Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 81 - Bukti Keseriusan


__ADS_3

Bagi seorang gamer seperti aku, setiap karakter yang aku punya itu sangat berharga. Meskipun aku punya lebih dari lima karakter dari game online yang berbeda, aku menjaga kelimanya seperti anak sendiri. Begitu mereka lahir, aku memberi mereka nama, ciri khas dalam fisik mereka, pekerjaan yang cocok, bahkan membantu mereka tumbuh dari bukan siapa-siapa menjadi karakter yang kuat.


Oleh karena itu, setiap kali aku harus melepas mereka dengan menjual mereka kepada penawar yang tertinggi, aku merasakan beratnya memberi mereka kepada pemilik yang baru. Kadang-kadang aku menguntit dan melihat perkembangan karakter lamaku tersebut. Ada yang diperlakukan dengan baik oleh pemilik barunya, ada juga yang disia-siakan.


Meskipun aku hobi bermain game online, aku tidak pernah lupa waktu. Dad dan Mama tahu itu. Bukan uang yang banyak yang aku hasilkan dari bermain yang membuat mereka mengizinkan aku melakukan hobiku. Tetapi keberhasilan aku bermain tanpa menjadi ketagihan. Walaupun prestasi belajarku tidak sebaik Hadi, hasilnya cukup memuaskan.


“Ini buktinya, Ma.” Aku meletakkan ponselku di atas meja, tepat di depan Mama. Agar kami bisa bicara tanpa ada Lily yang menginterupsi kami, Mama mengajak aku untuk mampir di sebuah kafe.


“Wow. Ini uang yang sangat banyak.” Mama berdecak kagum membaca bukti pembayaran yang aku terima dari empat karakter game online yang aku jual.


Hanya ada dua karakter dari game yang sama yang Mama perbolehkan untuk tetap aku mainkan. Aku mempertahankan satu karakter utama yang sudah lama aku mainkan dan tidak akan aku jual dalam waktu dekat. Satu lagi adalah karakter pendukungnya yang menemani karakter utamaku bertualang di dunia game.


Apa yang akan aku lakukan untuk memenangkan hati Dira lagi membutuhkan waktu dan dedikasi yang tinggi. Itulah sebabnya, Mama meminta aku untuk melepas sebagian besar karakter game-ku. Dengan begitu, aku bisa fokus pada rencanaku dan perhatianku tidak mudah teralihkan.


“Kamu bisa membeli rumah dan mobil dengan uang yang kamu miliki dari menjual karakter yang kamu mainkan selama ini. Bahkan uang lebihnya bisa kamu gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pantas saja semakin banyak orang yang suka bermain game.” Mama mengembalikan ponselku kepadaku. “Baiklah. Kamu sudah membuktikan bahwa kamu serius dengan Dira.”


“Jadi, apa yang harus aku lakukan selanjutnya?” tanyaku tidak sabar.


“Sebelumnya, aku perlu memastikan sesuatu. Apa kamu pernah menghubungi atau menemui dia lagi belakangan ini?” tanya Mama.


“Iya,” jawabku ragu-ragu. Semoga saja Mama tidak akan mengatakan bahwa aku melakukan sebuah kesalahan. “Aku mengirim pesan selamat mengikuti ujian.”


Mama tersenyum penuh arti. “Baiklah. Aku mengenal Dira sejak dia masih kecil. Jadi, aku tahu siapa yang bisa kamu pengaruhi untuk membuat dia berubah pikiran dan mau kembali lagi padamu.”


Kami membutuhkan waktu kurang dari tiga puluh menit untuk membahas langkah demi langkah yang perlu aku ambil untuk melancarkan rencana itu. Mama membiarkan aku melakukan segalanya sesuai dengan kreativitasku. Dia hanya memberi aku beberapa tips yang dia yakin akan berhasil.


Aku sudah tidak sabar untuk menemui dia lagi dan mengakhiri perpisahan kami karena kebodohanku sendiri. Sebenarnya aku berniat menunggu sampai dia selesai mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi, tetapi aku tidak bisa menundanya selama itu. Entah apa yang Vivaldo dan Nora rencanakan, aku harus selalu berada di dekat Dira untuk melindungi dia dari mereka.


