hm?” Aku tertawa geli merasakan dia mengecup pelipisku. “Apa aku perlu merajuk dan menjauhi kamu supaya kamu mau melakukan apa saja yang bisa membuat aku bahagia?”
“Baiklah, baik. Aku masakkan dua porsi spageti untukmu besok. Apa ada lagi yang kamu inginkan, sayang?” Aku meletakkan daguku di lengannya agar dia bisa melihat ekspresi wajahku.
“Iya.” Dia mencium ujung hidungku. Aku tersenyum. “Cepat sembuh, ya.” Aku mengangguk bahagia.
“Ada satu hal lagi yang mungkin kamu sudah tahu.” Aku memberi tahu dia mengenai pelayan kami yang terpaksa dipecat, karena sudah mendorong kursi rodaku di puncak tangga.
“Aku sudah tahu. Papa sudah cerita pada saat kami sarapan pagi tadi.”
“Mengapa dia bisa sebodoh itu? Seandainya Luca punya perasaan yang sama dengannya, aku bisa mengerti. Masa dia tidak sadar bahwa dia sudah dipermainkan?” tanyaku tidak percaya.
__ADS_1
“Kamu perlu belajar menerima bahwa seorang yang terkenal baik sekalipun pasti pernah mengambil keputusan yang keliru, sayang. Lupakan saja dia.” Aku memekik terkejut ketika dia tiba-tiba saja membopong tubuhku. Dia membawa aku dari ruang kerja ke kamarku di lantai dua. Hal yang tidak akan aku tolak. Setelah mendudukkan aku di tepi tempat tidurku, dia keluar kamar sejenak dan kembali dengan kursi rodaku.
“Istirahatlah. Tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting. Oke? Aku akan datang lagi besok.” Dia membantu aku duduk di kursi roda, lalu mencium puncak kepalaku. “Aku akan panggil Charlotte agar dia membantu kamu membersihkan diri.”
“Tidak perlu.” Terdengar suara adikku memasuki kamar. “Aku tahu kapan saja kakak kesayanganku membutuhkan aku. Pulanglah. Hati-hati menyetir. Aku tidak mau kakakku sampai sedih jika sesuatu yang buruk terjadi kepadamu.”
“Apa kamu mendoakan sesuatu yang buruk terjadi kepadaku, Charlotte?” tantang Hadi. Aku tertawa mendengar gurauan di antara mereka.
Itu bukan satu-satunya sore di mana Hadi datang untuk membantu mengerjakan revisi skripsiku. Dia datang setiap hari sesuai dengan janjinya. Hanya dalam waktu tiga hari saja, bab keduaku rampung dan sudah bisa diserahkan kepada dosen pembimbingku untuk diperiksa kembali.
Kebaikan apa yang sudah aku lakukan di dalam hidupku sehingga mendapatkan pacar sebaik ini? Aku sangat bahagia, tetapi aku semakin khawatir di sisi lain. Belum ada kabar mengenai perempuan yang sudah tidur dengannya itu. Tidak tahu-menahu apa yang direncanakan oleh musuh adalah posisi yang sangat menjengkelkan. Semakin hari aku semakin waswas dengan hubungan kami.
*******
Sementara itu di sebuah kamar~
Seorang gadis berjalan mondar-mandir di samping tempat tidur. Sesekali dia melirik jam tangannya, lalu menoleh ke arah pintu kamar mandi yang dibiarkan terbuka. Kotak yang dia pegang dipukul-pukulkan ke tangannya yang bebas untuk mengurangi rasa khawatir.
Gadis lain yang berada di kamar mandi hanya bersandar dengan santai di wastafel. Dia merapikan rambutnya dan mengikatnya di belakang kepala membentuk ekor kuda. Puas dengan bayangannya di cermin, dia tersenyum dan merapikan semua peralatan riasnya yang ada di dekat wastafel.
“Berapa lama lagi kita harus menunggu?” tanya gadis pertama tidak sabar.
Gadis yang berada di kamar mandi melihat ke arah alat tes yang ada di sisi wastafel. “Garisnya sudah mulai muncul. Kamu tenang saja. Mamaku wanita yang subur, jadi aku yakin bahwa aku juga sama seperti dia. Apalagi usiaku masih muda. Kamu tahu sendiri perempuan zaman sekarang banyak yang hamil saat usianya masih belasan tahun.”
“Jika memang mamamu sesubur itu, mengapa anaknya hanya satu?” ejek perempuan pertama. “Aku saja punya dua saudara perempuan tidak sepercaya diri kamu.”
“Mengapa kamu tidak bisa tenang sedikit? Kalau rencana pertama kita gagal, selalu ada rencana kedua. Kita tinggal melakukan hal yang sama kepadanya. Dia dan orang lain tidak akan curiga, kamu dan aku aman. Buktinya, sampai sekarang kita masih bebas, ‘kan? Tidak ada yang mencurigai kita.” Gadis kedua itu kembali melirik ke arah alat tes tersebut. Senyuman menghiasi wajahnya.
“Ada apa? Mengapa kamu tersenyum?” Gadis pertama segera memasuki kamar mandi.
__ADS_1
“Apa aku bilang?” Gadis kedua itu mengangkat alat tes dan menunjukkan salah satu sisi kepada gadis yang pertama. “Aku pasti hamil. Akhirnya! Setelah sekian lama ada juga jalan untuk bisa bersama pemuda yang aku idam-idamkan selama ini!”
“Kamu tidak hanya sekadar bersamanya. Kamu akan menikah dengannya! Selamat untuk kita!” Gadis pertama itu tersenyum puas melihat dua garis merah pada alat tes kehamilan di tangannya.