Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 41 - Penyesalan


__ADS_3

Uncle Hendra berjalan bersama istrinya menuju ruang keluarga. Aku mengikuti mereka. Keheningan memenuhi ruangan itu setelah mereka duduk berdampingan, sedangkan aku duduk di hadapan mereka. Aunt Zahara meremas pelan tangan suaminya yang ada dalam genggamannya, seolah memberinya peringatan agar bersikap baik. Aku kembali menelan ludah dengan berat.


Saat ini aku ingin sekali kembali menjadi bocah kecil yang melamar Dira di depan papa dan mamanya. Menjadi seorang dewasa itu berat dan menyusahkan. Setiap tindakan konyolku tidak lagi dimaklumi, tetapi harus dipertanggungjawabkan. Dan aku harus menghadapi tiga orang yang sangat melindungi Dira untuk bisa mewujudkan rencanaku.


“Ada apa, Colin? Mengapa kamu ingin bicara dengan kami?” tanya Aunt Zahara membuka bahan pembicaraan, ketika untuk beberapa saat aku diam saja.


“Itu … aku ….” Aku berdehem pelan, membersihkan kerongkonganku yang mendadak serak. “A-aku meminta maaf karena sudah menyakiti Dira. Aku yang meminta dia menjadi istriku pada saat aku masih kecil, tetapi aku juga yang merusak hubungan kami. Tidak ada alasan yang bisa aku berikan sebagai pembenaran tindakanku itu. Tolong, maafkan aku.”


“Istriku pasti mudah saja memaafkan kamu, tetapi tidak dengan aku. Dari awal aku tidak percaya padamu. Aku tidak percaya bahwa anak ingusan seperti kamu akan serius dengan putriku. Dan tentu saja kamu mengambil waktu yang sangat tepat. Satu tahun menjelang pernikahan kalian. Mengapa tidak lakukan dari beberapa tahun sebelumnya? Mengapa sekarang?” tanya Uncle Hendra.


Aku membuka mulut berniat memberi jawaban, tetapi Uncle Hendra segera mengangkat tangannya memberi sinyal bahwa dia belum selesai bicara. “Kalau kamu mau menjadikan alasan penuh omong kosong seperti menyelamatkan reputasi istriku atau keluarga kami, simpan jawaban itu untukmu sendiri. Aku lebih dari mampu untuk melindungi keluargaku dan tidak membutuhkan bocah seperti kamu untuk berlagak menjadi pahlawan.”


“A-aku benar-benar menyesal telah melakukan itu. Aku berjanji, aku tidak akan mengulanginya lagi.” Kalimatku itu membuat kening Uncle Hendra berkerut semakin dalam.


“Tidak akan mengulanginya lagi? Tidak akan ada kata LAGI untukmu. Hubungan kamu dan putriku sudah berakhir, jadi kamu tidak akan bisa menyakiti dia LAGI.” Uncle Hendra mengabaikan tatapan istrinya dengan fokus menatap tajam padaku.


Aku meluncur turun dari tempat dudukku dan berlutut di depan mereka. “Aku mohon, Uncle, Aunt. Aku sangat memohon pada kalian. Maafkan aku. Aku sangat menyesal telah melepaskan Dira. Aku pikir ini adalah jalan yang terbaik agar foto itu tidak menyebar. Aku tidak tahu bahwa ini adalah kasus lama yang sudah usai. Aku mohon.” Aku sangat gugup sekaligus putus asa sehingga aku mendadak lupa bisa berbahasa Indonesia.


“Aku sadar bahwa aku telah melakukan kesalahan besar. Aku telah mengkhianati kepercayaan kalian. Tetapi aku mohon. Aku sangat mencintai Dira. Izinkan aku kembali padanya dan memulai dari awal lagi. Aku berjanji tidak akan pernah menyakiti dia lagi. Aku mohon,” pintaku dengan suara memelas. Aku tidak peduli bila aku harus merendahkan diriku untuk bisa bersamanya lagi.


“Jawabanku tetap tidak,” kata Uncle Hendra dengan tegas.


“Kesalahan yang kamu lakukan ini sangat fatal, Colin. Bahkan Dira sendiri pun tidak mau kembali padamu. Kamu sudah melihat sendiri bahwa dia memutuskan semua hal yang ada hubungannya denganmu. Dia mengembalikan warna rambut aslinya,” kata Aunt Zahara penuh simpati.

__ADS_1


“Bila Uncle dan Aunt memberi aku restu dari kalian lagi, maka aku akan melakukan apa pun untuk bisa mendapatkan hati Dira lagi,” kataku menjelaskan maksudku.


“Tidak bisa begitu, Nak.” Aunt Zahara mendesah pelan. “Kalau kami memberi kamu restu, itu artinya kami mengkhianati pilihan putri kami sendiri. Dia sudah memutuskan untuk tidak akan pernah kembali lagi padamu. Aku tahu bahwa maksudmu baik. Tetapi caramu salah,” kata Aunt Zahara.


Yang Aunt Zahara katakan masuk akal. Jika aku mendapatkan restu mereka sebelum memenangkan hati Dira kembali, itu sama saja dengan aku memecah belah keluarga mereka. Satu berpihak padaku, ketika yang lain masih terluka karena tindakanku.


Ketika tidak ada lagi yang perlu kami bicarakan, maka mereka keluar dari ruangan untuk bergabung dengan para tamu. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku, mengaku kalah atas kesalahanku sendiri. Jika mereka tidak mengizinkan aku kembali pada Dira, bagaimana aku bisa mendekati dia lagi?


