Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 148 - Inspeksi Lapangan


__ADS_3

Kami tiba di gedung kantor, Clarissa masih cemberut. Kami memasuki elevator bersama tanpa perlu mengantri. Tetapi dia keluar pada lantai di mana ruang divisi pemasaran berada, sedangkan aku tetap naik ke lantai atas menuju ruang rapat direksi. Meskipun aku yang paling muda di antara para peserta rapat, aku tidak merasa rendah diri. Papa bisa melewati masa-masa menjadi yang paling muda di antara para direktur, mengapa aku tidak?


Tante Gista kelihatan lelah, tetapi penampilannya jauh lebih baik daripada minggu lalu. Dia terlihat kurang tidur dengan senyum seadanya, tidak seceria biasanya. Hari ini dia sudah tersenyum lebih leluasa. Masalah yang dia alami bersama keluarganya pastilah sangat sulit. Tetapi aku belum tahu apa, karena Colin belum cerita. Mungkin pada hari Sabtu ini, saat kami bermain basket bersama, dia akan menceritakan segalanya. Aku hanya bisa mengharapkan yang terbaik untuk sahabatku.


“Aku dengar ada keributan di kampus pada saat kamu mengantar Dira. Apa yang terjadi?” tanya Papa usai rapat dan semua orang sudah keluar dari ruangan. Tante Gista ikut melihat ke arahku.


“Papa masih ingat Reese Foster?” tanyaku sebelum menjawab.


“Mantan adik angkat Clarissa.” Papa mengangguk pelan.


“Dia satu kelas dengan Dira.” Aku mengangkat kedua bahuku. Papa memejamkan matanya, lalu tangannya memijat keningnya. Tante Gista malah tertawa geli.


“Entahlah, Pak. Tetapi dari pengamatan saya selama saya bekerja bersama Anda, masalah tidak pernah mau jauh-jauh dari Anda dan keluarga,” kata Tante Gista geli.


“Jadi, kamu tertawa bahagia atas masalah yang selalu menimpa keluarga kami?” ucap Papa kesal.


“Semua masalah itu membuat keluarga Anda tetap dekat terhadap satu sama lain dan Anda tidak bisa menyangkalnya.” Tante Gista mengangkat semua berkas yang ada di atas meja. Aku segera mengambil alih semua folder besar yang dipeluknya. “Terima kasih, Hadi.”


“Kamu adalah seorang ibu, kamu pasti tahu bahwa sebagai orang tua, aku tidak mau anak-anakku ikut susah. Mereka seharusnya menikmati masa muda mereka, bukan malah bertemu dengan orang yang suka melewati batas.” Papa berdiri dan berjalan menuju pintu. “Apa lagi yang diinginkan gadis jahat itu dari putriku?”


“Bukan Dira, Pa,” kataku memberi tahu alasan gadis itu kuliah di sana. “Akulah yang menjadi sasaran dia memilih kuliah yang sama dengan jurusanku.”


Papa tertawa tidak percaya. “Kamu sudah menolaknya dan dia masih tidak menyerah juga?” tanya Papa terkejut. Aku hanya diam. “Sebaiknya kamu segera perbaiki hubunganmu dengan Clarissa. Dia gadis yang baik, Hadi. Kita umumkan pertunangan kalian, maka tidak akan ada gadis lain yang akan mencoba mendekati kamu lagi.”


“Papa yakin dengan rencana itu?” tanyaku menantangnya.


“Apa Anda yakin itu akan berhasil?” tanya Tante Gista bersamaan denganku.

__ADS_1


“Mengapa kalian berdua terlihat ragu?” Papa mendelik tajam.


“Karena, Pak, Anda yang sudah menikah saja masih didekati wanita-wanita lajang yang ingin menjadi istri Anda berikutnya,” jawab Tante Gista santai.


“Aku setuju dengan apa yang Tante Gista katakan,” ucapku tidak mau kalah. Papa menatap kami berdua dengan mata memicing tajam. Tetapi dia berjalan menuju ruangannya tanpa mengatakan apa pun lagi. Aku dan Tante Gista tertawa puas.


“Hadi,” kata Tante Gista dengan suara lembut. “Walaupun kita tidak ada hubungan keluarga, apa yang papamu katakan itu benar. Segera perbaiki hubunganmu dengan Clarissa. Kamu sudah terlalu lama membohongi dirimu sendiri. Jangan sampai kamu terlambat memperbaiki semuanya.”


Aku hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Aku tahu bahwa maksudnya baik. Tetapi aku sudah mengambil keputusan dan aku tidak tertarik memperbaiki hubungan kami. Bila Tante Gista tahu mengenai perasaanku, apa itu artinya semua orang di divisi pemasaran mengetahui hal yang sama?


Tidak. Aku yakin bahwa aku menjaga sikapku sebaik mungkin. Aku tidak mencuri pandang ketika tidak ada yang memerhatikan aku atau bicara berdua saja dengannya. Sejak kejadian hari pertama di ruang rapat itu, aku tidak duduk bersebelahan dan mengobrol berdua dengannya lagi.


“Nah, Hadi sudah datang,” kata Tegar yang melihat aku memasuki ruangan. “Ayo, siapkan barang bawaan kalian, kita pergi sekarang.”


Setelah satu minggu yang lalu mereka belajar membuat iklan yang menarik, mengevaluasi setiap kelebihan dan kekurangan promosi yang telah dilakukan oleh divisi pemasaran, maka hari ini mereka akan mengunjungi salah satu toko serba ada milik perusahaan. Ini bukan hal yang baru bagi mereka, tetapi Tegar akan memberi tahu cara mempromosikan produk yang langsung dilihat oleh konsumen.


