
Hal yang paling aku nantikan dalam hidupku adalah bertemu dengan orang tua dan seluruh keluarga kandungku. Siapa pun mereka, apa pun adanya mereka, kelas sosial mereka, aku tidak peduli dengan semua itu. Aku hanya ingin memiliki keluargaku sendiri. Bukan keluarga yang hari ini menyayangi aku, lalu membuang aku pada keesokan harinya.
Aku tidak bisa menyangkal bahwa aku dan wanita bernama Hannah itu memiliki sedikit kemiripan. Tetapi aku dan pria di hadapanku ini sama sekali tidak punya kesamaan fisik. Dira yang mirip ibunya saja, bila tertawa akan terlihat mirip dengan ayahnya karena struktur gigi mereka sama.
Yang paling mengganggu pikiranku adalah pria ini mengawali ceritanya dengan menunjukkan foto istrinya yang mirip denganku, perjalanan yang mereka lakukan sehingga kehilangan putri mereka, dan menunjukkan paspor lama yang tidak bisa membuktikan bahwa kami ada hubungan darah. Dia sama sekali tidak punya foto kebersamaan kami.
Lagi pula bagaimana aku bisa tahu bahwa semua ini benar? Dia sendirian dan tidak ada orang lain yang bisa membantu dia menyatakan bahwa foto dan paspor ini adalah benar. Aku bahkan baru tahu seorang pria gemar membawa paspor putrinya yang sudah lama hilang ke mana pun dia pergi.
Berbeda dengan semua orang dewasa yang menghadiri perayaan ulang tahun Dira. Mereka terkejut melihat kehadiranku dan fokus mengajukan pertanyaan yang ada hubungannya denganku. Siapa namaku, di mana aku tumbuh besar, siapa keluargaku. Tidak satu kali pun pada malam itu, mereka memberi petunjuk bahwa mereka curiga aku adalah seseorang yang mereka cari-cari.
Dengan jumlah orang sebanyak itu, mereka tidak mungkin berbohong. Bila aku meminta bukti, aku yakin mereka punya banyak dokumentasi masa kecilku. Aku yakin bahwa mereka masih menyimpan banyak foto atau bisa jadi videoku atau seorang gadis kecil yang mirip aku.
Apa tidak pernah tebersit di benak pria ini bahwa aku bisa saja anak kandung dari pasangan yang tidak pernah menyebut bahwa mereka mengadopsi aku? Apa dia tidak sedikit pun khawatir akan membuat aku trauma dengan fakta yang baru saja dia bukakan? Karena aku tahu, itulah yang dikhawatirkan oleh Om Edu dan Tante Lindsey saat menginterogasi aku secara halus.
“Aku tidak tahu mengapa Anda begitu yakin bahwa aku adalah anak Anda yang hilang. Aku tumbuh besar di kota ini dan punya orang tua juga saudara perempuan. Namaku Mila Foster, bukan Mila Meredith Jones. Aku turut bersimpati dengan apa yang menimpa Anda, tetapi sekali lagi, Anda salah orang.” Aku mengembalikan paspor tersebut.
“Kamu punya keluarga?” tanya pria itu pelan, lalu dia tertawa sedih. “Tentu saja. Apa yang aku pikirkan? Mengapa aku berasumsi bahwa kamu tumbuh besar tanpa keluarga? Maafkan aku. Apa mereka bersikap baik kepadamu?”
“Kita adalah orang asing yang tidak saling mengenal. Maaf, aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu, terlalu pribadi. Aku sebaiknya pergi sekarang. Semoga Anda segera menemukan putri Anda.” Aku menyandangkan tas di bahu dan berdiri.
“Apa kamu tidak percaya kepadaku? Itukah sebabnya kamu tidak mau mempertimbangkan apa yang baru saja aku ceritakan kepadamu? Aku tidak tahu apa yang keluargamu katakan mengenai kamu, tetapi bisa jadi mereka bukanlah orang tua kandungmu. Mengapa kamu tidak melakukan tes DNA untuk mencari tahu kebenarannya?” katanya memberi saran.
