Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 146 - Saling Mendukung


__ADS_3

Taman itu tidak sepi, padahal hari ini bukanlah hari Sabtu. Ada beberapa orang yang berkumpul bersama rekan kerja, teman, atau keluarga mereka dengan duduk sambil menikmati makanan. Colin mengajak aku mendekati salah satu penjual kebab dan memesan dua porsi lengkap dengan kentang goreng, lalu membeli air minum dalam botol di swalayan kecil.


Kami memasuki taman dan baru menemukan bangku kosong di bagian dalam. Colin tidak bicara saat kami menyantap makanan masing-masing. Aku menunggu dengan menghabiskan isi dalam kotak makananku dan meneguk setengah dari isi botol air minumku.


“Dad dijebak oleh Aunt Chelsea,” ucap Colin memecahkan keheningan di antara kami. Aku menoleh ke arahnya. Aunt Chelsea adalah kakak mama kandungnya. “Dia memerkosa Dad agar anak yang dia kandung menjadi anaknya.” Aku menarik napas terkejut. “Itu sebabnya kami ada di kantor polisi.”


Colin selalu cerita bahwa dia tidak suka dengan tantenya tersebut, karena pernah menghalangi Uncle Will menikah dengan Tante Gista. Wanita itu juga tidak pernah menutup-nutupi perasaan sukanya kepada Uncle setiap kali mereka berkunjung ke Amerika. Siapa yang menyangka dia akan bertindak sejauh ini?


“Mama sangat terluka. Pernikahan mereka selama ini baik-baik saja dan hancur seketika karena ulah orang yang aku pikir adalah keluargaku. Aunt mengandung anak pria lain, tetapi dia tega menjebak Dad. Mendengar dia berulang kali berteriak bahwa dia mencintai Dad, aku pikir aku hanya bermimpi. Bagaimana bisa seseorang berkata cinta di saat dia sudah melukai orang tersebut?” Dia menggeleng tidak percaya.


“Aku turut sedih dengan apa yang menimpa orang tuamu, sayang.” Aku menyentuh tangannya. “Apa Uncle dan Tante masih tinggal bersama?”


Colin mengangguk pelan. “Mama sempat pergi ke rumah Kakek, tetapi dia berubah pikiran karena tidak bisa berhenti memikirkan kami. Jadi, kami menjemputnya malam itu juga. Mama sempat bertanya kepada Dad sebelum mau pulang bersama kami.”


“Bertanya tentang apa?”


“Apa yang Dad rasakan setelah semua itu terjadi.” Colin menghela napas panjang. “Dad dengan jujur mengatakan bahwa dia marah, kecewa, hancur, berharap dia bisa mengulang waktu, dan menyesal sudah menyakiti Mama. Lalu Mama pun kembali tinggal bersama kami.”


“Bagaimana dengan tante kamu? Dia masih dipenjara?” tanyaku ingin tahu.


“Tidak. Grandpa dan Grandma sudah memenuhi syarat yang Dad ajukan, jadi Aunt sudah bebas dan pulang ke Amerika. Kami sudah putus hubungan. Grandma tidak terima dan menuduh Dad sengaja memisahkan mereka dengan cucu mereka. Tetapi tanpa Dad mengajukan syarat itu, aku dan Lily juga tidak sudi dekat dengan mereka lagi.” Colin menggeleng sedih.


“Tante dan papamu sudah lama saling mengenal, bersahabat baik selama bertahun-tahun. Apa yang membuat dia jadi jahat begitu? Apa dia pikir cinta itu bisa dipaksakan? Aku tidak mengerti. Apa saat mama kamu masih hidup, tantemu pernah berusaha merusak pernikahan mereka?” tanyaku pelan.


“Aku masih kecil, jadi aku tidak tahu. Dad tidak pernah mengatakan apa pun tentang itu,” jawabnya.


“Papa dan Mama pernah mengalami masa sulit serupa. Mereka berhasil melaluinya dan hubungan mereka semakin baik. Semoga saja hal yang sama terjadi pada orang tuamu.” Aku menghiburnya. “Vivaldo sudah berulang kali berusaha merebut Mama, bahkan sampai merusak hidupku. Aku harap kamu dan Lily berhati-hati. Siapa tahu tante kalian mencoba berbuat jahat lagi.”

__ADS_1


“Iya. Karena itu langkah awal kami adalah memutuskan hubungan dengan mereka. Kamu juga harus berhati-hati. Bisa saja dia juga mencoba menyakiti kamu untuk melukai aku,” katanya khawatir.


