Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 60 - Pria Gila


__ADS_3

Waktu seolah berjalan begitu lambat layaknya adegan dalam film. Mobil itu menabrak kami dengan keras, tepat di bagian di mana Hadi duduk. Bunyi roda ban beradu dengan keras dengan aspal ketika mobil itu mengerem memenuhi mobil.


Kepalaku terantuk dengan keras di kaca jendela saat mobil kami akhirnya berhenti terdorong oleh mobil itu. Keadaan di sekitar kami mendadak hening. Aku melihat ke sisi kananku dan menemukan Hadi sedang menatap aku. Dia mengulurkan tangannya, aku memberikan tanganku kepadanya. Dia membuka mulut ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada suara yang keluar.


Pintu di sisiku terbuka, lalu ada tangan yang menarikku untuk keluar. Menyadari kesalahannya, dia membuka sabuk pengamanku dan mencoba menarikku keluar lagi. Tanganku dan Hadi terlepas ketika mereka membawa aku dengan paksa. Aku menoleh dan melihat dua orang pria memakai penutup muka yang hanya terbuka pada bagian mata.


Semula aku berpikir mereka akan menolong aku dan Hadi, lalu membawa kami ke rumah sakit. Tetapi tidak, mereka memaksa aku untuk masuk ke sebuah mobil dan membawa aku menjauh dari tempat itu. Efek dari tabrakan keras itu mulai terasa. Aku kehilangan kesadaran dan tidak bisa membuat mataku tetap terjaga lebih lama.


Ketika aku tersadar, aku tidak bisa membuka mataku. Tetapi aku bisa mendengar suara-suara yang ada di sekitarku. Aku merasakan seseorang menyentuh tubuhku, entah melakukan apa. Saat aku terbangun lagi pada kesempatan berikutnya, aku mencium bau yang sangat tajam seperti obat.


Denyut di kepalaku mulai tidak tertahankan, memaksa aku untuk membuka mata. Aku melihat langit-langit berwarna putih. Mataku terpejam sesaat, mencoba untuk menyesuaikan diri dengan cahaya lampu di depanku. Aku menoleh ke sisi kiriku dan melihat pintu, lalu aku perlahan menoleh ke sebelah kanan dan ada jendela yang tertutup lengkap dengan jerujinya.


Aku mencoba untuk duduk dan merasakan sesuatu yang nyeri di tangan kiriku. Aku menoleh, lalu melihat ada jarum infus pada punggung tangan kiriku. Ada sesuatu juga yang dipasang di daerah kewanitaanku yang membuatku merasa tidak nyaman saat berada dalam posisi duduk.


Aku mengangkat tangan kananku untuk memeriksa kepalaku yang terasa sakit. Ada benjolan cukup besar di bagian kiri kepalaku yang tertutup rambut. Rasanya sangat sakit saat aku menyentuhnya. Apa yang terjadi padaku? Di mana ini? Mengapa tidak ada Kakek atau Nenek yang menjagaku?


Pintu di sisi kiriku tiba-tiba terbuka dan seseorang masuk tanpa mengetuknya lebih dahulu. Wanita yang membuka pintu itu menatap aku sesaat, kemudian keluar memanggil seseorang. Siapa dia? Aku tidak mengenalnya. Aku kembali melihat ke sekelilingku. Ini bukan kamarku dan jelas sekali bukan rumah sakit.


Tanganku menyentuh leherku dan aku panik. Aku mencari-cari benda yang selalu melingkar di sana, tetapi tidak ada. Aku melihat pergelangan tangan kiriku. Ya, Tuhan. Gelang dan kalungku tidak ada! Aku menyapukan tanganku mencari perhiasan tersebut di atas ranjang, siapa tahu jatuh saat aku tidak sadar. Tetapi nihil. Di atas nakas juga tidak ada.


