Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 168 - Persiapan yang Matang


__ADS_3

Acara sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Pembawa acara kembali ke belakang panggung dan teman-temanku yang sudah mengenakan kebaya mereka berbaris untuk tampil di depan banyak orang dan media. Laras dan aku bertemu pandang. Dia tersenyum sinis melihat aku masih memakai baju terusan yang aku kenakan saat datang tadi.


Vikal hanya bisa duduk terdiam di sisiku. Air matanya sudah habis, jadi dia tidak menangis lagi. Aku tidak mengajaknya bicara, karena setiap kali aku mengatakan sesuatu, dia hanya bisa menangis. Aku mengerti ini adalah bencana bagi kami. Tetapi segalanya tidak akan berakhir hanya karena aku gagal tampil pada satu acara. Semua orang tahu bahwa ini bukanlah kesalahanku.


“Dira, ayo, ikut dengan kami,” ucap seorang panitia. Aku mengerutkan kening tidak mengerti, tetapi aku mengikuti dia dan rekannya. “Silakan masuk.”


Meskipun aku bingung, aku memasuki ruangan yang pintunya mereka buka. Aku menghentikan langkahku ketika melihat kebaya yang sama yang aku pakai pada malam sebelumnya ada di depanku. Bagaimana bisa? Vikal dan panitia lain jelas berkata bahwa kebaya itu digunting sampai menjadi kain-kain kecil tidak berbentuk lagi.


“Aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak persiapanku selama berbulan-bulan menyiapkan pagelaran busana malam ini,” ucap seorang wanita dari sisi kananku. Aku menoleh dan melihat Ibu Riani berdiri di sana. Desainer kebaya yang sedang dipamerkan oleh para model di panggung.


“I-ibu Riani,” ucapku tidak percaya.


Dia tersenyum. “Bersiaplah. Kami sudah tahu siapa pelakunya.” Dia berjalan mendekat. “Maaf, aku harus menunggu sampai tahu siapa yang melakukan itu sebelum mengeluarkan kebaya yang baru. Aku sempat menduga bahwa kamu yang mengguntingnya. Syukurlah, aku salah. Aku tidak mau desain terbaikku dikenakan oleh orang yang tidak layak.”


“Saya lebih baik kehilangan pekerjaan daripada kehilangan muka, Bu. Saya tidak akan merusak kepercayaan Anda kepada saya,” kataku membela diri.


“Aku tahu. Aku minta maaf sempat mencurigai kamu.” Dia menoleh ke arah para asistennya. “Cepat, waktu kita tidak banyak.” Lalu dia kembali melihat ke arahku. “Aku tunggu kamu di luar.” Aku belum sempat memberi respons, karena para wanita itu segera meminta aku melepas pakaianku.


Mereka bekerja begitu cepat dan cekatan. Setelah kebaya dipakai, mereka memasang hiasan pada pinggang, mengenakan anting di telingaku dan menghiasi rambutku dengan jepitan yang terbuat dari kuningan. Aku merasa bagai seorang ratu dari zaman Indonesia kuno. Karena sudah terbiasa mengenakan sepatu berhak tinggi, aku tidak kesulitan berjalan dengan sepatu yang mereka berikan.


“Oh, Dira! Ini benar-benar kamu!?” tanya Vikal tidak percaya saat memasuki ruang ganti. Dia menoleh ke arah wanita yang berdiri di kedua sisiku. “Apa yang terjadi? Bukankah kebaya ini tadi sudah rusak? Bagaimana kalian bisa memperbaikinya secepat ini?”


“Bu Riani menyiapkan dua kebaya untuk masing-masing model dengan ukuran yang sama. Apa kamu pikir dia tidak akan memikirkan kemungkinan ini?” ucap wanita di sisi kananku menggoda Vikal.


“Ayo, kita harus keluar sekarang. Sebentar lagi giliran kamu,” ucap wanita muda di sebelah kiriku.


Teman-teman yang sudah tampil dan kembali ke belakang panggung terpana ketika melihat aku berjalan melewati mereka. Hanya Laras yang merapatkan bibirnya dan menatap aku dengan tajam. Oh! Apa itu artinya dia yang sudah merusak kebaya pertamaku?