“Jangan khawatir.” Aku melihat ke sekeliling kami. “Papa tidak mengatakannya, tetapi aku tahu. Ada satu atau dua orang yang mengawasi aku dari jauh. Papa pasti tidak mau kecolongan lagi. Aku juga tidak mau diculik orang, lalu ada video atau fotoku dengan tubuh tanpa pakaian yang disebar.”


“Aku belum bisa memaafkan diriku sendiri atas apa yang terjadi padamu.”


“Sayang, mereka memanfaatkan kamu. Mereka yang bersalah, bukan kamu. Karena itu mereka yang berada di penjara dan kamu tetap bebas.” Aku menyentuh pipinya dan memintanya untuk melihat ke arahku. “Ini akan menjadi masalah yang kita atasi bersama. Kamu memaafkan dirimu, aku juga. Kita sama-sama korban, Colin.”


“Aku juga bersalah sudah mengkhianati kamu dengan sadar dan disengaja. Seandainya kamu melihat luka yang ada di mata Mama, kamu pasti mengerti. Aku menemukan luka yang sama di matamu, tetapi aku sangat egois dan terus memaksa kamu agar mau kembali kepadaku.” Colin menggeleng pelan. “Aku sangat jahat. Yang aku pikirkan hanyalah diriku sendiri, sama seperti Aunt Chelsea.”


“Tidak, Colin. Kamu tidak sama dengan tantemu. Yang dia pikirkan hanyalah dirinya sendiri, tetapi kamu menyewa jasa Clarissa, karena kamu pikir kamu sedang melindungi aku. Itu dua hal yang berbeda. Aku sudah katakan. Bila kamu menolak usul Vivaldo dan Nora, mereka akan menyakiti aku dengan cara yang lain. Ini semua adalah rencana mereka, bukan kamu,” kataku meyakinkannya.


“Kalau kamu benar-benar orang jahat, Papa dan Mama tidak mungkin memercayakan aku kepadamu lagi. Mereka akan melarang aku kembali kepadamu. Papa bahkan tidak akan membiarkan aku pergi berdua saja denganmu.” Aku masih berusaha untuk meyakinkannya. “Dengar, sayang. Umur kita masih panjang. Aku tidak mau menghabiskan waktu menyesali masa lalu.”


Colin menarik napas panjang. “Hidup ini berat, ya, sayang.”


Dia tertegun sejenak. “Sejak kapan kamu jadi sebijak ini?” godanya.


Aku tertawa mendengarnya. “Sejak aku menggunakan banyak waktu untuk berpikir saat kita sedang berpisah. Karena itu aku tahu bahwa hubungan Uncle dan Tante akan semakin baik.”


“Semoga saja kamu benar.” Dia melihat ke sekeliling kami. “Malam semakin larut. Sebaiknya kita pulang sekarang. Aku tidak mau melanggar jam malammu.”


Aku menurut. Kami membuang kotak dan botol minuman yang sudah kosong ke tempat sampah, lalu berjalan menuju tempat parkir. Saat berada di boncengan, aku memeluknya dengan erat. Aku tahu bahwa aku tidak salah memilih pemuda yang akan menjadi suamiku. Dia sangat sayang kepada keluarganya, maka dia akan sayang juga kepada keluarga kecil kami nanti.


Pak Abdi yang menyambut aku saat tiba di rumah. Keluargaku sedang berkumpul di ruang keluarga, jadi aku hanya memberi tahu mereka di ambang pintu bahwa aku sudah pulang. Papa, Mama, dan Adi terlihat bahagia, sedangkan Kak Hadi memasang wajah cemberut. Pasti sesuatu yang buruk terjadi lagi di kantor yang ada hubungannya dengan Clarissa.


Sisa minggu itu berlalu dengan cepat. Colin menemani aku sepanjang hari saat melakukan aktivitas. Aku sampai heran dengan sikap anehnya itu. Dia masih punya skripsi yang harus dia selesaikan, untuk apa membuang waktu dengan bersamaku selama sisa hari liburnya?

__ADS_1


Namun dia tidak peduli dengan protesku dan tetap setia mendampingi aku. Bukannya aku tidak suka dengan kehadirannya. Aku hanya tidak mau dia berpikir bahwa aku masih gadis manja yang belum bisa memahami kesibukan pacarnya dalam studi.


