Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 71 - Cinta Tak Berbalas


__ADS_3

*Hadi*


“Selama delapan belas tahun mencari cucu kami yang hilang, akhirnya kami bertemu lagi dengannya. Yang anehnya, melalui peristiwa yang kurang menyenangkan bagi seseorang yang kami sayangi. Tetapi seaneh apa pun semua ini berawal, kami bersyukur dipertemukan kembali dengan cucu yang sudah lama kami cari.” Om Edu mengulurkan tangannya agar Clarissa berdiri di sisinya.


“Aku perkenalkan kepada kalian semua, Clarissa Raina. Putri dari Matias Alexander dan Abigail White, kakak dari Charlotte Regina, cucu pertama dari Eduardo Abraham dan Lindsey Christina.” Lampu kilat dari kamera para wartawan terarah pada Clarissa dan keluarganya.


Asisten Om Edu mempersilakan para wartawan untuk mengajukan pertanyaan dan hanya memberi waktu lima belas menit sebelum acara makan malam dimulai. Aku mengerutkan kening tidak mengerti mendengarnya. Makan malam setelah sesi wawancara? Lalu bagaimana dengan rencana mengumumkan pertunangan aku dan Clarissa?


Merasakan sentuhan pada punggungku, aku menoleh ke sisi kiriku. Mama tersenyum kepadaku, lalu merangkul pinggangku. “Edu, Mason, dan istri mereka sepakat bahwa pengumuman pertunangan kalian perlu ditunda. Aku harap kamu bisa memahami keputusan mereka.”


“Pengumuman pertunangan kami ditunda? Apa alasannya?” tanyaku ingin tahu.


“Waktunya kurang tepat dan dengan berita yang sedang beredar, mereka perlu menenangkan isu tersebut sebelum memberi pengumuman besar lainnya.”


“Dan ini adalah keputusan kedua kakek dan nenek Rissa?” tanyaku lagi.


“Iya,” jawab Mama. Aku menoleh ke arahnya.


“Apa Mama pikir aku adalah anak kecil yang tidak bisa membaca situasi dengan baik? Jangan bohong padaku, Ma. Aku tahu bukan para orang tua yang ingin menunda pertunangan kami. Ini permintaan Rissa, ‘kan? Aunt Claudia sudah lama menunggu hari ini, tidak mungkin dia mau menunda hari ini lebih lama lagi. Meresmikan hubunganku dan Rissa adalah yang paling penting baginya dari sekadar menunjukkan kepada dunia bahwa Rissa adalah cucu yang dia cari-cari selama ini.”


“Aku tidak berbohong kepadamu. Itu adalah alasan yang Lindsey dan Claudia katakan kepadaku,” ucap Mama membela diri, yang aku yakin adalah kebenarannya. Karena aku melihat mereka berdua mengajak Mama bicara di sudut ruangan.


“Dan alasan yang diberikan Mason dan Edu kepadaku,” kata Papa menimpali. “Dengar, Nak. Aku tahu kamu kecewa dengan keputusan ini. Tetapi Rissa sudah mengalami banyak kesulitan dalam hidupnya, jadi kita biarkan dia menenangkan dirinya sejenak.”


“Kecewa tidak cukup untuk menggambarkan apa yang aku rasakan, Pa. Aku mengerti bila Rissa tidak mau meneruskan rencana kita hari ini. Tetapi Papa dan Mama seharusnya bisa menjelaskan kepada kakek dan neneknya bahwa ini tidak adil untukku,” protesku.


“Nak, kamu sudah tahu bagaimana kehidupan pernikahan aku dan mamamu. Menjalin hubungan dengan seorang gadis yang tidak mau bersamamu bukanlah hal yang baik. Kamu tidak bisa memaksa kehendaknya. Jika kamu memaksa acara pertunangan kalian tetap diadakan pada hari ini, sesuatu yang buruk akan terjadi. Lebih baik menghindar daripada menyesal, Hadi.”