Aku berdiri di barisan paling belakang antrian memasuki panggung. Ekor kebayaku yang panjang diletakkan dengan hati-hati di lantai oleh kedua asisten Ibu Riani. Beberapa saat menunggu dan aku berdiri sendiri menunggu giliran memasuki panggung. Ibu Riani memegang tanganku, kemudian meminta aku untuk keluar. Aku tersenyum.

__ADS_1


Musik berganti pertanda bagiku untuk berjalan di atas runway. Aku menarik napas panjang, lalu berjalan keluar dari belakang panggung. Kedua tanganku memegang kedua sisi ekor kebayaku agar terlihat indah mengembang, sesuai instruksi panitia.


Cahaya terang segera menyambut aku diikuti dengan pandangan mata yang mengikuti langkahku. Lampu kilat tidak berhenti menyala, terutama dari arah depan. Aku berhenti sebentar di ujung panggung, membiarkan kamera yang lapar mengambil gambar sebanyak mungkin. Ini adalah salah satu alasan aku menjadi model. Orang-orang mengarahkan pandangan mereka pada pakaian indah yang aku kenakan, hasil kerja keras tangan seorang desainer yang berbakat.


Aku membalikkan badan dan berjalan kembali ke belakang. Ibu Riani keluar dari belakang panggung, gemuruh tepuk tangan segera menyambut kedatangannya. Dia mengulurkan tangannya kepadaku. Aku menerimanya dan dia mengajak aku berjalan menuju bagian tengah panggung diikuti oleh model lain yang berdiri di belakang kami.


Pembawa acara segera mengambil alih. Setelah Ibu Riani mengucapkan kata terima kasihnya, acara pun berakhir. Orang-orang berdiri dan menyodorkan kbuket bunga yang mereka bawa kepada Ibu Riani. Mendengar namaku dipanggil, aku menoleh. Colin, Kak Hadi, Papa, Om Will, Om Zach, bahkan Adi dan Wyatt berdiri berbaris sambil memegang buket bunga. Aku tertawa dan mendekati mereka.


“Kakak cantik sekali!” puji Adi dengan suara keras sampai semua orang tertawa.


Panitia segera mendekat ketika melihat aku kesulitan membawa semua buket bunga tersebut. Aku hanya menyisakan buket bunga dari Colin untuk aku bawa ke ruang ganti. Aku mengikuti arahan panitia dan berjalan menuju ruangan yang mereka tunjukkan. Vikal memegang baju terusanku yang segera aku kenakan setelah kebaya itu dilepas dari tubuhku.


Kami semua saling berpelukan dan mengucapkan terima kasih sekaligus merasa lega acara berakhir dengan baik. Tetapi di antara para model, aku tidak melihat Riana. Ibu Riani dan para asistennya juga tidak kelihatan. Hanya ada panitia dan para model serta asisten mereka yang terlihat berinteraksi di belakang panggung.


“Bu Riani mengajak Laras ke ruangan khusus tadi. Sepertinya dia yang sudah merusak kebaya milik Ibu Riani. Mengapa dia sampai nekat begitu?” bisik Vikal, tidak mau ada yang mendengar.


“Pasti ini masih ada hubungannya dengan pacar gelapnya itu.” Aku ikut berbisik.


Aku segera menahan tangannya. “Tidak, Vikal. Biarkan saja mereka mengurus masalah mereka sendiri. Aku tidak mau kamu ikut terseret dengan masalah mereka.” Aku menariknya untuk ikut bersamaku. “Sebaiknya kita menemui keluargaku. Kamu mau makan bersama kami, ‘kan?”


“Tentu saja!” jawabnya senang.


Papa sudah memesan tempat bagi kami semua untuk makan bersama di restoran hotel. Mama dan semua orang bergantian memeluk dan mencium pipiku mengucapkan selamat. Charlotte dan Wendy menarik tanganku agar duduk di antara mereka. Charlotte tidak peduli walaupun aku mau berada di dekat Colin. Aku pun mengalah.


