
“Papa melakukan hal yang benar dengan meminta kamu tinggal bersama kami,” ucap Hadi saat kami sudah berada di dalam mobil. “Pria itu tahu kamu tinggal di tempat ini, maka kemungkinannya dia menyuruh seseorang mengikuti kamu atau dia mengamati gerak-gerik kamu pada malam itu.”
Aku sangat berhati-hati dan aku yakin tidak ada orang yang mengikuti aku. Apakah mungkin dia tahu karena aku tadi ke kampus? Untuk apa laki-laki itu menginginkan aku? Bagian itu yang tidak aku pahami. Bila dia mencintai Aunt Abby, lalu apa yang dia mau dariku? Wanita yang dia cintai telah meninggal dunia. Untuk apa dia masih berusaha memisahkan aku dari keluargaku?
Keluarga Tante Lindsey juga Aunt Claudia kelihatannya baik. Aku tahu bahwa menjadi orang baik bukan berarti tidak ada yang memusuhi kita. Tetapi membunuh anak dan menantu mereka, lalu memisahkan mereka dari cucu mereka, bukankah itu sangat kejam? Untuk apa dia melakukan semua ini? Keuntungan apa yang dia dapatkan dari penderitaan kami?
“Hei, kamu tidak apa-apa?” Aku kembali melompat terkejut saat merasakan tanganku disentuh. “Mila, apa melamun adalah hobimu?” tanya Hadi setengah menggoda.
“Berhenti menggodaku, Hadi.” Aku melihat ke sekeliling kami. Mobilnya berhenti tepat di depan rumahnya. Seorang pria sudah menunggu di samping pintuku. “Oh. Kita sudah sampai.”
“Karena itu aku memanggil kamu supaya kamu berhenti melamun.” Dia tertawa kecil saat membuka pintu mobil di sisinya. Pria yang berdiri di sisiku membukakan pintu untukku.
Hadi membawa ranselku, sedangkan pria lain yang juga menyambut kami membawakan koperku. Sudah tidak ada lagi anggota keluarganya yang terjaga atau mungkin mereka punya aktivitas di kamar masing-masing. Seorang pria yang dipanggil Pak Abdi mengantar kami ke sebuah kamar yang ada di lantai dua.
Kamar yang mereka pilihkan untukku sangat besar. Warna yang mendominasi ruangan itu netral sehingga tidak memberi kesan feminin atau maskulin. Warna krem bercampur dengan putih dan cokelat tua. Ada dua pintu di sebelah kanan kamar dan jendela besar di depanku. Tempat tidur berada di dekat dinding sebelah kiri.
Hadi membuka salah satu pintu yang ada di sebelah kanan kamar. “Ini adalah ruang pakaian. Kamu bisa letakkan pakaianmu di sini atau kalau kamu tidak mau repot, koper kamu bisa diletakkan di atas bufet ini.” Lalu dia membuka pintu di sebelahnya. “Dan ini adalah kamar mandi. Tersedia air panas dan dingin, kamu tinggal perhatikan kerannya saja.”
“Terima kasih banyak. Kamar ini besar sekali. Apa semua kamar di rumah ini sebesar ini?” tanyaku masih terkejut.
“Hanya kamar di lantai ini. Kamar para pelayan di lantai bawah tidak sebesar ini, tetapi nyaman untuk mereka tinggali. Apa kamu membutuhkan sesuatu? Itu air minum dan makanan ringan siapa tahu kamu lapar dan haus nanti. Aku ada di kamar sebelah kanan bila kamu membutuhkan aku.”
“Ng, semua yang aku butuhkan sepertinya sudah tersedia. Aku akan baik-baik saja, terima kasih. Aku hanya butuh istirahat agar tidak terlambat ke kampus besok.” Aku tersenyum padanya. “Terima kasih untuk hari ini, Hadi. Selamat malam.”
“Selamat malam.” Dia meletakkan tangan kanannya di punggung bawahku, lalu mengecup pelipisku. Tubuhku membeku merasakan sentuhan sedekat itu. Dia yang mendadak berhenti bergerak juga pasti merasakan hal yang sama. “Ah, ma-maafkan aku. Aku tidak bermaksud … aku ….”
