Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 195 - Mengurangi Musuh


__ADS_3

Dia mengikuti aku masuk ke mobil. Aku memilih tempat terdekat untuk bicara, tanpa ada orang lain yang akan menginterupsi kami. Melalui orang yang selalu mengawasi aku dari jauh, Papa pasti sudah mengetahui apa yang sedang aku lakukan. Semoga saja dia tidak marah.


“Pilihlah apa saja yang mau kamu pesan,” kataku melihat dia hanya menatap buku menu. “Aku yang akan membayar, karena aku yang mengajak kamu untuk bicara,” ujarku menambahkan melihat dia hanya diam, tidak mengucapkan pesanannya.


Setelah dia dan aku menyebut pesanan kami, pelayan yang berdiri di sisi meja pun meninggalkan kami. Aku tidak pernah mengamati gadis ini sebelumnya. Tetapi melihat dia duduk di sini, aku bisa melihat wajahnya yang cantik, kulitnya yang kuning langsat, dan rambut hitamnya yang panjang. Seandainya saja dia tidak dipenuhi dendam, dia bisa mendapatkan pemuda mana pun. Aku yakin ada banyak orang yang tertarik kepadanya di kampus ini.


“Maaf, semuanya jadi begini,” kataku pelan. “Jika saja aku bersikap lebih baik, mungkin kita bisa menyelesaikan salah paham di antara kita dengan baik.”


Dia menggeleng pelan. “Aku yang bersalah. Apa pun yang kamu lakukan, aku tidak akan berhenti menyakiti kamu atau keluargamu. Maafkan aku. Tanpa aku sadari, aku membiarkan ibuku sendiri menanam racun dalam hatiku. Aku tahu dia yang bersalah, bukan Om Hendra. Tetapi dia adalah ibuku, sudah menjadi tanggung jawabku untuk percaya dan membela dia.”


Dia menyentuh perutnya. “Aku sudah tahu siapa dia sekarang. Dia hanya memanfaatkan aku untuk hidup lebih baik. Dia pikir, jika aku menjadi istrimu, maka hidup kami akan kembali seperti dahulu. Setelah rencana itu gagal, dia memaksa aku untuk menggugurkan bayiku.” Dia tersenyum. “Aku memilih keluar dari rumah dan hidup sendiri.”


“Bagaimana kamu bisa mengurus dirimu? Apa kamu punya uang?” tanyaku terkejut, sekaligus khawatir dengan keadaannya. Bila dia sendiri, itu bukan masalah. Tetapi dia sedang mengandung seorang bayi. Dia butuh dukungan dari orang terdekatnya.


“Almarhum papaku sudah menyiapkan tabungan khusus untukku sampai selesai kuliah. Jumlahnya cukup sampai aku tamat nanti. Lagi pula hanya tinggal beberapa bulan lagi. Masih ada puluhan juta sisanya, karena aku tamat lebih cepat. Dan mamaku tidak bisa menyentuh tabungan itu.” Dia tersenyum lega. “Aku sudah jahat kepadamu. Tidak perlu mengkhawatirkan aku, Hadi.”


“Kamu berbeda dengan Manda dan Reese. Aku tahu kamu hanya gadis yang tertekan yang sanggup melakukan apa saja untuk mencapai tujuanmu. Kamu bukan gadis yang jahat seperti mereka. Aku harap kamu bisa hidup lebih baik setelah berpisah dengan ibumu,” kataku dengan tulus.


“Terima kasih, Hadi.” Dia tersenyum. “Aku harap tidak ada orang yang jahat lagi kepadamu. Semoga kamu dan Clarissa bisa terus bersama sampai tua.”


Saat kue dan minuman kami datang, kami saling berbagi perkembangan skripsi yang sedang kami kerjakan. Valeria masih punya mata kuliah yang harus dia selesaikan, jadi dia tidak bisa maju sidang sebelum nilai mata kuliah itu keluar nantinya. Tetapi dia yakin bisa tamat pada awal tahun depan.


