Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 154 - Skandal Rahasia


__ADS_3

Laras punya hubungan asmara dengan putra Pak Billy? Aku tidak pernah tahu hal itu? Bagaimana bisa Reese menuduh aku membongkar rahasia itu? Yang paling mengejutkan, bagaimana Reese bisa tahu bahwa Laras dan pria itu sedang menjalin hubungan? Reese berbeda agensi dengan kami.


Putra Pak Billy tidak bekerja di agensi, jadi yang Laras maksud sebagai ruang kerja itu pasti ruangan pemilik agensi kami itu. Ruangan itu ada di lantai atas agensi, dan aku jarang menginjakkan kakiku di sana. Bukan hanya aku, model lain juga begitu. Kami juga tidak pernah masuk ke ruangannya tanpa dipanggil. Lalu apa yang membuat Laras percaya bahwa aku tahu mengenai rahasianya itu?


“Aku sudah katakan berulang kali, berhenti menemui dia. Apa kamu masih tidak mengerti juga?” ucap asistennya dengan suara tertahan. Pasti dia tidak mau ada yang mendengar percakapan itu. “Usia pria itu empat puluh tahun, Laras! Kamu bukan gadis pertama yang dia bodohi.”


“Dia tidak membodohi aku. Dia mencintai aku!” seru Laras tidak terima pria itu disalahpahami. “Dia akan menikahi aku begitu usiaku genap sembilan belas tahun. Kami merahasiakan hubungan kami hanya sampai tahun depan. Lalu dia akan menemui orang tuaku dan meminta restu mereka.”


“Dasar gadis bodoh. Dia sudah berusia empat puluh tahun dan belum menikah juga. Apa kamu tidak curiga? Dia sudah menjanjikan hal yang sama kepada gadis lain. Yang dia incar hanya tubuhmu. Saat dia sudah bosan, maka dia akan meninggalkan kamu begitu saja,” kata asistennya frustrasi.


“Aku tidak memberikan tubuhku kepadanya. Kamu jangan sembarangan bicara.”


“Tentu saja. Itu yang membuat dia belum mencampakkan kamu. Kita lihat saja apa yang akan terjadi pada detik kamu tidur dengannya. Laras, kamu bukan model pertama di agensi ini yang dia bohongi.”


“Kamu bohong. Kalau dia sejahat itu, tidak mungkin Pak Billy hanya diam saja.”


“Pak Billy sama sekali tidak tahu. Hanya model yang sudah lama dikontrak dan asisten mereka yang tahu skandal itu. Apa kamu pikir model yang menjadi korbannya mau cari ribut dengan melaporkan perbuatannya? Mereka semua lebih memilih menutup mulut daripada kariernya hancur.” Pria itu masih berusaha untuk meyakinkan Laras.


“Tidak ada saksi, maka semua itu hanya gosip. Kalian semua pasti iri melihat pria tampan itu masih sendiri. Kamu tahu mengapa? Karena dia baru menemukan belahan jiwanya sekarang. Orang itu adalah aku.” Aku bergidik mendengar pengakuan Laras itu. Dia sudah jatuh terlalu dalam. Siapa pun tidak akan bisa membuka pikirannya lagi. Baginya, pria itu yang paling benar.


“Bila dia benar-benar mencintai kamu, dia akan menunggu sampai kamu cukup umur. Dia tidak akan memanfaatkan kepolosanmu dengan mengatakan cinta pada saat usiamu masih muda, lalu meminta tubuhmu sebagai tanda cintamu kepadanya.” Pria itu berkata dengan lirih. “Merahasiakan hubungan kalian adalah bukti dia tidak sungguh-sungguh mencintai kamu.”


“Sudah cukup! Tugasmu hanya membantu aku dalam pekerjaan. Jangan ikut campur dalam urusan pribadiku!” Aku mendengar bunyi langkah seseorang mendekati pintu. Jantungku berdebar dengan cepat. Gawat! Dia bisa tahu bahwa kami mendengarkan semua perdebatan mereka.


