
Colin terdiam dan menatap aku dengan pandangan tidak percaya. Dia tahu bahwa aku tidak pernah berbohong, jadi dia tidak akan mempertanyakan informasi yang baru saja aku katakan. Dira memang tidak peka dengan apa tujuan dari laki-laki itu mendekatinya. Tetapi aku, Wendy, bahkan Adi tahu bahwa pemuda itu ingin menjadi pacarnya.
Aku sangat puas melihat Colin tidak bisa berkonsentrasi selama kami bertanding. Kali ini dia tidak seberuntung biasanya, kami berada di dalam tim yang berbeda. Aku bisa sedikit melepaskan emosi yang aku rasakan padanya dengan membuat dia dan timnya kalah telak. Itu hanya hukuman kecil karena dia sudah menyebabkan adikku menangis.
Pada saat makan siang, aku menyantap makananku secepat mungkin. Aku harus pulang dan berganti pakaian agar bisa mengikuti acara pertunangan Charlotte dengan Wyatt. Tidak ada telepon dari Uncle Mason atau Om Edu. Itu artinya Wyatt belum mengatakan apa pun kepada mereka.
Untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi pada acara nanti, aku sudah memberi tahu keluargaku mengenai siapa Wyatt dan alasan sebenarnya dia mendekati Charlotte. Dira sangat marah dan hampir tidak bisa mengendalikan emosinya. Papa berhasil menenangkan dia dan memintanya untuk tidak mengatakan apa pun kepada sahabatnya.
Dalam perjalanan menuju rumah Om Edu, kami hanya diam saja. Papa dan Mama di mobil Papa, sedangkan aku dan adik-adikku di mobilku. Dira sempat tidak mau hadir karena tidak mau melihat sahabatnya terluka di depan matanya. Tetapi Papa tidak mengizinkannya diam di rumah saja.
“Aku tidak percaya ini. Wyatt yang aku kenal sangat baik, tulus, dan mencintai Charlotte adalah seorang pembohong dan bekerja sama dengan orang yang sudah menculik Clarissa,” ucap Dira dengan kesal. “Aku bahkan percaya padanya, memberi dukungan pada hubungan mereka. Dasar semua laki-laki itu penjahat!”
“Heeii …!” seruku dan Adi serentak. “Kalau ada masalah dengan dua orang laki-laki, jangan bawa keseluruhan kaum kami. Colin dan Wyatt memang orang yang memalukan dalam hal asmara, tetapi aku, Kakak, dan Pak Sakti tidak seperti mereka,” protes Adi.
“Lihat saja nanti. Aku pasti akan menarik-narik tambutnya sampai dia botak. Aku tidak peduli apa alasan dia melakukan semua ini. Tetapi begitu dia mengakui siapa dirinya, dia harus pulang ke Amerika. Aku tidak sudi melihat pembohong itu ada di dekat sahabatku lagi.”
Walaupun sudah melampiaskan seluruh emosinya dengan mengatakan semua yang ada di dalam kepalanya, Dira tetap belum bisa mengendalikan dirinya saat kami tiba. Dia keluar dari mobil dan memasuki rumah Om Edu seperti prajurit yang siap untuk berperang. Papa dan Mama hanya saling bertukar pandang, sedangkan aku dan Adi berusaha untuk bersikap senormal mungkin.
Om Edu dan Uncle Mason menyambut kedatangan kami. Para wanita tidak terlihat di sekitar kami, mungkin mereka masih bersiap-siap di lantai atas atau membantu Charlotte. Aku juga tidak melihat Wyatt. Aku berhenti memeriksa keadaan di sekitarku saat Clarissa datang mendekati aku.
“Hai,” sapanya. Dia terlihat sangat cantik dengan baju berwarna kuning yang dia kenakan. Dia tidak memulas riasan wajah terlalu tebal dan rambutnya dia biarkan tergerai. “Mereka sebentar lagi akan turun. Kamu tahu bagaimana wanita saat sedang berdandan.”