Karena Mama tidak menunjukkan rasa keberatannya, maka aku menyimpulkan bahwa pesan yang aku kirim pada Dira adalah hal yang baik. Selama tiga hari berturut-turut, aku mengirim pesan yang sama untuk memberi dia semangat mengikuti ujian akhir.

__ADS_1


Aku pernah berada di posisinya dan aku ingat betapa gugupnya aku saat mengikuti ujian. Hadi yang biasanya santai saja setiap kali menghadapi ujian, berubah gelisah sama seperti aku. Memang hasil ujian akhir ini tidak menjadi penentu lulusnya kami dari sekolah. Tetapi kami berharap bisa lulus dengan nilai yang memuaskan pada ijazah kami.


“Selamat sore, Tuan Colin,” sambut Pak Abdi yang membukakan pintu rumah untukku. “Nyonya akan menemui Anda di ruang keluarga.”


“Terima kasih, Pak.” Aku berjalan masuk dan menunggu pria itu menutup pintu kembali. “Ah, tidak. Biar saya yang bawa. Terima kasih.” Aku menolak saat dia mengulurkan tangannya untuk membantu aku membawakan barang yang ada di tanganku.


“Baik. Mari, saya antar, Tuan.” Pak Abdi berjalan di sisiku menuju ruangan yang sudah aku kenal. Tetapi demi sopan santun, aku tidak bertindak seperti orang yang diterima di rumah ini. Karena aku sudah bukan bagian dari keluarga ini lagi.


“Cole? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Hadi yang berjalan menuruni tangga rumahnya. “Aku tidak ingat kita ada janji bertemu di rumahku. Dan mengapa kamu membawa buket bunga segala? Ah, tunggu. Jangan bilang bunga itu untuk—”


“Tidak. Ini bukan untuk Dira.” Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat. Kami sudah tidak punya hubungan asmara lagi, jadi memberi bunga ini padanya hanya akan membuat dia membenci aku. Dira menyukai hal yang berbau romantis, tetapi hanya dari kekasihnya. Bukan dari teman biasa.


“Lalu untuk siapa lagi?” tanya Hadi bingung. Matanya kemudian membulat. “Untukku??”


Aku bergidik jijik mendengarnya. “Apa putus dari Clarissa membuat kamu kehilangan akal sehat? Aku hanya akan membawa bunga ke makammu. Puas?”


Untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu memberi aku neraka, Hadi tertawa. Bukan tertawa biasa. Dia tertawa terbahak-bahak padahal aku tidak sedang melucu. Aku memutuskan untuk mengabaikan dia dan berjalan menuju ruang keluarga. Hadi ikut masuk dan duduk di seberangku.


“Silakan dinikmati, Tuan, Nyonya,” ucap Ibu Yuyun usai meletakkan piring, cangkir, teko, dan sendok di atas meja. Kami serentak berterima kasih kepadanya.


“Aku datang untuk meminta maaf, Aunt. Ini sebagai tanda permintaan maafku.” Aku memberikan buket bunga tersebut. Dia menatap aku dengan curiga, tetapi dia menerima bunga tersebut. “Aku ingin meminta izin kepada Aunt sekaligus Uncle Hendra untuk mendekati Dira lagi.”


Aunt dan Hadi saling bertukar pandang. “Colin, apa yang kamu lakukan itu adalah kesalahan yang tidak mudah untuk dimaafkan. Kamu selingkuh dengan Clarissa.”


“Tapi—” kataku berusaha untuk menjelaskan.


“Iya, aku tahu bahwa kamu melakukannya karena terpaksa. Kamu tidak tahu bahwa Vivaldo dan Nora hanya memanfaatkan kamu. Tetapi di situlah letak kesalahanmu. Kamu tidak mencari tahu terlebih dahulu, malah setuju saja untuk memutuskan hubungan kalian dengan cara yang kamu tahu akan menyakiti Dira.” Aunt Zahara menggeleng pelan.