Vikal segera menarik tanganku dengan telunjuk ada di depan bibirnya. Aku bersyukur mengenakan sepatu kets, jadi langkah kakiku tidak akan bergema di koridor itu. Dia membuka pintu yang ada di depan ruangan itu, mendorong tubuhku, dan menutup pintunya kembali.


“Aku sangat bangga dengan apa yang kamu lakukan pada hari ini, Dira!” seru Vikal dengan suara yang cukup keras. Dia mengerutkan keningnya dan menganggukkan kepala dengan cepat, memberi sinyal agar aku mengatakan sesuatu.

__ADS_1


Aku menelan ludah dengan berat. Ini pertama kalinya aku hampir ketahuan melakukan hal yang salah. “Kamu sudah mengatakan itu berulang kali, Vikal. Aku hampir mati kebosanan. Sebaiknya kita pergi sekarang. Sayangku sudah menunggu terlalu lama.”


Vikal menerima sinyalku itu dengan baik. Dia membuka pintu ruangan itu bersamaan dengan Laras sedang berdiri di depan pintu. “Lo? Laras?” tanya Vikal. Gadis itu segera terlihat gugup. “Apa kamu ingin bertemu denganku atau Dira?” Asistenku ini seharusnya menjadi aktor. Dia pandai berakting.


“Ah, tidak,” jawab Laras yang salah tingkah. “A-aku baru keluar dari ruang loker dan akan pulang sekarang. Ng, sampai minggu depan.”


Kami melihat dia berjalan menuju bagian depan di mana pintu masuk utama berada. Aku dan Vikal serentak mendesah lega begitu dia tidak lagi terlihat dalam pandangan kami. Hampir saja. Pintu di sebelah kami terbuka, kali ini asisten Laras yang keluar. Dia hanya menyapa kami, lalu berjalan ke arah yang sama di mana Laras tadi pergi.


“Seandainya saja aku bisa menolong Laras,” ucapku pelan.


“Dia tidak mau ditolong. Karena kalau laki-laki itu serius kepadanya, dia tidak akan melarang Laras menceritakan hubungan mereka kepada asistennya atau siapa pun. Gadis semuda dia sangat normal untuk jatuh cinta dan mencurahkannya kepada orang terdekatnya. Seperti yang kamu lakukan.


“Aku sampai bosan setiap kali kamu membahas Colin, Colin, dan Colin lagi  ketika dia tidak bersama kita.” Aku mendengus pelan mendengar dia mengejek aku. “Tetapi dia tidak curiga dengan larangan pria itu, karena dia sudah telanjur cinta. Kasihan.”


“Aku punya pertanyaan. Mengapa dia mendekati Laras, bukan aku, misalnya?” tanyaku bingung.


“Apa maksudmu dengan haus kasih sayang?”


“Kedua orang tuanya sibuk bekerja dan dia anak perempuan satu-satunya,” jawab Vikal singkat. “Kalian berdua sangat mirip, apa masih perlu aku jelaskan dengan detail?”


Aku segera mengerti apa yang dia maksudkan. Walaupun Papa bekerja penuh waktu mengurus perusahaannya, dia selalu menyempatkan diri untuk memerhatikan kami. Dia tidak pernah lalai menghadiri setiap acara penting kami. Mama yang sukses dengan novel-novel karyanya juga tidak selalu memprioritaskan kami. Aku dan kedua saudaraku tidak pernah kekurangan kasih sayang.


Selain orang tua dan kedua saudara, aku juga tidak pernah kesepian dengan kehadiran sahabat juga pacarku. Ditambah lagi para pekerja di rumah kami tidak pernah membiarkan aku sendirian. Ada saja orang yang menemani aku bermain atau beraktivitas.


Vikal benar. Kasihan Laras.


