
Suasana kelas sejenak hening karena pukulan keras tersebut. Wajah Charlotte memerah dan dia segera meminta maaf kepada semua orang. Dia tidak sengaja memukul meja terlalu keras. Aku mengulum senyum melihat reaksinya. “Cemburu, Charlotte?” godaku setelah teman-teman kembali fokus pada urusan mereka masing-masing.
“Sebaiknya kita berhenti membicarakan pecundang itu. Dia tidak pantas mendapatkan perhatian dari kita.” Charlotte menggigit roti dan mengunyahnya dengan cepat.
“Kamu yang membahas dia, bukan aku. Lagi pula—” Kalimatku terpotong karena Charlotte mengangkat tanganku yang memegang roti ke mulutku. Aku tertawa kecil.
“Aku sudah bilang berhenti. Kamu ini temanku atau dia, sih?” ucap Charlotte kesal.
Aku menurut dengan melahap rotiku dan tidak lagi membahas tentang Wyatt. Kami sepakat untuk tidak mendiskusikan mengenai pelajaran juga. Walaupun teman-teman yang duduk di sekitar kami sibuk berdebat mengenai salah satu topik yang kami yakin masuk dalam soal ujian, kami tidak tertarik untuk melakukan hal yang sama.
Datang lebih cepat ke ruang ujian ternyata tidak banyak membantu. Semakin waktu dimulainya ujian semakin dekat, aku semakin gugup. Jantungku berdebar tidak karuan, telapak tanganku terasa dingin, dan otakku seperti berhenti berpikir. Semua yang aku pelajari selama ini seolah-olah lenyap dari kepalaku. Kak Hadi benar. Datang lebih cepat atau tepat waktu, tingkat kegugupannya sama saja.
“Pagi, Dira!” sapa Jordan yang baru datang. Dia meletakkan tasnya di tempat duduknya, lalu datang mendekati aku. “Saran yang kamu berikan kepadaku sangat manjur! Terima kasih, Dira. Aku bisa mempelajari soal-soal ujian dengan baik dan aku siap untuk mengikuti ujian pada hari ini.”
Aku beradu pandang dengan Charlotte sebelum kembali melihat ke arah pemuda itu. “Sama-sama, Jordan. Tetapi itu tips yang juga dilakukan oleh teman-teman kita yang lain.”
“Kamu selalu saja merendah. Walaupun semua teman kita tahu cara belajar itu, tetapi hanya kamu yang berbaik hati memberi tahu aku caranya,” katanya dengan wajah bahagia. Untuk menghindari perdebatan yang tidak penting, aku memutuskan untuk setuju saja dengan apa yang dia katakan.
“Mm, Dira. Apa kita bisa bicara sebentar?” tanyanya dengan ekspresi wajah lebih serius.
“Kita sedang bicara. Kamu mau membicarakan apa?” tanyaku bingung.
Dia melihat ke sekeliling kami. “Tidak di sini. Berdua saja.”
“Jordan, ujian akan segera dimulai. Kita bisa lakukan itu nanti kalau kamu ingin bicara berdua saja denganku. Aku tidak mau terlambat mengikuti ujian.” Aku melirik jam tanganku.
Dia mengerutkan keningnya. “Hanya sebentar. Ujian akan dimulai sepuluh menit lagi, aku hanya meminta satu menit saja. Ini hal yang sangat penting bagiku dan kamu, Dira.”
__ADS_1
Aku mengerutkan kening mendengar kalimatnya itu. “Tidak ada yang lebih penting bagiku saat ini selain lulus ujian.”
“Ada apa, Dira? Apa Jordan membuat kamu merasa tidak nyaman?” tanya Wyatt menengahi kami. Dia berdiri sambil meletakkan tangannya pada sandaran kursiku. Tinggi badannya jauh melebihi Jordan, tetapi pemuda itu tidak merasa terintimidasi.
Aku memutar bola mataku mendengar pertanyaannya itu. “Tidak ada apa-apa, Wyatt. Jordan hanya mengajak aku bicara, tetapi nanti setelah ujian usai.”