Memiliki banyak teman memang menyenangkan. Punya satu musuh saja, hidup sudah kehilangan kenyamanannya. Apa yang Valeria katakan, aku ingat baik-baik. Orang yang sudah punya niat jahat tidak akan mengubah rencananya apa pun yang aku lakukan, kecuali dia sendiri yang mengubahnya.


“Apa gadis itu begitu berharga sampai kamu melawan papamu sendiri?” kata Papa yang tiba-tiba saja sudah berada di ambang pintu bilikku.

__ADS_1


Aku segera berdiri dan memberi ruang baginya untuk masuk. “Aku hanya mau mengurangi jumlah musuhku di masa depan, Pa,” jawabku dengan jujur.


Dia mengangguk mengerti, lalu menyandarkan pinggulnya ke meja kerjaku. “Aku dengar dia tidak tinggal dengan mamanya lagi.” Aku mengangguk pelan. “Bagus. Aku harap hidupnya akan lebih baik setelah berada jauh dari orang yang membuatnya jadi jahat.”


“Maafkan aku, Pa. Aku tidak bermaksud menentang Papa,” kataku pelan.


“Aku sudah bilang, lakukan apa yang kamu anggap baik. Aku akan selalu mendukungmu.” Papa menepuk bahuku, lalu berjalan keluar dari bilik.


Para karyawan yang berada di bilik yang Papa lewati ternyata berdiri dan baru duduk setelah Papa keluar dari ruangan kami. Aku menatap mereka semua dengan mulut ternganga. Betapa besarnya karisma Papa sampai orang-orang rela menghentikan pekerjaannya sesaat demi menghormati dia.


Lihat saja. Aku pasti bisa menjadi pemimpin seperti Papa, bahkan lebih baik lagi. Perusahaan ini juga tidak hanya bertahan, tetapi semakin maju di tanganku. Aku tidak mau kalah dari papaku sendiri.


Tiga bulan sesuai prediksi dokter, Clarissa akhirnya akan melepas gips pada tangan dan kakinya. Aku ikut menemaninya bersama seluruh keluarganya. Uncle Mason dan Aunt Claudia juga datang untuk memberi dukungan kepada cucu mereka. Tulang tangan dan kakinya pulih dengan sempurna, tetapi dia diminta untuk tidak memaksakan diri menggunakan keduanya.


Atas desakan Aunt Claudia dan Mama, aku dan Clarissa meresmikan pertunangan kami. Acaranya sederhana hanya antara kami dengan keluarga dan sahabat terdekat. Meskipun begitu, Papa dan Om Edu tidak bisa melarang wartawan yang mencium adanya acara penting tersebut. Om Edu terpaksa menyediakan satu ruangan agar mereka bisa mewawancarai kami.


“Kabarnya kalian sudah dijanjikan terhadap satu sama lain sejak masih kecil. Apakah itu benar?” tanya salah satu wartawan.


“Itu benar. Mama Hadi dan Grandma ingin hubungan mereka bisa lebih akrab dengan mendekatkan kami berdua.” Aku membiarkan Clarissa yang menjawab.


“Itukah sebabnya selama ini kamu tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun, Hadi?” tanya yang lainnya kepadaku. Aku membenarkan dugaannya tersebut. “Tetapi Clarissa hilang sejak dia berusia dua tahun. Apa yang membuat kamu percaya bahwa dia akan kembali?”


“Aku hanya menepati janji yang diucapkan antara kedua orang tua kami. Sampai nasib Clarissa diketahui, maka aku tidak mendekati gadis mana pun. Seandainya ditemukan bukti yang tidak bisa dibantah lagi bahwa dia sudah meninggal, barulah aku lepas dari janji itu.” Aku melihat ke arah Clarissa. “Aku beruntung. Dia kembali kepadaku dalam keadaan sehat.”


“Kamu menjaga jarak dengan banyak perempuan, tetapi Clarissa tidak. Dia kencan dengan banyak laki-laki dari berbagai usia. Kabarnya, dia tidak hanya makan atau jalan bersama mereka, ada juga yang mengaku pernah tidur dengannya. Apa kamu tidak keberatan dengan itu?” tanya seorang dari mereka dengan wajah pura-pura lugu.

