Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 78 - Urusan yang Belum Selesai


__ADS_3

Setelah satu bulan lebih tidak berurusan dengannya, hidupku jauh lebih damai. Aku bahkan tidak sabar ingin kembali bekerja. Karena aku lupa ada seorang rival yang akan melakukan apa saja supaya aku tidak mendapatkan kontrak iklan yang lebih mahal darinya.


Melihatnya lagi di tempat ini membuat aku bertanya-tanya. Apa dia mempekerjakan seorang penguntit bayaran yang bertugas mengikuti aku ke mana pun aku pergi? Karena dia sering sekali berada di tempat yang sama di mana aku berada.


“Mengapa kalian membiarkan pengemis bodoh ini berada di butik ini? Usir dia! Membiarkan orang serendah dia memegang koleksi pakaian kalian hanya menurunkan kualitas baju yang ada di sini. Cepat, usir dia!” perintah Reese kepada dua orang pramuniaga yang berdiri di dekatnya dan Wendy.


“Maaf, Mbak. Semua orang disambut dengan baik di butik ini. Kami tidak memilih-milih pelanggan. Silakan Mbak melihat pakaian mana yang ingin dibeli. Kami punya banyak koleksi yang mirip seperti gaun ini. Mari, saya antar ke dalam.” Salah satu dari pelayan itu menunjuk ke arah barisan gaun berwarna merah tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


“Aku tidak mau gaun yang lain. Aku mau yang ini. Kalian harus mencuci pakaian ini, lalu kirimkan ke alamat rumahku.” Reese mengeluarkan kartu kreditnya dan memberikan kepada pelayan tersebut.


“Tetapi nona ini yang sudah lebih dahulu memilih gaun ini—” kata pramuniaga itu menunjuk ke arah sahabatku.


“Tidak apa-apa. Aku bisa melihat-lihat gaun yang lain,” kata Wendy dengan sopan kepada pelayan wanita tersebut.


“Hei, tunggu dulu. Kamu mau ke mana? Urusan kita belum selesai.” Reese menarik tangan Wendy yang berniat pergi mencari gaun yang lain. Aku melihat ini adalah kesempatan bagiku untuk campur tangan menyelamatkan sahabatku dari pengacau itu.


“Reese! Reese, apa yang kamu lakukan?” Cilla, asisten pribadi Reese, memasuki butik dan segera berlari mendekati kliennya tersebut. Kedua tangannya penuh dengan tas belanja yang aku yakin berisi barang yang dibeli oleh Reese.


“Apa yang aku lakukan? Apa kamu tidak bisa melihat aku sedang menyelesaikan masalah yang lama tertunda? Ini adalah perempuan yang sudah merusak tas dan gaun mahalku. Cepat, keluarkan kartu kreditmu! Kamu harus membayar kerugianku sebesar dua ratus juta!” Reese mencoba mengambil tas ransel Wendy.


“Aku pikir setelah beberapa minggu ini tidak mendengar kabarmu, kamu sedang mengevaluasi diri agar bisa menjadi orang yang lebih baik. Ternyata kamu masih sama saja.” Aku berdiri di antara dia dan sahabatku bersamaan dengan Cilla yang menariknya agar menjauh dari Wendy.


“Aah ... Pantas saja perempuan ini bisa ada di tempat ini. Ternyata kamu yang membawanya kemari. Apa kamu tidak tahu bahwa tidak semua tipe badan bisa memakai baju yang didesain di butik ini? Dengan tubuh gemuk dan pendek begitu, baju mana yang muat di badannya?” ejek Reese.


“Dan kamu menyebut badan kurus kurang gizi seperti tubuhmu lebih pantas, begitu?” kata Charlotte sebelum aku sempat membalas ucapan Reese. “Kamu sudah membeli gaun yang kamu inginkan. Jadi, pergilah. Kalau ada barang lain yang kamu butuhkan, jaga jarak dari kami. Ada banyak kamera di tempat ini. Apa kamu mau video yang menunjukkan sikap aroganmu viral lagi?”


“Kamu …!” pekik Reese dengan wajah merah padam.

__ADS_1


“Reese, kita pergi sekarang. Aku sudah menerima bukti pembayaran gaunmu. Ayo.” Cilla menarik tangan Reese yang terpaksa menuruti asistennya itu. Tetapi gadis itu bergeming, tidak mau menuruti permintaan Cilla. “Reese, ingat apa pesan Pak Sam. Aku tidak mau menolong kamu bila kamu sendiri yang mencari gara-gara.”


Reese akhirnya menyerah dan membiarkan Cilla membawanya menjauh dari kamu. “Urusan kita belum selesai. Kamu ingat itu!” ancamnya pada Wendy.


Kami berdiri bersama melihat gadis itu membalikkan badannya dan keluar dari butik bersama Cilla. Beberapa pelayan ikut melihat ke arah yang sama dengan wajah penasaran. Mereka saling berbisik dengan teman di sampingnya sambil kembali ke tempat jaga mereka masing-masing.


“Penampilan di iklan memang bisa menipu, ya?” Wyatt tertawa kecil. Kami bertiga serentak menoleh ke arahnya. Dia menunjuk ke arah spanduk besar yang ada di salah satu pilar butik. Ada foto Reese dengan wajahnya yang sedang tersenyum manis mengenakan salah satu produk yang dijual di butik ini. “Kalau aku tidak melihatnya sendiri, aku tidak akan percaya dia bisa bersikap seburuk itu.”


“Yang kamu lihat itu belum seberapa,” kataku menggeleng pelan. “Ada banyak momen di mana dia bersikap jauh lebih buruk daripada tadi. Salah satunya saat aku menghadiri ulang tahun temanku di hotel. Awal permusuhannya dengan Wendy.”