Jordan membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, tetapi seseorang mengetuk pintu kelas yang terbuka, menarik perhatian semua siswa. “Selamat pagi, anak-anak!” Perdebatan kami akhirnya harus ditunda karena pengawas ujian sudah datang.
Aku menggunakan kesempatan itu untuk mengeluarkan peralatan menulisku, juga menonaktifkan ponselku. Namun membaca nama pengirim salah satu pesan yang baru masuk, aku bergegas membuka dan membaca pesan tersebut.
Selamat mengikuti ujian, cantik. Kamu pasti bisa. Aku menunggu kamu di kampus kita. Kampus kita? Sejak kapan kampus itu milik dia? Dasar laki-laki hobi delusi. Aku bersiap untuk memilih hapus pesan, tetapi aku membatalkannya dan segera mematikan ponselku.
Debaran jantungku yang cepat perlahan berdetak secara teratur ketika aku membaca dan menjawab soal demi soal dengan saksama. Hal yang ditanyakan tidak jauh dari contoh soal yang sudah kami pelajari bersama di tempat les dan yang diajarkan oleh guru. Aku hanya perlu berhati-hati membaca kalimat pada soal agar tidak terjebak saat memilih jawaban yang benar dari empat pilihan yang ada.
Menepati janjiku, setelah ujian hari pertama usai, aku memberikan waktu pada Jordan untuk bicara berdua saja denganku. Dia mengajak aku untuk bicara di luar kelas, tetapi aku menolak. Kami bisa bicara di kelas ketika pengawas dan teman-teman keluar dari ruangan.
“Aku … kamu sudah lama menerima surat dariku.” Oh, tidak. Dia tidak serius akan membahas surat cinta yang pernah dia berikan, ‘kan? “Aku butuh jawabanmu.” Oh, sial. Dia sedang membicarakan surat itu lagi. Dia menunduk dan menatap lantai. “Kamu sudah tahu bahwa aku menyukai kamu dan kita sangat dekat beberapa minggu terakhir. Perasaanku kepadamu semakin dalam, Dira.”
“Jordan,” kataku mencoba untuk memotong.
“Aku belum selesai bicara,” ujarnya pelan. Aku menutup mulut dan menunggu sampai dia selesai bicara. “Setelah ujian berakhir, kita tidak akan bertemu setiap hari di sekolah, jadi, aku pikir ini adalah kesempatan yang baik untuk menyatakan perasaanku lagi dan mendengar jawabanmu.”
“Kita akan kuliah di fakultas yang sama bila kita beruntung pada saat ujian masuk nanti, jadi kita tidak perlu menjalani hubungan jarak jauh. Aku tidak akan keberatan dengan pekerjaanmu sebagai model, juga tidak akan menuntut kamu memberi waktu untukku. Kita bisa mendiskusikan bagaimana kita membagi waktu agar pekerjaan, kuliah, dan hubungan kita tidak terganggu.” Dia meraih kedua tanganku dalam genggamannya. “Bagaimana menurutmu? Kamu mau menjadi pacarku?”
Aku menarik tanganku perlahan dari pegangannya. “Maafkan aku, Jordan. Aku hanya menganggap kamu sebagai teman. Aku sama sekali tidak punya perasaan khusus kepadamu.”
“Aku mengerti. Kamu baru saja lepas dari hubungan yang telah terjalin selama belasan tahun, pasti sulit bagi kamu untuk memulai hubungan lagi. Tetapi beri aku kesempatan, Dira. Aku bisa buktikan kepadamu bahwa aku lebih baik dari mantan kamu atau laki-laki lain. Aku akan membuat kamu bahagia setiap hari,” katanya berusaha untuk meyakinkan aku.
__ADS_1
“Ini tidak ada hubungannya dengan mantanku. Aku berterima kasih atas perasaanmu untukku, Jordan. Tetapi aku sudah pernah katakan kepadamu, aku hanya ingin berteman denganmu. Tidak lebih. Aku menghargai kejujuranmu, dan aku minta maaf, aku tidak bisa menjadi pacarmu,” kataku dengan hati-hati agar tidak melukai hatinya.
