
*Dira*
Aku masih tidak percaya Laras tega melakukan hal itu. Dia marah kepadaku, tetapi dia malah berniat menyakiti adikku. Bagaimana bisa dia tidak berpikir dua kali melihat anak-anak sekolah yang baru keluar dari gerbang itu? Mereka tidak bersalah.
Colin dan Lily juga hampir saja celaka karena ulahnya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepadaku senadainya saja aku kehilangan Colin secepat ini. Kami baru saja berbaikan setelah berpisah karena sebuah kesalahpahaman. Aku belum mau berpisah dengannya lagi.
Setiap malam aku bermimpi buruk. Aku hanya bisa menangis sendiri dan mencoba mengatasinya tanpa melibatkan keluarga dan orang yang aku sayangi. Mereka sudah punya masalah mereka masing-masing. Tetapi aku yakin, sama seperti kejadian saat videoku itu viral, mimpi ini juga akan berlalu. Aku hanya butuh waktu untuk memaafkan diriku sendiri.
Tindakan Reese yang memprovokasi Laras, bukanlah kesalahanku. Keputusan Laras untuk percaya kepada Reese tanpa mengonfirmasi informasi itu terlebih dahulu denganku, bukanlah ideku. Lalu perbuatan Laras yang menggunakan mobilnya untuk menabrak Adi, bukan karena aku. Itu semua adalah keputusan dan ide mereka sendiri.
Walaupun aku tidak membicarakan apa yang ada di kepalaku dengan kedua saudaraku, aku yakin mereka tahu bahwa aku masih merasa bersalah. Aku senang bisa mengobrol dengan mereka setiap malam sebelum tidur. Kebiasaan baru kami agar bisa tidur dengan nyenyak.
Hubungan Papa dan Mama sedang dingin. Aku tidak tahu apa yang terjadi, begitu juga Kakak dan Adi. Tetapi kami yakin mereka akan segera berbaikan kembali. Masalah yang kami alami pasti membuat hubungan di antara mereka memanas. Orang tua mana yang tahan melihat anak-anaknya tidak berhenti menjadi sasaran orang jahat.
Kami sedang berjalan menuju restoran pilihan Adi ketika seorang wanita menyebut nama Papa. Aku menoleh dan melihat seseorang memegang tangan Kak Hadi. Aku tidak mengenal wanita itu. Dilihat dari ekspresi wajah Kakak, dia juga tidak tahu siapa dia.
“Maaf, Tante. Anda salah orang,” kata Kak Hadi sambil menarik tangannya kembali.
“Oh. Maafkan aku.” Wanita itu menatap wajah Kakak dengan saksama. “Kamu sangat mirip dengan dia. Tetapi melihat kamu masih semuda ini, iya, aku salah orang.” Dia melihat ke arah aku dan Adi. “Ng, a-aku akan pergi. Sekali lagi, maafkan aku.”
Kami bertiga saling bertukar pandang. Wanita yang aneh. Wajah Kakak tidak semirip itu dengan Papa. Masa dia tidak bisa membedakan antara seorang pria dewasa dengan seorang pemuda? Tetapi wajah wanita itu terlihat tidak asing. Di mana aku pernah melihatnya?
“Kamu bisa melepaskan kacamata dan maskermu. Tidak akan ada orang yang mengganggu kamu sekalipun mereka mengenal kamu di sini,” ucap Kak Hadi setelah kami duduk di meja yang ada di restoran. Aku menurutinya.
Pelayan yang berdiri di samping meja kami pergi setelah mencatat pesanan kami. Adi mengeluarkan ponselnya dan sibuk sendiri dengan game daringnya. Aku melihat ke sekeliling kami dan bersyukur tidak ada orang yang aku kenal di rumah makan ini.
“Menurut kalian, apa wanita tadi terlihat tidak asing?” tanya Kak Hadi pelan. Adi menggeleng.
