Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 176 - Satu Detik


__ADS_3

Waktu seolah-olah berhenti dan semua orang mendadak diam. Tidak ada yang bicara atau bergerak. Telingaku sampai berdenging akibat bunyi keras tadi diikuti oleh suasana yang hening. Jantungku berdebar begitu kencang sehingga hanya itu satu-satunya suara yang bisa aku dengar.


“Anakku!!” Itu adalah jeritan pertama yang menyadarkan kami semua. Keadaan kembali riuh dengan teriakan orang-orang yang ada di sekeliling kami menyebut nama yang berbeda.


Aku merasakan pelukan Lily pada tubuhku semakin erat. Syukurlah. Aku memegang tangannya yang saling terkait di depan dadaku. Syukurlah, dia sudah ada di sini bersamaku. Beberapa menit saja dia terlambat, maka bisa jadi dia yang ada di tembok dekat gerbang tersebut.


“Adi,” gumamku pelan. Dia juga bersekolah di sini. Aku tidak memerhatikan apakah dia sudah keluar dari gerbang sekolah atau belum. “Lily, apa kamu melihat di mana Adi?” tanyaku mulai panik.


“Aku tidak memerhatikannya. Dia masih di kelas saat aku keluar dengan temanku,” jawab adikku yang juga mulai panik. “Sebaiknya kita cari mobilnya dahulu.”


“Tidak. Kamu tetap di sini, biar aku yang mencari dia. Aku tidak bisa kehilangan kamu. Apa kamu mengerti? Tetaplah di sini.” Lily segera menganggukkan kepalanya. Aku membantu dia turun, lalu aku berdiri dan menoleh ke arahnya. Pada saat itulah aku melihat wajahnya yang pucat. “Lily, apa kamu baik-baik saja?” tanyaku khawatir.


“I-iya. Aku hanya terkejut. Aku baik-baik saja. Pergilah. Tolong, cari Adi.” Dia mendorong aku untuk meninggalkannya. Melihat dia baik-baik saja, aku menurut.


Suara teriakan para ibu yang terdengar paling keras. Mereka mengerumuni mobil penyebab musibah itu sehingga aku tidak bisa melihat dengan jelas. Biasanya Pak Sakti memarkirkan mobil di barisan depan. Tetapi aku tidak bisa menemukan mobil itu karena kumpulan orang tersebut.


Ketika seorang pria berlari dengan darah di tangannya, perutku bergejolak. Ukh, aku tidak tahan melihat darah dalam jumlah banyak. Aku nyaris mundur tetapi aku harus menemukan Adi. Jadi, aku menguatkan diri berjalan melewati kerumunan tersebut dan menemukan orang yang aku cari. Dia berdiri tidak jauh dari kerumunan tersebut. Aku segera berlari mendekatinya.


“Adi! Apa kamu tidak apa-apa?” Aku hampir muntah melihat darah di tangan dan bagian depan seragamnya. “Kamu berdarah. Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang.”


“Ti-tidak. I-ini bukan darahku.” Adi hanya berdiri dengan badan gemetar. Aku segera merangkulnya. “Mo-mobil itu ha-hampir saja menabrak aku. Se-sedikit saja a-aku terlambat, aku yang ada di bawah mobil i-itu.” Tatapannya tertuju ke arah lantai di bawah mobil.


Oh, Tuhan. Aku tidak tahu ada berapa orang di sana, tetapi trotoar sudah mulai dibasahi dengan cairan kental berwarna merah itu. Aku sudah tidak tahan lagi sehingga kakiku melemas. Namun sebelum aku kehilangan keseimbangan, aku merasakan seseorang memeluk tubuhku.


“Tuan, Anda tidak apa-apa?” Terdengar suara Pak Sakti. Dia membawa aku menjauh dari tempat itu. Tanganku diletakkan di sebuah kap mobil sehingga aku bisa menundukkan kepala. “Tarik napas yang dalam dan coba tenangkan diri Anda, Tuan. Saya akan memeriksa keadaan Tuan Adi.”

