
*Colin*
Uncle Hendra menyarankan kami berlibur bukan hanya untuk membantu lutut Dira pulih lebih cepat, tetapi juga untuk fokus menangkap pelaku yang sudah membuat putrinya terluka. Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa masih saja ada orang yang mencari masalah dengan Dira. Apa masih ada orang yang tidak tahu siapa ayahnya? Menyakiti anak-anaknya sama saja dengan menantang Uncle Hendra. Belum ada orang yang dibiarkan lolos begitu saja setiap kali menyentuh keluarganya.
Keadaan lutut Dira sudah pulih dan dia bisa berjalan dengan normal, tetapi belum diizinkan dokter untuk menggunakan sepatu berhak tinggi. Dia tidak mengeluhkan hal itu. Yang dia sedihkan adalah dia tidak bisa mengikuti audisi beberapa iklan dan peragaan busana yang membutuhkan model.
Untuk menghiburnya, aku rela mengikuti kemauannya, termasuk mengerjai sahabatku sendiri. Aku merasa bersalah sudah membiarkan Hadi tidur berdua saja dengan Clarissa di tenda pada saat kami berlibur di vila mereka. Tetapi melihat mereka menjadi lebih dekat, aku tidak menyesalinya.
Aku bisa memahami rasa sakit yang dialami Hadi. Dia tidak hanya bertepuk sebelah tangan, tetapi juga ditolak mentah-mentah pada hari pertunangan mereka akan diumumkan. Gadis yang sudah dia tunggu sejak dia masih kecil, yang sangat dicintainya, malah menyakitinya begitu saja.
“Kalau bukan karena apa yang kamu lakukan kepadaku, aku tidak akan mengerti mengapa Kakak tidak juga memaafkan Clarissa,” ucap Dira pelan. Kami selalu melakukan panggilan video sebelum tidur. Walaupun tidak bertemu dalam satu hari, kami bisa mengobrol dan berbagi cerita sebelum tidur. Kebiasaan yang baru kami mulai.
“Hadi sudah memaafkan Clarissa. Tetapi untuk menerima dia kembali, aku tahu Hadi tidak akan mau. Dia laki-laki yang sangat teguh pada pendiriannya. Tergantung pada Clarissa sekarang, apa dia akan berjuang untuk mendapatkan cinta Hadi lagi atau menyerah.” Aku menguap pelan.
“Kamu sudah mengantuk, sayang. Sebaiknya pejamkan matamu supaya kamu tertidur.” Dia ikut menguap, lalu kami tertawa bersama. “Aku juga sudah mengantuk.”
“Selamat malam, Dira. Aku mencintaimu,” ucapku pelan.
“Aku juga mencintai kamu.”
Pada hari Sabtu itu, aku dan Lily menghadiri acara pertunangan resmi Wyatt dan Charlotte. Aku tidak pernah jauh dari sisi Dira selama mengikuti acara. Jadi, aku tahu apa saja yang dia pikirkan dan perhatikan selama acara berlangsung. Hadi dan Clarissa yang terus menjadi perhatiannya. Aku tidak mengerti mengapa dia begitu peduli dengan hubungan mereka. Apa karena dia dan Charlotte diam-diam punya rencana untuk menyatukan kakak mereka kembali?
Luca dan orang tuanya akan kembali pada keesokan hari, jadi ini adalah hari terakhir Clarissa dan Hadi berpura-pura menjadi pacar. Semua orang tahu hal itu, kecuali Luca dan orang tuanya. Tetapi sepertinya pemuda itu belum menyerah. Sepanjang acara aku melihat dia tidak melepaskan tatapan matanya dari Clarissa. Apa yang membuat dia begitu tertarik kepada gadis yang belum dikenalnya?
Clarissa gadis yang cantik dan cerdas, aku mengerti itu adalah daya tarik bagi laki-laki tertentu. Tetapi Luca hanya bicara dengannya beberapa kali lewat panggilan video dan baru bertemu muka satu minggu yang lalu. Itu waktu yang terlalu cepat bagi seorang pemuda untuk jatuh cinta.
__ADS_1
“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Dira saat orang-orang sudah pamit pulang dan keluarga Clarissa mengajak semua sahabat mereka untuk mengobrol di ruang keluarga.
“Tidak ada. Hanya sedikit kelelahan.” Aku melihat Adi mendekat. “Sebaiknya aku dan Lily pulang. Kita bertemu lagi hari Senin?” Dia mengangguk. Aku mencium keningnya, lalu mendekati sepeda motorku. Lily sudah menunggu di sana sambil bermain dengan ponselnya.
“Bagaimana Kakak bisa bertahan memainkan game ini selama bertahun-tahun? Aku saja nyaris bosan karena levelnya kalah jauh dari pemain lain.” Lily memasukkan ponselnya ke tasnya.
“Aku sudah bilang, kamu terlambat bergabung. Lebih baik bermain game lain daripada game lama itu. Jadi, kamu bisa bertanding adil dengan semua pemain lainnya.” Aku memberikan salah satu helm kepadanya. “Apa Adi tidak menyarankan hal yang sama?”
“Sudah. Tetapi ngga seru tidak ada kalian,” keluhnya pelan. Aku membantunya menaiki sepeda motor. “Kepada siapa nanti aku minta tolong menyelesaikan misi mingguan?”
“Nanti kita cari game baru bersama. Aku juga sudah perlu membuka akun baru lagi. Kami akan menikah awal tahun depan, aku akan membutuhkan banyak uang.” Aku menyalakan mesin. “Pegangan yang erat. Aku akan mengebut.” Bukannya takut, Lily malah bersorak senang.