“Hotel mana?” tanya Wyatt tertarik.


“Mengapa kamu mendadak tertarik dengan gadis itu?” tanya Charlotte dengan nada kesal.


“Ada apa, honey? Jangan bilang kamu cemburu bila aku mencoba untuk mengenal dia lebih dekat.” Wyatt tersenyum penuh arti.


Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka berdua. “Kamu baik-baik saja?” tanyaku kepada Wendy saat kami tinggal berdua saja.


Dia mengangguk cepat. “Apa yang dia lakukan sudah sering aku alami di tempat kerja, bahkan ada yang lebih buruk dari sikapnya kepadaku.” Wendy mengangkat kedua bahunya dengan santai.


“Aku tidak habis pikir dengan apa yang ada di dalam kepalanya. Kejadian itu sudah berlangsung lama dan dia masih menyimpan dendam? Ssemua orang yang hadir bisa melihat dengan jelas siapa yang salah. Dia sendiri.” Aku melayangkan tanganku di udara, frustrasi dengan sikapnya tadi.


“Abaikan saja orang seperti itu.” Wendy melingkarkan tangannya di lenganku. “Waktuku tidak banyak. Aku harus segera pulang untuk membantu orang tuaku menyiapkan makan malam. Ayo, kita segera cari baju yang cocok dan pergi dari tempat ini.”


“Iya. Sebelum dia berubah pikiran lalu datang lagi dan mengganggu kita.” Aku bergidik pelan untuk mendramatisir rasa takutku. Wendy tertawa geli.


Kami membutuhkan waktu lebih lama dari yang aku perhitungkan untuk mencari pakaian yang cocok. Charlotte berubah pikiran dan mengajak kami untuk tidak hanya membeli baju tetapi juga sepatu, tas, dan aksesori yang sesuai dengan warna gaun yang kami pilih.

__ADS_1


Wyatt juga melakukan hal yang sama dengan pakaian yang dia pilih. Aku dan Wendy hanya tertawa melihat warna yang dia pilih senada dengan Charlotte. Sahabatku sampai harus menjelaskan kepada mantannya itu bahwa acara perpisahan sekolah tidak sama seperti acara dansa di Amerika.


“Aku tahu, honey. Teman-teman di kelas kita sudah menjelaskannya kepadaku. Tetapi tidak ada salahnya bila aku berpakaian yang senada dengan kamu, ‘kan?” Wyatt dengan santai mengeluarkan kartunya dan memberikannya kepada kasir.


“Bicara dengan kamu memang sama saja seperti bicara dengan benda mati.” Charlotte membawa tas belanjaannya dan berjalan menjauh dari kasir.


Perjalanan pulang terasa sangat damai karena Charlotte dan Wyatt pulang dengan mobil mereka, sedangkan aku dan Wendy dengan mobilku. Kami terlalu lelah untuk bicara, maka kami hanya diam saja sampai Wendy diantar ke rumahnya dan aku tiba di rumahku.


Sebuah sepeda motor yang sudah sangat aku kenal diparkir di pekarangan depan rumah. Apa yang sedang dilakukan pemiliknya di rumahku? Bukankah kami sepakat bahwa dia tidak akan datang lagi ke rumah ini untuk sementara waktu?


Aku bertanya kepada Pak Abdi dan dia membenarkan tebakanku. Colin datang berkunjung dan dia sedang berada di ruang keluarga bersama Mama dan kedua saudaraku. Aku memutuskan untuk membiarkan mereka melakukan entah apa di ruangan itu dan berjalan menuju kamarku.


Namun mendengar suara tawa Mama, aku menghentikan langkahku. Aku menatap ke arah pintu ruang keluarga dengan rasa penasaran. Mama tahu bahwa aku sangat terluka dengan perbuatan Colin. Lalu apa yang membuat dia membiarkan Colin masuk ke rumah, bahkan tertawa bersamanya? Setelah bergelut dengan diri sendiri, aku berubah pikiran dan berjalan mendekati ruangan tersebut.


*******


Sementara itu di suatu tempat~


Sigit mempersilakan masuk ketika pintu ruang kerjanya diketuk. Dia sedang bersiap-siap untuk pulang karena jam kerjanya sudah berakhir. Kebetulan pada hari ini dia tidak ada janji makan malam dengan siapa pun dan bisa pulang untuk bertemu keluarganya.


“Ada surat penting yang perlu Bapak baca.” Sekretarisnya berjalan mendekatinya, lalu meletakkan sepucuk surat di atas mejanya. “Saya sekalian pamit pulang, Pak, bila tidak ada lagi yang perlu saya kerjakan,” pamit wanita itu dengan sopan.


Sigit menganggukkan kepalanya dan mengambil surat tersebut. Dia duduk kembali saat melihat label pada bagian belakang amplop. Dia menunggu sampai sekretarisnya keluar sebelum mengeluarkan surat yang ada di dalamnya.


Tangannya gemetar dan keringatnya bercucuran saat dia membaca isi surat tersebut. Bukan hanya satu orang, tetapi ada banyak orang yang melaporkan perbuatannya kepada pihak yang berwajib. Dia dipanggil untuk datang memberikan keterangan. Sigit tidak pernah mempertimbangkan baik dan buruk dari penyebaran foto-foto itu ke media. Yang dia pikirkan adalah lepas dari pengaruh Finley.


Dia sama sekali lupa dengan surat perjanjian yang dia tanda tangani dengan beberapa klien Mila. Para pria itu menuntut dia atas pelanggaran surat perjanjian, sekaligus UU ITE, pencemaran nama baik, dan sebagainya dengan ayat yang tertera pada keterangan surat pemanggilan. Dia lepas dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya.

__ADS_1


__ADS_2