__ADS_1
“Aku merasa begitu tadi. Tetapi aku tidak tahu di mana aku pernah melihatnya,” jawabku jujur.
Kakak mengangguk pelan, lalu sibuk dengan pikirannya sendiri. “Mungkin dia wanita yang pernah menyukai Papa atau dekat dengannya. Sampai dia salah mengenali aku.”
“Bisa jadi. Aku tidak menyukai ini, Kak. Aku tahu bahwa Papa berhak mempunyai masa lalu. Tetapi aku tidak suka melihat caranya menatap Kakak. Dia seperti wanita yang sedang jatuh cinta,” ujarku tidak nyaman. “Pasti dia pernah suka dengan Papa.”
“Kamu cemburu?” goda Kakak. Aku cemberut. “Tenang saja. Papa tidak akan tergoda dengan wanita seperti itu. Mama jauh lebih cantik daripada dia. Satu hal lagi, Papa cinta mati kepada Mama.”
Aku mendesah pelan. “Semoga saja aku dan Colin tidak menemui masalah yang sama seperti mereka. Papa dan Mama sama-sama punya penggemar yang aneh.” Kakak dan Adi tertawa.
“Lupakan saja kejadian tadi. Jangan biarkan dia menghilangkan selera makanmu,” kata Kakak lagi.
Ucapannya benar juga. Aku tidak mengenal perempuan itu, untuk apa aku membiarkan dia mengisi kepalaku? Lagi pula Papa dan Mama bisa menjaga hubungan mereka dengan baik. Sudah ada banyak orang yang mencoba memisahkan mereka, syukurnya, mereka masih bertahan.
Kami pulang usai makan malam. Tetapi Kakak meminta izin kami untuk mampir sejenak ke rumah Clarissa. Tentu saja kami tidak keberatan. Setengah berlari, Kakak memasuki rumah itu dan kami menunggu di mobil. Bila kami masuk ke dalam, maka kami akan pulang lebih lama. Charlotte tidak akan membiarkan aku pulang tanpa mengobrol lebih dahulu.
Dia terlihat kusut dengan rambut berantakan dan bayangan hitam di bawah matanya. Aku tertawa melihat penampilannya yang tidak biasa itu. Dia sedang bergelut dengan kuesioner yang harus disebar dan diolah dengan hati-hati agar bisa mendapatkan kesimpulan untuk menjawab pertanyaan utama pada proposalnya.
Kakak dan Colin memang sangat berbeda. Kakak santai saja mengerjakan skripsinya, walaupun dia tetap serius. Colin justru harus mati-matian agar bisa selesai tepat waktu. Seharusnya aku memang tidak memberi tahu Kak Hadi mengenai rencana Colin tersebut. Kakak pasti masih fokus membantu Papa di kantor, sedangkan Colin maju sidang lebih dahulu.
“Menyesal kemudian tidak ada gunanya,” keluh Colin.
“Tidurlah, sayang. Masih ada hari esok untuk melanjutkan penelitianmu itu. Kalau kamu tidak tidur, aku juga tidak,” kataku setengah mengancam. Dia akhirnya mengalah dengan berdiri dan berbaring di tempat tidurnya. Aku belum mengucapkan selamat malam, dia sudah terlelap.
Pada keesokan harinya, aku meminta bantuan Om Zach untuk melakukan kunjungan. Aku tidak bisa melakukannya sendiri seperti saat aku mengunjungi Reese. Gadis kedua ini berbeda. Kami pernah bersahabat dan setiap kata jahat yang keluar dari mulutnya masih bisa menyakiti aku.
“Kamu yakin ingin melakukan ini?” tanya Om Zach sekali lagi. Aku mengangguk pelan. “Gadis ini sudah membunuh banyak orang. Dia tidak akan segan-segan menyakiti kamu, sayang.”
__ADS_1
“Aku tahu, Om. Tetapi aku perlu melakukan ini.” Aku menatap pintu menuju ruang tahanan tersebut tanpa ragu. Dia mengangguk mengerti, lalu memberi sinyal kepada petugas yang berjaga.