Jarak apartemen kami dengan rumah Dira tidak dekat, jadi aku harus mengendarai sepeda motor dengan cepat. Aku ingin tiba di kamar dan membersihkan diri. Tiba-tiba saja ide membuat akun pada game baru terdengar sangat menarik. Aku harus cepat pulang supaya bisa memasang aplikasi baru.
Aku sudah punya tempat parkir sendiri, jadi aku tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Walaupun ada tamu yang datang, petugas akan mengarahkan mereka untuk tidak menggunakan lahan parkir tetap milik penghuni apartemen.
“Dad mana, Ma?” tanya Lily yang melakukan hal yang sama denganku, menyapu pandangan kami ke sekitar ruang tengah.
“Aku tidak tahu. Jangan khawatir. Sebentar lagi juga dia pulang. Cepat bersihkan diri dan ganti baju. Aku beli es krim yang banyak untuk kita,” kata Mama tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.
Aku dan Lily menurut dengan memasuki kamar kami masing-masing. Setelah mandi dan berganti pakaian, aku membawa tablet dan ponselku ke ruang tengah. Begitu Lily bergabung bersama kami, Mama berdiri menuju dapur. Aku menunjukkan game yang perlu kami pasang di gadget kami masing-masing. Dia menurut, tanpa banyak tanya. Kami menunggu sampai game terpasang sambil menikmati es krim yang Mama berikan.
“Bagaimana acara tadi?” tanya Mama ingin tahu.
“Charlotte sangat cantik dan Wyatt begitu tampan, Ma!” jawab Lily dengan cepat. “Acaranya lancar, banyak makanan enak, dan penyanyi yang mereka undang bersuara merdu. Semuanya sempurna! Aku tidak bisa bayangkan akan seperti apa lagi acara pernikahan mereka nanti.”
__ADS_1
“Itu masih lama. Mereka berencana menyelesaikan kuliah dan Wyatt melanjutkan strata duanya di Amerika, baru mereka membicarakan pernikahan,” kataku memberi tahu.
Lily menoleh ke arahku dengan mata membulat. “Yang benar? Mengapa lama sekali? Mereka bisa saja menikah setelah wisuda, lalu Wyatt melanjutkan kuliah, ‘kan?”
“Bisa. Tetapi kesepakatan mereka tidak begitu. Lagi pula sudah biasa bagi orang seperti Wyatt untuk bertunangan cukup lama sebelum menikah. Yang dia lakukan bersama Charlotte justru lebih baik dari kebiasaan pasangan di sana. Hidup bersama tanpa menikah pun sudah lumrah.”
“Benar juga. Charlotte sangat beruntung bisa menemukan laki-laki sebaik Wyatt. Apa aku juga bisa menemukan laki-laki sebaik itu, Ma?” tanya Lily.
“Tentu saja. Mengapa tidak? Lihat saja aku. Walaupun aku tidak mencari laki-laki secara khusus, keadaan mempertemukan aku dan Will. Kalian tahu sendiri sebaik apa papa kalian itu,” kata Mama dengan nada bangga. Aku dan Lily tersenyum mendengarnya.
Perbedaan usia Dad dan Mama terpaut sepuluh tahun, tetapi mereka tidak terlihat jauh berbeda. Dad sengaja tidak memelihara kumis dan cambang agar tidak terlihat lebih tua dari usianya. Mama bersikap lebih dewasa daripada wanita pada umumnya yang seumur dengannya. Jadi, mereka berdua saling melengkapi satu sama lain.
Aku jarang mendengar mereka bertengkar. Bisa jadi mereka melakukannya saat berdua saja atau di kamar mereka. Kamarku dan Lily bersebelahan, tetapi kamar mereka ada di sisi lain apartemen. Berada cukup jauh dari kamar kami sehingga apa pun yang mereka bahas, kami tidak mendengarnya.
Seperti kebiasaan kami, aku dan Dira melakukan panggilan video sebelum tidur. Dia sudah sangat mengantuk, jadi aku tidak mengajaknya bicara. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana kami nanti ketika menjadi suami istri. Mengakhiri akhir dengan berbagi cerita, berbaring bersama, lalu dia akan menjadi wajah pertama yang aku lihat pada keesokan paginya.
Sebuah bunyi membangunkan aku pada pagi hari. Aku membuka mata dan melihat sekelilingku masih gelap. Bunyi itu terdengar lagi dan aku menyadari bahwa itu ketukan pada pintuku. Aku duduk dan mempersilakan masuk. Pintu terbuka dan Mama masuk dengan wajah panik.
“Colin, papamu tidak pulang semalam. Sisi tempat tidurnya rapi tidak ada tanda-tanda ditiduri dan pakaian kotornya tidak ada di keranjang. Sepatu yang dia kenakan kemarin juga tidak ada di tempat sepatu. Dia tidak mungkin keluar untuk berenang. Dia tida pulang. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya. Aku sudah coba menghubungi ponselnya, tetapi tidak dijawab,” kata Mama khawatir.
Aku mengusap-usap mataku. “Sebentar, Ma.” Aku mengambil ponselku dan menghubungi nomor Dad. Dering pertama berbunyi, lalu kedua. Aneh. Dad tidak pernah jauh dari ponselnya ketika dia sedang tidak bekerja.
Ketika aku pikir panggilan itu tidak akan dijawab, aku mendengar suara seorang wanita. “Hai, Colin.”
Aku segera mengenali suaranya. “Aunt Chelsea?” tanyaku bingung. Aku menoleh ke arah Mama. “Apa yang Aunt lakukan di Indonesia? Aunt tidak bilang akan datang ke sini.”
__ADS_1
“Aku datang bukan untuk menemuimu. Apa kamu menelepon untuk menanyakan keberadaan Will?” tanyanya dengan nada suara yang tidak aku pahami. “Tidak perlu cari dia lagi. Dia sudah berada di mana dia seharusnya berada selama ini.”