Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 95 - Berlibur Bersama


__ADS_3

Kenyataan memang menyakitkan. Hanya karena aku masih mencintai Dira dan berharap agar kami bisa kembali bersama, bukan berarti aku dan dia punya hubungan. Aku adalah laki-laki lajang. Gadis mana pun berhak untuk mendekatkan diri padaku. Seperti halnya Dira yang berhak untuk dekat dengan laki-laki lain.


Tidak. Aku tidak akan mengizinkan itu terjadi. Walaupun aku belum yakin bisa menjaga dia lebih baik dari sebelumnya, aku tidak kuat melihat dia bersama yang lain. Mengetahui Jordan berniat tidur dengannya saja sudah membuat aku bermimpi buruk berhari-hari.


Selama kami berada di tempat ini, aku akan mengawasi dia baik-baik. Beberapa pemuda melihat ke arahnya sepanjang kami berjalan dari konter check-in ke kabin pesawat. Masker dan topi tidak bisa menutupi bahwa dia adalah gadis yang menarik. Apalagi selama kami berlibur di sini. Pasti akan ada banyak pemuda yang berusaha untuk mendekati dia.


“Sebaiknya kalian jangan dekat-dekat aku atau Adi. Penampilan kaukasoid kalian menarik perhatian banyak perempuan.” Hadi meletakkan sepiring makanan dan secangkir kopi di atas meja. “Memilih meja di tengah-tengah ruangan juga bukan pilihan bijak.”


“Siapa yang datang duduk di dekat kami? Kamu. Bukan kami yang dekat-dekat dengan kamu,” ralat Wyatt. Dia menoleh ke arah pintu masuk. “Ah, gadis cantikku sudah datang.”


Kami serentak melihat ke arah yang menarik perhatian Wyatt. Charlotte, Dira, Clarissa, dan Wendy masuk bersama dengan tawa menghiasi wajah mereka. Dira melihat ke sekeliling ruangan, lalu kami bertemu pandang. Wajah bahagianya berubah cemberut sebelum dia membuang muka.


Mereka memilih salah satu meja yang dekat dengan jendela yang cukup jauh dari meja kami. Aku merasakan tendangan pada kakiku, lalu menoleh ke arah Wyatt dan Hadi. Wyatt yang melihat ke arah meja Dira juga mendadak menoleh. Dan aku tahu siapa pelakunya.


“Hadi, kamu tidak perlu menendang kakiku begitu,” protesku pada sahabatku.


“Oh. Jadi kamu yang menendang kakiku?” ucap Wyatt.


“Sikap kalian berdua memalukan. Berhenti melihat ke arah adikku dan temannya. Cepat, habiskan makanan kalian. Jangan sampai para gadis selesai lebih dahulu,” kata Hadi dengan tegas.


Usai menikmati makanan ringan dan secangkir kopi, aku dan Wyatt keluar dari ruang makan lebih dahulu untuk menyiapkan sepeda yang akan kami butuhkan. Petugas resepsionis meminta salah satu rekannya untuk mengantar kami ke tempat penyewaan sepeda.


Mereka punya dua puluh unit sepeda yang malangnya sebagian besar digunakan oleh pengunjung dan mereka belum kembali.  Hanya ada empat sepeda yang bisa dipakai berdua karena tersedia jok di atas roda belakang. Aku dan Wyatt saling bertukar pandang penuh arti.


“Aku yakin Dira tidak akan mau aku bonceng.” Aku membawa kedua sepeda ke pintu depan hotel.


Wyatt berjalan di sisiku dengan dua sepeda lainnya. “Charlotte juga tidak akan mau menaiki sepeda ini denganku.” Wyatt menggeleng-gelengkan kepalanya.


Keenam teman perjalanan kami sudah berdiri di dekat pintu masuk utama. Mendengar bunyi langkah kami, mereka serentak menoleh. Dira dan Charlotte mengerutkan kening mereka melihat sepeda yang kami bawa, lalu sedetik kemudian, mereka tersenyum.


“Aku mau sepeda warna merah!” sorak Dira yang segera mendekati Wyatt. Charlotte melakukan hal yang sama dengan mengambil alih sepeda berwarna putih yang aku pegang.