“Ti-tidak apa-apa. Ng, a-aku akan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.” Aku menjauhkan diri darinya dengan canggung. Dia juga mundur satu langkah. Ke kamar mandi. Apa yang aku pikirkan? Apa aku tidak punya alasan lain yang lebih elegan?
__ADS_1
“I-iya. Aku kembali ke kamarku sekarang. Selamat malam.” Dia bergegas membuka pintu, keluar dari kamar, lalu menutupnya kembali.
Aku menatap pintu untuk sesaat. Ketika aku merasakan wajahku memanas, aku menyentuh kedua pipiku dan dugaanku benar. Wajah dan leherku terasa hangat. Lalu aku tertawa kecil. Hadi yang biasanya bersikap tenang, dingin, dan selalu penuh perhitungan ternyata bisa salah tingkah juga.
Hari ini adalah hari yang sangat emosional. Aku tidak tahu mengapa dia mencium aku tadi, tetapi aku tidak merasa marah atau keberatan dengan itu. Bukan hanya kecupan, hari ini dia cukup sering menyentuh aku setiap kali ada kesempatan. Memegang tangan atau lenganku saat aku melamun, dan dia seperti sengaja berlama-lama menyentuh aku. Dia juga cukup sering aku dapati sedang menatap aku ketika mata kami bertemu pandang.
Ah, tidak mungkin. Ini pasti hanya perasaanku saja. Apa yang dia lakukan hari ini tidak mungkin karena dia punya perhatian khusus kepadaku. Kami hanya berteman. Dia sendiri sering menegaskan hal itu lewat kata atau balasannya pada pesanku. Iya, kami hanya berteman.
Tinggal di rumah mereka sangatlah menyenangkan. Bukan hanya orang tua dan adiknya, seluruh staf yang bekerja di rumah mereka juga sangat baik dan ramah. Aku diperlakukan sama seperti mereka melayani keluarga Hadi. Kadang-kadang aku merasa tidak enak setiap kali mereka membuatkan minum atau makanan ringan untukku.
Setiap sore usai kuliah dan belajar, Charlotte selalu mengajak aku untuk bertemu dengannya. Kami makan bersama sambil membicarakan banyak hal. Tentu saja dia yang lebih banyak mendominasi pembicaraan. Hadi dan Wyatt yang sepertinya sudah biasa dengan sikapnya itu tidak protes sama sekali. Mereka bahkan terlihat nyaman saja menyantap makanan mereka.
Sejak insiden yang terjadi pada malam pertama aku menginap di rumah mereka, sikap Hadi padaku sangat hati-hati. Dia meletakkan kedua tangannya di belakang tubuhnya setiap kali kami berjalan beriringan. Bila aku melamun dan dia ingin menarik perhatianku, maka dia akan melambaikan tangannya di depan wajahku. Yang paling lucu, dia selalu memberi jarak setiap kali kami bicara saat sedang berdiri. Mungkin dia ingin mencegah dirinya melakukan kecerobohan lagi.
“Bagaimana, Pa? Apakah sudah ada kabar dari Aunt Claudia?” tanya Hadi saat kami sarapan bersama pada pagi hari yang mendebarkan itu.
“Mereka akan segera memberi tahu hasilnya setelah mereka memastikan beberapa hal terlebih dahulu. Claudia dan Lindsey juga sudah tidak sabar ingin tahu apa hasil tesnya,” jawab Om Hendra, membuat jantungku berdebar semakin kencang. Aku masih harus menunggu hasilnya.
Aku tidak sadar bahwa dampak dari selembar kertas hasil tes akan sebesar itu. Yang aku pikirkan hanyalah bertemu dengan keluargaku dan tidak hidup terlunta-lunta tanpa identitas lagi. Aku lupa siapa keluarga yang akan aku masuki ini. Meskipun mereka tidak sabar untuk memastikan bahwa aku adalah anggota keluarga mereka yang telah lama hilang, mereka juga harus berhati-hati dengan opini publik dan isu yang akan muncul kelak mengenai siapa orang tua kandungku.
Hadi berjanji akan memberi tahu aku bila hasilnya sudah diketahui. Papanya akan mengirim pesan kepadanya. Karena itu sepanjang mengikuti perkuliahan, aku resah ketika setiap detik berlalu, ponsel dalam tasku tidak juga bergetar.
