Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 39 - Sang Adik


__ADS_3

Mila menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya lagi dengan perlahan. Sudah berkali-kali dia melakukan hal itu sejak dia berada di dalam mobilku. Kami sudah tiba di depan rumah, dia terlihat semakin gugup dengan berulang kali menggigit bibir bawahnya.


“Tenang saja. Mereka semua akan memperlakukan kamu dengan baik.” Aku menyentuh tangannya. “Bila situasi di dalam terlalu berat untukmu, beri tahu aku. Aku akan mengantar kamu pulang.”


“Aku baik-baik saja. Aku justru tidak sabar ingin bertemu dengan semua orang.” Dia meletakkan tangannya yang bebas ke atas tanganku. Entah mengapa aku tidak ingin melepaskan tangan itu dan keluar dari mobil. Aku mau kami begini sesaat lebih lama lagi. “Kita masuk sekarang?”


“Iya.” Aku berdehem pelan. Apa yang baru saja aku pikirkan? Sejak aku melihat dia di apartemennya dengan baju berwarna biru secerah warna matanya, jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya. Padahal ini bukan pertemuan pertama kami, tetapi aku merasa gugup.


Seperti yang telah aku duga, mata semua orang dewasa segera terarah pada Mila begitu dia masuk ke rumah. Bagian depan rumah sudah ditata dengan baik mirip saat kami merayakan ulang tahun Dira beberapa hari yang lalu. Bedanya hanya pada warna yang mendominasi ruangan. Pada ulang tahun Dira warna merah yang menonjol, maka malam ini adalah warna hitam.


Aku dan seluruh anggota keluargaku mengenakan pakaian berwarna hitam. Tetapi kami menambah pernak-pernik lain agar tidak terlihat sedang berduka, melainkan tampil elegan. Adi menyambut kedatangan Mila dengan wajah bahagia dan dia menerima kado yang dibawanya.


Acara perayaan dimulai begitu semua tamu undangan telah hadir. Adi mengundang semua teman bermain game-nya. Aku mengenal mereka semua, kecuali seorang wanita muda yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Bahkan pada beberapa kali pertemuan mereka, aku tidak melihat dia hadir.


Tetapi saat Adi memperkenalkan dia kepadaku, aku akhirnya mengerti siapa yang menjadi sumber kemarahan Mama beberapa hari yang lalu. Wanita bernama Diah itu adalah istrinya di dalam game. Kekhawatiran Mama berlebihan. Colin juga begitu, tetapi dia hanya bermain bersama temannya tersebut dan tidak melibatkan perasaan sama sekali.


Para tamu mulai mengantri mengambil mengisi piring mereka masing-masing. Aku memutuskan untuk menunggu sampai antrian berkurang dan mengajak Mila untuk duduk. Pandangan para orang dewasa masih tertuju kepada kami, tetapi mereka tidak mencoba untuk mendekati Mila.


“Jadi, kamu yang bernama Mila?” tanya Charlotte dengan wajah cerianya. Dira berdiri di sisinya dengan seorang pria yang tidak aku kenal. “Oh, Tuhan. Kamu cantik sekali! Ayo, gabung bersama kami. Bicara dengan Hadi sama saja seperti bicara dengan orang tua. Membosankan!”


Charlotte menarik tangan Mila untuk ikut bersamanya mendekati sebuah sofa kosong. Mila menatap aku sesaat sebelum membiarkan gadis itu setengah menyeretnya. Charlotte mengajak Mila duduk di sofa tiga dudukan. Pemuda asing tadi duduk di sisi gadis itu, maka aku terpaksa duduk di kursi lain di dekat Mila. Lalu Dira duduk di lengan kursiku.


“Katanya, kamu pacar Colin. Lalu mengapa kamu malah datang dengan Hadi? Apa aku salah dengar berita?” tanya Charlotte bingung.


“Ng, itu.” Mila melihat ke arah aku, meminta bantuan. Aku hanya mengangkat kedua bahuku. Itu bukan urusanku untuk menjawab. “Aku dan Colin hanya berteman.”

__ADS_1


“Apa itu artinya kamu lebih dari teman dengan Hadi?” tembak Charlotte lagi. Aku dan Dira serentak memutar bola mata kami. Bu Yuyun datang mendekat sambil membawa baki berisi beberapa minuman dingin untuk kami. Dira membantu dengan meletakkannya di atas meja.


“Kami juga hanya berteman,” jawab Mila jujur. “Maaf, kamu siapa?”


“Oh, iya! Ke mana sopan santunku? Namaku Charlotte Regina. Panggil saja Charlotte. Jangan panggil aku Char, Lott, atau singkatan lainnya, karena aku tidak akan menoleh atau menyahut sapaanmu.” Dia melihat ke arah pemuda yang ada di sisinya. “Ini adalah Wyatt Jefferson. Pacarku.”


“Charlotte,” ucap Mila pelan. Dia menatap gadis yang duduk di depannya dengan kedua tangan masih memegang tangannya itu. Pasti dia segera sadar siapa gadis yang sedang bicara dengannya itu. Adik kandung Clarissa.


“Pacar? Bukannya kamu bilang kamu akan menolak semua laki-laki yang menyatakan cinta sebelum kamu siap untuk menikah? Apa ini artinya kamu akan mengikuti jejak Dira dengan menikah begitu kamu menginjak usia sembilan belas tahun?” kataku terkejut. Dira selalu menyimpan rahasia dengan baik. Dia pasti tahu tentang pacar Charlotte, tetapi dia tidak pernah memberi tahu aku.


