
Pada layar ponsel itu ada status terbaru Reese yang mengucapkan dukungannya kepadaku agar kembali bangkit setelah peristiwa buruk yang aku alami. Iya, itu adalah hal yang baik. Tetapi Vikal salah. Itu bukan hal yang agak aneh. Itu adalah hal yang mustahil.
Semua rekan kerja kami tahu bahwa Reese tidak suka padaku, entah karena apa. Aku sendiri juga tidak ingat apa yang menyebabkan dia tidak menyukai aku dibandingkan dengan rekan kerja model kami yang lain. Karena itu tidak pernah satu kali pun status di media sosialnya membicarakan aku, dan hari ini dia terang-terangan memberi dukungan kepadaku?
“Apa jiwanya tertukar dengan orang lain?” gurau Laras yang diikuti tawa geli dari orang-orang di dekat kami. “Setelah dan sebelum drama pertengkaran dalam video yang sempat viral itu, dia dan Dira tidak pernah bicara baik-baik. Pasti ada yang meretas akun media sosialnya.”
“Yep. Seharusnya dia senang dengan hancurnya reputasi Dira. Dia sudah tidak punya saingan lagi dalam memperebutkan kontrak baru produk kecantikan yang selalu jadi incarannya,” kata teman kami yang lain.
“Oh, iya. Kontrak Dira akan berakhir bulan depan.” Vikal memasang wajah sedih. “Dia tidak bisa melanjutkan kontrak karena masih masa cuti.”
“Bila mereka tidak mensyaratkan aku melakukan syuting dan pemotretan untuk iklan yang baru, maka kontrak bisa saja dilanjutkan, Vikal. Aku akan kembali bekerja pada bulan Juli nanti. Kalau aku tidak dapat kontrak dengan mereka tahun ini, masih ada tahun depan,” kataku dengan santai.
“Reese juga sedang cuti, jadi ini kesempatan emas bagi kami.” Laras mengedipkan sebelah matanya.
“Berhenti merendah, Laras. Kamu mendapat kontrak dengan desainer busana terkenal dari Paris, aku bukan apa-apa dibandingkan kamu.” Teman-teman bersorak menggoda mendengar kalimatku.
Kami bicara dengan santai mengenai produk yang mencari model, juga peluang untuk merambah dunia model internasional. Aku tidak tertarik dengan hal yang kedua. Dari dahulu, aku terjun ke dunia ini hanya untuk menjalani hobiku. Uang yang aku dapatkan aku anggap sebagai bonus.
Menjadi model dengan taraf nasional saja sudah sangat menyita waktuku. Tidak terbayangkan akan sesibuk apa bila menjadi model internasional. Lagi pula aku tidak mau jauh dari keluarga dan sahabat yang tinggal di kota ini. Menjadi model nasional saja sudah cukup.
Karena aku sudah keluar dari kamar, maka Mama tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memberi tahu semua keluarga dan sahabat kami. Kakek, Nenek, keluarga Om Zach, juga sahabat Mama datang ke rumah. Mereka semua memberi aku dukungan bahkan bantuan untuk menghukum ketiga penjahat itu seberat mungkin.
Aku memercayakan keputusan itu kepada Papa. Sekali lagi, aku meminta kepada mereka agar kasus itu bisa diselesaikan di luar pengadilan. Om Zach tidak setuju dan untuk menghindari perdebatan panjang, kami sepakat untuk membahasnya setelah keadaanku lebih baik.
Hari kami pergi berlibur pun tiba. Papa sampai memeriksa pakaian apa yang aku bawa. Setiap baju yang terlalu sempit, pendek, atau terbuka dikeluarkan dari koper. Aku protes keras, tetapi Papa sama sekali tidak peduli. Mama bahkan hanya angkat bahu tidak mau menentang keputusan Papa.
__ADS_1
Kami akan menghabiskan banyak waktu di pantai, tentu saja aku butuh beberapa pakaian santai. Apa yang aku kenakan lebih sopan daripada apa yang aku yakin akan dipakai Charlotte nanti. Tetapi aku kalah berdebat, jadi aku pasrah dengan isi koperku.
Rasa kecewaku dengan sikap Papa belum seberapa dibandingkan dengan apa yang aku lihat di bandara. Ekspresi wajahku dan Charlotte hampir mirip. Dia kecewa dengan Wyatt yang juga ikut dalam perjalanan kami, sedangkan aku tidak percaya Kakak mengajak Colin serta.
“Ini namanya adil,” kata Kak Hadi yang tidak peduli dengan protesku. “Kamu mengajak dua teman, maka aku juga. Masa aku yang membayar biaya liburan kalian tidak boleh mengundang teman?”
“Kakak bisa mengundang teman Kakak yang lain, mengapa harus Colin?” seruku setengah berbisik, tidak mau si pemuda tukang selingkuh itu sampai mendengarnya.
“Sahabatku hanya dia, Dira. Wyatt adalah bonus karena dia mantan Charlotte.”
“Aku mendengarmu, Hadi. Enak saja kamu menyebut aku sebagai bonus.”
“Ayo, kita bisa ke ruang tunggu sekarang.” Kak Hadi melambaikan boarding pass yang dipegangnya, mengabaikan aku yang masih protes padanya. “Sebentar lagi kita akan masuk kabin pesawat.” Dia melirik jam tangannya.
Kami mengeluarkan tanda pengenal kami dan memberikan semuanya kepada Kak Hadi. Dia yang menunjukkan semua dokumen itu kepada petugas, lalu kami masuk ke ruang khusus penumpang. Hanya sesaat menunggu, kami sudah dipanggil untuk masuk kabin pesawat.
