Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 10 - Perkuliahan


__ADS_3

*Mila*


Sigit melakukan kesalahan besar kali ini. Aku tidak percaya dia memberi aku seorang klien yang tidak bisa bekerja sama sesuai kesepakatan. Beberapa kali pria itu mencoba untuk menyentuh bokongku, mencium bibirku, dan pelanggaran lainnya saat kami sedang bersama kedua temannya.


Tugasku kali ini hanya berpura-pura menjadi pacarnya agar perempuan yang dibawa temannya itu tahu bahwa dia tidak sendiri lagi. Aku tidak tahu detailnya, tetapi dia masih ingin sendiri. Dia sudah berulang kali bertemu dengan teman-teman yang ingin menjodohkannya dengan wanita yang mereka kenal. Supaya mereka berhenti, maka dia membutuhkan pacar bohongan.


Semuanya berjalan dengan baik pada awalnya sampai dia mulai meletakkan tangannya di bahuku, lalu merangkul ketika kami berjalan bersama, dan berakhir dengan tangannya meluncur turun untuk mendarat di bokongku. Untuk memberi tahu bahwa itu tidak boleh, aku bergerak sedikit menjauh darinya sampai tangannya tidak berada di tubuhku lagi.


Ketika kami mengakhiri pertemuan, aku ingin menolak tawarannya untuk mengantar aku pulang. Tetapi kedua temannya juga berjalan menuju tempat parkir, maka aku terpaksa ikut agar akting kami tidak terbongkar. Sayangnya, elevator itu penuh dan kami terpaksa menggunakan tangga darurat.


Aku tidak tahan lagi saat merasakan tangannya kembali menyentuh bokongku. Kedua temannya keluar lebih dahulu di lantai tujuan mereka, kami masih menaiki tangga. Pada saat temannya sudah tidak bersama kami, aku segera memelintir tangannya itu dan mendorong tubuhnya sekuat tenaga ke tembok. Aku tumbuh besar di lingkungan yang keras, jadi aku bisa melindungi diriku sendiri.


Gara-gara klien kurang ajar itu, aku bertemu dengan teman Colin dan penyamaranku terbongkar. Aku bisa lari darinya tadi dan menghindar untuk menjawab pertanyaannya. Tetapi kalau kami bertemu lagi pada kesempatan berikutnya, habislah sudah. Sumber uangku melayang. Aku jarang bertemu klien yang dermawan seperti Colin.


“Pak—” ucap wanita yang mengantar aku ke ruangan Sigit.


“Aku tahu. Persilakan dia masuk,” perintah Sigit memotong kalimat asistennya dengan nada tidak sabar. Wanita itu bergeser untuk memberi ruang kepadaku agar bisa masuk. “Jangan bilang ada masalah lagi dengan klienmu.”


“Kamu berjanji bahwa setiap klien sudah melewati pemeriksaan menyeluruh dan menyanggupi semua syarat. Ada apa dengan klien hari ini? Dia berani melecehkan aku. Apa kamu tidak periksa dia sebelumnya?” ucapku dengan kesal. Aku tidak duduk atau mendekati dia, hanya berdiri di dekat pintu. Urusanku dengannya tidak akan makan banyak waktu.


Sigit menarik napas panjang. “Aku akan bicara dengannya dan aku pastikan kamu akan menerima kompensasi atas ketidaknyamanan itu.” Aku hanya menatapnya, menunggu dia melanjutkan kalimat berikutnya. “Oke. Aku berjanji bahwa hal ini tidak akan terjadi lagi.”


“Terima kasih. Aku pulang.” Aku membalikkan badan dan segera keluar dari ruangan itu.


“Mila,” panggil Sigit. Aku menghentikan langkahku. “Ada klien baru lagi.”

__ADS_1


“Tidak untuk minggu mendatang. Aku punya banyak tugas dari kampus,” tolakku dengan cepat.


Sigit adalah seorang pemilik mal yang tidak dikenal banyak orang. Hanya pengusaha biasa yang tidak terlalu diperhitungkan kehadirannya. Tetapi dia punya cukup uang untuk hidup mewah bersama seorang istri dan dua anak mereka.


Aku bertemu dengannya di sebuah restoran di mana aku bekerja sebagai pelayan. Dia datang bersama keluarganya dan memberi tip cukup besar untukku. Ketika aku pulang kerja, dia berdiri menunggu di depan pintu belakang restoran.


Dia menawarkan sebuah pekerjaan yang akan dibayar tinggi. Aku curiga pekerjaan yang dia maksud adalah melayani laki-laki di ranjang. Ternyata aku hanya diminta untuk berkencan dengan anak adik perempuannya yang sedang sekarat. Keponakannya itu ingin satu hari saja merasakan punya pacar dan menghabiskan waktu bersama seorang gadis.


Aku bersedia melakukannya dan pemuda itu sangat sopan kepadaku. Kami hanya makan, menonton di bioskop, berjalan di taman, makan lagi, lalu berpisah. Hal paling intim yang dia lakukan hanyalah menggandeng tanganku saat kami berada di taman. Tidak lebih.


Sigit memberi aku uang yang cukup banyak yang jumlahnya lima kali lipat dari gaji satu bulanku sebagai pelayan. Awalnya, aku pikir itu hanya permintaan satu kali seumur hidup. Ternyata diam-diam Sigit membuka jasa yang dia sebut menyewakan kebahagiaan di media sosial. Ada banyak orang yang tertarik dan tawaran pekerjaan serupa pun berdatangan.


Klienku terdiri dari berbagai rentang umur, mulai dari remaja hingga orang dewasa. Keinginan mereka hanya satu, bisa kencan satu hari saja dengan seorang perempuan. Mereka bukanlah pria buruk rupa atau miskin, jadi aku tidak tahu mengapa mereka tidak bisa menemukan wanita yang mau menjadi kekasih mereka.