“Ada apa, sayang?” tanya Colin ketika kami sudah tiba di restoran terdekat dari lokasi latihan tadi. Aku memberikan helmku kepadanya dan menggeleng pelan. “Kamu diam saja berarti ada yang mengganggu pikiranmu. Ada apa?”

__ADS_1


“Kita sebaiknya masuk ke dalam. Kita bicara setelah memesan makanan saja.” Colin menurut dan mengajak aku masuk ke restoran tersebut.


Aku memerhatikan setiap sudut restoran tersebut. Tidak ada model, asisten, maupun panitia yang tadi bersama kami. Apa yang akan kami bahas sangat sensitif, jadi aku tidak mau ada yang mencuri dengar. Hubunganku dan Laras memang sedang tidak baik, tetapi dia tetaplah teman sejawatku.


“Begini saja. Kita pesan makanan, lalu kita makan di suatu tempat. Bagaimana?” tanya Colin seolah-olah bisa membaca pikiranku.


“Terima kasih, sayang. Aku memang tidak salah sudah memilih kamu jadi calon suamiku.” Aku memeluknya dengan erat.


Kami memesan makanan dan menunggu sampai mereka selesai memasaknya. Colin yang membayar semua makanan kami, kemudian mengendarai sepeda motornya menuju taman yang paling dekat dengan rumahku. Aku sudah sangat lapar, tetapi tidak protes dengan pilihannya tersebut. Taman ini adalah tempat yang aman untuk bicara, karena jauh dari lokasi latihan tadi.


“Aku sudah tahu apa yang membuat Laras sangat marah kepadaku,” ucapku pelan saat menerima kotak makananku dari Colin. Dia tertegun sejenak. “Katanya, Reese memberi tahu dia bahwa aku membongkar hubungan rahasianya dengan putra Pak Billy.”


“Putra Pak Billy? Bukannya pria itu sudah berumur?” tanya Colin menebak.


Aku mengangguk pelan. “Karena itu mereka merahasiakan hubungan mereka.”


“Tidak. Tidak.” Colin menggeleng dengan cepat. “Remaja berpacaran itu hal yang biasa. Tetapi bila satu dari mereka meminta agar hubungan dirahasiakan, maka ada yang salah di sini. Contohnya, kamu dan aku yang sudah bertunangan sejak kecil, kita tidak merahasiakannya.”


“Itu hal yang berbeda, Colin. Usia kita tidak jauh beda,” ujarku yang tidak sepakat dengannya.


“Benar. Tetapi pada saat itu kamu masih dua tahun. Orang tuamu percaya saja kepadaku yang masih berumur lima tahun. Kamu tahu mengapa? Karena aku bicara dengan mereka secara baik-baik. Aku tidak ingat apa tepatnya yang aku katakan. Uncle yang melaporkan lamaranku kepada Dad.” Colin menatapku dengan prihatin. “Pria itu hanya mempermainkan teman kamu.”


“Entahlah, Colin. Yang pasti, aku tidak tahu mengenai hubungan mereka, apalagi membongkarnya. Tetapi Reese bisa mengetahuinya adalah sebuah keanehan. Bila Laras hanya bermesraan di ruang kerja Pak Billy, bagaimana dia bisa tahu? Dia tidak pernah ke agensi kami,” ucapku bingung.


“Seseorang mungkin membuka mulut, seperti yang Vikal lakukan setiap kali dia mengetahui rahasia salah satu model. Lalu gosip itu sampai ke telinga Reese dan dia memanfaatkannya untuk merusak hubungan kamu dan Laras,” kata Colin menyimpulkan. “Itulah sebabnya aku curiga dengan sikapnya yang mendadak berubah terhadap kamu.”


“Jadi, menurut kamu, Reese berteman denganku di depanku dan semua orang. Namun di belakang, dia masih Reese yang menganggap aku sebagai rivalnya?” tanyaku pelan.

__ADS_1


__ADS_2