Bahkan usai berdiskusi dengan dosen pembimbingku mengenai kekurangan yang perlu aku perbaiki pada proposal penelitianku, dia tidak juga memberi kabar. Aku menunggu di perpustakaan sampai jam janji kami berjumpa di tempat parkir. Dia akan menjemput adik-adiknya dari sekolah mereka, lalu kami makan siang bersama.
Aku membereskan bukuku dan mengambil tas yang aku titip di tempat penitipan, lalu keluar dari tempat belajar tersebut. Aku sama sekali tidak bisa mengerjakan apa pun karena pikiranku penuh dengan hasil tes DNA yang belum juga ada kabarnya.
“Hai, Mila,” sapa Colin dengan senyum penuh arti menghiasi wajahnya. Aku mengerutkan kening, menatapnya dengan curiga. Dia tertawa. “Kamu ini jahat sekali dengan pacar palsumu. Mengapa kamu menatap aku seperti itu? Apa begitu sulit membalas sapaanku?”
__ADS_1
“Kamu sudah membuat aku menjadi orang jahat, wajar saja aku bersikap hati-hati padamu,” kataku memberi penjelasan. Dia mengangguk mengerti. Aku menoleh ke arah Hadi.
“Ah, baiklah. Sepertinya kamu ada urusan rahasia lagi dengan sahabatku.” Colin menepuk bahu Hadi. “Aku pergi. Sampai jumpa besok.” Hadi menganggukkan kepalanya.
“Bagaimana?” tanyaku tidak sabar ketika Colin sudah cukup jauh dari kami. “Apa sudah ada kabar?”
“Belum. Papa belum menghubungi aku atau mengirim pesan—” Dia tertegun sejenak, kemudian merogoh saku celananya. Ponselnya bergetar dan dia menyentuh layar sebelum meletakkan benda itu di telinganya. Aku memerhatikan wajahnya baik-baik, tetapi dia tidak memberi petunjuk apa pun mengenai hal yang disampaikan oleh penelepon itu.
“Apakah itu Om Hendra yang menelepon?” tanyaku tidak sabar begitu pembicaraannya berakhir.
“Iya.” Lagi-lagi dia tidak memberi petunjuk kepadaku lewat ekspresi wajahnya.
“Apa katanya? Bagaimana hasil tesnya?”
*******
Sementara itu di sebuah rumah, beberapa jam yang lalu~
Pria dan wanita berjalan mondar-mandir dari lantai bawah ke lantai atas membawa kotak berbagai ukuran. Semuanya diletakkan di sebuah kamar yang penuh dengan kotak yang sudah dibuka. Isinya diatur dengan rapi di ruang pakaian juga kamar mandi yang ada di kamar tersebut.
“Apa kamu yakin dia suka warna biru?” tanya Claudia dengan nada tidak percaya. Dia melihat ke sekelilingnya dengan kening berkerut.
“Yakin, Grandma. Warna biru seperti matanya. Mengapa Grandma terus saja menanyakan hal yang sama? Kalau Grandma tidak percaya, tanya saja pada Hadi.” Charlotte meletakkan hanger di mana ada gaun berwarna putih ditutupi plastik pada besi yang ada di ruang pakaian. Ada berbagai model gaun dan dress pada gantungan besi tersebut.
“Kamar ini jadi terkesan kamar laki-laki, bukan perempuan,” ucap Claudia tidak puas.
“Kita bisa mengganti warna perabotan dan kertas dinding bila Mila lebih suka warna yang lain, Claudia. Ini hanya untuk sementara. Walaupun aku yakin, dia akan menyukai semua yang sudah kita siapkan. Anak itu sepertinya bukan orang yang pemilih.” Lindsey menutup lemari besi mini berisi perhiasan, lalu memutar roda kuncinya agar tidak bisa dibuka.
__ADS_1
“Grandma dan Nenek belum tahu hasil tesnya, tidakkah semua persiapan ini terlalu cepat?” tanya Charlotte bingung. Lindsey dan Claudia saling bertukar pandang. “Bukannya aku tidak mau Mila menjadi kakakku. Aku sangat berharap dia adalah Clarissa. Tetapi setelah hasil tes pertama, bisa jadi tes kedua juga akan menunjukkan hasil yang sama.”
“Aku tidak peduli dengan hasil tesnya.” Claudia tersenyum. “Jika ternyata dia bukan Clarissa, kami sepakat untuk mengadopsi dia menjadi cucu kami.”