Vivaldo dan Nora sialan. Mereka tahu kelemahanku. Kalau aku tidak mendengarkan mereka, semua tidak akan jadi begini. Ah, sebentar. Aku juga tahu kelemahan mereka. Dan bila aku tidak salah lihat, maka Dira belum sepenuhnya bebas dari bahaya. Mereka sudah menyiapkan rencana lain dengan pemuda yang aku lihat bicara dengan mereka di restoran itu.


Bisa jadi ini adalah cara satu-satunya agar aku mendapatkan kepercayaan dari orang tua dan saudara gadis kesayanganku. Baiklah. Aku tidak akan menyerah hanya karena mereka tidak mau memaafkan aku. Batu saja bisa hancur karena dijatuhi tetesan air terus-menerus pada titik yang sama. Hati Dira dan keluarganya tidak terbuat dari batu. Mereka pasti akan luluh juga suatu hari nanti.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Dira yang tidak aku dengar memasuki ruangan. Dia menempati posisi di mana tadi Aunt Zahara duduk. “Apa kakimu tidak kesemutan berlutut terus seperti itu?”


“Aku harap kamu tidak mengatakan hal bodoh pada orang tuaku, karena Papa sangat membenci kamu. Dia berulang kali merencanakan berbagai macam cara untuk membalas perbuatan kamu. Mulai dari mematahkan tanganmu, mematahkan kakiku, bahkan mematahkan lehermu.” Dira menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


“Mengapa semuanya berhubungan dengan mematahkan bagian tubuhku?” tanyaku ngeri, tanganku refleks memegang leherku membayangkan sakitnya jika tangan besar Uncle Hendra menyentuh aku.


“Karena kamu sudah mematahkan hatiku.” Dira memutar bola matanya, menganggap konyol pertanyaanku tadi.


“Dira.” Aku berdehem, lalu menegakkan posisi dudukku. “Aku minta maaf. Aku sangat menyesal dengan apa yang sudah aku lakukan. Aku akan lakukan—”


“Black,” ucapnya tanpa mengalihkan pandangan matanya dariku. Gonggongan anjing menjawab panggilannya itu. Aku menoleh ke arah datangnya suara. Mengapa aku tidak mendengar mereka memasuki ruangan ini? “Kamu salah bicara sedikit saja, aku akan meminta Black kesayanganku untuk menggigit kamu lagi. Oh, iya. Ada Gold juga.” Anjing itu menyalak mendengar namanya.

__ADS_1


Aku spontan menaikkan kedua kakiku ke atas sofa saat melihat mereka menggeram menunjukkan barisan taring mereka yang tajam. “Aku meminta maaf padamu, mengapa kamu pikir aku akan salah bicara? Aku tidak akan menyakit kamu lagi, Dira.”


“Dasar pembohong. Jelas-jelas kamu mau meminta aku kembali padamu. Kamu selalu menggunakan semua kalimat itu setiap kali kamu meminta maaf. ‘Maafkan aku, aku menyesal, aku akan lakukan apa pun agar kamu memaafkan aku dan menerima aku kembali.’ Ayolah, Colin. Aku sudah mengenal kamu sejak kita masih mengompol di tempat tidur.”


“Oke. Aku mengaku, aku memang ingin kamu kembali lagi padaku. Tidak perlu dijawab, aku tahu kamu akan menjawab tidak. Tetapi bukan berarti aku akan berhenti mencoba,” kataku tidak mau kalah. “Saat ini aku akan menghormati permintaan kamu untuk menjaga jarak. Kamu sedang dalam fase penting karena akan menghadapi ujian nasional, jadi aku tidak akan mengganggu kamu.”


“Ini tidak sama dengan pertengkaran kita sebelumnya, Colin. Kali ini aku serius. Kamu melanggar peraturan besar kita dengan sengaja. Kamu selingkuh. Meskipun kamu melakukannya karena alasan yang bisa diterima, selingkuh tetaplah selingkuh. Air mata dan sakit yang aku rasakan ketika kamu melakukan semua itu nyata. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa aku akan menerima kamu kembali.”


*******


Sementara itu di sebuah apartemen mewah~


Seorang pria berkebangsaan asing sedang duduk dengan resah sambil menatap ponselnya. Dia berdiri begitu mendengar pintu elevator terbuka, lalu tertutup kembali. Seorang pria memasuki ruangan dan duduk di salah satu sofa yang tidak jauh darinya.


“Bagaimana? Apakah sudah ada kabar baik?” tanyanya tidak sabar.


“Dia masih menolak klien baru. Aku menawarkan jumlah uang yang sama, dia menjawab tidak.” Pria itu memijat keningnya, bersiap menerima reaksi dari rekan asingnya.


“Aku sudah bilang, naikkan tawarannya! Kalau perlu beri dia seratus juta dan kliennya meminta dia menemani liburan! Apa yang membuat kamu bertindak hati-hati begini? Dia tidak akan menolak uang sebanyak itu!” katanya frustrasi.


“Di situ letak masalahmu, Finn. Tidak semua orang suka dengan uang yang banyak. Semakin banyak yang kamu tawarkan, semakin mereka curiga. Itu yang dipikirkan oleh Mila. Dia bukan perempuan kebanyakan yang langsung bereaksi mendengar uang yang jumlahnya besar. Dia bahkan meminta aku untuk menangguhkan semua job baru selama tiga bulan ke depan.”


“Tiga bulan, katamu!? Aku tidak bisa meninggalkan perusahaanku selama itu untuk menyelesaikan kekacauan yang kalian sebabkan!”

__ADS_1


“Ini juga kekacauan yang semakin kamu perberat dengan datang kepadanya, mengaku sebagai ayahnya, dan dengan ceroboh mengejar dia sampai dia ketakutan!”


__ADS_2