
“Bagaimana dengan Mila? Sudah ada petunjuk baru?” tanya Papa. Aku segera menganggukkan kepalaku. Aku memberi tahu semua yang aku tahu dari dia dari percakapan kami semalam, tentang keluarga Foster, Parapat yang menjadi tempatnya bertemu dengan keluarga angkatnya tersebut, juga mengenai niatnya untuk membantu melakukan tes DNA kedua.
“Kamu memberi tahu dia tentang itu? Mengapa?” Papa yang semula mengetikkan sesuatu pada tabletnya, mengangkat kepalanya dan menatap aku dengan serius.
“Dia curiga dengan sikap Tante Lindsey dan semua orang dewasa ketika menyambut dia pada acara ulang tahun Dira. Jadi, dia meminta waktu untuk bicara denganku tadi. Dia bertanya apa aku kenal dengan orang tuanya. Maka aku jawab dengan jujur mengenai kecurigaan kita dan tes yang sudah kita lakukan.” Aku menelan ludah dengan berat melihat Papa diam sejenak.
“Apa tanggapannya?” tanya Papa kemudian.
“Dia tidak percaya bahwa dia bisa mirip dengan Aunt Abby dan Claudia tanpa ada hubungan darah sama sekali. Jadi, dia menawarkan diri untuk ikut membantu tes yang kedua,” jawabku pelan, mulai khawatir dengan reaksinya.
“Kamu juga memberi tahu dia mengenai rencana kita itu?” tanya Papa tidak percaya.
“Pa, aku tahu bahwa ini masih rahasia. Tetapi Mila berhak untuk mengetahuinya juga. Bukankah dengan melibatkan dia, maka hasil tesnya akan lebih akurat? Aku tahu bahwa ini berat bagi Om Edu, terutama Tante Lindsey. Kita sudah sedekat ini, Pa. Kita hampir menemukan Clarissa.”
“Aku mengerti perasaanmu, Nak. Tetapi kita harus lebih mengutamakan perasaan sahabat kita daripada orang yang baru kita kenal. Kita harus melindungi Edu dan Lindsey yang sudah belasan tahun menderita karena kehilangan cucu mereka. Kamu sudah lihat sendiri bagaimana patah hatinya Lindsey saat tahu hasil tes tersebut negatif.” Papa mendesah pelan.
“Seandainya saja dia punya sedikit kenangan mengenai masa kecilnya. Itu akan sangat membantu. Tetapi seorang gadis kecil berusia tiga tahun agak sulit untuk mengingat masa kecilnya. Apalagi bila dia tumbuh besar dengan membawa banyak trauma.” Papa meletakkan tabletnya di atas meja. “Kita tunggu hasil penyelidikan Irwan dari informasi yang kita dapat mengenai Mila.”
Aku mengangguk pelan, lalu teringat dengan pesan Mila semalam. “Aunt Claudia dan keluarga akan tiba pada hari Senin nanti. Apa aku bisa mengundang Mila untuk hadir pada perayaan ulang tahun Adi?” tanyaku berhati-hati.
“Bagaimana dengan Colin? Bukankah dia memperkenalkan gadis itu sebagai pacarnya kepada semua orang?” tanya Papa bingung.
“Itu hanya sandiwara, Pa,” jawabku. Kerutan pada kening Papa semakin dalam. “Kita sama-sama tahu bahwa Mila tidak berasal dari Amerika, jadi semua itu hanya akting mereka.”
“Mengapa Colin melakukan itu? Mengapa dia menyakiti putriku dengan pura-pura berpacaran dengan yang lain?” Intonasi suara Papa mulai naik.
__ADS_1
“Aku benar-benar tidak tahu, Pa. Dia juga tidak mengatakan alasan yang sebenarnya kepadaku,” jawabku dengan jujur.
“Kalian ini sama sekali tidak menghargai perasaan orang lain, juga tidak menepati janji sendiri. Kalau hati sudah disakiti, sulit untuk memulihkannya lagi. Awas saja kalau anak bodoh itu berubah pikiran dan mendekati putriku lagi. Katakan itu kepadanya. Dia jelas sekali menghindari aku karena takut aku akan mematahkan lehernya.” Papa menggeram kesal. Aku mengangguk kecut.
“Mengenai Mila, jawabanku tidak. Dia tidak boleh hadir pada acara ulang tahun Adi. Tetapi aku akan bicara dengan Mason dan Claudia. Bila mereka memberi lampu hijau, maka aku akan memberi tahu kamu,” ucap Papa dengan tegas. Melihat antusiasme Aunt Claudia yang langsung terbang ke sini begitu mendengar tentang Mila, aku yakin dia akan menjawab iya.
Kami makan siang berdua saja di ruang makan, lalu duduk santai di ruang keluarga. Papa menonton siaran berita di televisi dan berulang kali memeriksa ponselnya bila ada pesan yang masuk. Aku sudah memberi tahu Mila mengenai jawaban Papa, dan dia sangat kecewa. Tetapi aku tidak bisa apa-apa. Ini adalah rumah Papa, maka dia yang membuat peraturan.
Ponselku bergetar dan aku melihat ada pesan baru dari Dira. Dia mengajak aku untuk berkunjung ke tempat kerja Wendy. Dia rindu kroisan kesukaannya yang hanya disediakan oleh kafe kopi tersebut. Membayangkan macetnya kota pada Sabtu sore menggoda aku untuk menjawab tidak. Tetapi adikku mungkin butuh pengalihan agar tidak memikirkan masalah asmaranya, jadi aku menjawab iya.