Sigit selalu berhati-hati memilih klien untukku, tetapi selalu saja ada orang yang berusaha untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mereka menyentuh, mencium, bahkan ada yang pernah memaksakan kehendaknya padaku. Mereka pikir aku ini gadis lemah tidak bisa membela diri.


Tiba di kamar sewa, aku membersihkan diri, menghabiskan makanan yang aku beli, lalu membuka buku dan menenggelamkan diri dalam buku kuliahku. Ada dua laporan yang harus aku kerjakan dan aku belum mulai mengetiknya satu halaman pun. Untung saja kedua tugas itu dikumpulkan paling lama pada hari Rabu dan Kamis.


Otakku tidak cemerlang, mungkin karena aku tidak belajar sejak dini. Jadi, aku harus belajar lebih keras dari mahasiswa lain untuk bisa mengikuti perkuliahan. Aku menggunakan setiap waktu luang yang aku punya untuk belajar di perpustakaan dan memakai setiap fasilitas gratisnya.


Sejauh ini nilai akademikku tidak buruk. Lagi pula aku kuliah bukan untuk memamerkan nilai itu kepada orang-orang. Aku hanya ingin punya riwayat pendidikan terakhir yang cukup tinggi agar orang tua dan saudara kandungku bangga kepadaku. Walaupun biaya kuliah tidak murah, aku rela melakukan semua ini.


“Mila! Ke sini!” ajak Manda, teman satu kelasku. Aku tidak punya orang dekat di kampus ini, tetapi gadis ini tidak pernah kenal menyerah untuk bisa akrab denganku.


Aku mendekati dia dan duduk di kursi yang disediakannya untukku. Mahasiswa yang berada di sekitar kami terlihat sangat antusias dengan mata kuliah umum hari ini. Kursi lain sudah penuh, tetapi mereka rela duduk di lantai atau berdiri di belakang untuk mengikuti perkuliahan.

__ADS_1


Narasumber yang akan datang memberi ceramah mengenai manajemen disebut-sebut sebagai lulusan terbaik kampus ini di jurusan manajemen. Dia bahkan melanjutkan studinya di luar negeri di fakultas serupa dengan jurusan yang lebih spesifik. Aku hanya tahu dia adalah pengusaha sukses yang berhasil memperluas jangkauan usaha retailnya dan berhasil menggeluti bisnis di bidang yang lain juga.


Ruang kuliah bersama yang semula ribut itu mendadak tenang saat dosen masuk diikuti dengan seorang pria bertubuh tinggi, atletis, berpakaian rapi, dengan mata ramahnya memandang kami semua. Wajahnya terlihat tidak asing. Mataku kemudian tertuju pada pemuda yang berjalan di belakangnya. Dia bertubuh lebih tinggi, dan aku berhenti mengamati fisiknya begitu mengenali wajahnya. Walaupun jarak kami cukup jauh, aku akan mengenali wajah yang sudah tidak asing itu.


“Selamat pagi,” sapa dosen tersebut dengan ramah. Semua peserta kuliah membalasnya dengan antusias. “Seperti yang sudah kalian ketahui, kita mendapatkan kehormatan menerima dosen tamu yang tidak hanya tahu banyak mengenai manajemen, tetapi sukses menerapkannya dalam usahanya. Langsung saja, Pak Mahendra Perkasa akan berbagi pengetahuan dan pengalamannya selama tiga puluh menit. Usai presentasi akan dibuka sesi diskusi.”


Aku melihat ke arah pintu. Hanya ada satu-satunya pintu keluar karena pintu di bagian belakang sudah dipadati dengan mahasiswa. Pintu bagian depan berada cukup dekat dengan posisi pemuda itu sedang duduk. Jadi, aku tidak akan bisa keluar tanpa tertangkap basah olehnya.


Manda menatapku dengan bingung, tetapi aku menyuruh dia untuk tetap fokus pada perkuliahan dan mengabaikan aku. Aku menggunakan bukuku untuk menyembunyikan wajahku, tetapi aku tahu itu tidak akan ada gunanya. Aku peserta yang paling menonjol karena warna rambutku yang berbeda dari mahasiswa yang lain.


Dugaanku benar. Karena saat aku menurunkan bukuku untuk melihat ke arah dia, matanya sedang tertuju kepadaku. Mengapa, oh, mengapa aku harus bertemu dia terus? Mengapa aku tidak bertemu dengan Colin saja agar masalahku tidak semakin rumit?


*******


Sementara itu di sebuah rumah~


“Lo, sayang? Apa ini?” tanya Zahara yang menyambut putrinya pulang dari sekolah. Dira meletakkan kardus yang dibawanya ke atas bufet. Liando menatap majikannya dengan perasaan bersalah. “Tidak apa-apa, Liando. Bila putriku ingin membawa barangnya sendiri, kamu tidak perlu merasa tidak enak. Kamu boleh kembali melanjutkan istirahatmu.”


“Baik, Nyonya. Terima kasih. Saya permisi,” jawab pria itu dengan sopan.


Dira mendesah pelan. “Dari kemarin aku mendapat surat dari siswa di sekolah dan aku menolak. Lalu entah siapa yang punya ide ini, dia membuat kotak khusus bagi siapa saja yang ingin mengirim surat untukku. Seorang teman melihat dan memberikannya kepadaku sepulang sekolah tadi.”


Zahara mengangkat kotak besar itu dan mengguncangnya. “Wah, isinya banyak juga. Memangnya ini surat apa? Kalian ada tugas menulis dari guru?”


“Ini surat cinta, Ma.” Dira mendesah keras. Zahara mengangakan mulutnya.

__ADS_1


__ADS_2