Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 161 - Berbagi Kabar


__ADS_3

Mengetahui bahwa Hadi akan datang ke kampus untuk menemui dosen pembimbingnya, aku juga pergi ke sana setelah mengantar Lily. Daripada hanya sendiri saja di rumah, aku lebih baik ke kampus dan bertemu Hadi. Lagi pula aku belum sempat menceritakan apa pun kepadanya mengenai masalah keluargaku yang syukurnya hampir usai.


Aku menunggu di depan ruang dosen bersama mahasiswa lain. Valeria tidak kelihatan di mana pun, tetapi aku harus bersikap waspada. Perempuan itu bisa muncul kapan saja dan di mana saja. Aku tidak mau punya masalah lagi dengan Dira karena ulahnya.


“Hai, Cole!” sapa Hadi yang berjalan mendekati ruang dosen. “Aku segera kembali.” Dia pasti sudah berjanji akan bertemu langsung dengan dosennya, jadi aku hanya mengangguk.


Dia berada di dalam cukup lama. Itu artinya ini adalah pertemuannya untuk berdiskusi dengan dosen, bukan sekadar menyerahkan skripsinya yang sudah dia kerjakan. Wah, rencanaku untuk lulus lebih cepat darinya bisa gagal total. Dira memang tidak bisa menyimpan rahasia. Mengapa dia memberi tahu Hadi bahwa aku sudah menemui dosen dan menyerahkan skripsiku?


Begitu Hadi keluar, aku berdiri dan dia mengajak aku pergi dari tempat itu. Perkuliahan jam pertama masih berlangsung, jadi suasana kampus sangat sepi. Hanya ada satu atau dua orang yang terlihat berjalan di koridor kampus. Hadi berjalan menuju tempat parkir.


“Kita mau ke mana?” tanyaku bingung.


“Aku hanya dapat izin sampai jam makan siang. Aku harus sudah berada di kantor saat istirahat usai. Kamu belum menceritakan apa pun mengenai masalah kamu. Jadi, kita ke kafe di dekat kantor Papa saja. Tugasmu hanya menjemput Lily dari sekolah, ‘kan?” tanyanya.


“Bagaimana kamu bisa tahu? Bisa saja aku menemui dosenku pada hari ini,” kataku berkelit.


“Dira cerita kepadaku bahwa kamu ke kampus kemarin. Untuk apa lagi kamu datang kalau bukan karena bertemu dosen? Semua mata kuliahmu, ‘kan, sudah beres,” ejeknya. Aku tertawa. “Dosenmu tidak mungkin bisa membaca skripsimu dalam satu hari. Jadi, kamu ke sini untuk bertemu denganku.”


Aku tidak mendebatnya lagi. Karena dia mengendarai mobilnya, aku tidak menunggu dan bergerak lebih dahulu ke kafe yang dia maksud. Setelah memesan minuman hangat dan makanan ringan untuk kami berdua, aku memilih tempat duduk untuk dua orang.


Hadi tiba bersamaan dengan pesananku yang sudah bisa diambil. Kami menambahkan gula juga krim ke minuman kami masing-masing. Keadaan kafe masih sepi. Tetapi aku yakin para pengunjung akan berdatangan begitu jam makan siang tiba.


“Jadi, ada apa? Mengapa kamu tidak bisa menceritakan masalah yang sedang kamu hadapi beberapa waktu yang lalu?” tanya Hadi tanpa basa-basi.


Aku menceritakan segalanya kepadanya. Mulai dari Dad yang tidak pulang, lalu kami menemukan dia tidur di kamar hotel dengan Aunt Chelsea. Hadi tahu siapa wanita itu dan hubungannya dengan Dad. Dia juga tahu apa yang aku ketahui mengenai perasaan Aunt Chelsea kepada Dad.


“Yang kita khawatirkan selama ini terjadi juga.” Hadi menggeleng pelan. “Aku pikir dia tidak akan berani melakukannya di sini. Karena itu kamu selalu menjaga Uncle Will setiap kali kalian pulang ke Amerika. Ternyata kita salah menilai dia.”