“Kita hanya mendapat empat sepeda, jadi kita harus berbagi,” ucapku menjelaskan. “Sepeda lainnya masih digunakan oleh pengunjung hotel.”

__ADS_1


Dira dan Charlotte serentak mendesah keras. “Ayo, Wendy. Aku akan bonceng kamu.” Dira melihat ke arah sahabatnya.


“Tidak. Biar aku yang bonceng kamu. Kamu tidak akan kuat membonceng temanmu sepanjang jalan nanti.” Hadi segera memberi sinyal agar adiknya duduk di belakang. Dira mengerang pelan, namun dia menuruti perintah kakaknya.


“Ayo, Adi. Kamu bersamaku saja,” ajak Charlotte dengan riang. Adi melirik ke arah Wyatt sebelum mendekati gadis itu.


Clarissa dan Wendy saling bertukar pandang. Wendy mendekati Wyatt, sedangkan Clarissa memilih aku. Tentu saja. Wendy dan Wyatt adalah teman sekelas, di sisi lain, aku dan Clarissa teman satu kampus. Jadi, ini adalah pilihan yang tepat.


“Apa kalian sadar bahwa kita satu sepeda dengan orang yang huruf depan namanya sama dengan kita?” canda Wyatt saat kami sudah berada di luar pekarangan hotel. “Wyatt-Wendy, Colin-Clarissa.”


“Mitosnya, kalau nama kita berawalan huruf yang sama, maka kita adalah jodoh,” kata Wendy. “Tetapi aku tidak sudi berjodoh denganmu, Wyatt.”


Aku dan Clarissa tertawa mendengarnya. “Charlotte tidak tertarik lagi pada Wyatt, jadi kamu punya banyak kesempatan untuk bisa dekat dengannya, Wendy. Wyatt adalah pemuda yang baik. Kamu tidak akan menyesal menjadi pacarnya.” Clarissa mengedipkan sebelah matanya.


“Tetapi bagi Wyatt, hanya Charlotte yang pantas untuknya. Apa kamu tidak tahu berapa banyak teman sekelas kami yang berebut menjadi pacarnya? Semuanya dia perlakukan dengan baik, sebatas teman. Tidak lebih. Ada satu gadis yang nekat menyatakan cinta dan Wyatt menolaknya,” kata Wendy bercerita.


“Gadis itu memohon agar Wyatt tidak mengatakan hal itu kepada siapa pun. Dan dia memegang janjinya tersebut. Kalian harus lihat gadis ini secara langsung, karena kalian tidak akan percaya bahwa Wyatt sanggup menolaknya. Dia cantik, berasal dari keluarga kaya raya, dan cerdas.” Dia sengaja memberi penekanan pada kata cantik dan kaya raya.


“Kalau kejadian itu adalah rahasia, bagaimana kamu bisa tahu?” tanyaku bingung.


“Karena Charlotte mengajak aku untuk melihat kejadian itu.” Wendy tertawa kecil. Dia dan Wyatt melihat ke arah kami penuh arti. “Charlotte tidak bisa menahan amarahnya dan dia bertengkar dengan Wyatt setelah gadis itu pergi.”


“Ah, aku ingat hari itu. Charlotte tidak cerita apa yang terjadi, tetapi dia sangat marah padamu. Jadi, itu yang terjadi di sekolah?” Clarissa tertawa geli.


“Sekarang kalian mengerti mengapa aku belum menyerah mendekati dia lagi.” Wyatt bicara dengan nada bangga. “Charlotte masih mencintai aku. Dia hanya butuh waktu untuk mengakui itu.”


“Semoga kamu beruntung,” ejek Wendy. “Charlotte dan Dira punya sifat yang sangat mirip. Mereka sulit untuk memaafkan orang yang mengkhianati mereka.”


“Sudah, sudah. Kita sedang berlibur. Berhenti membahas hal yang serius,” lerai Clarissa. “Aku belum pernah ke Bali, jadi aku tidak mau kalian merusak suasana liburan ini.”