“Mengapa? Apa karena aku orang Indonesia asli? Kamu lebih suka laki-laki bule?” tanyanya yang mulai meninggikan intonasi suaranya.
Aku mengerutkan keningku. “Apa maksud kamu? Aku sudah bilang kita hanya teman. Ini tidak ada hubungannya kamu orang Indonesia atau bule. Tolong, jangan bawa-bawa Colin dalam pembicaraan ini. Aku menghargai perasaan kamu, aku mohon agar kamu juga menghargai jawabanku.”
Walaupun aku dan Colin sudah tidak punya hubungan lagi, aku tidak akan membiarkan siapa pun membicarakan hal yang buruk mengenai dia. Apalagi oleh orang yang tidak pernah mengenal dia secara pribadi. Colin adalah laki-laki yang baik, hanya sedikit bodoh dan naif. Karena kalau dia adalah orang yang jahat, aku tidak mungkin bertahan menjalin hubungan dengannya selama belasan tahun.
“Oke, maafkan aku. Aku tidak bermaksud memaksakan kehendakku kepadamu. Maafkan aku.” Dia mundur selangkah. “Apa kamu mau mempertimbangkan kembali untuk menjadi pacarku? Berapa pun waktu yang kamu butuhkan untuk memikirkannya, aku akan menunggu.”
Aku benar-benar tidak mengerti. Dia adalah anak yang awalnya pemalu dengan kacamata menjadi ciri khasnya. Lalu dia mendadak berubah menjadi pemuda yang menarik dan penuh percaya diri dengan mengubah model rambut, gaya berpakaian, dan melepas kacamatanya. Para siswa putri yang dahulu tidak memerhatikannya, kini mulai mendekati dia.
Dengan semua perhatian yang dia dapatkan, mengapa dia masih saja fokus pada perasaannya kepadaku? Ini bukan pertama kalinya dia memberi sinyal bahwa dia sayang kepadaku. Dan ini juga bukan untuk pertama kalinya aku menyatakan dengan tegas bahwa kami hanya berteman. Dia tidak keberatan dengan itu, lalu mengapa sekarang dia terlihat ingin punya hubungan lebih denganku?
“Sobat, punya harga dirilah sedikit,” ucap Wyatt dari jendela kelas yang terbuka. “Gadis itu sudah bilang tidak, dan dia hanya mau berteman denganmu. Untuk apa kamu memaksa dia memikirkan ulang untuk jadi pacarmu? Dia bisa saja tidak mau berteman lagi karena jijik dengan ulahmu.”
“Kamu harus belajar sopan santun orang timur, Wyatt. Menguping hanya dilakukan oleh orang yang tidak tahu etika. Apa orang Amerika tidak pernah mengajari anaknya sopan santun?” sindir Jordan.
“Jangan bawa-bawa orang tuaku. Kalau kamu mau menghina aku, cukup hina aku. Orang tuaku terlalu terhormat untuk disebut dengan mulut kotormu itu,” seru Wyatt marah.
“Pergilah, Wyatt. Aku dan Dira sedang membicarakan hal yang serius,” usir Jordan.
“Kita sudah selesai bicara, Jordan.” Aku menyandangkan tasku ke bahu. “Aku yakin sopirku sudah lama menunggu. Lagipula kita masih perlu belajar untuk ujian besok.”
“Tapi, Dira,” ucap Jordan setengah memohon. “Kita belum selesai bicara.”
“Kalian sudah selesai bicara.” Charlotte membuka pintu dan mengulurkan tangannya kepadaku. “Ayo, Dira. Aku sudah lapar.”
__ADS_1
“Aku bilang, kita belum selesai bicara!” Langkahku terhenti ketika sebuah tangan memegang erat lenganku dan memutar tubuhku agar kembali berdiri berhadapan dengannya.