“Hubungan Dad dan Mama memang masih buruk. Tetapi aku berharap pada akhir pekan ini mereka sudah bisa membicarakan masalah mereka dan mencari solusi bersama,” kataku pelan. “Aku juga mulai khawatir hubunganku dengan Dira akan menemui masalah yang sama.”

__ADS_1


“Apa maksudmu?”


“Valeria mendadak memeluk aku kemarin. Untung saja Dira bisa berpikir jernih dan tidak marah. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan seandainya saja kesalahan Dad juga aku lakukan.”


“Cole, pengkhianatan bisa terjadi dalam bentuk apa saja. Itu memang ketakutan terbesar kita. Tetapi adikku tidak bodoh. Dia bisa membedakan mana jebakan dan mana kesalahanmu sendiri. Jadi, kamu tidak perlu khawatir berlebihan.” Hadi mendekatkan tubuhnya ke meja. “Lalu apa yang Valeria mau dengan memeluk kamu? Apa dia mengatakan sesuatu?”


“Hebat juga kamu bisa menebak dia menginginkan sesuatu,” kataku sedikit terkejut.


“Setelah apa yang terjadi pada hidup kita belakangan ini, aku tidak percaya lagi ada orang yang mendekati kita tanpa ada niat buruk.” Hadi melihat ke sekeliling kami.


“Katanya, dia akan melakukan apa saja untuk menyakiti kamu, termasuk dengan menyakiti adikmu.” Aku mengulang kalimatnya yang aku dengar pada hari itu.


“Sudah saatnya melibatkan Papa. Aku tidak mau lagi menerima kejutan apa pun dari perempuan itu. Aku seharusnya sudah curiga ketika dia berpura-pura sakit dan meminta aku menemaninya ke ruang kesehatan. Ada yang aneh dengan gadis itu. Dia menyatakan cinta, lalu terus saja mendekat setelah ditolak. Dia sampai menanyakan kabarku lewat Dira, dan berikutnya dia memeluk kamu? Kalau dia tidak gila, maka ada masalah di masa lalu yang membuat dia tidak juga menyerah.” Hadi mengetik dengan cepat di ponselnya.


“Dira sudah mengadu kepada Uncle. Tetapi aku tidak tahu apa hasilnya,” ucapku pelan.


Hadi berhenti mengetik dan menatap aku dengan serius. “Papa sudah tahu hal ini?”


“Berarti Om Irwan belum mendapatkan info lengkapnya. Biasanya Papa akan bertanya kepadaku jika orang itu ada hubungannya dengan aku.” Hadi meletakkan ponselnya kembali di atas meja.


“Ngomong-ngomong, bagaimana denganmu? Apa ada kabar terbaru dari para karyawan magang itu? Aku dengar Clarissa juga ada di antara mereka.” Aku mengedipkan sebelah mataku kepadanya.


“Sejak kapan kamu suka melakukan kebiasaan buruk Wyatt itu? Tidak biasanya kamu mengedipkan mata.” Hadi mengerutkan keningnya, tidak suka dengan perubahan kecil itu. “Keinginan semua orang sudah tercapai. Aku dan Clarissa sudah kembali bersama.”


“Ini serius atau hanya main-main?” tanyaku tidak percaya. “Kamu akan memanggil dia Rissa bila kamu serius dengan hubungan kalian.”


Hadi tersenyum. “Kamu memang sahabat baikku,” katanya puas. “Aku memberi dia kesempatan selama tiga bulan. Jika dalam waktu itu dia masih meminta putus lagi, maka ini adalah kesempatan terakhir yang aku berikan kepadanya.”


“Aah, jadi ini hanya hubungan uji coba.” Aku mengangguk mengerti. “Semoga saja dia berhasil melewati ujian enteng ini. Kalian berdua sangat serasi. Apa kamu tidak bisa melihat hal itu?”