“Kalian berenam memang sudah gila. Aku belum pernah mendengar ada tiga pasang mantan pacar berlibur bersama seperti ini.” Wendy menatap kami tidak percaya.


“Maaf, aku tidak mau ikut. Hadi yang memaksaku,” kataku membela diri.

__ADS_1


“Pembohong. Kamu bisa terus menolak atau tidak datang ke bandara. Jujur saja, kamu mau ikut karena ingin berlibur bersama Dira, ‘kan?” desak Wyatt.


Permintaan Clarissa kami abaikan. Kami terus saja membahas hal serius yang sesekali diselingi dengan topik yang santai. Wendy memanfaatkan keadaan untuk mengejek kami bertiga, tetapi Wyatt menanggapinya dengan lelucon yang membuat kami semua tertawa.


Kami berhenti bicara saat kami tiba di lokasi. Setelah memarkirkan sepeda dan menguncinya, kami berjalan bersama menuju sawah terasering yang sangat terkenal di Ubud. Dira dan Charlotte berjalan lebih dahulu di depan kami, diikuti Hadi dan Adi. Mereka sepertinya sudah biasa datang ke tempat ini.


Saat para gadis sibuk berfoto ria, aku dan teman-teman menikmati pemandangan di sekitar kami. Warna padi sudah menguning, dan padi pada beberapa lokasi sudah dipanen. Tetapi hal itu tidak mengurangi keunikan tempat ini.


Hadi memilih waktu yang tepat untuk datang ke tempat ini karena belum masuk hari libur sekolah. Jadi, kami lebih banyak bertemu dengan turis yang seusia dengan kami atau yang lebih dewasa. Jarang sekali yang datang membawa anak-anak.


Aku mengalihkan pandanganku saat lagi-lagi aku menatap Dira terlalu lama. Wendy benar. Kami sudah gila berlibur bersama seperti ini. Walaupun Hadi lebih pintar berpura-pura, tetapi dia juga sering aku dapati memerhatikan Clarissa dari jauh. Kami bertiga benar-benar pecundang.


“Hei, kita bertemu lagi!” Terdengar suara dari arah belakang kami.


*******


Sementara itu di suatu tempat~


“Mengapa mereka mengembalikan paket itu?” tanya Reese melihat kotak yang Cilla berikan pada kurir beberapa jam yang lalu, kembali ada di atas bufet di ruang depan.


“Hadi tidak ada di rumah, hanya itu alasan yang mereka katakan kepada kurir.” Cilla mengangkat kedua bahunya.


“Dia punya banyak pelayan, apa mereka tidak bisa menerima paket itu lalu menyimpan di kamarnya sampai dia kembali nanti?” tanya Reese tidak mengerti.


“Jangan tanya aku. Bukan aku yang minta paket itu dikembalikan.” Cilla kembali sibuk dengan ponselnya, mengisyaratkan bahwa dia tidak mau membahas hal itu lagi.


“Kalau begitu, biar aku sendiri yang mengantar paket ini.” Reese mengambil kotak itu, kemudian memanggil sopirnya agar mengeluarkan mobil.


“Reese, jangan mempermalukan dirimu sendiri. Mereka sudah menolak paketnya, untuk apa kamu datang mengantarnya? Apa kamu pikir mereka akan berubah pikiran bila kamu sendiri yang datang ke rumah mereka?” Cilla menghalangi Reese dengan berdiri di depan pintu.


“Minggir, Cilla. Mereka tidak akan menolak kalau aku sendiri yang datang. Mungkin mereka salah paham dengan paket ini. Aku perlu meluruskan masalahnya. Hadiah ini sangat mahal, jadi aku tidak akan membuang uangku dengan sia-sia.” Reese berusaha menggerakkan tubuh Cilla.


“Reese? Kamu mau ke mana? Sebentar lagi guru lesmu akan datang.” Bianca datang ke ruang depan membawa minuman dan makanan di atas sebuah baki.

__ADS_1


“Aku akan segera kembali, Ma. Ada urusan penting dengan calon menantu Mama.” Reese berhasil membuat Cilla bergeser dari depan pintu. Dia melesat menuju mobilnya yang sudah menunggu.


__ADS_2