
*Hadi*
Aku tidak tahu apa yang direncanakan oleh pemuda bernama Luca itu, tetapi membatalkan diri ikut berlibur bersama keluarganya adalah hal yang aneh. Yang lebih aneh lagi, dia malah tinggal di rumah Om Edu. Mereka bukan saudara dan keluarga mereka juga tidak berteman. Orang tuanya bersahabat dengan Aunt Claudia, tetapi tidak dengan Tante Lindsey.
Maka jawabannya hanya satu. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatannya untuk bisa dekat dengan Clarissa. Tetapi untuk apa? Ada banyak gadis di luar sana yang jauh lebih kaya dan cantik daripada gadis itu. Mengapa dia mengincar Clarissa?
Seandainya Clarissa menunjukkan ketertarikan kepadanya sedikit saja, aku mengerti bila Luca tidak mau kehilangan kesempatan untuk dekat dengannya. Tetapi gadis itu tidak menyukainya bahkan meminta orang lain menjadi pacarnya demi lepas dari kejaran pemuda itu.
Aku masih berpikir kemungkinan alasan Luca mengejar Clarissa pantang menyerah, gadis itu malah membuat segalanya menjadi rumit. Mengapa dia sampai melangkah sejauh mencium bibirku di depan semua orang? Aku menyebutnya semua orang, karena aku tahu Charlotte tidak akan tinggal diam dan memberi tahu sahabat dekatnya mengenai kejadian itu. Begitu Dira tahu, itu sama artinya semua orang akan mengetahuinya juga.
Tidak cukup membuat hatiku bimbang dengan ciumannya, Clarissa menambah pikiranku dengan mengatakan bahwa dia serius menjadi pacarku. Bagaimana mungkin seorang gadis yang tidak punya perasaan apa-apa kepadaku, mendadak yakin menjadi kekasihku?
“Sudah berapa lama kamu dan Clarissa berpacaran?” tanya Luca saat kami beristirahat sejenak untuk makan siang, beberapa kilometer dari vila. “Aku tidak percaya dia sudah punya pacar. Saat kami mengobrol lewat panggilan video, dia tidak pernah menyebut tentang kamu.”
“Kami baru kembali bersama pada hari Sabtu lalu. Tentu saja dia tidak menyebut tentang aku saat bicara denganmu,” kataku dengan santai.
“Kamu dan dia tidak terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta. Kalian tidak semesra adikmu dengan pacarnya.” Dia tertawa kecil.
“Clarissa adalah gadis yang mandiri, tidak manja seperti adikku. Karena itu kami berdua sangat cocok. Aku sibuk dengan aktivitasku dan dia tidak banyak menuntut perhatian. Walaupun kami tidak mesra, bukan berarti kami tidak saling mencintai,” kataku tidak mau terpancing. “Kamu dari tadi membahas sayangku. Ada apa? Jangan bilang kamu tertarik kepadanya.”
“Kalian belum menikah, apa ada larangan bagi seorang laki-laki untuk menyukai seorang perempuan yang belum menikah?” tantangnya dengan senyum arogan.
“Dia tidak menyukai kamu. Lalu untuk apa kamu mendeklarasikan perasaanmu kepadaku?” tanyaku bingung. “Apa kamu pikir aku merasa tersaingi? Tidak, Luca. Karena hati Clarissa hanya untukku. Coba saja kamu ambil dia dariku. Aku mau lihat apa Clarissa akan berpaling kepadamu.”
“Kamu tahu, rasa percaya dirimu ini bisa aku hancurkan dalam sekejap.” Luca menatapku dengan penuh rasa percaya diri. Dia tidak mengenal Clarissa. Gadis itu tidak mudah jatuh cinta kepada laki-laki. Aku yang berusaha keras saja tidak bisa meruntuhkan tembok hatinya, apalagi pemuda ini.
__ADS_1
Itulah alasan aku mengajaknya untuk ikut bersama kami. Aku ingin membuktikan kepadanya bahwa Clarissa tidak tertarik kepadanya. Semua orang terdekat yang merestui hubungan kami saja tidak membuat dia yakin kepadaku, apalagi seorang asing seperti Luca.