__ADS_1


Aku tahu semua yang mereka alami dalam pernikahan mereka. Papa tidak perlu mengingatkan aku tentang itu terus-menerus. Setiap hubungan pasti mengalami kondisi bahagia dan sedih, apa mereka pikir aku tidak tahu hal itu?


“Papa lupa satu hal yang paling penting. Semua yang pernah Papa dan Mama alami dalam hubungan kalian yang telah memperkuat cinta di antara kalian. Bahkan pasangan yang saling mencintai pun mengalami jatuh bangun dalam pernikahan mereka.”


Orang tuaku terdiam dan aku bersyukur dengan itu. Aku tidak mau lagi mendengar nasihat mereka tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan. Mereka terus saja menganggap bahwa hubungan mereka tidak sempurna. Memangnya kapan aku meminta mereka menjadi orang tua atau suami istri yang sempurna? Mereka berdua berhasil mempertahankan pernikahan mereka, itu yang terpenting.


Dan aku ingin memiliki pernikahan yang kuat seperti itu. Aku tahu aku belum siap untuk menikah. Kehidupan seperti apa yang bisa aku berikan kepada istri dan anak-anak kami kelak bila aku masih kuliah dan belum punya pekerjaan? Tetapi aku yakin untuk menjalani hubungan yang serius dengan Clarissa. Aku siap untuk memberi tahu semua orang bahwa dia adalah tunanganku.


Lalu hanya karena berita buruk mengenai masa lalunya sebelum bertemu denganku, dia mundur dari rencana yang sudah kami susun dan sepakati. Apa dia pikir apa yang aku rasakan kepadanya ini hanya main-main dan tidak serius? Dia adalah orang pertama sejak aku kecil yang selalu aku pikirkan. Dan dia juga gadis pertama yang aku cintai, sangat aku cintai. Tega sekali dia melakukan ini.


Begitu lima belas menit berlalu, kami semua dipersilakan untuk menikmati makan malam yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Aku duduk bersama Colin, Adi, dan Wyatt. Sebisa mungkin aku menghindari Clarissa. Aku tidak siap untuk bicara dengannya.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Colin saat aku sudah selesai makan. Aku mengangguk. Dia melirik ke arah yang aku tahu di mana Clarissa, dan Dira, berada. “Berita yang beredar sepertinya membuat Clarissa berubah pikiran. Kamu tidak akan bicarakan ini dengannya?”


“Dia sudah memutuskan, maka aku tidak akan bisa mengubah pendiriannya. Untuk apa? Aku tidak akan mengemis agar dia memperkenalkan aku kepada semua orang sebagai tunangannya.” Aku berterima kasih kepada pelayan yang datang meletakkan sepiring potongan buah di atas meja.


“Aku tidak peduli.” Aku mengangkat kedua bahuku, acuh tak acuh.


“Apa Kakak akan memutuskan hubungan dari Clarissa?” tanya Adi menyimpulkan.


“Bukan aku. Dia yang memutuskan hubungan kami.” Aku mengambil garpu dan menusuk salah satu potongan semangka, lalu memasukkan ke mulutku. “Kalian lihat saja nanti.”


Kami hanya sempat bicara sebelum acara dimulai. Sampai seluruh wartawan pulang dan para tamu pamit pada tuan rumah, aku tidak punya kesempatan untuk bicara dengan Clarissa. Aku memang sengaja tidak datang kepadanya, dan dia jelas menghindar dariku.


Kakek dan Nenek yang dari tadi hanya melihat aku dari jauh, akhirnya datang mendekat. Orang tua Papa dan Mama menyatakan rasa turut sedih mereka atas batalnya pengumuman pertunanganku dengan Clarissa. Om Zach dan keluarganya juga mengucapkan hal yang serupa. Sayang sekali, aku belum sempat memperkenalkan dia secara khusus kepada mereka, hubungan kami justru berakhir.


“Hadi,” panggil Clarissa saat aku dan keluargaku akan pulang. “Bisa kita bicara sebentar?”

__ADS_1


“Kami akan menunggu di mobil.” Papa memberi tepukan pada bahuku sebelum lanjut berjalan menuju mobil kami bersama Mama dan kedua adikku.