__ADS_1


“Aku tidak peduli dengan serasi, cocok, dan kata-kata bohong lainnya. Semua itu tidak ada gunanya jika Clarissa tidak kuat menjalani hubungan denganku. Kamu tahu sendiri bahwa keluargaku punya banyak musuh. Mereka akan melakukan apa saja untuk membuat kami menderita,” kata Hadi yang ada benarnya. Aku sudah menjadi saksi mata yang melihat sendiri apa yang orang lain sanggup lakukan untuk melukai mereka.


“Apa ada yang bisa aku bantu?” tanyaku menawarkan diri.


Hadi menggeleng pelan. “Aku tidak mau kamu bicara dengan Clarissa dan meminta dia untuk tidak pernah memutuskan hubungan kami,” katanya mengancam.


Aku tertawa kecil. “Tidak, Hadi. Maksudku bukan Clarissa, tetapi masalahmu dengan Valeria.” Aku berdehem pelan. “Apa yang ada di kepalamu sekarang hanya dia?”


“Tutup mulutmu!” Wajahnya memerah yang aku yakin bukan karena marah, tetapi malu. Clarissa adalah satu-satunya gadis yang sanggup membuat dia jatuh cinta. Mana mungkin dia bisa jauh dalam waktu yang lama dari perempuan yang dia cintai.


Kami berpisah beberapa menit sebelum jam makan siang kantornya berakhir. Aku tiba di depan gerbang sekolah Lily tepat waktu. Murid-murid lain sudah keluar dari pagar besar itu, tetapi adikku belum terlihat berdiri menunggu kedatanganku. Setelah beberapa menit, aku melihat dia dan Adi.


“Hai, Colin! Terima kasih sudah menolong aku kemarin,” katanya sambil memberi aku sesuatu. Aku mengerutkan kening melihat kartu kecil itu. “Voucher game gratis untukmu. Isinya lumayan. Kamu bisa membeli apa saja untuk karaktermu. Sampai besok.”


Adi segera berlari mendekati mobilnya. Aku menoleh ke arah Lily dan melihat dia sedang menatap kartu di tanganku. “Kamu mau? Ambillah.” Aku memberikan voucher itu untuknya.


“Ah, tidak. Kata Adi, itu hadiah untukmu,” katanya menolak.


“Aku tidak membutuhkan apa pun untuk karakterku. Untukmu saja.” Aku kembali menyodorkan kartu itu untuknya. Kali ini dia menerimanya dan berterima kasih.


Setelah mengambil skripsiku dari dosen pada hari berikutnya, aku tidak akan bisa menyentuh game untuk beberapa hari ke depan. Jadi, aku menggunakan sisa hari itu untuk bermain bersama adikku. Dia terlihat lebih santai sekarang dibandingkan kemarin. Aku bahkan tidak melihat dia memberi perhatian lebih kepada Adi. Mungkin setelah kami bicara, bebannya terasa lebih ringan.


Mencintai seseorang memang bisa terasa berat, terutama ketika orang yang kita sayangi bukanlah untuk kita. Melihat Lily mengingatkan aku kepada Aunt Chelsea. Sayang sekali, dia menyia-nyiakan masa mudanya untuk menunggu Dad membalas cintanya. Setidaknya, adikku tidak akan melakukan kesalahan yang sama.


Muncul pemberitahuan di bagian atas layar game saat aku sedang makan malam bersama adikku. Panggilan masuk dari Dira. Aku segera menjawabnya. “Hai, sayang!” sapaku bahagia. Lily berdehem.


“Colin, apakah kamu bersama Kakak hari ini? Dia tadi ke kampus, apa kamu bertemu dengannya?” tanya Dira tanpa membalas sapaanku.


“Iya. Kami mengobrol dan makan di kafe dekat kantornya. Lalu kami berpisah sebelum jam makan siangnya berakhir. Ada apa?” tanyaku bingung.

__ADS_1


“Kakak tidak kembali ke kantornya dan sampai sekarang dia juga belum pulang. Kami tidak tahu di mana dia berada sekarang,” ucap Dira yang lalu menangis tersedu-sedu. “Ka-kakak tidak menjawab panggilan dari ka-kami.”


__ADS_2