Tetapi sebagai sesama laki-laki yang memahami perasaan sesamanya, aku bersedia memberi Luca sebuah kesempatan. Dia berhak untuk melihat sendiri apa yang Clarissa rasakan saat berada di dekatnya. Yang malangnya, tidak juga terjadi. Karena Clarissa tidak mau beranjak dari sisiku, maka aku juga tidak pernah jauh darinya.
Walaupun aku tahu bahwa aku sedang bermain api, aku mengendalikan diriku sebaik mungkin. Aku tidak menyentuh dia secara berlebihan dan membiarkan dia yang memimpin untuk urusan yang satu itu. Karena aku tidak mau belakangan dia berpikir bahwa aku memberi dia kesempatan untuk bisa bersamaku lagi. Itu tidak akan pernah terjadi.
Aku mendengarkan semua orang mengutarakan isi hati mereka saat kami menyantap makan malam di dalam tenda. Aku dan Clarissa sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan ketika Luca beberapa kali memberi sinyal bahwa dia akan merebut Clarissa dariku, kami hanya diam.
Merasakan Clarissa meletakkan kepalanya di bahuku, aku tidak mengatakan apa pun. Ketika dia melingkarkan kedua tangannya di lenganku, aku juga tidak menghalanginya. Setelah malam ini berakhir, tinggal tiga hari lagi meneruskan drama ini, lalu aku bebas.
Entah apa alasan dia mengatakan bahwa dia tidak berpura-pura menjadi pacarku, tetapi aku tidak mau mengulang ini lagi dengannya. Aku bukanlah laki-laki yang bisa dipermainkan sesukanya. Yang datang kapan dia minta dan pergi saat dia usir.
Suasana di sekitarku sangat hening. Aku tidak ingat apa yang terjadi, tetapi saat aku membuka mata, aku terkejut melihat tidak ada teman-teman di sekitarku. Ketika aku akan meregangkan badan, aku merasakan seseorang di sebelah kiriku. Aku menoleh dan melihat Clarissa tertidur di bahuku. Sebuah selimut menutupi tubuh kami berdua.
Pantas saja pintu tenda ditutup, udara di luar pasti sangat dingin. Seolah-olah membaca pikiranku, keadaan sekitarku mendadak terang dan disusul dengan bunyi gemuruh yang memecah keheningan. Lalu hujan turun dengan deras. Clarissa terbangun dan dia melihat ke sekeliling kami dengan mata mengantuk. Dira dan Adi akan menerima ganjarannya nanti. Tega sekali mereka meninggalkan kami berdua saja di dalam tenda.
“Aku tidak tahu.” Aku mendesah pelan.
“Bagaimana bisa kamu tidak tahu?” tanyanya bingung.
“Aku juga tertidur seperti kamu,” kataku menjelaskan. “Tolong, lepaskan tanganku. Badanku terasa remuk karena duduk pada posisi yang sama terlalu lama.”
Clarissa melepaskan pegangannya. Dia tertawa kecil. “Ini pasti ulah Charlotte dan Dira. Mereka memang tidak bisa satu kali saja tidak iseng kepadamu.”
“Ini karena kamu, bukan aku. Kalau kita tidak berpura-pura begini, mereka tidak akan menggunakan segala cara agar kita kembali bersama.” Aku menemukan dua botol air minum, sebuah termos, dua mug, dan beberapa saset cokelat, kopi, dan teh jahe, juga beberapa roti dan biskuit di atas baki.
__ADS_1
“Hujannya deras sekali. Tetapi kita bisa berlari ke teras samping dan masuk ke vila. Aku tidak takut pada petir, jadi kamu jangan khawatir.” Clarissa membuka selimut dan merapikan pakaiannya.
“Mereka sudah menyiapkan minuman, makanan, juga bantal dan selimut. Apa kamu pikir mereka tidak merencanakan semua ini? Pintu teras pasti terkunci dan mereka semua sudah lelap sekarang.” Aku melirik jam tanganku. Pukul satu dini hari. Sial. Bagaimana bisa aku tertidur selama itu tanpa terbangun sedikit pun? Tidak mungkin mereka bisa keluar dari tenda tanpa menimbulkan bunyi.