“Orang tua kandung atau bukan, mereka adalah orang yang telah berjasa membesarkan aku. Maaf, aku tidak bisa melukai perasaan orang yang sudah begitu baik kepadaku.” Aku tersenyum. “Terima kasih atas tehnya. Selamat tinggal.”
“Tunggu.” Aku terpaksa berhenti melangkah saat tangannya memegang lenganku. “Aku sudah lama mencari putriku. Sungguh. Aku tidak pernah berhenti mencari di mana dia berada. Aku mohon. Tolong, bantu aku supaya aku bisa melanjutkan hidupku dan berhenti mencari dia. Beri aku satu kepastian saja.” Ada nada penuh harap pada suaranya.
__ADS_1
“Apa maksud Anda?” tanyaku waswas.
“Ikut aku untuk melakukan tes DNA.” Apa dia tidak salah bicara? Dia yang dari tadi menyebut nama istri dan anaknya tetapi tidak dengan namanya sendiri, meminta aku untuk tes DNA? Pria ini tidak bersikap layaknya seorang ayah yang kehilangan putrinya. Dia bersikap seperti … entahlah.
“Wah, wah, wah. Siapa pria tampan ini, Mila? Kalian kelihatannya sangat akrab.” Aku memutar bola mataku mendengar suara itu di dekatku, sekaligus lega dia telah menginterupsi kami. Karena pria itu segera menarik tangannya dari lenganku. “Hai, aku Reese Foster. Dan kamu adalah?” Gadis itu mengulurkan tangannya dengan penuh percaya diri.
“Colton Jones.” Pria itu menjawab tanpa menjabat tangan Reese. Colton Jones? Dia menoleh ke arah pria dan wanita yang berdiri di belakang Reese dengan wajah khawatir.
“Reese, tolong, jangan buat kami malu. Ayo, kita pergi dari sini,” ucap Bu Foster yang memegang lengannya dan menariknya untuk mengikutinya. “Maafkan sikap putriku. Kami permisi.”
“Tunggu, Ma. Kalian butuh bukti, maka aku akan memberikannya.” Reese menarik diri dari mamanya. “Ada hubungan apa antara kamu dengan Mila?”
Aku tidak punya waktu untuk dramanya, jadi aku memutuskan untuk pergi. Lagi pula aku tidak mau pria ini sadar bahwa aku berbohong mengenai keluargaku. “Kalian silakan lanjutkan bicara. Aku permisi.” Aku mengangguk ke arah Bapak dan Ibu Foster sebelum pergi.
“Silakan pikirkan apa saja yang kalian mau. Aku tidak peduli. Aku hanya minta, jangan libatkan aku lagi dalam drama keluarga kalian. Aku adalah pencuri, pemalas, tukang contek, penggoda, dan tidur dengan banyak laki-laki sejak masih usia sekolah.” Aku menatap Reese dengan serius. “Apa kamu puas sekarang?”
“Wow, Mila.” Dia tertawa terkejut sehingga pegangannya pada lenganku melonggar. Kesempatan itu aku gunakan untuk menarik tanganku dan pergi dari tempat itu. Aku lelah berusaha membuktikan diriku adalah orang baik-baik di hadapan orang yang tidak mau percaya padaku.
Dasar bodoh. Seharusnya aku tadi tidak mendengarkan permintaan pria itu. Bila aku segera pulang usai menonton film, aku tidak akan bertemu dengan Reese. Oh, Tuhan. Apa aku akan terus dikutuk dengan tidak bisa lepas dari perempuan itu seumur hidupku? Apa salahku padanya?
Aku segera berlari saat melihat pintu elevator terbuka dan orang-orang yang menunggu mulai masuk ke lift tersebut. Untung saja aku tepat waktu dan ruang sempit itu masih muat untuk satu orang lagi. Aku melihat tombol lantai dasar sudah menyala, maka aku berdiri dengan tenang.
Pintu elevator itu hampir tertutup ketika tiba-tiba terbuka lagi dan seorang pria muncul di depan kami semua. Bukannya masuk, dia malah menyapukan pandangan mencari seseorang, atau lebih tepatnya aku. Untuk apa lagi pria ini mengikuti aku?