__ADS_1


Pria itu meninggalkan aku dan aku melakukan apa yang dia sarankan. Aku menarik napas sedalam mungkin. Karena aku sudah jauh dari kerumunan, aku bisa bernapas dengan lega dan mual itu tidak mengganggu aku lagi. Pak Sakti kembali dengan botol minuman di tangannya.


“Minumlah, Tuan.” Aku segera menerima minuman tersebut. “Apa Tuan mau ikut ke rumah sakit? Saya perlu membawa Tuan Adi ke sana sekarang.”


Aku menggelengkan kepalaku. “Aku akan menyusul bersama adikku. Pergilah.” Aku mengembalikan botol itu kepadanya. Dia segera menjauh dan pergi ke mobil yang berhenti begitu saja di sebelah mobil di mana aku bersandar. Sepertinya dia baru saja tiba.


Keadaan di sekelilingku sangat kacau. Lalu lintas berhenti dengan banyaknya orang yang penasaran untuk melihat apa yang terjadi di dekat gerbang sekolah. Pak Sakti pasti kesulitan melewati semua barisan mobil itu tadi. Oh, iya. Rumah sakit. Aku harus mengikuti mereka ke sana.


Untuk menghindari kerumunan dan melihat darah yang mungkin sudah memenuhi trotoar di sekitar mobil nahas itu, aku berjalan di antara mobil yang berbaris rapi dan lalu lintas yang terhenti. Aku menghindari trotoar itu. Sudah ada beberapa orang membawa kamera dengan label media berita yang memenuhi tempat itu. Kami harus bergegas pergi.


Lily masih berada di tempat di mana dia aku tinggalkan. Dia segera memeluk aku ketika kami sudah dekat. Aku kembali bersyukur dia sudah berada di dekatku ketika mobil itu melesat cepat di depan kami. Aku memintanya menaiki sepeda motor. Setelah keadaanku lebih baik, aku mengendarainya melintasi kemacetan. Beberapa jauh dari depan gerbang sekolah, suasana jalan cukup sepi.


Ponsel di sakuku bergetar, tetapi aku mengabaikannya. Aku harus cepat sampai di rumah sakit. Tiba di tujuan, aku belum bisa tenang sebelum bertemu dengan Adi dan Pak Sakti. Lily mengikuti aku dengan tangannya menggenggam erat tanganku.


Kami memeriksa satu per satu bilik yang tirainya tertutup sampai menemukan bilik di mana Adi dan Pak Sakti berada. Pemuda itu berkata jujur. Dia tidak terluka, hanya terguncang dengan apa yang dia saksikan tadi. Aku tidak tahu bagaimana seragamnya bisa terkena noda merah itu juga. Tetapi aku menahan diri untuk bertanya. Adi membutuhkan ketenangan.


“Apa kamu tidak tahu betapa khawatirnya aku dengan keadaan kalian!? Mengapa kamu tidak menjawab panggilanku dari tadi??” pekik Mama dengan suara panik. “Aku membaca beritanya di internet. Apa yang terjadi? Apa kamu dan adikmu baik-baik saja??”


“Kami baik-baik saja, Ma. Maafkan aku, tadi aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.”


“Kalau kamu dan Lily baik-baik saja. Mengapa kalian ada di rumah sakit?” tanya Mama bingung. “Apa kalian ke sana bersama Adi?”


“Iya, Ma. Dia juga tidak terluka, hanya terguncang karena kecelakaan itu terjadi tepat di depan matanya.” Begitu mengucapkan hal itu, aku sudah bisa membayangkan apa yang sedang Adi rasakan. Melihat para siswa itu ditabrak di depan matanya, dia pasti membayangkan bisa jadi dia yang ada di posisi mereka. Karena aku juga merasakan itu. Kami beruntung sekaligus merasa bersalah telah selamat dari malapetaka itu.


Uncle Hendra dan Mama tiba beberapa menit kemudian. Atasan mamaku itu segera bertanya kepada tenaga medis apa yang terjadi pada anaknya. Mama memeluk aku dan Lily, lalu tidak henti mencium wajah kami. Adikku yang sedari tadi menahan emosinya, akhirnya menangis.