Mereka bergantian memuji penampilanku, juga kebaya yang aku kenakan. Para ibu sepakat untuk memesan kebaya tersebut untuk mereka kenakan pada hari pernikahan aku dan Colin. Aku sampai tertawa membayangkan mereka mengenakan kebaya modern tersebut. Bagaimana mereka bisa berjalan dengan leluasa memakai kebaya dengan rok panjangnya?


Charlotte tidak mau kalah. Dia dan Lily sepakat untuk membeli kebaya yang bisa mereka kenakan bersama Clarissa dan Wendy juga. Mendengar nama Clarissa, aku bertanya mengapa dia tidak ikut serta. Charlotte dan Wendy menoleh ke arah Kak Hadi.


“Ada yang tidak suka melihat kakakku bahagia dengan melarang dia datang ke peragaan busana malam ini.” Charlotte memicingkan matanya ke arah Kak Hadi. Kakakku hanya tertawa.

__ADS_1


“Lo? Mengapa Kakak melarang?” tanyaku bingung. “Aku pikir mereka sudah sepakat bahwa Clarissa akan datang malam ini. Apa yang terjadi?”


“Clarissa agak demam pagi tadi, jadi Hadi tidak mau sakitnya tambah parah. Kakek dan Nenek yang menemani dia di rumah. Kamu tidak akan percaya bahwa mereka bertengkar hebat hanya karena Clarissa memaksa untuk hadir di sini.” Charlotte mendesah pelan.


“Kakak tidak pergi ke rumah kalian. Apa mereka bertengkar lewat panggilan video?” tanyaku.


“Benar sekali. Karena itu Hadi curiga melihat wajah pucatnya. Clarissa berusaha berkelit. Jadi, dia meminta Clarissa untuk memanggil aku. Aku terpaksa berkata jujur daripada kakakku sakit lagi.” Charlotte mengangkat kedua bahunya.


“Aku pikir Hadi dan Clarissa akan terhindar dari drama. Ternyata sama saja,” ejek Wendy.


“Yang suka membuat drama itu kaum kita, Wendy.” Aku tertawa kecil. Charlotte juga ikut tertawa. “Kamu tahu sendiri Kak Hadi terlalu serius dan dingin untuk bermain drama. Clarissa sedang sakit, makanya dia agak manja. Clarissa yang sebenarnya tidak begini.”


“Aku tidak akan bersikap begitu saat berpacaran nanti,” ucap Wendy dengan serius.


Aku dan Charlotte saling bertukar pandang. “Oke. Kita lihat saja nanti,” ucapku geli.


“Oh, wow!” ucap Lily yang duduk di depanku. “Berita tentang kamu sudah menyebar di internet. Lihat ini, Dira!” Dia menunjukkan layar ponselnya kepada kami.


Aku tidak menyangka bahwa aku akan secantik itu. Mungkin fotografernya mengedit foto yang dia ambil dan menambah pencahayaan sehingga aku terlihat sangat berbeda. Charlotte dan Wendy ikut melihat foto itu bersamaku. Aku mengikuti instruksi Lily dengan menggeser layar dan untuk melihat fotoku yang lain. Ada foto lengkap dari aku baru memasuki panggung, berjalan, berpose sesaat di ujung panggung, juga ketika kembali lagi ke belakang.


Berita itu memberikan pujian pada kebaya yang aku kenakan, juga penampilanku yang dianggap cocok mengenakan pakaian indah tersebut. Mereka juga memuji semua desain pakaian lain yang telah ditunjukkan sepanjang pagelaran tersebut.


“Kamu lihat, ‘kan, Dira? Kami tidak berlebihan memuji kamu,” kata Tante Qiana. “Semua media juga mengatakan hal yang sama. Kamu sangat cantik dan cocok mengenakan kebaya tadi.”


“Terima kasih, Tante,” ucapku tulus.


“Ah, Nenek menelepon.” Charlotte menempelkan ponselnya ke telinganya. “Ya, Nek? Apa? Apa yang terjadi? Baik, baik. Aku akan pulang bersama Wyatt sekarang.” Charlotte menatap kekasihnya.


“Ada apa?” tanyaku melihat Charlotte terlihat panik.

__ADS_1


Dia segera berdiri dan keluar dari tempat duduknya. “Clarissa jatuh lagi dari tangga.”


__ADS_2