“Mengapa kamu datang sekarang, Cole? Apa kamu pikir kami semua akan memaafkan kamu setelah kejadian itu lama berlalu? Aku masih tetap pada pendirianku. Kamu tidak boleh mendekati adikku lagi. Titik,” kata Hadi dengan tegas.

__ADS_1


“Kamu tahu bahwa aku tidak serius dengan Clarissa. Aku akui bahwa aku salah telah melakukan ini, tetapi aku tidak bermaksud jahat. Aku pikir aku sedang melakukan hal yang baik.”


“Mengkhianati adikku adalah hal yang baik, katamu?”


“Jangan lupa bahwa akulah yang membawa Mila ke tengah-tengah kalian. Aku yang pertama kali memperkenalkan dia kepada seluruh sahabat Aunt Zahara. Jika aku tidak pernah melakukan ini, mungkin Uncle Ed dan Aunt Lindsey masih mencari keberadaan Clarissa.”


Sebelumnya, aku tidak menyadari arti penting dari keputusan bodohku tersebut. Mamalah yang pertama kali memikirkan hal ini. Seandainya saja aku tidak membayar Mila untuk menjadi pacar palsuku agar Dira mengakhiri hubungan kami, Clarissa tidak bertemu keluarganya secepat ini.


Aku tidak akan menyangkal bahwa aku sudah melakukan kesalahan yang besar. Tetapi mereka juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa kejadian buruk itu justru membawa kebahagiaan bagi keluarga Uncle Ed. Mereka akhirnya menemukan cucu mereka yang hilang.


“Aku tidak pernah berpikir begitu sebelumnya,” gumam Aunt Zahara nyaris tidak terdengar. Dia mengangkat kepalanya dan melihat aku dan Hadi secara bergantian. “Tanpa perbuatanmu itu, Hadi juga tidak akan pernah bisa melanjutkan hidupnya. Dia akan terus menunggu gadis yang tidak tahu di mana rimbanya. Walaupun kejadian buruk menimpanya, setidaknya dia tahu harus melakukan apa sekarang. Dia bisa memilih gadis yang lain, kalau dia mau.”


“Ini bukan tentang aku, Ma. Tolong, fokus pada Dira.” Hadi melihat ke arahku. “Aku tahu kamu adalah sahabat yang baik, tetapi kamu adalah kekasih yang buruk. Hubunganmu dan Dira jauh lebih lama daripada aku dan Clarissa, sayangnya kalian tidak punya dasar yang kuat. Apa kamu tahu apa yang kurang pada hubungan kalian?”


“Apa maksudmu?” kataku membela diri. “Tidak ada yang kurang dalam hubungan kami.”


“Cari tahu apa yang kurang dalam hubungan kalian, baru aku pertimbangkan ulang apa kamu masih layak untuk bersama adikku lagi.”


*******


Sementara itu di suatu tempat~


“Terima kasih, Pak,” ucap Clarissa pada kepala pelayan yang membukakan pintu depan untuknya.


“Selamat datang kembali, Nona. Tuan Besar menunggu Anda di ruang keluarga,” kata pria itu dengan sopan. Dia menunjuk dengan tangannya agar Clarissa berjalan lebih dahulu.


Tanpa bertanya, Clarissa menurut dan berjalan bersama pria itu ke ruang keluarga. Dia membukakan pintu untuknya, dan Clarissa melihat keluarganya ada di ruangan tersebut. Dia berterima kasih pada kepala pelayan itu sebelum memasuki ruangan.


“Kakek, Nenek, ada apa meminta aku datang ke ruangan ini?” tanya Clarissa dengan bingung.

__ADS_1


“Seharusnya kami yang bertanya kepadamu.” Lindsey tersenyum khawatir. “Sampai kapan kamu akan diam saja dan tidak memberi tahu kami mengenai sikap mahasiswa di kampus terhadap kamu? Mereka sampai berani memukul kamu hari ini, apa kamu tetap akan diam saja dan bersikap tidak ada masalah di depan kami?”


__ADS_2