“Aku punya dua orang gadis di rumah, jadi sedikit banyak, aku tahu kebiasaan buruk kalian,” kataku setengah menggodanya. Dia tertawa kecil.
“Apa kamu haus? Mau minum sesuatu?” tanyanya sambil menunjuk ke arah meja saji. Aku meraih tangannya dan menggandeng dia mendekati meja tersebut.
__ADS_1
Hari ini akan menjadi hari yang berat, jadi aku memilih kopi hitam. Clarissa mengerutkan keningnya, karena dia tidak pernah melihat aku meminum kopi jenis itu. Biasanya aku memesan kapucino setiap kali kami ke kafe. Aku hanya tersenyum menanggapinya.
Ketika Tante Lindsey dan Aunt Claudia menuruni tangga dan bergabung bersama kami, suasana pesta mulai terasa. Keceriaan para tanteku itu langsung memeriahkan acara. Sampai Dira yang duduk dengan wajah cemberut pun kembali ceria.
Aku melihat ke arah tangga saat mendengar bunyi sepatu berhak tinggi menggema. Charlotte dan Wyatt menuruni tangga bersama. Tetapi mereka tidak tersenyum, juga tidak bergandengan tangan dengan mesra seperti biasanya. Aku dan Wyatt bertemu pandang, maka aku tahu bahwa dia sudah menceritakan segalanya kepada Charlotte.
“Bisa kita berkumpul di ruang tamu sekarang?” pinta Charlotte kepada neneknya.
“Ada apa, sayang? Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Tante Lindsey yang merangkul bahunya. Charlotte menganggukkan kepalanya.
Kami semua berkumpul di ruangan yang diminta Charlotte. Dira menatap ke arahku dengan cemas. Aku mengangguk pelan, mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Clarissa duduk di sisi kiriku, sedangkan Dira di sebelah kananku. Charlotte duduk di antara kedua neneknya dan menolak untuk duduk di samping Wyatt.
“Apa yang terjadi, Charlotte? Apa kalian berdua sedang bertengkar?” tanya Aunt Claudia bingung. “Beberapa menit yang lalu kalian baik-baik saja, lalu mengapa jadi jauh begini?”
“Aku akan ceritakan segalanya, Grandma.” Wyatt menegakkan posisi duduknya. Kami semua melihat ke arahnya. “Aku mohon, maafkan aku. Pertama kali mendekati Charlotte, aku punya niat yang sangat buruk. Aku mengenal Finley Taylor dan dia alasan aku menjalin hubungan dengannya.”
“Aku bersumpah di depan kalian semua, aku sangat mencintai Charlotte. Aku sudah memberi tahu Finn bahwa aku tidak akan mengikuti rencananya lagi. Keluarga Mason White tidak sejahat yang dia katakan kepadaku, karena itu aku bukan lagi sekutunya.
“Dia beberapa kali mengancam akan membongkar kedokku. Sebelum dia yang melakukan itu, aku harus mengaku lebih dahulu. Aku tidak tahu bagaimana mengumpulkan kalian semua untuk meminta maaf, jadi aku menggunakan cara ini. Sekaligus berharap Charlotte akan memaafkan aku dan meneruskan niat kami untuk bertunangan.
“Naif. Aku tahu. Aku telah bekerja sama dengan orang yang sudah membuat keluarga ini terpisah selama belasan tahun dengan anggota keluarganya sendiri. Itu adalah hal yang tidak termaafkan. Aku percaya saja kepadanya dan mencoba menyakiti anggota keluarga kalian yang lain. Aku tahu bahwa aku salah. Tolong, maafkan aku.”
“Wow. Ada apa dengan keluarga kita sampai urusan orang dewasa melibatkan anak-anak?” ucap Tante Darla prihatin. “Pertama, Nora dan Vivaldo yang merusak hubungan Dira dengan Colin. Sekarang Finley meracuni pikiran Wyatt untuk menyakiti Charlotte? Giliran siapa lagi berikutnya? Apa orang-orang ini tidak tahu malu?”
