Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 92 - Bukan Salahmu


__ADS_3

Ada begitu banyak buket bunga berbagai ukuran memenuhi ruangan tersebut. Siapa yang mengirim begitu banyak bunga ke rumah kami? Dan untuk siapa semua buket dan rangkaian bunga yang indah ini? Seingatku, Papa, Mama, Kakak, atau Adi tidak punya hal yang perlu dirayakan.


Gold dan Black sudah mencari posisi nyaman di sudut ruangan. Mereka berbaring bersisian saat aku berjalan mendekati buket bunga tersebut. Ada berbagai jenis bunga yang ada di sekitarku. Mawar berbagai warna, lili, kamomil, amarilis, bahkan bunga matahari.


Aku mengambil kartu dari salah satu buket bunga dan membukanya. Hei, gadis kuat. Aku rindu kamu. Kapan aku boleh memeluk kamu? Vikal. Buket bunga mawar putih dari Vikal. Aku segera mengambil kartu lain dan membaca isinya. Dira, aku kagum padamu. Kamu tegar sekali. Jangan biarkan mereka menang. Kapan saja kamu siap, aku ingin kita minum teh dan makan kroisan bersama. Laras.


Tanpa terasa air mataku menetes membaca kedua pesan itu. Jadi, semua bunga ini dari rekan-rekan kerjaku di agensi? Aku mengambil kartu lain dan membacanya. Cepat bangkit, gadis kecil. Aku sudah tidak sanggup berkata tidak setiap kali ada yang membutuhkan jasamu. Billy. Bahkan pemilik agensi modeling di mana aku terikat kontrak pun mengirimi aku bunga?


Apa mereka tidak malu punya hubungan dekat denganku? Untuk apa mereka mengirim bunga dan menyampaikan kata-kata semanis ini? Aku hanya akan mencoreng reputasi agensi bila masih bekerja mewakili mereka. Tidak akan ada orang yang mau membeli produk bila aku yang menjadi modelnya. Untuk apa mereka mempertaruhkan nama baik mereka demi aku?


“Mereka semua datang setiap hari dan membawa bunga ini untukmu.” Terdengar suara Mama dari arah belakangku.


“Datang ke sini?” tanyaku terkejut. Mama mengangguk pelan. “Bunga ini mereka bawa sendiri ke rumah kita? Mereka tidak mengirimnya lewat kurir?”


“Tidak. Mereka datang sendiri membawa bunga-bunga itu. Mereka ingin memberinya langsung padamu dan menjenguk kamu. Mereka semua khawatir dengan keadaanmu. Aku tidak mengizinkan mereka menemui kamu karena aku tahu kamu belum siap. Charlotte dan teman-temanmu itu kasus khusus. Mereka tidak peduli dengan laranganku.” Mama menggeleng pelan.


Jadi, semua bunga ini mereka bawa sendiri? Aku pikir karena ada kartu ucapan, buket dan rangkaian bunga ini dikirim lewat kurir.


“Mereka juga membawa makanan, minuman, dan buah kesukaanmu. Kami menyajikannya untuk mereka karena kamu tidak mungkin menghabiskan semuanya sendiri.” Mama berdiri di sisiku. “Kamu lihat, ‘kan? Apa yang kamu takutkan tidak terjadi.”


“Iya.” Aku terisak.


“Teman-teman tidak menjauhi kamu. Rekan-rekan kerja, asisten, bahkan atasanmu tidak membuang kamu. Mereka tahu kamu tidak bersalah. Kamu adalah korban, sayang. Bahkan para penggemarmu membela kamu mati-matian di media sosial. Mereka mendukung kamu untuk memulihkan diri, juga tidak sabar menunggu kamu untuk kembali.”


Tangisku pecah saat Mama memeluk tubuhku. Aku tidak menduga bahwa aku dikelilingi oleh orang-orang baik. Seandainya mereka menjauhi aku, maka aku tidak akan menyalahkan mereka. Karena aku mengerti bahwa reputasi adalah segala-galanya dalam profesi kami.


“Apa kamu tahu? Colin juga datang setiap hari untuk mengetahui keadaanmu.” Mama melonggarkan pelukannya, maka aku melakukan hal yang sama.


“Dia datang setiap hari untuk menolong proyek menulis Mama.” Aku segera meralatnya.