__ADS_1


Aku merasakan Clarissa mempererat genggamannya pada tanganku. Dia pasti tidak menduga akan ada dari mereka yang mengingatkan dia akan masa lalunya. “Dia hidup seorang diri di luar sana. Apa yang dia lakukan adalah caranya untuk bertahan hidup. Aku tidak peduli apa yang dia lakukan dan bersama siapa, semua itu adalah masa lalunya. Yang terpenting pada saat ini adalah kami saling mencintai dan siap membangun masa depan bersama.”


Mereka menanyakan hal serupa mengenai masa lalu Clarissa, maka aku yang menjawab semuanya. Tetapi ketika satu wartawan mengungkit masa laluku, kejadian saat di sekolah yang seharusnya tidak diketahui orang di luar sekolah, aku mengerti. Inilah yang dihindari Papa sehingga dia tidak pernah mau diwawancarai oleh siapa pun. Mereka bagaikan burung pemakan bangkai yang tidak sabar menunggu mangsanya mati untuk dimakan.


“Hati-hati menuduh tanpa bukti. Anda bisa dikenai pasal pencemaran nama baik. Aku dan gadis itu tidak punya masalah dan melanjutkan hidup kami. Lakukan riset dengan baik sebelum bertanya,” kataku dengan serius.


“Teman-teman wartawan, terima kasih atas wawancaranya,” kata Tante Gista memotong. Aku dan Clarissa akhirnya selamat juga. “Acara akan dimulai, jadi kami meminta Anda untuk mengikuti Pak Abdi ke ruangan sebelah. Makanan dan minuman sudah tersedia di sana. Jika Anda mau mengikuti acara, silakan. Mohon untuk tidak mengambil gambar atau merekam, karena acara ini tertutup.”


Aku dan Clarissa berdiri, mengikuti instruksi Tante Gista. Dia datang pada saat yang tepat. Aku bisa kehilangan kendali bila dibiarkan lebih lama lagi bersama mereka. Ini adalah kesempatan langka yang bisa mereka dapatkan, tetapi mereka menyia-nyiakannya dengan semua pertanyaan bodoh itu.


“Sebentar, Clarissa, Hadi. Ada satu pertanyaan lagi yang sangat penting,” seru seorang wartawan. Aku memejamkan mata berusaha untuk menenangkan diriku. Kami menoleh dan melihat pria itu sedang menatap layar ponselnya. “Benarkah Clarissa pernah hamil dan menggugurkan kandungan di sebuah klinik aborsi ilegal?”


*******


Sementara itu di sebuah ruangan~


Finley mengepalkan tangannya dengan kuat melihat sosok Clarissa dan Hadi memenuhi layar televisi. Mereka duduk begitu dekat pada sebuah sofa dengan satu tangan sang pemuda digenggam kedua tangan sang gadis di atas pangkuannya. Wajah mereka begitu bahagia saat menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari wartawan.


Bahkan setiap pertanyaan yang menjebak pun mereka jawab dengan mulus. Finley melihat ke sekelilingnya. Narapidana lain menonton dengan santai, juga acuh tak acuh. Hanya beberapa yang memberi komentar bahwa mereka tampak sangat serasi. Darah Finley semakin mendidih.


“Semua orang itu tidak berguna!” seru Finley setengah berbisik kepada dirinya sendiri. “Aku berhasil menjauhkan gadis itu dari keluarganya selama bertahun-tahun. Tetapi karena semua orang bodoh itu, rencanaku gagal total. Manda dan Foster memang tidak berguna. Bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini? Aku harus keluar dari sini secepatnya. Mila tidak boleh menikah dengan pemuda itu!”


“Dia benar-benar sudah gila. Setiap hari dia hanya komat-kamit pada dirinya sendiri,” ucap seorang pria yang duduk tidak jauh darinya.


“Itu bahasa Inggris, bodoh! Makanya sekolah yang benar,” ejek temannya yang duduk di sampingnya. Finley mendelik ke arah mereka. “Lihat aku, begini cara bicara dengan bule.”

__ADS_1


__ADS_2