“Sayang, lakukan sesuatu. Kita sudah terlalu lama membiarkan pria itu berbuat sesukanya dan lolos begitu saja,” ucap Tante Lindsey pada Om Edu. “Seharusnya dia ditangkap karena sudah menyerang Hadi dan Clarissa, mengapa mereka tidak menahannya juga?”
__ADS_1
“Para penjahat itu mengaku bahwa kejadian itu adalah inisiatif mereka sendiri, sayang. Kita tidak bisa menahan orang tanpa bukti yang kuat. Hendra sudah berusaha mengerahkan semua yang dia punya untuk membantu menangkap pria itu. Tetapi tidak ada pesan, surel, atau rekaman CCTV yang menunjukkan Finley pernah bertemu dengan salah satu dari mereka,” jawab Om Edu.
“Sebelum membahas mengenai pria ini lebih lanjut, apa aku boleh mengatakan sesuatu?” tanya Charlotte. Tante Lindsey menoleh ke arahnya dan mempersilakannya. “Apa yang terjadi sore ini sangat berat bagiku. Apa aku boleh ke kamar sekarang? Aku tidak mau berada dalam satu ruangan lebih lama lagi dengan laki-laki ini.”
“Tentu saja, sayang. Aku akan mengantar kamu ke kamar,” ucap Tante Lindsey setuju.
“Grandpa, aku mau dia ikut bersama kalian kembali ke Amerika besok. Hubungan kami sudah berakhir, jadi tidak ada gunanya lagi dia berada di sini,” pinta Charlotte pada Uncle Mason yang mendapatkan anggukan kepala tanda setuju.
“Charlotte,” ujar Wyatt lirih. Gadis itu hanya mengabaikannya saja.
“Biar aku saja yang mengantar Charlotte ke kamarnya, Tante.” Dira berdiri dan membantu gadis itu untuk bangun dari duduknya.
Aku menatap Wyatt dengan saksama, kelihatan sekali dia terluka dengan penolakan Charlotte. Tetapi dilihat dari pakaian yang dia dan Charlotte kenakan, maka pemuda ini bukanlah orang baik. Bisa-bisanya dia mengajak Charlotte bicara saat acara akan dimulai. Mengapa dia tidak jujur saja dari semalam atau pada pagi ini?
“Charlotte! Charlotte! Tolong!” jerit Dira yang membuat kami semua serentak berdiri dan segera berlari menuju bagian depan rumah.
*******
Sementara itu di sebuah apartemen~
“Dasar kumpulan orang tidak berguna! Apa yang bisa kalian kerjakan dengan benar!? Mengurus anak kecil saja kalian tidak becus! Aku membayar kalian semua dengan mahal dan ini pekerjaan terbaik yang bisa kalian lakukan!?” teriak Finley yang dengan murka melempar lampu meja ke dinding hingga pecah dan berhamburan di lantai.
“Hadi lolos tanpa lecet sedikit pun, Clarissa berhasil kembali pada keluarganya, dan Wyatt menolak meneruskan perannya. Apa ada lagi kegagalan kalian yang lain!? Ada!?” Finley melempar apa saja yang ada di dekatnya ke dinding.
“Tenangkan dirimu, Finn. Kalau sampai ada yang mendengar keributan di sini, mereka akan melapor ke bagian keamanan. Kamu tidak mau ada orang yang melihat hasil kerjamu ini, ‘kan?” ucap pria itu menunjuk ke arah lantai yang penuh pecahan barang. Dia berdiri cukup jauh dari Finley, menjaga jarak aman dengannya.
__ADS_1
“Lakukan sesuatu, Sigit. Aku mau gadis itu kita dapatkan, bagaimana pun caranya.”
“Bagaimana pun caranya? Kamu yakin dengan perintahmu itu?” tanya pria bernama Sigit itu mengonfirmasi. Finley menatapnya dengan tajam, kesal karena dia harus mengulang kalimat yang dia ucapkan untuk membuat bawahannya mengerti. “Baik. Anggap saja sudah beres.”