“Kamu sudah bangun?” Terdengar suara seorang pria yang aku kenal. Suara yang tidak akan aku lupakan karena bulu kudukku segera meremang.


“Akhirnya, kamu muncul juga,” kataku tersenyum puas. Dia tidak sendiri. Ada seorang wanita yang membawa baki, lalu meletakkannya di atas nakas di sisi kananku.

__ADS_1


“Sikapmu cukup berani juga sebagai orang yang sedang disekap. Gadis lain pasti sudah menangis dan memohon agar dilepaskan.” Dia memasukkan kedua tangannya ke saku celananya. “Dokter sudah pulang, jadi dia tidak bisa memeriksa keadaanmu sekarang. Tetapi melihat kamu masih bisa mengenali aku, maka aku tidak membutuhkan jasanya lagi.”


“Apa maumu? Mengapa kamu membawa aku ke tempat ini? Apa kamu tidak punya rasa malu terus mengganggu kehidupan seorang gadis yang sama sekali bukan ancaman bagimu?”


“Kamu tidak tahu apa-apa, gadis kecil. Kamu jauh lebih berharga dari apa yang kamu tahu tentang dirimu sendiri. Apa kamu pikir aku akan melakukan ini untuk hal yang tidak ada artinya?”


“Oh. Memangnya apa artinya aku bagimu? Setelah menjauhkan aku dari keluargaku, sekarang kamu mau memisahkan aku dari mereka lagi? Kalau kamu punya masalah dengan Grandpa, selesaikan urusanmu dengannya secara jantan. Jangan gunakan aku sebagai perisaimu. Itu perbuatan seorang pengecut.”


“Sampai jumpa besok, gadis kecil. Kamu perlu makan, lalu beristirahat. Besok adalah hari besar untuk kita berdua.” Dia keluar dan menutup pintu kembali. Aku mendengar bunyi klik sebanyak dua kali, pertanda pintu itu dikunci dari luar.


Tidak ada satu pun yang ada di sekitarku yang bisa memberi tahu aku sedang berada di mana atau sudah berapa lama aku berada di tempat ini. Tetapi merasakan perutku sakit, aku tahu bahwa aku sudah lama tidak mengisi perutku. Air liurku terbit mencium aroma makanan yang ada di sebelah kananku. Makanan itu terlihat enak, namun aku khawatir mereka memasukkan sesuatu ke dalamnya.


Aku memutuskan untuk tidak menyentuh makanan itu, meminum airnya pun tidak. Cairan infus masih ada, aku tidak akan mati hanya karena tidak makan satu malam lagi. Aku akan mencari cara untuk keluar dari tempat ini. Dia tidak akan bisa memisahkan aku dari keluargaku tanpa perlawanan keras dariku. Aku sudah bukan anak kecil berusia dua tahun.


Lalu aku teringat pada sesuatu hal yang penting. Hadi. Di mana dia? Dia tidak ada di sini bersamaku, apa itu artinya dia disekap di kamar yang lain? Dia pasti terluka parah karena mobil itu menabraknya dengan keras. Oh, Tuhan. Semoga saja dia selamat dan tidak terluka parah.


Tidak ada yang bisa aku lakukan saat ini. Barang-barangku pasti mereka sita. Aku tidak bisa memberi sinyal di mana aku berada, tidak bisa menghubungi siapa pun, aku bahkan tidak tahu jam berapa dan hari apa hari ini.


Hadi. Hanya keadaannya yang saat ini aku khawatirkan. Melihat kondisi tubuhku, yang paling parah hanya benjol besar di kepalaku. Mobil yang dia kendarai benar-benar kuat. Sama seperti saat orang-orang jahat itu memukuli mobil pertamanya dengan tongkat besi, kaca jendelanya tidak langsung pecah. Kalau mobil itu mobil biasa, kami pasti sudah terluka parah.