Untuk kesekian kalinya dalam hidupku, aku tidak suka bertubuh lebih tinggi dari orang kebanyakan. Dia menemukan aku dan masuk ke lift. Tetapi alarm segera berbunyi menandakan bahwa elevator kelebihan muatan. Spontan semua orang melihat ke arahnya.
__ADS_1
“Mila,” panggilnya dengan wajah memelas. Aku hanya menatap lurus ke depan, berpura-pura tidak mengenal dia atau namaku sendiri.
Orang-orang mulai resah dan meminta dia untuk segera keluar. Karena aku bergeming, dia akhirnya keluar dan pintu elevator pun tertutup. Aku menggunakan waktu menunggu sambil memesan ojek daring untuk pulang. Tiba di lantai dasar, aku bergegas menuju pintu keluar. Sesekali aku menoleh ke belakang, tetapi pria itu tidak terlihat mengikuti aku.
Aku baru bisa bernapas lega saat aku tiba di kamar sewaku. Hal pertama yang aku lakukan adalah mencari unit apartemen kosong terdekat dari kampus. Bila ada yang mengikuti aku, maka aku perlu pindah ke tempat di mana tamu tidak akan bisa memaksa masuk ke lokasi khusus penghuni.
Pria tadi tidak mungkin ayah kandungku. Kalau pun benar, aku tidak mau tinggal bersamanya atau bertemu dengannya lagi. Karena foto anak perempuan pada paspor itu membuat aku tidak nyaman. Mata gadis itu terlihat kosong dan bibirnya tertutup rapat seolah-olah dia terpaksa menatap kamera.
Aku mengenal ekspresi wajah itu dengan baik. Itu adalah aku setelah wanita dan pria yang mengaku sebagai orang tuaku itu meninggal dunia. Ketika aku hidup bahagia bersama keluarga Foster, aku telah berjanji pada diriku sendiri. Aku tidak akan membiarkan siapa pun membuat aku tidak bahagia, sekalipun mereka adalah orang tua kandungku sendiri.
Jadi, aku harus pindah ke tempat yang lebih aman. Pria itu sampai mengejar aku ke elevator setelah aku berkata tidak. Ada yang salah di sini. Aku tidak tahu apa, tetapi perasaanku mengatakan agar aku tidak percaya pada semua perkataannya tadi.
*******
Sementara itu di sebuah rumah~
Dira tertawa terbahak-bahak. “Oh, ya, ampun!” Dia kembali tertawa. “Ree … Reese pasti sedang uring-uringan saat ini. Belum pernah satu kali pun videonya dibiarkan viral selama berjam-jam oleh agensinya.” Dia segera duduk mendekat ke arah Hadi. “Kakak lihat itu? Ekspresinya saat Kakak memberinya ultimatum? Lucu sekali!”
“Iya, aku sudah lihat. Kamu ini senang sekali melihat rivalmu menderita.” Hadi mengacak-acak rambut adiknya itu dengan gemas.
“Itu karena dia sudah jahat pada semua orang. Dia pantas untuk dipermalukan seperti ini untuk memberi efek jera. Jadi, lain kali dia akan berpikir sebelum berbuat. Ruang pesan agensiku saja sampai penuh dengan ucapan teman-teman yang histeris melihat video viralnya.” Dira kembali ke posisi duduknya semula.
“Agensinya juga bodoh. Mereka selalu menutupi kesalahannya sehingga dia makin kurang ajar.” Adi menggeram kesal. Hendra segera menegur putra bungsunya itu. “Papa belum lihat bagaimana dia berulah, sih. Dia semenjengkelkan itu. Kakak selalu jadi bahan bulan-bulanannya.” Hadi dan Dira segera menatap adik mereka dengan tajam. Adi menutup mulut dengan tangannya. “Uups.”
“Ada orang yang menjadikan putriku sebagai bahan bulan-bulanan dan kalian tidak pernah memberi tahu aku tentang ini?” tanya Hendra dengan mata berapi-api.
__ADS_1