Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 102 - Hari Keberuntungan


__ADS_3

*Colin*


Satu tindakan kecil yang Dira lakukan bisa menghentikan perubahan besar yang terjadi padaku. Aku tidak bermimpi buruk lagi. Dad dan Mama sampai tersenyum penuh arti saat aku keluar kamar untuk sarapan bersama mereka. Lily tidak terlihat, maka dia pasti masih tidur di kamarnya.


“Liburan bersama selama akhir pekan sepertinya hal yang baik untukmu,” kata Mama sambil meletakkan sepiring nasi goreng di depanku. “Sayang sekali, kamu tidak melakukan apa pun untuk bisa dekat dengannya lagi.”


“Ma, dia sedang pemulihan setelah kejadian buruk menimpanya. Aku tidak mau menambah masalah lagi,” kataku menjelaskan. “Tetapi kalau kalian mau membantu menjawab pertanyaanku, mungkin aku dan dia bisa kembali bersama dalam waktu dekat.”


“Aku tidak akan terpancing,” kata Mama dengan tegas.


“Ma, pleaassee ….” Aku memelas. Mama tetap tidak peduli. “Aku kehabisan akal. Bagiku, hubungan kami sempurna. Lalu mengapa ada yang mengatakan bahwa ada yang kurang? Bagaimana bisa orang lain lebih tahu mengenai hubungan kami daripada aku sendiri yang menjalaninya?”


“Bukankah Dira juga beranggapan yang sama? Maka hubungan kalian tidak sesempurna yang kamu duga.” Mama mengangkat kedua alisnya, mengejekku.


Aku mendengus pelan. “Mengapa Mama lebih berpihak pada Dira daripada aku? Ini tidak adil.”


Karena aku tidak berhasil membujuk orang tuaku untuk mencari jawaban, maka aku pamit untuk pergi ke kampus. Lily tidak perlu ke sekolah setiap hari karena dia sedang menunggu pengumuman hasil ujian akhirnya. Hanya murid-murid kelas satu dan dua yang masih ke sekolah.


Ujian akhir semester sudah di depan mata, jadi aku tidak terkejut melihat banyak mahasiswa yang berjalan sambil membaca buku atau berdiskusi mengenai mata kuliah tertentu dengan orang yang duduk di sisi mereka. Hal yang tidak akan pernah dilakukan Hadi. Dia belajar setiap hari. Kapan saja ada ujian atau kuis mendadak, dia selalu siap. Sayangnya, aku tidak ketularan kecerdasan sahabatku.


“Selamat pagi, Hadi,” sapaku yang segera duduk di kursi kosong di sampingnya.


“Pagi, Cole,” balasnya tanpa mengangkat kepalanya dari layar ponselnya.


“Ada kabar yang menarik?” tanyaku ingin tahu.


“Hanya mempelajari sebuah dokumen yang Papa kirimkan padaku,” jawabnya dengan santai.


Hadi tahu benar apa yang akan dia lakukan setelah lulus, sedangkan aku belum. Itu yang membuat aku tidak terlalu bersemangat mengerjakan proposal penelitianku. Menjadi pengajar seperti Dad, aku tidak tertarik. Apalagi menjadi asisten seperti Mama. Hm, tetapi menjadi asisten sahabatku sepertinya boleh juga.


Sampai hari ini, yang menarik bagiku adalah bermain game secara daring. Hobi yang selama ini bisa membantu aku menghasilkan uang. Dad dan Mama menolak uangku digunakan untuk biaya kuliahku. Mereka berdua sepakat bahwa urusan pendidikan sampai strata satu adalah tanggung jawab mereka. Namun bila aku ingin melanjutkan ke jenjang master, maka aku harus bayar sendiri.


Aku yakin belum ada pekerjaan untuk fresh graduate yang memberi gaji sebesar yang aku dapatkan dari bermain game. Tetapi hobi ini tidak akan bisa aku jadikan sumber mata pencaharianku untuk jangka panjang. Bila aku mau meyakinkan Uncle Hendra untuk memberikan putrinya padaku, maka aku harus punya pekerjaan yang stabil.


“Selamat pagi, Hadi, Colin,” sapa Valeria yang baru saja masuk ke ruang kuliah. Hanya aku yang membalas sapaannya itu. “Aku dengar Hadi akan mengikuti seminar proposal besok, bagaimana denganmu, Colin? Proposalmu belum disetujui?”