Papa hanya meminta agar aku berhati-hati menyetir ketika aku pamit. Aku menghabiskan satu jam lebih untuk tiba di kafe kopi di mana Wendy bekerja. Padahal lokasinya tidak jauh dari sekolah mereka, tetapi akhir pekan membuat perjalanan menjadi beberapa kali lipat lebih lama.
Melihat Dira dan Adi belum datang, aku memesan makanan dan minuman lebih dahulu. Kapucino dan kroisan pesananku diantar langsung oleh Wendy yang duduk sejenak untuk menemani aku. Dia segera berdiri saat ada rombongan pemuda memasuki kafe. Tenaganya akan dibutuhkan untuk mengantar pesanan tamu ke meja mereka nanti.
“Kamu sendirian?” tanya seorang pemuda yang suaranya sudah familier di telingaku. Aku menoleh dan melihat dia sedang melihat ke sekeliling kami.
“Dira.” Dia duduk di kursi kosong yang ada di depanku. “Atau bisa jadi Mila.” Aku tersenyum tipis mendengarnya menyebut nama itu. “Kamu merusak semua rencanaku. Apa kamu tidak tahu berapa banyak uang yang aku habiskan untuk membayar jasanya?”
“Itu masalahmu sendiri. Bukan masalahku. Lagi pula kamu tahu yang namanya kebohongan, suatu hari nanti akan terungkap juga. Kamu sudah belasan tahun menjadi sahabatku. Apa kamu pikir aku tidak akan tahu kalau kamu sedang berbohong? Bangun, Cole.” Aku menggeleng tak percaya.
“Dira sekarang pasti tidak percaya kalau aku serius mengakhiri hubungan kami.” Dia berdecak pelan.
“Apa maksudmu?” Aku tertawa geli. “Kamu dan adikku sudah putus. Di mana letaknya dia tidak menganggap serius berakhirnya hubungan kalian?”
“Aku tahu Dira. Begitu dia tahu bahwa Mila bukan pacar sungguhan aku, dia pasti mulai berpikir bahwa kami masih bersama,” ucapnya serius.
__ADS_1
“Kamu tidak tahu apa-apa tentang adikku.” Begitu dia melihat penampilan baru Dira nanti, dia akan mengerti apa yang aku maksudkan. Yang benar saja adikku tidak serius dengan putusnya hubungan mereka. Apa dia pikir hanya dia satu-satunya laki-laki yang ada di dunia ini?
“Apa ini, Kak? Mengapa Kakak tidak memberi tahu bahwa dia juga akan ikut menemui kita?” ucap Dira yang baru datang bersama Adi. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. “Jangan bilang teman bodoh kakak ini mulai berpikir untuk meminta aku kembali padanya, karena aku tidak sudi punya hubungan apa pun lagi dengannya.”
Aku tersenyum melihat Colin membelalakkan matanya dan mengangakan mulutnya. Dira sudah tidak lagi berambut cokelat seperti dia. Rambut hitam alaminya kini membuat kulit pucat wajahnya semakin kontras. Sudah tidak ada lagi jalan bagi mereka untuk bersama.
“Oh. Karena kamu diam saja, jadi dugaanku benar? Kamu meminta kakakku untuk mengajak kamu ke sini supaya bisa bertemu denganku?” tanya Dira mengonfirmasi.
“Kami tidak sengaja bertemu. Dia akan kembali duduk bersama teman-temannya. Kamu duduklah. Katakan kamu mau minum dan makan apa, biar Adi yang pesan.” Aku memberikan selembar kartu debit yang tadi aku pakai untuk membayar pesananku. “Aku yang traktir.”
“Aku boleh pesan apa saja?” Mata Adi berkilat bahagia. Aku mengangguk. Memangnya dia mau beli apa dengan kartuku itu? Tidak ada makanan atau minuman mengandung emas di kafe ini sampai dia terlihat sesenang itu menghabiskan uangku.
“Kalau begitu, ah, aku kembali ke mejaku.” Colin berdiri. Dira segera duduk di sebelahku agar dia tidak berdiri berdekatan dengan mantannya itu. “Sampai nanti.”
Aku membalas ucapan sahabatku, sedangkan Dira hanya cemberut. Dia mengambil salah satu kroisan yang ada di atas piringku dan memecahnya menjadi dua. Sebagian dia letakkan kembali di atas piring, lalu setengah bagian lagi disantapnya dengan kesal.
“Hei, apa di sini ada pegawai yang bernama Wendy?” Terdengar seruan seorang wanita dari arah kasir. Karena suaranya cukup keras, dia pun segera menjadi pusat perhatian.
“Mengapa kita harus bertemu dia lagi, sih? Apa aku tidak akan pernah diizinkan hidup damai satu hari saja?” gerutu Dira yang meletakkan kroisan di tangannya ke atas piring. “Ada urusan apa lagi dia dengan sahabatku?”
*******
Author’s Note~
Selamat Hari Kartini pada seluruh perempuan hebat Indonesia. Jangan dengarkan mereka yang berkata sebaliknya. (。・ω・。)ノ♡
__ADS_1
Salam sayang,
Meina H.