“Aku tidak percaya. Aku akan cek pintunya.” Clarissa mendekati pintu tenda, tetapi aku segera menahan tangannya yang akan membuka ritsleting pintu tersebut.
“Bila tubuh kamu basah, kamu tidak punya pakaian ganti di tenda ini, Clarissa. Percayalah. Mereka mengunci semua pintu agar kita tidak bisa masuk.” Aku mengirim pesan ke ponsel Dira, hanya ada tanda centang satu pada aplikasi tersebut. Aku mengirim pesan yang sama ke ponsel Charlotte, Wyatt, juga sahabat baikku Colin. Nihil. Bahkan adikku tersayang Adi juga mematikan ponselnya.
“Mengapa aku tidak bisa menghubungi Charlotte?” tanya Clarissa yang mencoba menelepon adiknya lagi. Aku bisa mendengar suara operator yang mengatakan bahwa nomor itu sedang tidak aktif. Dia menatapku tidak percaya. “Kamu benar. Mereka sengaja melakukan ini.”
“Kamu mau minum atau makan sesuatu?” tanyaku sambil menunjuk benda-benda yang ada di atas baki. “Aku akan membuat teh jahe dan makan beberapa biskuit.”
“Aku juga mau tehnya.” Clarissa mendesah pelan, lalu duduk di dekatku. Dia memakai selimutnya kembali. “Bagaimana kita bisa tidur dengan bunyi hujan sekeras ini?”
“Setelah perut kamu diisi dan jahenya menghangatkan tubuhmu, kamu pasti akan mengantuk dan tertidur dengan sendirinya. Kamu perlu menyiapkan tenaga untuk menghadapi mereka besok. Aku sudah pasti akan menghukum kedua adikku dan sahabatku.” Aku tersenyum membayangkan apa yang akan aku lakukan kepada mereka nanti.
“Kamu beruntung tumbuh besar dengan keluarga dan sahabat kecilmu,” kata Clarissa saat menerima teh dari tanganku. “Kalian mengenal satu sama lain dengan baik. Aku kadang-kadang masih bingung harus bersikap bagaimana terhadap kakek, nenek, juga adikku.”
“Bersikap sesukamu saja. Mereka adalah keluargamu. Kalau kamu menyakiti mereka, percayalah, mereka akan memaafkan kamu. Jangan takut menjadi dirimu sendiri bersama mereka.”
“Kamu adalah satu-satunya orang yang bisa membuat aku nyaman membicarakan mereka. Aku tidak pernah membahas ini dengan Charlotte. Kalau dipikir-pikir, temanku hanya kamu seorang.” Dia berwajah sedih, membuat aku merasa tidak enak.
“Kamu punya Wyatt dan Colin yang dekat denganmu. Selain itu, sudah saatnya juga bagimu untuk membuka diri kepada orang lain. Pilihlah satu orang yang bisa kamu jadikan teman baikmu,” kataku memberi usul. “Tidak semua orang seperti teman kampusmu itu atau mantan adik angkatmu.”
“Wyatt dan Colin lebih suka menghabiskan waktu mereka dengan pacar mereka. Aku juga tidak pernah berbagi masalah pribadi dengan mereka. Hanya dengan kamu.” Dia meletakkan kepalanya di bahuku. “Apa kamu benar-benar tidak bisa memaafkan aku, Hadi? Apa kita tidak bisa kembali lagi seperti dahulu?”
__ADS_1
“Aku sudah memaafkan kamu, Clarissa. Karena jika aku masih menyimpan amarah, aku tidak akan mau duduk di dekatmu sekarang. Tetapi untuk kembali bersama, aku sudah katakan berulang kali. Itu tidak akan pernah terjadi,” kataku dengan tegas.
Dia mengangkat kepalanya dan menatapku dengan mata yang sangat serius. “Kita pasti akan kembali bersama. Kamu juga akan memanggil aku Rissa lagi. Aku bukan Clarissa yang sama yang mengakhiri hubungan kita, Hadi. Aku yang sekarang tidak akan menyerah sampai apa yang aku inginkan aku dapatkan kembali.”