Sepanjang malam itu aku tidak bisa tidur. Aku beberapa kali tertidur, tetapi segera terbangun lagi. Aku tidak tenang karena takut akan ada yang masuk saat aku sedang pulas dan mengkhawatirkan Hadi. Badanku terasa sakit karena hanya bisa diam berbaring.


Dari cahaya yang terlihat di tirai, aku yakin hari sudah pagi. Karena itu aku tidak heran saat ada yang membuka pintu dan seorang wanita masuk membawa sebuah baki. Itu pasti sarapan untukku. Aku hanya mengabaikannya seperti halnya makan malamku.

__ADS_1


“Makanan ini sehat, bersih, dan tidak ada racun atau obat. Sebaiknya kamu makan jika ingin cepat pulih.” Dia melirik ke arah pintu sebelum kembali melihat ke arahku. “Kamu membutuhkan banyak tenaga untuk bisa lepas dari tempat ini.”


“Kamu adalah kaki tangannya, bagaimana aku tahu kamu sedang berkata jujur atau membohongi aku?” kataku tidak mau tertipu.


“Aku bukan kaki tangannya dan aku juga terpaksa berada di sini. Jadi, makanlah. Aku bersumpah demi bayiku, tidak ada racun atau obat dalam makanan itu.” Dia bergegas keluar membawa baki yang berisi makan malamku.


Seorang pria muncul di ambang pintu, wanita itu segera melewatinya. Tanpa mengatakan apa pun, dia menutup pintu dan menguncinya kembali. Aku menoleh ke arah baki. Ada roti tawar, telur, potongan buah-buahan, segelas susu, dan segelas air minum di atas baki tersebut.


Wanita itu benar. Aku akan membutuhkan banyak tenaga untuk bisa keluar dari tempat ini. Aku tidak akan bisa melawan mereka dalam keadaan lapar. Infus ini membantu, tetapi tidak membuat aku kenyang sama sekali. Maka aku menghabiskan semua makanan itu.


Seorang wanita yang lain masuk. Dia memeriksa benjolan pada sisi kiri kepalaku, lalu melepaskan jarum infus dan kateter. Aku tidak tahu apakah dia benar seorang tenaga medis. Tetapi saat aku lepas dari sini nanti, dia akan merasakan akibat dari menyentuh bagian pribadiku tanpa izinku. Dia menyuruh aku untuk mandi. Semua hal yang aku butuhkan sudah tersedia di kamar mandi.


Aku tidak membantah karena aku merasa badanku kotor. Siapa pun yang telah mengganti pakaianku, aku berharap semoga saja dia adalah perempuan. Kalau ternyata pelakunya adalah seorang pria, aku bersumpah akan mematahkan kedua tangannya.


Dua orang wanita sudah menunggu saat aku keluar dari kamar mandi menggunakan mantel mandi. Hanya ini dan pakaian dalam baru yang ada di sisi wastafel. Tidak ada baju bersih yang bisa aku kenakan. Mereka menyuruh aku untuk duduk di kursi yang sudah mereka sediakan, lalu mulai membersihkan wajahku dan menatap rambutku.


“Apa ini?” tanyaku bingung. Mereka hanya diam saja. Apa lagi yang direncanakan pria itu?


Ketika wajahku sudah selesai dirias dan rambutku dibiarkan tergerai dengan spiral buatan pada ujungnya, mereka memasang anting-anting pada telingaku. Mereka meminta aku untuk melepas mantel, aku menolak. Salah satu dari mereka mendekatkan gaun yang akan aku pakai. Gaun putih … itu adalah gaun pengantin.


Apa yang direncanakan pria itu? Dia akan menikahkan aku dengan siapa? Lalu aku teringat dengan kalimat terakhir yang dia ucapkan semalam. Besok adalah hari besar untuk kita berdua.


*******

__ADS_1


Author's Note~


Aduh, aduh, apa yang Finley rencanakan, ya? Perasaanku jadi ikut tidak tenang. >_


__ADS_2