“Dosen sedang memeriksanya. Aku akan mendapat jawabannya hari ini,” jawabku dengan sopan. “Bagaimana denganmu? Proposalmu sudah disetujui?”

__ADS_1


“Sama seperti kamu. Aku juga menunggu jawaban hari ini. Semoga ada kabar baik untuk kita.” Valeria menyentuh bahuku.


Oke … apa dia pikir Hadi akan terpancing dengan perubahan sikapnya itu? Dia justru akan merasa tenang karena gadis ini tidak mengejarnya lagi. Dan aku tidak mau memberi kesan yang buruk pada Hadi. Dia adalah tiketku menuju hati Dira. Jadi, aku bergerak ke depan agar tangan Valeria yang ada di bahuku berhenti menyentuhku.


Setelah mengikuti dua mata kuliah, Hadi menemani aku ke kantor jurusan untuk menemui dosenku. Antrian mahasiswa bimbingannya sudah panjang, jadi aku harus bersabar menunggu giliranku. Hadi duduk di salah satu bangku kosong sambil membaca entah apa pada layar ponselnya.


“Colin,” ucap dosen pembimbingku sambil mengambil salah satu proposal dari tumpukan dokumen di atas meja kerjanya. “Kerja yang bagus. Sudah tidak ada lagi yang perlu diperbaiki. Silakan temui ketua jurusan untuk menentukan jadwal seminarmu.”


“Terima kasih banyak, Pak!” Aku menjabat tangan pria itu dengan antusias.


Hari ini adalah hari keberuntunganku. Karena selain mendapatkan persetujuan untuk seminar, aku menjadi orang terakhir yang memenuhi kuota seminar pada lusa nanti. Jadi, aku tidak perlu menunggu lama. Dad dan Mama pasti senang mendengar kabar ini nanti.


Seperti biasa, Hadi memilih untuk pulang setelah menemani aku, sedangkan aku ke perpustakaan. Dalam perjalanan, aku melewati gedung jurusan Clarissa. Namun aku tidak berpapasan dengannya. Jadi, aku meneruskan langkahku menuju ruang belajar bersama. Dan di sanalah gadis itu berada.


Aku mempelajari ulang topik yang sudah muak aku baca selama beberapa bulan terakhir. Tetapi aku tidak bisa mengabaikan proposal itu karena seminar nanti akan menentukan apakah aku bisa lanjut mengerjakan penelitian atau harus mengubah isi proposalku.


Melihat Clarissa berdiri dari tempat duduknya, aku ikut merapikan bukuku dan memasukkan alat tulis juga ke ransel. Aku bergegas mengejarnya keluar dari ruang belajar. Ada hal penting yang perlu aku beri tahukan kepadanya.


“Ada apa, Colin? Aku tahu kamu sudah mengamati aku sejak dari ruangan tadi,” ucapnya saat aku sudah berjalan di sisinya.


Aku tertawa kecil. “Kamu kelihatan sangat serius, jadi aku tidak mengganggu kamu tadi.”


“Wah, selamat! Kapan jadwal seminar kamu?” tanyaku ikut merasa senang.


“Lusa. Dan aku sangat deg-degan. Aku khawatir, aku tidak akan bisa menjalaninya dengan baik.” Dia menatapku dengan kening berkerut.


“Kamu pasti bisa. Seminar itu sama saja seperti saat kamu melakukan tugas kelompok, lalu dosen dan teman-teman menanyakan beberapa hal yang sehubungan dengan tugas yang kalian kerjakan.” Aku mencoba untuk menenangkannya. “Bedanya, kamu seorang diri.”


“Apa akan ada pertanyaan jebakan yang bertujuan untuk menguji pengetahuanku?” tanyaku pelan.


“Kalau dari pengalaman para senior, itu tidak akan terjadi pada saat seminar proposal, tetapi sidang skripsi. Karena itu adalah hasil penelitian, jadi mereka perlu memastikan bahwa kamu mengerjakan sendiri segalanya dari awal hingga akhir. Bukan membayar orang lain,” kataku dengan serius.


“Ah, aku tahu kasus itu. Mengapa dia melakukannya? Satu langkah lagi dan dia akan tamat dari kampus. Mengapa malah merusak empat tahun kerja kerasnya di kampus dengan berbuat curang?” tanyanya tidak percaya sekaligus prihatin.