__ADS_1


“Itu hanya alasan untuk menutupi tujuan yang sebenarnya. Aku sering mendapati dia berdiri di dekat tangga dan menatap ke lantai atas. Kalau bukan karena masalah di antara kalian, aku yakin dia sudah naik ke kamarmu. Jadi, sayang, tidak benar bahwa tidak ada pemuda yang mau menjadi pacarmu.” Mama tersenyum sambil menolong menyeka air mataku.


“Bila hanya ada Colin satu-satunya laki-laki di rumah ini, aku tidak sudi menikah dengannya,” kataku dengan tegas.


“Hati-hati mengucapkan kalimat itu. Aku adalah contoh nyata yang terjebak ucapanku sendiri. Aku selalu berkata bahwa aku tidak sudi menikah dengan Hendra. Lihat apa yang terjadi padaku, kami menikah dan bertahan sampai hari ini.” Mama mendesah pelan untuk mendramatisir. Tetapi dari nada bicaranya, sepertinya dia sudah berbaikan dengan Papa.


“Sekarang, lihat ke sisi kananmu. Ada yang sudah tidak sabar untuk bertemu lagi denganmu.” Mama menoleh ke sisi kirinya.


Aku menurutinya dan melihat pekerja rumah kami berdiri di sana. Mereka semua menatap aku dengan mata berkaca-kaca. Bahkan Pak Sakti yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara terlihat berusaha keras untuk mengendalikan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


Tidak ada rasa malu sedikit pun yang aku rasakan saat melihat cara mereka menatap aku. Mereka tidak mengejek atau merendahkan aku dengan mata mereka. Aku justru melihat duka menyelimuti wajah mereka. Ternyata bukan hanya aku yang terpukul dengan kejadian ini, tetapi mereka juga.


Orang pertama yang aku peluk adalah Pak Abdi. Pria itu menangis, tidak sanggup mengatakan apa pun. Jadi, aku juga hanya diam. Bu Yuyun mengusap-usap punggungku ketika kami berpelukan. Dia sudah seperti ibu kedua bagiku. Sejak aku masih kecil, selain Mama, dia adalah orang yang selalu ada setiap kali aku membutuhkan seseorang.


“Apa yang ingin Anda makan pagi ini, Nona?” tanya Pak Fahri. “Saya akan masakkan apa saja yang ingin Nona makan. Menu makanan baru juga tidak apa-apa.”


Aku tertawa terharu mendengarnya. “Mm. Aku ingin makan wafel, Pak. Dengan dua bola es krim stroberi dan banyak potongan buah segar.”


Setelah beberapa hari tidak joging bersama keluargaku, aku kembali berolahraga bersama mereka. Black dan Gold tidak pernah jauh dari sisiku. Padahal aku sudah tidak merasa sedih lagi, tetapi mereka masih terlihat enggan berada jauh dariku.


Yang membuat aku tenang adalah Papa dan Mama sudah berbaikan. Mereka berlari beriringan dan sesekali terdengar mengobrol sambil tertawa bersama. Ketika mereka pikir tidak ada yang melihat, mereka berciuman di depan pintu kamar mereka sebelum masuk dan mengunci pintu dari dalam.


Menjelang siang, para pelayan sibuk menyiapkan meja saji di dekat pintu ruang depan. Kemudian mereka meletakkan piring saji dengan berbagai makanan ringan, wadah berisi air minum, air buah, jus jeruk, kopi, dan teh. Mama tidak bilang kami akan mengadakan perayaan pada hari ini.


Bunyi mobil memasuki pekarangan membuat Pak Abdi berjalan menuju pintu depan. Aku melirik jam, belum waktunya Kak Hadi pulang dari kampusnya atau Adi pulang dari sekolahnya. Colin juga tidak mungkin datang pada jam ini karena dia punya jadwal kuliah yang sama dengan Kakak.


“Selamat datang, Pak,” sambut Pak Abdi dengan ramah kepada orang yang memasuki rumah kami. Aku mengangakan mulutku melihat siapa yang datang.


“Oh! Diraaa!!!” Pria itu setengah berlari mendekati aku. Dia tidak segan-segan memeluk aku dengan erat. “Apa kamu baik-baik saja, sayang? Aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Ya, ampun. Aku lega sekali bisa melihat kamu lagi.”