“Kalau ada seorang gadis yang mengekori kamu, melakukan semua hal yang akan membuat kamu terbang melayang, percayalah, Hadi, semua prinsip yang kamu pegang erat akan runtuh juga. Wyatt sangat mencintai aku dan melakukan segalanya untuk bisa memenangkan hatiku, jadi, mengapa aku harus menolaknya?” katanya Charlotte dengan penuh percaya diri. “Bagaimana menurut kamu? Pacarku keren, ‘kan?” Aku mendengus pelan mendengarnya.


“Mengetahui dia adalah ahli waris seorang miliarder paling berpengaruh di Amerika adalah bonus yang tidak aku duga-duga. Aku sangat beruntung, ‘kan? Oh, jangan khawatir mengenai prinsip. Kami sama-sama menganut memberikan kesucian kami pada pasangan resmi kami. Dia masih perjäkä. Apa kalian percaya itu?” pekik Charlotte bahagia. Jus jeruk yang ada di mulutku muncrat keluar mendengar keterusterangannya.


“Charlotte,” ucap Dira mengingatkan. “Ini Indonesia, bukan Amerika.”


“Ooh, kalian manis sekali,” ucap Dira tersentuh.


“Kamu bisa meminta Colin mencium kamu kalau kamu menginginkannya juga,” ejekku. Dira segera menghadiahi aku dengan pukulan keras pada lenganku. “Aw!”


“Oh, maafkan aku. Lagi-lagi aku bersikap tidak sopan. Aku memang begini, selalu saja banyak bicara. Makanya Hadi tidak suka denganku. Dia tidak suka dengan gadis yang banyak bicara seperti radio rusak. Nah, aku melakukannya lagi.” Charlotte menutup mulutnya dengan tangannya. “Kamu kuliah di fakultas yang sama dengan Hadi, apa benar? Kamu tinggal di mana?”


“Iya. Aku kuliah di Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi. Aku tinggal di lingkungan sekitar kampus.” Mila masih menatap Charlotte dengan saksama.


“Berarti rumah kamu dekat dari sini. Kapan-kapan aku boleh mampir? Mulai dari kemarin, aku akan tinggal di sini untuk seterusnya. Kami akan mempersiapkan diri untuk ujian masuk universitas di sini. Aku dan Wyatt juga akan kuliah di fakultas yang sama denganmu. Menyenangkan sekali bisa punya banyak teman, jadi kita bisa belajar bersama!”

__ADS_1


“Charlotte,” ucapku dan Dira hampir bersamaan.


“Aku akan ambilkan makanan untukmu. Apa kamu ada permintaan khusus, sweety?” kata Wyatt dengan mesra. Aku dan Dira saling bertukar pandang mendengar panggilan sayang pemuda itu pada sahabat kami. Sweety.


“Bisakah kalian berhenti melakukan itu? Aku tahu bahwa aku tidak bicara banyak tentang dia pada kalian. Tapi berhenti menatap dia seolah-olah dia merebut aku dari kalian,” kata Charlotte setelah Wyatt berada cukup jauh dari kami.


“Oh, puh-lease …,” kataku dan Dira meniru ucapannya setiap kali dia mengejek kami. Kami tertawa bersama, termasuk Mila. Jika Dira adalah orang yang sangat percaya diri, maka Charlotte punya rasa percaya diri nan narsistik yang kronis.


Aku dan Dira meninggalkan Mila dan Charlotte untuk bicara berdua saja. Aku menawarkan untuk mengambilkan makanannya, Mila mengangguk setuju dan berterima kasih. Wyatt masih sibuk mengisi dua piring dengan berbagai makanan yang tersedia di atas meja saji.


“Gadis itu sangat mirip dengan Grandma Claudia. Apa benar dia adalah kakak Charlotte yang hilang?” tanya Wyatt saat aku berdiri di sampingnya.


“Kami masih berusaha untuk mencari tahu,” jawabku tanpa memberi harapan palsu. “Kamu serius dengan keputusanmu untuk kuliah di sini? Bukankah kuliah di Amerika akan lebih baik. Universitas di sini kalah jauh dengan kualitas di sana.”


“Dia tidak mau menjalani hubungan jarak jauh dengan Charlotte. Karena itu dia bersikeras untuk ikut kuliah di sini,” kata Dira menimpali. “Tenang saja. Mengenai kendala bahasa, dia sedang belajar bersama Charlotte. Iya, ‘kan, Wyatt? Kamu sudah bisa sedikit bahasa Indonesia.”


“Iya, benar.” Pemuda itu tersenyum senang dengan logat Amerikanya yang khas. “Aku sudah bisa membaca dan menulis, tetapi masih kesulitan dalam berbicara.” Charlotte benar-benar beruntung. Pemuda ini rela melakukan semua itu demi dia. Luar biasa.


Saat kami kembali bergabung bersama Charlotte dan Mila, mereka sedang berbagi cerita mengenai kehidupan masa kecil mereka. Kami membiarkan mereka berbicara berdua dengan menyantap makanan kami masing-masing. Aku dan Dira sudah tahu semua hal yang Mila ceritakan padanya.


Ketika satu per satu tamu pulang, aku melihat Colin dengan Papa dan Mama memasuki ruang keluarga. Semoga saja sahabat bodohku itu tidak bertindak gila. Aku berharap dia melepaskan Dira baik-baik, bukan malah memohon restu orang tuaku lagi untuk meminta adikku kembali.


“Untuk apa si bodoh itu bicara bertiga saja dengan Papa dan Mama?” bisik Dira padaku.


“Aku tidak tahu,” jawabku jujur. Dira menatap aku sesaat.

__ADS_1


“Aku harap dia tidak berubah pikiran, karena aku tidak akan mau menerima dia kembali,” kata Dira untuk kesekian kalinya.


“Aku berada di pihakmu.”


__ADS_2