“Aku serius, sayang. Aku tidak apa-apa. Minggu ini adalah minggu terakhir kampus libur. Mulai Senin depan, kita akan kembali sibuk dengan studi kita masing-masing. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan bisa bersamamu. Lagi pula aku ingin membayar waktu di mana aku tidak bisa bersama kamu saat aku fokus dengan keluargaku,” katanya santai.


“Colin,” kataku mencoba memberi pengertian.


“Aku tidak mau mendengarkan apa pun lagi. Cepat naik. Kita harus pergi sekarang supaya kamu tidak terlambat sampai ke tempat pertemuan.” Dia memegang tanganku, bermaksud membantu aku naik ke jok belakang. Akhirnya, aku mengalah.


Sesuai dengan rencana Papa, kami berlibur sekeluarga ke vilanya. Kami tidak hanya berdiam diri di vila, tetapi juga berjalan-jalan ke berbagai tempat wisata. Yang paling utama adalah mencoba berbagai tempat makan baru yang belum pernah kami kunjungi. Beberapa sesuai dengan apa yang orang-orang katakan, beberapa restoran lagi tidak seenak yang orang sampaikan.


Aku sangat menjaga privasiku, karena itu aku tidak mengunggah apa pun ke media sosialku untuk menjadi konsumsi para fan. Hanya hal yang ada hubungannya dengan pekerjaan yang mewarnai isi media sosialku tersebut. Aku memercayakan Vikal untuk mengurusnya. Om Irwan mengutus salah satu dari orang kepercayaannya untuk mengawasi setiap isi dari akunku tersebut. Papa tidak percaya kepada siapa pun, jadi aku tidak menghalangi niatnya untuk mengawasi setiap orang terdekatku.


“Maafkan aku,” kata Papa saat kami duduk bersama menikmati minuman hangat di dalam tenda. Tradisi yang tidak pernah kami lewatkan setiap kali menginap di vila. “Kalian memiliki ayah yang punya banyak musuh, yang melibatkan kalian dalam usaha balas dendam mereka.”


“Juga mempunyai seorang ibu yang tidak sempurna, yang tidak berhenti merencanakan hal yang jahat dalam keluarga kita,” ujar Mama menyesal.


“Aku tidak tahu apa lagi yang akan terjadi ke depan, tetapi aku harap kalian tetap kuat. Aku akan melakukan segalanya yang aku bisa untuk melindungi kalian semua,” ucap Papa pelan.


“Pa, Ma, ini bukan kesalahan Papa atau Mama. Cinta ditolak atau bertepuk sebelah tangan dialami oleh banyak orang, tetapi tidak semuanya bertindak melanggar hukum. Apa yang kami alami karena orang-orang ini bukanlah salah Papa atau Mama. Itu salah mereka sendiri,” kata Kakak. “Aku tahu rasanya cinta ditolak, tetapi aku tidak merencanakan hal jahat terhadap Clarissa.”


Aku mengangguk pelan. “Kakak benar. Colin mengkhianati aku, tetapi aku tidak membalas dengan melakukan kejahatan. Bukankah Papa juga begitu? Apa yang Mama lakukan tidak membuat Papa menjadi jahat seperti Vivaldo, ‘kan?”


“Anak-anak kita sudah besar. Mereka sudah pintar menjawab apa yang orang tuanya katakan.” Papa menatap Mama tidak percaya. Kami semua tertawa.


Liburan panjang berakhir, hari pertamaku sebagai mahasiswa pun dimulai. Kata Papa, dia dahulu menjalani masa orientasi di kampus beberapa hari sebelum perkuliahan dimulai. Tetapi tradisi itu sudah lama ditiadakan sejak jatuhnya korban jiwa. Masa pengenalan kehidupan kampus pada masa itu malah dijadikan ajang balas dendam senior terhadap mahasiswa baru.


Aku mengikuti Kakak menuju ruang kuliah seperti yang tertera pada catatanku. Sepertinya semua orang mengenal Kak Hadi, terutama para gadis. Hampir semua perempuan yang kami lewati melihat kakakku dengan tatapan tanpa berkedip. Mereka terlambat. Kakakku sudah punya seseorang yang betah tinggal di hatinya, walaupun mulutnya selalu menyangkalnya.

__ADS_1


“Wah, wah, wah. Lihat siapa yang datang dengan kakak kesayangannya,” ucap suara seseorang yang tidak mungkin akan aku lupakan. Ini tidak mungkin.


__ADS_2