Aku tidak tahu apa yang Tegar instruksikan kepada mereka, tetapi karyawan magang itu dibagi menjadi dua kelompok. Satu grup mengikuti aku, sedangkan Tegar memimpin grup yang kedua. Clarissa tidak ada dalam timku. Itu adalah hal yang sangat bagus.


Tegar memilih untuk mengelilingi toko dari sebelah pintu masuk sebelah kanan, maka aku mengajak timku ke sebelah kiri. Aku menunjuk maneken, poster besar yang ada di pilar, hiasan yang digantung di langit-langit adalah bagian dari mempercepat pemasaran produk.


“Ada satu hal yang tetap dilakukan secara konsisten di toko ini, yaitu pemberian diskon. Tidak ada barang stok lama yang mengalami kenaikan harga sebelum mendapat potongan. Pelanggan biasanya hafal harga barang yang sudah lama mereka incar. Jadi, kami tidak mau merusak reputasi sendiri dengan melakukan pembohongan publik,” kataku menjelaskan.


“Itu yang saya suka dari toko ini, Pak. Karena itu saya membeli sepatu, tas, dan pakaian di toko ini sekalipun tidak diskon. Saya juga berharap suatu hari nanti bisa bekerja di sini,” ucap salah satu karyawan wanita. Yang lain ikut mengatakan hal yang sama.


“Kepegawaian bukanlah wewenangku. Jika kalian tertarik, kalian bisa melamar bekerja di sini setelah wisuda nanti.” Aku mengajak mereka menuju bagian lain.


Sebelum kembali ke kantor, kami makan siang bersama di pujasera yang ada di dalam mal. Mereka memesan menu apa saja yang mereka inginkan. Clarissa akhirnya punya kesempatan untuk duduk di sampingku. Aku tidak memberi tanggapan atau ekspresi apa pun. Semua orang memesan makanan, dia sendiri yang membawa bekal.

__ADS_1


Beberapa pegawai magang itu tersenyum penuh arti melihat aku dan Clarissa, sedangkan sebagian lagi asyik mengobrol dengan teman yang ada di kanan kirinya. Aku menguatkan diri dan menghitung mundur waktu yang harus aku jalani bersamanya. Sebelas minggu lagi, maka semua ini berakhir.


Kami kembali ke kantor dan Tegar memberi tugas kepada mereka untuk menulis laporan hal-hal yang mereka perhatikan pada toko tadi. Aku menuju bilikku dan membiarkan dia yang mengurus mereka. Aku harus menyiapkan laporan untuk aku berikan kepada manajer pemasaran sebelum jam kerja usai. Papa berutang besar kepadaku. Pekerjaan ini menyita waktuku sehingga skripsiku tidak bisa aku sentuh sama sekali.


“Hadi,” panggil Clarissa saat aku akan memasuki elevator. Aku sudah sengaja cepat-cepat keluar dari ruangan agar tidak bertemu dengannya, mengapa dia masih mengikuti aku? “Aku punya usul untuk mengganti peran maneken yang ada di toko.”


Oh. Dia tidak mendatangi aku untuk membicarakan kejadian pagi tadi. “Usul apa?” tanyaku tertarik.


Dia melihat ke sekeliling kami. Ada banyak karyawan yang sudah ikut antri untuk menggunakan lift. “Apa kita bisa pergi ke suatu tempat dan membicarakan ini berdua saja?”


Aku menatapnya tidak percaya. Jadi, dia menggunakan cara ini supaya bisa makan malam berdua denganku? “Usaha yang bagus, Clarissa. Aku menolak.”


“Kamu pikir aku mengatakan ini untuk menjebak kamu makan malam berdua saja denganku?” Dia tertawa kecil. “Aku benar-benar serius punya ide yang lebih baik. Kalau kamu tidak mau, ya, sudah. Aku akan membicarakan ini dengan Tegar saja. Jangan salahkan aku nanti. Aku sudah menawarkan usul ini kepadamu lebih dahulu.” Dia tersenyum, membalikkan badan, dan pergi begitu saja.


Dia berbohong. Mana mungkin orang yang tidak punya pengalaman kerja di divisi pemasaran punya usul yang bagus. Dia pasti hanya mau makan malam denganku. Gadis ini tahu harus melakukan apa untuk bisa mendapatkan maunya.


Tetapi bagaimana kalau dia berkata jujur? Bila usulnya itu menarik dan bisa menaikkan penjualan, maka Papa akan memuji usaha Tegar. Aku bisa malu tidak bisa bekerja lebih baik darinya. Apalagi Clarissa adalah orang yang pernah dekat denganku.


Aku bergelut dengan diriku sendiri. Sebelum aku berubah pikiran, aku mendekati dia yang berdiri di depan pintu elevator lain yang tidak jauh dariku. Dia tahu aku datang mendekatinya, tetapi dia berpura-pura tidak menyadarinya. “Baik. Aku mau mendengar apa usulmu itu.”


“Aku mau kamu menjanjikan satu hal kepadaku sebelum aku setuju membagi ide ini denganmu,” katanya dengan senyum penuh kemenangan.


“Kamu begitu yakin bahwa usulmu ini adalah usul yang cemerlang.” Aku menggeleng tidak percaya.


“Terserah kamu, Hadi. Ambil atau tinggalkan,” katanya acuh tak acuh.


Aku merapatkan bibirku. Perempuan ini akan mendapatkan ganjaran suatu hari nanti. Sama seperti Charlotte dan calon adik iparnya itu. “Kamu mau aku menjanjikan apa?”

__ADS_1


__ADS_2