“Lihat, Tante Dafhina mengirim mobil jemputan untuk kita!” seru Adi yang berjalan mendekati sebuah mobil wisata yang cukup untuk mengangkut kami semua. Dia sama sekali tidak kesulitan menarik koperku dan miliknya sambil melangkah dengan cepat.
“Selamat siang. Tuan Hadiyan Perkasa?” tanya pria yang memegang papan nama bertuliskan nama Kakak. Kak Hadi mengiyakan. “Mari, ikut dengan saya. Pak Brady dan Bu Dafhina meminta saya untuk menjemput Tuan beserta rombongan.”
“Terima kasih banyak, Pak.” Kak Hadi menolak saat pria itu mengambil alih koper yang ditariknya. “Tidak apa-apa. Saya bisa bawa sendiri.”
Para pria meletakkan koper dan barang bawaan kami di bagasi mobil, sedangkan kami para wanita naik ke mobil. Adi yang sudah lebih dahulu naik menolong kami dengan memegang tangan kami saat menaiki tangga mobil tersebut.
Kami mengeluarkan makanan ringan masing-masing dan menikmatinya sepanjang perjalanan darat menuju Ubud. Ini bukan perjalanan pertamaku ke Bali, jadi aku sudah mengenal hampir setiap jalan yang kami lewati. Begitu juga Charlotte. Hanya Clarissa yang terlihat tertarik melihat setiap hal yang ada di sisi kiri dan kanan mobil.
__ADS_1
“Hai! Kalian sudah sampai.” Tante Dafhina menyambut kedatangan kami di depan pintu masuk tempat penginapan miliknya.
“Hai, Tante! Terima kasih sudah menerima kami menginap di sini.” Kak Hadi membalas pelukannya dan membiarkan wanita itu mencium kedua pipinya. “Om.” Kakak kemudian berjabatan tangan dengan Om Brady.
“Dira, kamu semakin cantik saja!” puji Tante Dafhina saat giliran aku yang berada dalam pelukannya. Aku memakai topi dan kacamata hitam, bagaimana dia bisa tahu bahwa aku semakin cantik? “Aku bisa melihat kamu memutar bola matamu. Aku serius.”
“Baiklah, Tante. Terima kasih.”
“Aku tahu apa yang terjadi padamu. Om Hendra sudah memberi tahu aku agar aku menjaga kalian semua, khususnya kamu. Jadi, kalau ada orang, siapa saja tanpa terkecuali, mengatakan sesuatu yang buruk tentang kamu, beri tahu aku atau suamiku. Entah karyawan hotel atau anak kami, kamu harus melaporkannya pada kami. Oke? Aku tidak mau ada perundungan di hotel kami.”
“Baik, Tante.” Aku tersenyum bahagia mendapat perhatian setulus itu darinya.
Setelah saling menyapa dan memperkenalkan diri, pasangan suami istri itu mengajak kami ke bagian belakang hotel. Ada kolam renang dengan beberapa gazebo di salah satu sisinya. Gazebo itu hanya terdiri dari empat kayu besar sebagai tiangnya dan beberapa kayu kecil di atas untuk menyangga atapnya yang terbuat dari bahan plastik. Ada tirai pada keempat sisinya yang dibiarkan terbuka dengan mengikatkan bagian tengahnya pada keempat tiang tersebut. Sederhana sekaligus mewah.
Pada lantai gazebo itu diletakkan karpet yang lembut dan sebuah meja makan berkaki rendah. Jadi, kami harus duduk di lantai untuk menikmati makanan kami. Empat sampai enam orang bisa duduk pada satu gazebo. Karena kami ada sepuluh orang, maka Tante Dafhina menyediakan dua gazebo untuk rombongan kami. Satu untuk perempuan, sedangkan satu lagi untuk para laki-laki.
Ketika makanan sudah disajikan di depan kami, Om Brady dan Tante Dafhina meninggalkan kami untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Kak Hadi diminta untuk bicara dengan bagian resepsionis untuk mengambil kunci kamar kami. Koper kami sudah diantar oleh pelayan ke salah satu kamar, jadi kami bisa mengambilnya nanti. Kami berterima kasih pada mereka.
“Wow! Tempat ini yang sangat indah!” puji Wendy yang aku yakin sudah lama menahan dirinya untuk mengucapkan kalimat itu. “Duduk di tepi kolam seperti ini menggoda aku untuk berenang. Apa kita akan tinggal di hotel atau ada rencana keluar hari ini?”
“Kita sebaiknya beristirahat sejenak. Kalau kamu mau berenang, silakan. Tetapi sore nanti akan seru bila kita pergi mengelilingi sawah, lalu melihat matahari terbenam dari tingkat paling atas,” kataku memberi usul. “Tante Dafhina pernah mengajak aku dan keluargaku melakukannya. Pemandangan di sini memang tidak seindah dari tepi pantai, namun ada keistimewaannya tersendiri.”
“Aku suka berjalan kaki, tetapi kalau terlalu lama, aku tidak yakin aku kuat melakukannya. Lebih baik aku tidak ikut menyaksikan matahari terbenam,” tolak Charlotte.
“Kita tidak akan berjalan kaki, tetapi menggunakan sepeda. Ada banyak sepeda yang dimiliki Tante Dafhina yang bisa kita sewa,” kata Adi menimpali dari gazebo di sebelah kami.
__ADS_1
“Itu jauh lebih baik. Aku ikut!” sorak Charlotte senang. “Aku sudah tidak sabar menjelajahi tempat bagus di sekeliling hotel ini!”