__ADS_1


“Terima kasih, Vikal. Iya, aku baik-baik saja.” Aku membalas pelukannya.


“Dasar perempuan laknat! Siapa wanita bernama Nora Camillia itu? Lancang sekali dia menyakiti kamu!” Vikal melepaskan pelukannya, lalu menyentuh pipiku. “Kamu jangan khawatirkan apa pun, oke? Tidak ada kontrak yang dibatalkan. Semua orang tahu bahwa kamu tidak berinisiatif membuat siaran langsung itu. Kami semua memperjuangkan agar nama kamu tetap baik.”


“Minggir, Vikal. Aku juga perlu melihat gadis kecilku.” Pak Billy menepuk bahu Vikal. Asistenku itu ingin membantah, tetapi atasan kami melotot padanya. Begitu Vikal menyingkir, Pak Billy membuka kedua tangannya lebar-lebar.


Aku tidak ragu untuk mendekat dan memeluknya. Tangisku pecah karena rasa bersalah yang memenuhi dadaku. “Maafkan aku, Pak. Maafkan aku.”


“Mengapa kamu meminta maaf? Ini bukan salahmu. Aku yang seharusnya meminta maaf karena tidak bertindak lebih cepat untuk melindungi kamu. Aku kalah cepat dari papamu yang berhasil menghentikan siaran itu disebar atau diunduh oleh netizen.” Pak Billy mengusap-usap punggungku untuk membantu menenangkan aku.


“Pak Billy benar. Ini bukan salahmu.” Vikal mengacak-acak rambutku.


Mereka berdua bukan satu-satunya orang yang datang menemui aku. Sahabatku, Laras, juga rekan model lainnya, baik yang satu atau berbeda agensi denganku, datang mengunjungi aku. Mereka memberi reaksi yang sama dengan memeluk dan memberi dukungan mereka kepadaku.


Sama seperti hari sebelumnya, mereka membawa bunga dan makanan kesukaanku. Makanan itu kami nikmati bersama. Entah apa yang sudah aku lakukan kepada mereka selama ini sehingga mereka menerima aku apa adanya. Aku tidak pernah merasakan sedekat ini dengan mereka, baik secara fisik maupun emosional.


“Hei, hei, lihat ini!” Vikal menunjukkan layar ponselnya kepadaku. Aku refleks menutup mata karena tidak mau melihat apa pun yang ingin dia tunjukkan kepadaku. “Jangan khawatir, Dira. Aku tidak akan memperlihatkan hal buruk padamu. Ini justru hal baik, tetapi agak aneh.”


Hal baik, tetapi agak aneh? Penasaran dengan gambaran yang dia sebutkan, aku melirik layar ponselnya. Bukan hanya aku, tetapi orang-orang yang berada di dekatku ikut melihatnya.


*******


Sementara itu di suatu tempat~


Reese mengerang kesal. Dia melempar ponselnya ke sisi kosong sofa di sampingnya. “Bagaimana bisa tidak ada satu pun berita mengenai siaran langsung itu? Mengapa Dira selalu saja beruntung? Siapa orang kuat yang berada di belakangnya? Apa jangan-jangan dia punya sugar daddy?” Reese kini tersenyum curiga.


Cilla menggeleng pelan, tidak percaya. “Kamu tidak tahu siapa yang selalu melindungi Dira?” Reese menggeleng dengan cepat. “Apa kamu tidak dengar apa yang Pak Sam sampaikan sehingga video kamu yang viral itu harus dia bayar mahal?”


“Pak Sam menyuruh aku untuk cuti sejenak dan mempersiapkan diri untuk lanjut studi. Hanya itu yang aku dengar. Memangnya apa lagi yang dia sampaikan?” Reese balik bertanya.

__ADS_1


“Dira adalah putri kandung Pak Mahendra Perkasa, pemilik Satya Perkasa Grup. Satu dari banyak pengusaha berpengaruh di negeri ini. Dia tidak butuh sugar daddy,” ejek Cilla.


“Kamu bercanda, ‘kan?” Reese tertawa geli. Cilla hanya diam membuat Reese memasang wajah heran. “Kamu serius? Clarissa ternyata cucu kandung pengusaha besar, lalu Dira juga??”


__ADS_2