__ADS_1


Suasana ruangan itu semakin ramai, Dad yang datang kemudian membawa kami ke tempat yang sepi. Aku akhirnya bisa duduk dengan tenang dan menjauh sejenak dari tempat dengan bau obat yang menyengat itu. Karena lokasi rumah sakit ini termasuk dekat dari sekolah, beberapa korban kecelakaan dibawa ke ruangan itu juga. Jadi, aku tidak mau berada di sana lebih lama lagi.


Melihat kondisi itu, Uncle membawa Adi pulang ke rumah agar dia bisa beristirahat dengan tenang. Dad tidak mengizinkan aku untuk mengendarai sepeda motorku sehingga kami pulang berempat dengan mobilnya. Aku memilih untuk memejamkan mata dan menyandarkan kepalaku ke jok mobil sepanjang perjalanan menuju apartemen. Itu membantu mengusir bayangan buruk kejadian tadi.


Aku dan Lily membersihkan diri dan berganti pakaian sebelum bergabung dengan orang tua kami di ruang tengah. Dad terpaksa meninggalkan sekolah demi kami, begitu juga Mama. Uncle mengizinkan dia untuk pulang lebih awal. Dad dan Mama meminta kami untuk duduk di antara mereka. Aku pun menyerah dan membiarkan emosiku mengambil alih.


Kejadian tadi bermain dengan jelas di kepalaku. Hanya satu detik yang menjadi penentu hidupku dan adikku. Seandainya Lily tidak meminta bantuanku untuk memakai helmnya, mungkin saja aku sudah menggerakkan sepeda motor dan kami ikut menjadi korban yang ditabrak mobil itu. Satu detik saja, aku dan Lily yang terbaring di trotoar bersimbah darah.


“Aku tahu aku jahat, tetapi aku sangat bersyukur bukan kalian yang mengalami kecelakaan.” Mama mencium kami secara bergantian. “Oh, Tuhan, terima kasih. Anak-anakku selamat.” Kami menangis bersama, karena bisa berkumpul lagi dan tidak ada yang terluka.


Mendengar bunyi bel pintu, Dad berdiri dan berjalan menuju pintu. Yang bisa masuk ke elevator di bagian hunian hanya pemilik apartemen dan petugas keamanan. Jadi, kami tidak perlu takut akan ada penyusup yang memasuki tempat tinggal kami.


Aroma sedap memasuki penciumanku ketika Dad berjalan mendekati kami. Aku mengenal bau ini. Aku menoleh ke belakang dan melihat dua kantong besar yang Dad pegang. Dia dan Mama serentak tertawa. Wow. Mereka memesan makanan cepat saji!


Dad belum meletakkan kantong itu di atas meja, aku dan Lily memperebutkannya. Kami mengambil burger kesukaan kami dan berebut mencari saset saus dan sambal untuk menambah rasa. Tidak ada makanan yang bisa mengalihkan pikiran kami seperti makanan ini.


“Kalian jangan senang dahulu. Malam ini pengecualian. Tetapi mulai besok, kalian harus makan makanan yang sehat sampai akhir pekan,” kata Mama dengan tegas.


“Yaah, kok, begitu, Ma?” protes Lily.


“Akhir pekan adalah hari untuk memesan makanan kesukaan kami. Masa karena hari ini sudah makan, jadi akhir pekan tidak boleh lagi?” Aku juga ikut protes.


“Aku sudah memesan makanan sebanyak ini, kalian masih mau memakannya juga pada akhir pekan nanti??” ucap Mama tidak percaya.


Bel pintu berbunyi lagi. Aku dan Lily saling bertukar pandang. Dad tertawa melihat tingkah kami. “Tidak ada lagi makanan lain yang kami pesan. Mungkin ada paket yang lupa mereka antar tadi. Biar aku yang buka,” kata Dad yang berdiri dan berjalan menuju pintu.

__ADS_1


Kami melanjutkan makan kami. Lily mendapatkan apa yang dia harapkan. Mama memesan dua porsi burger kesukaannya. Aku tidak tahu bahwa kami sudah selapar ini. Aku baru saja akan menggigit burgerku ketika seseorang memeluk aku dari belakang.


__ADS_2