“Yep, sayang sekali.” Aku menggeleng pelan. “Ah, ngomong-ngomong, ada kabar baik untukmu. Hadi akan seminar proposal besok pagi mulai pukul sepuluh. Bila kamu bisa kabur sejenak dari ruang kuliahmu, datanglah ke kantor jurusan kami.”


“Aku ….” Dia berdehem pelan. “Terima kasih atas informasinya, Colin. Tetapi aku tidak akan datang. Dia pasti tidak menyukai kehadiranku. Aku tidak mau merusak konsentrasinya.”

__ADS_1


“Aku mengatakan ini sebagai teman. Akan ada banyak gadis yang datang besok untuk memberi dia dukungan. Tanyakan ini pada hatimu, apa kamu yakin kamu mau dia bersama gadis lain, dan bukan bersamamu?” kataku mencoba menggoyahkan pendiriannya. “Mulai semester depan, kalian tidak akan sering bertemu di kampus. Apa kamu akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memberi dukungan padanya di saat dia sangat membutuhkannya?”


Clarissa tertawa kecil. “Ayolah, Colin. Hadi adalah laki-laki yang mandiri. Dia tidak membutuhkan dukungan dari orang lain untuk sukses.”


“Aku temannya dari kecil. Dia tidak setegar yang sering dia tunjukkan di depan semua orang. Tetapi terserah kamu. Aku hanya ingin membantu andai kamu masih ingin bersamanya lagi.”


“Sebentar.” Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah ponsel. Setelah melirik layarnya, dia menyentuh sesuatu pada layar, lalu meletakkan ponsel itu di telinganya. “Hai, Charlotte.”


Aku tidak bisa mendengar apa yang adiknya katakan, tetapi suaranya cukup keras. Aku yakin dia sedang berteriak karena rasa bahagia. Wajah ceria Clarissa adalah buktinya.


“Benarkah? Selamat, ya! Bagaimana dengan Wyatt? Apakah dia juga lulus?” tanya Clarissa dengan antusias. Lulus? Aku melirik jam tangan untuk melihat tanggal. Ah, apakah hari ini pengumuman kelulusan siswa kelas tiga SMU?


*******


Sementara itu di sebuah tempat~


“Ini tidak benar!” seru Nora saat dia, Vivaldo, dan Jordan digiring keluar dari sel sementara mereka. “Bagaimana bisa dia berani memberi kesaksian!? Seharusnya dia mendekam di dalam kamar dan tidak muncul sama sekali ke muka publik lagi!”


“Aku sudah bilang, ini tidak akan ada gunanya. Kamu yang nekat mau merusak kehidupan keluarga mereka lagi.” Vivaldo menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Om, Tante ….” kata Jordan mencoba untuk melerai mereka.


“Oo, jadi kamu mau menyalahkan aku dan cuci tangan dari masalah ini? Kamu juga mau melihat Aramu itu menderita. Ini bukan hanya keinginanku saja. Memangnya siapa yang punya ide untuk merusak reputasi anak perempuannya? Kamu, Vivaldo!” tuduh Nora.


“Itu bukan ideku! Kamu bertanya, siapa yang bisa kita dekati untuk menyakiti Hendra dan Ara. Aku hanya menjawab, kita dekati anak perempuan mereka saja. Bukan aku yang punya ide menayangkan siaran langsung dia tanpa pakaian!” teriak Vivaldo penuh amarah.


“Sudah! Hentikan!” jerit Jordan dengan suara lebih keras. Vivaldo dan Nora mengarahkan perhatian mereka kepadanya. “Apa yang kalian lakukan? Apa kalian tidak sadar? Kalian baru saja mengakui kejahatan kalian sendiri di depan banyak saksi.”


Vivaldo dan Nora melihat ke sekitar mereka. Dua orang polisi wanita dan dua orang polisi pria yang membawa mereka menuju pintu keluar menatap mereka dengan wajah tanpa ekspresi. Mereka kemudian saling bertukar pandang dan wajah mereka seketika itu juga memucat.


*******


Author's Note~


Mohon maaf ada keterlambatan update untuk bab 101, ya, teman-teman. Bab itu sudah aku publikasikan sejak 20 Juni siang. Tetapi kabarnya yang mengulas setiap bab yang masuk sedang cuti, jadi tidak ada bab yang bertambah sejak kemarin pagi.


Untuk menghibur teman-teman, aku sudah menyiapkan bab ini. Semoga saja waktu review-nya tidak lama.

__ADS_1


Salam sayang,


Meina H.


__ADS_2