“Ng, maafkan aku. Seharusnya aku memberi tahu kamu mengenai pembatalan acara pertunangan kita sebelum kamu melihatnya sendiri,” ucapnya pelan. “Kakek dan Nenek berkata ….”


“Itu bukan rencana mereka. Aku tahu bahwa kamu yang ingin membatalkan pertunangan kita.” Aku segera memotong kalimatnya itu.


“Hadi, kamu adalah seorang ahli waris pengusaha terhormat dan terpandang. Aku punya masa lalu yang akan membuat kamu ikut menjadi bahan gunjingan orang. Kita tidak bisa bersama. Tolong maafkan aku.” Dia meraih tanganku, lalu meletakkan sesuatu di telapak tanganku. Sebuah gelang yang aku berikan kepadanya. “Cari gadis lain yang lebih baik dariku.”


Aku menatap benda yang ada di tanganku itu. Keputusannya ini adalah sesuatu yang seharusnya dia pikirkan dengan serius dan matang. Mengakhiri sebuah hubungan bukan main-main. Perasaanku kepadanya tidak main-main. Tetapi dia menolak aku hanya karena gosip di media?


“Kamu harus tahu satu hal,” kataku pelan. “Aku menunggu kamu selama ini tanpa mengharapkan kamu akan kembali sebagai seorang bidadari yang turun dari langit. Aku adalah manusia biasa, jadi aku menanti seorang manusia biasa juga. Aku tidak pernah menuntut kamu menjadi sempurna, lalu mengapa berita tentang masa lalu kamu membuat kamu malu? Aku tidak malu mencintai kamu.


“Rissa, kamu adalah gadis yang tegar, mandiri, dan tentu saja kamu harus menerima tawaran terbaik untuk bertahan hidup dan membiayai pendidikanmu. Apa yang salah dengan menemani semua laki-laki itu dengan berpura-pura menjadi pacar mereka? Kamu tidak menjual tubuhmu. Jangan biarkan media merendahkan caramu lepas dari kelaparan.


“Mereka tidak tahu bahwa kamu harus membayar semua biaya yang dikeluarkan oleh orang tua angkatmu untuk membesarkan kamu. Orang tua yang telah seenaknya mengingkari janji mereka dan membuang kamu begitu saja. Mereka juga tidak tahu bahwa kamu membutuhkan uang banyak untuk mencari keluargamu. Tetapi aku tahu semua itu dan aku tetap ingin bersama kamu.


“Aku mencintai kamu, Rissa. Dengan cinta yang sama, aku menghargai keputusanmu ini. Aku tidak akan memaksa kamu untuk tetap bersamaku. Sepertinya cintaku tidak cukup kuat sehingga kamu tidak percaya bahwa aku mau berjuang bersamamu. Aku terima gelang ini kembali dan aku tidak akan mengganggu kamu lagi. Semoga kamu menemukan pemuda yang lebih baik dariku.”


“Maafkan aku, Hadi.” Dia menatap aku dengan mata berkaca-kaca.


“Tidak. Akulah yang meminta maaf.”


Aku segera membalikkan badan menuju mobil dan tidak melihat ke arah keluarganya. Mereka pasti sedang menatap aku dengan mata sedih. Aku tidak membutuhkan itu. Aku tidak butuh belas kasihan dari siapa pun. Hadiyan Bagas Perkasa adalah laki-laki yang kuat.


Keluargaku hanya diam dan tidak mengatakan apa pun saat aku masuk ke mobil, memasang sabuk pengaman, dan menatap ke arah depan. Pak Kafin mengendarai mobil menuju gerbang untuk keluar dari pekarangan rumah Clarissa.


Namun saat sebuah tangan menyentuh bahuku dari belakang dan meremasnya dengan pelan, benteng pertahananku rubuh. Aku terisak dan tangisku pecah. Hari di mana aku seharusnya berdiri dengan bangga di sisi tunanganku di depan semua orang, justru menjadi hari di mana hubungan kami berakhir. Mencintai seseorang yang tidak memiliki perasaan yang sama sangat menyakitkan.

__ADS_1


__ADS_2