Pintu dibuka, aku bisa melihat jendela pemisah yang ada di sebelah kanan ruangan tersebut. Petugas yang menemani kami mempersilakan aku untuk duduk. Aku menurut dan Om Zach berdiri di sisiku. Pintu di ruang di depan kami terbuka, lalu Laras masuk bersama seorang polisi wanita.
Dia menatap aku dengan tajam, tetapi tidak menolak untuk duduk di depanku. Hanya ada jendela kaca di depan kami. Tidak seperti kantor polisi lain di mana Reese berada, di sini kami bisa bicara tanpa bantuan gagang telepon.
“Ada apa? Kamu mau menertawai aku?” tanyanya sinis. Dia menoleh ke arah Om Zach. “Kamu tidak berani datang sendiri, jadi kamu meminta pamanmu menemani kamu?” Dia tertawa kecil.
“Apa yang terjadi pada kita, Laras? Hubungan kita sangat baik sebelumnya,” kataku prihatin. “Aku dan kamu tidak pernah punya masalah dan saling mendukung. Ada apa dengan kita?”
Dia terdiam dan melihat ke arah kedua tangannya yang ada di tas meja. Dia memejamkan mata, kemudian membukanya. Mata yang semula arogan itu berubah sedih. “Aku jatuh cinta,” katanya pelan. “Aku jatuh cinta dan berhenti berpikir dengan logikaku.”
Dia tersenyum sedih. “Aku tahu yang aku lakukan salah ketika dia meminta agar hubungan kami dirahasiakan. Seandainya saja aku tidak percaya kepadanya, aku tidak akan menganggap semua orang sebagai musuhku. Bukan hanya kamu. Aku curiga kepada semua orang. Tetapi kamu yang paling aku benci, karena aku termakan fitnahan Reese.
“Aku tahu bahwa hubungan kalian tidak baik dan dia iri kepadamu. Tetapi aku tidak memikirkan itu. Yang aku jaga adalah agar hubunganku dengan dia tidak ketahuan. Aku membiarkan hatiku buta.” Air mata jatuh membasahi pipinya. “Aku melakukan segalanya demi dia, lihatlah di mana aku berada sekarang. Dia bahkan tidak satu kali pun mau menjenguk aku. Aku memang bodoh.
“Belasan orang mati sia-sia, karena aku tidak memakai logikaku. Aku membiarkan amarah yang mengendalikan setiap tindakanku. Aku sangat menyesal, Dira. Aku tidak tahu apakah kamu akan bisa memaafkan aku, tetapi aku tahu bahwa aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri.” Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Seandainya saja bisa, aku ingin sekali memeluk dia saat ini. Kami masih muda. Melakukan kesalahan adalah salah satu proses kami untuk belajar. Dia dan Reese mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Sayangnya, mereka harus menghabiskan masa muda mereka untuk waktu yang lama di balik jeruji besi. Kenyataan itu membuat aku tidak sanggup membenci Laras dan Reese.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Om Zach saat kami sudah berada di luar kantor polisi.
Aku mengangguk pelan. “Apakah ada yang bisa kita lakukan untuk menolong dia?” tanyaku lirih.
Om membelai rambutku membuat emosiku memuncak. Mataku memanas. Kalimat penyesalan Laras tadi mengiang di kepalaku. “Dira, kejahatan yang dia lakukan terlalu besar dan dilakukan dengan sadar. Polisi masih melakukan pemeriksaan, tetapi perbuatannya itu masuk dalam tindakan pidana. Orang tua remaja yang meninggal akibat ulahnya tidak akan rela dia dibebaskan begitu saja.”
Aku terisak, tidak sanggup membayangkan masa depan Laras yang hancur. “Sebagai tambahan, anak yang dalam kondisi kritis sudah meninggal dunia pagi ini. Total ada dua belas anak yang meninggal.”
__ADS_1